Hapalan Surat Ar-Rahman

Pertama berniat menghapal Surat Ar-Rahman ketika diskusi dengan oier. Beliau ini adalah salah satu sobat lama sejak saya memakai ID sugadiawara. Saat itu, dengan yakinnya saya tuliskan dua penggal awal surat tersebut. Oier meralat, karena apa yang saya tulis itu ada yang salah. (diskusi tentang hal ini, bisa dilihat di link ini :

Merasa tergugah untuk menghapalkannya, saya lalu browsing surat tersebut dan membacanya berulang-ulang selama 3 hari.

Karena masih belum juga hapal, saya mencoba teknik super learning memori, dengan teknik memintal kata. Caranya, kata2 asing dalam bahasa arab tersebut harus diubah menjadi kata yang mudah dimengerti dan memiliki arti (dalam hal ini bahasa Indonesia, atau bahasa daerah/ibu). Seperti misalnya begini:

1. Ar-rahman

2. Allamal Quran

3. Qolaqol Insan

4. Allamahul Bayan

Dengan teknik jangkar kata, cara menghapal ayat di atas menjadi:

1. (Pak) Rahman

2. (Nyari) Alamat Koran

3. (Ko)ko Lha kok pingsan

4. (pas nyari) alamat (pak) Bayan

Saya kembali tergugah untuk menghapalkan surat ini ketika ngetren istilah ‘kupinang engkau dengan…’ Sering saya dengar istilah: ‘kupinang engkau dengan Hamdalah’, ‘Kupinang engkau dengan basmallah’, atau ‘kupinang engkau dengan Alfatihah’, dll. Nah, sepertinya kok keren, kalau saya bisa meminang si dia dengan Surat Ar-Rahman. Akan lebih keren lagi kalau pas bacanya tanpa melihat teks alias hapal di luar kepala.

Selama hampir sebulan, saya membuka-buka Al-Quran kecil hadiah dari Ummu Aisyah. Sambil membaca, saya juga menyimak terjemahannya. Hal ini cukup membantu, karena saya menjadi tahu isi Surat Ar-Rahman (Arab: الرّحْمنن). Surat ke-55 dalam al-Qur’an ini sebagian besar menerangkan tentang anugerah Tuhan yang tak terkira pada manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Ciri khas dari surat ini, adanya kalimat berulang sebanyak 31 kali, yakni: Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Memahami terjemahan, rupanya cukup membantu dalam menghapalkan. Lebih kurang 1/4 surat itu berhasil saya hapalkan. Makin terlecut jadinya. Tetapi semangat itu mendadak susut manakala si dia memutuskan hubungan. Mendadak saja saya kehilangan motivasi untuk menghapalkannya. Untuk beberapa waktu, Ar-Rahman hanyalah sebuah elegi.

Saat ke Jakarta, iseng-iseng saya beli satu VCD yang berisi 5 surat pilihan, yakni Ar-Rahman, Al-Waqiah, Al-kahfi, Al-Maryam dan Yaa Siin. Sekembalinya ke rimba, saya teringat lagi tentang hapalan Ar-Rahman yang belum tuntas. Untuk beberapa lama, tanpa menyimak Al-Quran, saya mendengarkan surat ini sambil lalu. Suara yang terdengar adalah suara merdu salah satu Qori (recited) terkenal, Al-Ghamidi. Tengah malam, jika sedang bosan mendengarkan instrumentalia Kitaro, David Foster, Richard Claydermann atau Kenny G, iseng-iseng saya putar kembali surat ini, sembari menanti saat ngepos (=tidur).

Suatu siang, saat berkendara ke arah Nagoya, telinga saya terngiang-ngiang penggalan ayat-ayat. Ketika mencoba mengingat, saya yakin kalau itu adalah penggalan surat Ar-Rahman, walau saya tak tahu penggalan itu ada di ayat ke berapa.

‘Kaya’nya terusan ayatnya gini, deh..’ kata saya dalam hati, mencoba mereka-reka. Setibanya di rumah, segera saya buka kembali Al-Quran dan mencari penggalan ayat tersebut. Agak kaget juga, karena ternyata apa yang saya baca secara tak sengaja tadi ternyata memang benar merupakan kelanjutan ayat Ar-Rahman. Walau tak tahu mengapa ini bisa terjadi, saya agak tergerak untuk mulai melanjutkan hapalan. Saya terlecut untuk menuntaskan 3/4 sisa surat itu. VCD surat Ar-Rahman makin sering diputar. Berulang-ulang. Dari tengah malam, saat mata ini sudah 1/3 watt, hingga keesokan paginya, saat kelopak mata ini membuka lagi.

Saat berkendara, atau sa
at melamun, makin sering terngiang penggalan-penggalan ayat tersebut. Jika begini, saya tak sabar untuk segera meraih Quran kecil, sekedar memastikan apa yang saya baca sudah tepat adanya.

Ketika makin banyak ayat yang sudah dihapal, saya coba menghapalkan surat ini ketika tengah berkendara sendirian. Kadangkala, di saat malam, saat lalu lintas sepi, saya sengaja membaca ayat ini agak keras dari biasanya. Hingga pernah suatu ketika, saya tak sadar seseorang mengamati saya cukup lama dengan menjajarkan motor di sebelah saya. Ketika orang itu kemudian melintas mendahului, barulah sadar kalau orang itu adalah polisi. Mungkin, polisi itu mengira saya orang yang stress.(emang bener kok, pak..huehue)

Dua bulan berikutnya, Surat Ar-Rahman sukses dihapalkan. Cukup lega rasanya, karena awalnya sudah pesimis. 78 ayat adalah angka yang cukup banyak.

Setelah menghapal surat ini, saya teringat2 pada Pesan/nasehat Imam Syafii, bahwa salah satu hal yang bisa mengurangi hapalan Quran adalah melakukan perbuatan maksiat. (Namanya juga anak muda, jadinya malah pengin coba2..huehehe.)

Tergerak untuk membuktikan kebenarannya, segera saya pergi. Melihat yang super benin92. Tak lama setelahnya, ketika saya menghapal surat Ar-Rahman mulai dari awal, entah mengapa, bacaan saya terasa macet di pertengahan. Bacaan saya menjadi berputar-putar dan tak selesai-selesai. Agak mengherankan juga, setelah merasa hapal di luar kepala, ternyata ada beberapa penggal ayat yang terlewat. Tapi saya masih belum percaya hal ini akibat melihat yang benin92. Setelah memastikan saya hapal lagi surat tersebut, saya sengaja melihat yang bening2 lagi. Dan hal yang sama kembali terjadi. Selalu saja ada ayat yang terlewat dan tak terbaca. Setelah beberapa kali bereksperimen dan hasilnya tetap sama, mau tak mau, saya harus percaya pada apa yang dikatakan oleh Imam Syafii tersebut…huehue.


Titik Bidik:

Bagian ayat yang sering membuat terpeleset adalah awalan ayat 29, 35 dan 41 yang mempunyai kemiripan. Ayat 29: ‘Yasaluhu…’, ayat 35: ‘Yursalu’ dan ayat 41: ‘yu’rafu’.

Bagi siapapun yang serius ingin menghapal surat ini, saya menyarankan agar mendownload youtube: http://www.youtube.com/watch?v=rcNeqBoONjM. Kelebihan Video itu, selain memperdengarkan suara Mishari Rasyid yang merdu, ada penggalan-penggalan gambar yang sesuai dengan isi cerita masing-masing ayatnya. Jadi sebenarnya, sambil mendengarkan tilawah, kita juga disuguhi cerita. Seperti misalnya, ketika terdengar ‘As Samsyu wal qomaru bi husban’, [matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan], tampaklah gambar matahari dan bulan yang tengah beredar. Atau di ayat 37: ‘Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak’, di video tersebut juga menampakkan gambaran yang serupa itu.

Teknik seperti ini merupakan penerapan dari Teknik Visual-Auditorial, teknik menghapal yang sesuai untuk orang-orang yang mempunyai modalitas belajar tipe Visual dan Auditorial.

Kalau saja dari awal saya mempraktekkan teknik ini, saya yakin waktu menghapal surat ini bisa lebih singkat. Tak sampai dua bulan. Saya yakin, anda juga bisa menghapalkannya. Lebih singkat malah. Ayo, silakan mencoba!!!

54 thoughts on “Hapalan Surat Ar-Rahman

  1. adearin said: Mulai skrg hafal yg lain2 jg, mulai albaqoroh, mulai

    haha…teknik anchor nya lucu…:Dtapi hal itu tidak berlaku untuk surat2 panjang mas…semisal Al Baqarah, Al Imran, An Nisa, dll (bisa aneh kalo dibikin anchor gt :p)udah banyak resep mujarab untuk memudahkan qta menghapal Al Qur’an…tapi salah satu yg mempan untukku adalah teknik ‘imagining’ alias ngebayangin surat/ayat yg dibaca dengan kondisi saat itu atau situasi yang bisa qta bayangkan agar ayatnya bisa lebih ‘hidup’…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s