Surat Untuk Masa Lalu

Surat Untuk Diriku di Masa Lalu


Suga kecil, apa kabarmu di masa lalu? Ingin kujumpai engkau di masa itu. Ingin kutemani dirimu yang lebih sering menyendiri. Ingin kukuatkan semangatmu dalam mengayuh hari-hari. Apalah daya, masa-masa itu terlalu jauh untuk direngkuh. Bahkan dalam mimpi, tak pernah kutemui sosok kecilmu yang ringkih itu. Atas dasar itulah, kubuat surat ini. Biar kelak, sesudah puas acara ngeposmu, engkau bisa membaca surat ini. Biar apa lagi, yah? Entahlah…aku juga bingung sebenarnya, mengapa mesti kutulis surat begini…huehue.

Oh, baru ingat. Aku tak sengaja membaca postingan Mas Tyar (sebenarnya namanya pakai ‘i’ bukan pakai ‘y’. jadi, nanti kalau nulis namanya: Tiarrahman, yah… Beliau ini pernah menulis tentang surat untuk masa lalu. Nah, dia menantang teman2nya agar membuat surat serupa. Bukannya bermaksud latah kalau pada akhirnya kutulis juga surat serupa itu. Sesungguhnya, tujuanku menulis bisa engkau lihat di akhir tulisan ini. Jadi, tolong baca baik-baik dulu. Tolong jangan langsung nyeletuk. Ntar, dikutuk dapat makhluk bening baru tahu rasa, lho…!!!

Ingatanmu pasti hampir penuh oleh derita asma yang mendera hari-harimu, yang membuat warna-warni harimu tak lebih dari hitam dan putih. Tapi tahukah engkau, jika ada masanya, ketika penyakitmu itu agak jarang kambuh?! Saat itu 4.5 tahun usiamu. Engkau tinggal di rumah eyang. Di rumah besar itu udara begitu bersih. Halaman luas dengan pepohonan aneka buah tumbuh dengan lebat. Ada sungai kecil juga yang jernih, yang sering kali kau buat mandi. Hampir tak ada debu yang beterbangan, kecuali jika angin berhembus kencang. Mungkin karena itulah asmamu tak mudah kambuh. Tapi mungkin juga karena eyang putri rajin meramu jamu, untuk kemudian dilesakkan ke dalam mulutmu. Atau mungkin juga karena puskesmas letaknya jauh di seberang sungai, hingga bibimu merasa perlu mewanti2, agar engkau tak gampang sakit, sehingga tak merepotkan seisi rumah.

Yang pasti, engkau keliatan bahagia di masa itu. Engkau bisa berpetualang, menjelajah kebun-kebun para tetangga yang ramah. Engkau bebas memetik buah jambu, belimbing ataupun mangga. Menariknya, engkau lebih sering mengambil buah pisang yang baru masak di pohon. Engkau sepertinya tak rela kalau kelelawar keburu menduluimu. Tiap sore kau duduk santai di atas tanggul brantas. Mengawasi kambing semata wayang eyang, yang lahap memakan rerumputan. Seringkali engkau berteriak marah, bila mendapati kambingmu diadu dengan kambing-kambing lain. Apalagi jika kambing-kambing itu nyata-nyata lebih besar badannya. Engkau kadangkala harus pura-pura menangis, agar mereka sudi menghentikannya. Di sela-sela acara menggembala, sering engkau meluangkan waktu, untuk memancing ikan-ikan kecil. Dengan serat pisang sebagai tali senar dan belatung sebagai umpan. Ikan-ikan itu kemudian kau berikan pada kucing eyang.

Rutinitas itu agak berubah ketika salah seorang pamanmu tiba dari Surabaya. Setelah subuh, engkau dipaksa menemaninya berlari2 kecil di atas tanggul. Engkau yang masih terkantuk-kantuk, hanya bisa menggerutu dalam hati. Apalagi pamanmu itu kerap menceramahimu tentang pola hidup sehat. Hal yang hampir sama juga terjadi tiap sore. Engkau diminta berlari2 di sisinya, di atas hamparan pasir di tepian kali brantas. Mungkin karena tiap hari mendapat doktrinasi, lantas terbersit olehmu sebuah cita-cita. Engkau ingin menjadi pemain bola seperti pamanmu, yang saat itu merumput di Persebaya.

Kalau saja saat itu aku didekatmu, pasti aku ketawa sepuasnya. Tapi harus kuakui, semangatmu dalam menggapai cita-cita itu cukup tinggi. Walau pamanmu tak lagi menunggui, engkau tetap rajin berlarian. Di pesisir pasir, sambil mengocek-ngocek bola, meliuk-liuk melewati jajaran tonggak-tonggak kecil. Pernah malah, engkau bermain bola di atas air sembari berenang. Saat itu air brantas tak dalam, hanya setinggi dada. Belum lama menikmati permainan polo air itu, engkau dan teman2mu berhamburan menyelamatkan diri. Tak jauh dari tempat kalian bermain, tampak sebatang panjang bergerigi, yang mirip buaya. Setelah itu, eyangmu mewanti-wanti, agar engkau tak bermain-main lagi di sungai Brantas itu. Tiap tahun,sungai itu selalu meminta tumbal.

Biar engkau nanti tak lupa, tolong dicatat. Bahwa asmamu kembali kambuh ketika engkau dikembalikan ke rumah orang tuamu, karena sudah harus bersekolah SD. Mungkin karena letak rumah yang berada di tepi jalan raya, yang hampir tiap waktu debu-debu beterbangan, napasmu sering kembang-kempis. Tapi cita-citamu untuk menjadi pemain bola tak pernah surut. Tiap sore engkau selalu bermain bola, bahkan ketika kondisi tubuh sedang tak bagus. Pil pelega napas selalu menjadi bekal. Agar sesak napasmu, tak mengganggu permainan bolamu.

Penyakitmu makin parah ketika engkau menginjak kelas II SD. Usai bel pulang pukul satu, engkau hanya punya waktu istirahat setengah jam untuk tiba di rumah, makan dan sholat. Setelahnya, engkau harus bersekolah lagi di Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang letaknya 1 KM dari rumah. Sebenarnya engkau enggan bersekolah double begini. Pun kurikulumnya juga tak jauh beda dengan SD. Tetapi orang tuamu mempunyai alasan tersendiri. Mereka ingin engkau lebih memahami dan mendalami ilmu2 keagamaan. Juga bahasa arab dengan nahwu-shorof-nya. Namun sepertinya pelajaran itu menguap percuma. Deretan kata asing sering berdesingan di telinga, lalu menghilang seketika. Menginjak kelas IV MI, engkau makin muak dengan pelajaran bahasa arab. Apalagi sang guru pengajar kerap menjatuhkan hukuman tiap kali ada pertanyaan yang tak bisa kau jawab. Pada akhirnya, tiap ada jadwal pelajaran bahasa arab, engkau pasti tak masuk kelas. Engkau lebih memilih mengasingkan diri di sebuah rumah dekat sekolah MI, sambil mendengarkan radio yang menyiarkan pertandingan sepakbola. Sesekali engkau ikut bermain layang-layang di areal persawahan belakang sekolah. Namun yang paling sering, engkau pergi ke lapangan dan bermain bola. Tubuh kecil membuat gerakanmu lincah dalam mendribbling bola. Hampir tak ada yang bisa menghentikanmu. Hampir dapat dipastikan kalau gawang lawan koyak oleh tendanganmu. Hingga beberapa kali, satu-dua temanmu merasa perlu menjatuhkanmu. Engkau yang merasa kesakitan, biasanya memaksakan diri untuk berdiri. Lalu cepat-cepat engkau mencengkeram siapapun yang telah men-tackling-mu. Ujung-ujungnya, engkau berkelahi karenanya.

Kemampuan bermain bolamu tetap bagus walau perkembangan tubuhmu tak terlalu bagus. Engkau tak cukup tinggi ketika masuk SMP. Biar demikian, kemampuan berlarimu masih cukup bagus. Engkau masih orang kedua tercepat dalam lomba lari 100 m di kelasmu. Walau penyakitmu tak kunjung hilang, kamu masih belum ingin melupakan cita-cita untuk menjadi pemain bola. Hingga di penghujung kelas II, saat ada kegiatan pramuka, engkau yang biasanya alergi pada kegiatan semacam itu, entah mengapa sangat ingin pergi bersama teman-temanmu ke Kedung Cinet dan Kedung Sewu. Sempat ayahmu melarang, namun engkau mengacuhkan.

Sesampainya di lokasi wisata, setelah lelah mengayuh sepeda, engkau yang merasa gerah segera mencopot sepatu dan merendam kaki dalam air. Lalu kau susuri satu persatu sendang
hingga jauh ke bawah bukit, bersama dua orang temanmu. Ketika terdengar rombongan sudah bersiap pulang, dua temanmu itu spontan berlari-lari kembali ke atas bukit, agar tak tertinggal. Engkau yang panik, segera memperkencang laju larimu. Engkau berlari, meloncat dari satu batu ke batu lain. Hingga tiba-tiba saja, kakimu terasa gatal. Hingga engkau memutuskan untuk melihatnya. Alangkah terkejut dirimu, mendapati ada genangan merah mengucur deras. Kaki kananmu rupanya menginjak pecahan botol. dan lukanya terlihat sangat dalam dan panjang. darah menetes seperti tak ada habisnya. Engkaupun sontak tergeletak lunglai.

Engkau lalu dibawa ke puskesmas yang berjarak 15 KM dari tempat itu. Engkau makin lemas menunggu karena di saat yang sama, seorang ibu juga tengah menanti detik2 kelahiran anaknya. Pandanganmu yang sudah mulai kabur, mendadak kembali bernyala ketika satu demi satu jarum masuk, menusuk telapak kakimu. Sembari mengerang, engkau teringat lagi pada larangan ayahmu, yang sudah engkau abaikan.

Tiga hari kemudian, engkau nekat bermain bola. ‘Sekedar jadi penjaga gawang tak apalah,’ katamu, pada teman-teman yang agak keberatan. Baru juga dua kali menendang, kakimu terasa perih. Kaos kakimu berwarna merah, dan ketika kau buka balutannya, ternyata ada 3 jahitan yang lepas. Dengan terpaksa, engkau ke puskesmas lagi.

Memasuki masa SMA, kaki kananmu yang sebelumnya baik-baik saja itu mulai bermasalah. Seperti ada yang salah dengan uratnya. Tiap kali engkau memaksakan diri berlari kencang, telapak kaki kananmu berasa kram. Hal yang sama juga terjadi saat engkau meregangkan kaki. Rasa nyerinya terasa amat menyiksa, membuatmu mau tak mau merelakan diri duduk di tepi lapangan. Engkau mesti rela, posisimu sebagai striker diambil oleh orang lain. Setelah kejadian itu terus berulang, barulah kau sadar diri. Engkau mulai melupakan mimpimu menjadi pemain bola.

Sempat engkau menyangka kaki kananmu sudah sembuh sempurna. Di masa kuliah, nyeri itu tak pernah datang lagi. Namun setahun berikutnya, penyakit itu datang lagi. Tiap kali hendak memakai atau melepas celana, telapak kaki kananmu kembali terasa nyeri dan kram. Makin hari, nyeri itu makin berasa sakitnya. Hal yang sama juga terjadi saat bangun dari tidur. Engkau yang menggeliat dan hendak meluruskan kaki, selalu saja merasakan kram. Di tempat yang sama. Engkau yang merasa teramat kesakitan, hanya bisa mengaduh, sembari memijit-mijit telapak kaki. Ketika nyeri itu tak juga reda, engkau hanya bisa pasrah. Engkau lalu menyebut2 nama-Nya. Engkau meminta kemurahan hati-Nya, agar berkenan menyembuhkanmu. Kata seorang dokter yang pernah kau mintai konsultasi, syaraf-syaraf kaki kananmu tidak terkoneksi dengan sempurna. Sungguhpun tak menampik kemungkinan seperti itu, kau lebih percaya pada kekuasaan-Nya. Kau percaya bahwa Tuhan Maha segalanya. Sembari mengurut-ngurut sekitar bagian yang kram, kau ucapkan doa2 dan sholawat. Kepada-Nya, engkau memohon kesembuhan. Engkau berjanji, bila kondisimu membaik, engkau akan beribadah dengan lebih khusyu’ lagi.

Tiap kali mengalami kesakitan yang sama, engkau selalu mengurut2 kaki, sembari memanjat2kan doa yang sama. Hingga berbulan-bulan kemudian, barulah engkau sadar, kalau sudah lama kaki kananmu tak pernah kram. Bahkan ketika engkau berlari2 dan bermain bola, rasa sakit tak pernah kau alami lagi.

Suga, aku menulis surat ini untukmu. Agar jika membacanya, engkau ingat pada janjimu itu. Agar engkau ingat bahwa bahwa Tuhan telah bermurah hati kepadamu. Kemurahan yang sama juga terjadi manakala jari tengah tangan kananmu bermasalah. Saat itu kau begitu emosional menggebrak meja, hingga tak sadar tanganmu membentur tatakan cangkir yang lantas pecahannya merobek jari. Luka itu agak dalam, tapi kamu hanya merasa perlu membalutnya dengan kapas dan obat merah. Baru setelah bulan-bulan berikutnya jari itu tak bisa ditekuk dan digerakkan dengan leluasa, engkau mulai panik. Tapi lantas kau ingat, bahwa Tuhan pernah bermurah hati menyembuhkan kakimu. Engkau yakin, dengan cara yang sama Tuhan pasti akan menolongmu ‘membetulkan’ jarimu. Ketika akhirnya jari itu benar-banar bisa lincah bergerak seperti sedia kala, maka tolong jawab pertanyaan ini…Maka nikmat tuhan manakah yang kau dustakan?

Suga, jika ragu-ragu menjawabnya, engkau boleh minta bantuan teman2 MPmu,…

76 thoughts on “Surat Untuk Masa Lalu

  1. jandra22 said: Semoga sekarang sehat untuk selamanya ya dik. Bagus juga menuliskan ini sekedar sebagai pengingat-ingat di masa nanti, mumpung sekarang belum pelupa.

    wah, benar banget, bundel. menulis adalah terapi melawan lupa. saya menulis, agar suatu ketika, saat membacanya, saya bisa mengingat setiap detail yang kadang kelewat. :)terima kasih banyak atas doa2 kebaikannya.

  2. puntowati said: Sesungguhnya kekurangan manusia justru bisa dijadikan kelebihannya, contohnya Suga.Btw, heran ya rumah2 di pinggir jalan raya di Indonesia kok harganya biasanya mahal padahal seperti cerita Suga rumah hunian di pinggir jalan adalah tdk sehat!

    kekurangan, jika dimanage dengan bagus, akan menajdi modal berharga sebagai kelebihan :)mungkin krn banyak yang menganggap rumah dekat jalan raya letaknya strategis, mudah dijangkau, jadinya..harganya berlipat2. padahal, selain polusi udara, polusi suara kadang2 bikin stress.🙂

  3. fendikristin said: pasti suga kecil imut2 sekali deh..suka banget sama tulisan-nya Mas..sampe ngebayangin dulu kehidupan mas suga gimana..emang takut sama darah ya? :p

    wah, sepertinya…setelah kejadian itu, saya trauma ama darah..bahkan hingga sekarang :)tapi, kadarnya sudah berkurang, tak seperti dulu. tiap melihat darah langsung merinding lemas.hihi…suga kecil kelihatan ringkih….:)

  4. ibuseno said: Membayangkan Suga kecil nafasnya kembang kempis.. jadi inget anakku yg juga asma. pertanyaan buat Suga besar : masih suka kembang kempis nafasnya ?

    Alhamdulillah, sejauh ini agak2 jarang kambuh. sekarang rajin mengkonsumsi jamu. Jika sebelumnya perlu menyemprot 10-15x obat spray asma, kini paling2 hanya 1-3x sehari. :)yang sesak seno yah? :)semoga diberi kesembuhan, semoga kesehatannya makin membaik.

  5. pianochenk said: Tentang masa lalu ya..masih inget aja mas..Ngumpulin memori itu susah.

    nah,…hayo coba diingat2 penggalan2 kenangan yang tersisa. dari situ, biasanya nanti akan terpicu hal2/detail yang etrlewatkan/terlupakan.🙂

  6. hanifahnunk said: Hufttt…tak temeni ya mas suga…aku juga malesss bgt sekolah soremumetttttt….di rumah bagdal maghrib sama bagdal subuh juga nderes sama abah…duh ya Allah…kapan istirahat’e…**kalau bisa ngabur sudah kabur dr dlu2*😐

    huaaaa..ternyata ada yang lebih parah dari saya…iya, kalau habis maghrib emang nderes…tapi saya kl abis subuh, masih bisa tidur..:)

  7. tintin1868 said: eh ku ga bisa bantuin kalu jari tanganmu ketekuk gitu ato kakimu kesambet gitu.. palingpaling bantuin doa, semoga selalu sehat ya.. ternyata punya obsesi jadi pemain bola.. tapi kog ga suka nonton bola sih? hobinya ngepos mulu..

    amiin..terima kasih banayk atas doanya :)terobsesi banget, hingga ketika ditanya guru BP mau jadi apa 10 tahun ke depan…saya bilang mau jadi pemain bola. lalu ditanya lagi…20 tahun ke depan?jawab saya: mau jadi pelatih bola..hueheueheu

  8. rhedina said: Aaaah….jadi pengen juga menulis seperti ini…sispa tau bisa menjadi jembatan untuk berdamai dgn mada lalu…. Suka bacanya Oom…:)

    ayo, mbak dwwiiii….bikin juga….saya menulis ini juga sesungguhnya adalah manifestasi dr perdamaian antara suga kecil dan suga besar, agar hilang/berkurang trauma atau penyesalan di masa lalu,🙂

  9. saturindu said: Suga, jika ragu-ragu menjawabnya, engkau boleh minta bantuan teman2 MPmu,…

    wah…ternyata kisah hidupnya mas suga termasuk yang berwarna jg ya…asik banget bisa tinggal di kampung gt…ngebayangin dulu rumahku jg dikelilingi sawah…walo udah masuk pinggir kota…^^

  10. ulict said: wah…ternyata kisah hidupnya mas suga termasuk yang berwarna jg ya…asik banget bisa tinggal di kampung gt…ngebayangin dulu rumahku jg dikelilingi sawah…walo udah masuk pinggir kota…^^

    cukup berwarna-warni…ada bagian seru, ada bagian yang bikin haru :)wah, asyik yah…kl rumahnya dekat sawah. udara lebih bersih. pikiran juga jernih🙂

  11. saturindu said: cukup berwarna-warni…ada bagian seru, ada bagian yang bikin haru :)wah, asyik yah…kl rumahnya dekat sawah. udara lebih bersih. pikiran juga jernih🙂

    kalo sekarang…rumahku dikelilingin jalan tol…gimana tu? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s