Memorabilia Sang Ratu Kopdar

Because I can not stop for the death

He kindly stopped for me

(Emily Dickinson)

Dimanapun tempatnya, selama dalam lingkup Jakarta, hampir bisa dipastikan engkau datang, menghadiri acara kopdar atau pelatihan-pelatihan yang bersangkutan dengan dunia blog. Tak salah, jika banyak teman MP menobatkanmu sebagai ratu kopdar.

Kadang aku bertanya-tanya dalam hati, plus ada sedikit rasa iri. Bagaimana bisa, engkau memiliki energi yang seperti tak ada habisnya. Padahal engkau juga bekerja, sebagaimana orang-orang lainnya. Tetapi engkau selalu mempunyai waktu, untuk menemui para kontakmu, yang kebetulan singgah di Jakarta. Di setiap acara kopdar, diskusi atau pelatihan, rasa antusias tampak jelas di wajahmu. Tak lama setelah acara, bisa dipastikan segera terbit jurnal tulisanmu.

Siang itu, saat kita bertemu kali pertama di Plasa BSD, antusias yang sama juga tergambar di wajahmu. Begitu duduk, dengan cekatan tanganmu mengambil lembaran kertas dari dalam tas. Lantas engkau menyerahkannya padaku dan meminta komentar mengenai outline/draft buku yang telah kau susun. Engkau juga bertanya tentang dunia tulisan, terutama yang berkenaan dengan novel. Dari dua hal itu, aku makin berkeyakinan kalau engkau adalah orang yang amat gigih dalam belajar. Filosofi ‘jadikan kekuranganmu untuk maju’ merupakan bentuk totalitasmu, yang telah mengantarkanmu meraih prestasi. Dalam beberapa lomba, engkau keluar sebagai jawara. Engkau benar-benar membuktikan, bahwa kekurangan bukanlah halangan untuk berkarya dan meraih prestasi.

Pastinya, telah banyak yang memberimu input positif, yang melejitkan semangatmu untuk menerbitkan tulisan dalam bentuk buku. Saat itu, engkau belum tahu apakah buku itu nantinya berbentuk novel ataukah kisah hikmah ala chicken soup. Lalu ku utarakan pendapat, bahwa membuat novel tak semudah melipat tangan. Tak semudah memesan minuman. Dalam novel, bumbu imaginasi harus banyak-banyak diracik. Hal yang berkebalikan tentunya, dengan kisah-kisah hikmah, yang lebih mengedepankan unsur pengalaman dan pembelajaran. Sempat juga kita berdiskusi mengenai dunia penulisan secara umum.

Tak terasa, hari sudah sore. Dari peserta kopdar yang tersisa, engkaulah satu-satunya orang yang memilih pulang lebih dulu. Engkau khawatir, jika ikut kami (aku, mas trie, we2t n bawang ijo) ke rumah kak Feb, engkau akan kemalaman dan tak dapat angkot. Menurut penuturanmu, perlu ganti 4-5 angkot untuk sampai menuju rumahmu. Aku terharu mendengar hal itu. Segera kuucapkan banyak-banyak terima kasih, atas kesediaanmu yang telah berkenan datang jauh-jauh.

“Nggak jauh sebenarnya. Hanya saja, jalur angkotnya yang rada ribet.” Ucapmu, seraya pamit pada kami semua.

Entah mengapa, mendadak saja aku seperti merasa kehilangan. Entah mengapa aku merasa bahwa itu adalah pertemuan terakhir kita. Karenanya, setelah kopdar aku berusaha mengirimkanmu PM, yang berisi kata2 motivasi. Agar engkau terus berkarya dan pantang menyerah, terutama dalam menerbitkan sebuah buku.

Setelah berkirim PM, agak lega rasanya. Setidaknya, kalau nanti meninggalkan dunia ini, aku bisa tersenyum di alam sana, melihat keberhasilan cita-citamu itu. Aku sendiri merasa hidupku sudah berada pada masa injury time. Telah beberapa kali aku dapat perpanjangan waktu yang di atas sana. Dunia yang penuh warna ini, tampak tak lebih dari hitam-putih, jika asma kerap menyergapku.

Dan duniamu sendiri, pastinya akan makin berwarna-warni. Silaturrahmi yang senantiasa engkau bangun moga2 adalah tabungan amal yang mampu memperpanjang usiamu. Menjadi lebih bermanfaat, untukmu dan untuk orang2 lain. Semangat silaturrahmi seperti itulah yang tak kumiliki. Entah mengapa, rasa enggan kerap menyergapku. Seperti saat lebaran lalu, aku tak kemana-mana. Juga tak ke tetangga sebelah. Oh, kalau yang ini, harus diakui, aku agak takut. Aku takut akan dijodohkan sama anaknya yang baru lulus SMA…

Tak biasanya, Selasa (16/11) pagi itu ada 9 sms singgah. Mbak wi2k, bunda khori, mas Isa, mbak dian, adek bawang, tante we2t, mbak dani, bang tyar, plus satu nomer asing, mengabarkan hal yang sama. Senin malam (15/11), sekitar jam 21.00, engkau menghadap Yang Maha Kuasa. Kabar itu sontak membuatku terhenyak, hingga tak ada sms yang sempat dibalas. (keburu ngepos padahal )

Benar-benar tak menyangka, engkau yang memiliki semangat besar dalam belajar, engkau yang memiliki energi tinggi dalam berbagi , mengapa secepat itu dipanggil Illahi?!

Selamat beristirahat dengan tenang, Nita.

Walau engkau belum menerbitkan buku,

buku kehidupanmu sesungguhnya sudah beredar

Buku kehidupanmu tersebar,

dalam lembar-lembar sanubari kami,

para sahabatmu,

Hai Jiwa yang tenang,

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya

(QS: Al-Fajr:27-28)

76 thoughts on “Memorabilia Sang Ratu Kopdar

  1. menatapmatahari said: as always ah!

    saturindu wrote today at 10:19 AMninelights saidErrr…makanya nomernya disimpan.:IDia sudah bahagia,kakak.🙂 Gak ada yang perlu dicemaskan karena udah ada pendamping terbaik yang akan selalu menjaganya 24 jam,Gusti Allah.:)hueheueheuehue….akhirnya ketahuan juga siapa nomer asing yang gak kedeteksi ini:))>>>mbencekno og,memang og…jyan.

  2. saturindu said: ratu nyasar itu siapa? kak feb? atau mbak niez? :))

    semoga ini jadi obituari terakhir tentang gadis sederhana yang pemikirannya tidak sederhana melainkan luar biasa itu. Jangan lagi biarkan air mata menderai terus menangisi kepergiaannya. Dia senang bersama Allah di surga abadi itu.

  3. bundel said: semoga ini jadi obituari terakhir tentang gadis sederhana yang pemikirannya tidak sederhana melainkan luar biasa itu. Jangan lagi biarkan air mata menderai terus menangisi kepergiaannya. Dia senang bersama Allah di surga abadi itu.

    amiin….turut mengahaturkan terima kasih atas doa2 yang tercurah utknya. memang sebaiknya begitu. setiap kali mengingat gadis sederhana itu, semestinya senyum yang kita rangkum. Juga doa2 kebaikan tentunya🙂

  4. ayanapunya said: semangat silaturahmi almarhum benar-benar luar biasa…

    Jangan bilang injuri time :(tak ada manusia yang diberi perpanjangan bilah telah tiba waktunyaSemoga waktu mas Suga masih lama dan Allah mengkaruniai sisa umur mas Suga dengan keberkahan dan kebermanfaatan

  5. saturindu said: iyakah? :)wah, pdahal…perasaan…sudah dipangkas separuh kadarnya…:))

    Nita memang hebat semangatnya. Karena rumah saya yang searah dengannya, Nita pernah mengajak saya untuk ikutan kopdar2 apalagi kalo diadakan malam hari katanya biar ada teman pulangnya, dan seperti biasa saya yang sok sibuk selalu mengatakan, “duuh maaf yah Nit, lain kali aja”

  6. saturindu said: Menurut penuturanmu, perlu ganti 4-5 angkot untuk sampai menuju rumahmu. Aku terharu mendengar hal itu.

    ya…itulah perputaran kehidupan…qta semua menunggu giliran..tinggal bagaimana qta bisa memanfaatkan sisa waktu yg masih diberikan dalam menanti giliran dipanggil berikutnya…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s