(Rumah Kenangan): Rumah Trauma

Kenangan yang tumpah
menodai masa
tak kan hilang
biarpun dibasuh berulang

Tiap lebaran, ketika sungkem ke rumah eyang, saya selalu melintasi rumah Joglo itu. Rumah milik kepala dusun itu pernah setahun disewa eyang. Rumah lama eyang yang berada di tepian sungai Brantas tergusur pelebaran Daerah Aliran Sungai (DAS). Sembari menunggu rumah baru rampung dibangun, kami menempati rumah tersebut untuk sementara waktu. Saat itu usia saya baru menginjak lima tahun. Belum ada satu pun sekolah dasar yang bersedia menampung. Sehingga saya terpaksa bersekolah lagi di TK. Kebetulan bibi adalah guru TK di dusun setempat. Sehingga orang tua menitipkan saya untuk tinggal bersama bibi dan eyang. Setahun berikutnya, eyang pindah ke rumah baru. Saya pun kembali ke rumah orang tua dan mulai bersekolah di SD dekat rumah. Itulah sekelumit kenangan kecil yang terbersit saat melintasi rumah tersebut.

Namun rupanya, rumah joglo itu memiliki banyak kenangan tersembunyi. Dan kenangan tersebut baru mengorbit dua tahun lalu, ketika saya mendapati rumah itu hampir rata dengan tanah. Melihat satu persatu bekas ruangannya dulu, ingatan saya pun melejit ke masa lalu. Rumah berhalaman luas itu pernah disekat menjadi empat ruangan. Dua kamar tidur di sisi kiri, satu ruang tamu besar dan satu ruang belakang di sisi kanan.

Di kamar depan itulah dulu saya tidur bersama bibi. Selepas Isya’, bibi selalu membacakan cerita atau mengajari bernyanyi. Dan tak lama setelahnya, saya pun tertidur hingga pagi hari. Namun terkadang, tidur saya tidak lelap. Seperti ada yang mengusik. Seperti terdengar suara-suara tak terlihat. Ketika terjaga, jantung saya berdebar-debar. Rasa takut tiba-tiba hinggap. Apalagi ketika mendapati bibi tak ada di kamar. Sontak saya berteriak-teriak memanggil namanya. Ketakutan itu baru hilang saat bibi datang menenangkan.

Ada kalanya bibi tak datang biarpun saya sudah berteriak kencang-kencang. Rasa panik kian menjadi-jadi ketika tak mendapati bibi di seluruh penjuru rumah. Apalagi Eyang Kakung dan Eyang Putri belum juga pulang dari pengajian. Bila demikian, saya hanya bisa menangis keras-keras. Suara tangis itu kadangkala terdengar oleh si Mbok Jamu, tetangga depan rumah. Ia pun tergopoh-gopoh datang dan menenangkan. Selain suka memberi jamu secara gratis, si Mbok juga sering memberi wejangan. Utamanya, menjadi anak laki-laki itu harus berani. Tak perlu takut. Bahkan pada tetangga belakang rumah, yang notabene dihuni oleh seorang nenek gila yang sering bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa sendiri. Pernah beberapa kali, nenek itu melempari saya dengan kerikil, jambu busuk atau benda apa saja di dekatnya. Hingga setelahnya, saya trauma untuk melintasi jalanan depan rumahnya.

Tak banyak tamu yang datang ke rumah Joglo. Eyang Kakung lebih suka menerima tamu di beranda masjid, yang letaknya persis di sebelah kanan rumah. Ruang tamu yang besar itu pun berasa lengang. Namun di suatu siang, kedatangan paman memecah kesunyian. Kami semua larut dalam haru bercampur bahagia, menyambut paman yang baru kembali dari dinasnya di Timor Timur. Bibi lalu meminta saya membeli rujak kesukaan paman, dengan sambal yang pedas. Alangkah kagetnya, ketika pulang suasana berubah tegang. Tak biasanya eyang kakung berbicara dengan nada keras kepada paman. Begitu juga dengan bibi. Namun paman tak kalah garang. Ia malah mengancam akan membunuh kami semua, kalau berani mencampuri urusannya. Saya sendiri tak mengerti apa masalah di antara mereka. Tapi saya mengerti benar kalau paman bersungguh-sungguh terhadap ancamannya itu. Paman pernah bercerita kalau ia telah beberapa kali menghajar polisi hingga terkapar bersimbah darah. Hanya gara-gara salah tilang. Imbasnya, kenaikan pangkat paman ditunda empat tahun!

Mendengar ancaman paman, Eyang Kakung malah menantang. Eyang Putri dan bibi tampak panik. Saya yang juga tak kalah panik, langsung berlari ke samping rumah. Di bawah rerimbunan tanaman talas, saya bersembunyi. Dengan napas tersengal-sengal. Entah apa yang terpikir saat itu. Tangan saya menggenggam batang talas erat-erat, lalu menggigit dan mengunyah daunnya. Hingga lidah berasa gatal. Saya muntah-muntah. Saya berlari masuk kembali ke ruang tamu sambil menangis. Pandangan seisi ruangan langsung tertuju pada saya. Tangisan saya makin keras karena rasa gatal kian menjadi. Mereka pun menghentikan perdebatan. Eyang Putri lalu meminta saya menjulurkan lidah. Dan tampaklah bintik-bintik besar di lidah atas yang menggelembung. Teh manis, rujak pedas, jambu air, selai roti dan pisang secara bergantian dijejalkan ke dalam mulut. Namun tak ada efeknya. Lidah masih teramat gatal. Saya makin kencang menangis dan bergulung-gulung di halaman.

Paman segera turun tangan. Dibopongnya saya menuju rumah si Mbok depan rumah. Dimintanya saya berkumur aneka jamu secara berganti-ganti. Mulai dari beras kencur, kunyit, sari laos hingga jamu pahit butrowali. Terus begitu. Tak berhenti-berhenti. Hingga rasa gatal di lidah berangsur-angsur sirna. Saya lega, malam harinya lidah saya sudah normal kembali. Perasaan saya makin lega, karena setelah itu tak terdengar lagi pertengkaran paman dengan eyang.

Memandangi ruang belakang rumah Joglo itu, ingatan saya pun melesat pada kejadian semasa kuliah, ketika saya datang ke sana lagi. Setelah bertahun-tahun tak ditempati, rumah tersebut disewa ayah untuk beternak 10.000 burung puyuh.

Suatu hari ayah meminta saya menemani Parmin, seorang pekerja yang menjaga rumah tersebut. Sebenarnya ada dua pekerja, tapi seorang lagi sedang cuti. Dan sayalah yang menggantikan tugasnya, termasuk memunguti satu persatu telur puyuh dan memasukkannya dalam kardus khusus. Pada saya, Parmin pernah bercerita tentang keangkeran rumah Joglo itu. Suara-suara aneh pernah didengarnya. Hampir tiap malam burung puyuh tampak ketakutan. Pintu belakang rumah pernah beberapa kali dilempar batu. Suaranya terdengar sangat keras, membangunkan mereka berdua yang tengah terlelap. Anehnya, ketika ia dan temannya membuka pintu, tak ada satu pun batu atau benda besar lain yang tampak. Beberapa peristiwa tersebut membuatnya tak berani lagi berjaga sendirian. Agaknya, alasan inilah yang membuat ayah mengutus saya untuk menemani Parmin.

Setelah menyelesaikan tu
gas, sekitar pukul sembilan malam Parmin pamit keluar untuk membeli rokok dan kopi. Saya berpesan padanya agar segera kembali, sembari nitip dibelikan teh hangat. Untuk mengusir sunyi, suara musik pada tape recorder sengaja saya kencangkan. Lalu saya merebahkan diri di ruang belakang. Pandangan saya terarah ke atas, pada siku kayu jati yang menjadi penopang rumah. Tak lama setelahnya, saya terlelap dan bermimpi. Saya seperti melihat dua anak kecil berlari-lari di atas siku kayu. Seorang wanita mengawasi tak jauh dari keduanya. Sontak saya terbangun. Jantung berdebar-debar kencang. Suasana terasa amat sunyi. Alunan musik tak terdengar lagi. Saya melihat jam. Hampir pukul dua belas. Parmin belum juga kembali.

Tak berapa lama, terdengarlah suara puyuh berisik. Asal suara datang dari ruangan depan sebelah kiri. Jantung ini makin berdebar-debar. Saya pun teringat pada kisah-kisah seram tentang rumah Joglo itu sebagaimana pernah diceritakan Parmin. Saya bergidik. Apalagi baru teringat, kalau malam itu adalah malam Jum’at. Mencuat juga rasa sesal. Mengapa tadi menolak ajakan Parmin untuk keluar bersama?!

Sempat terpikir untuk cepat-cepat keluar dari rumah. Namun saya ingat kembali pesan ayah, agar menjaga puyuh-puyuhnya. Saya pun diam dan mencoba menenangkan diri. Suara berisik puyuh beberapa kali terdengar, membuat jantung makin berdebar-debar. Makin lama saya makin takut. Namun tak urung, rasa penasaran mengalahkan ketakutan yang ada. Saya pun mengumpulkan segenap keberanian. Perlahan diri ini melangkah menuju sumber suara. Saya ingin membuktikan apakah cerita Parmin benar adanya ataukah isapan jempol belaka.

Begitu memasuki ruangan tersebut, bulu kuduk langsung berdiri. Seperti ada getaran kuat. Dari samping kiri. Sontak saya menoleh. Serasa ada angin yang menerpa wajah. Tapi tak ada apa-apa yang terlihat. Yang ada hanyalah puyuh-puyuh yang sepertinya ketakutan. Anehnya, semua puyuh di semua rak bertingkat mengumpul di sudut yang sama. Saya makin bergidik. Seketika itu juga ingin berlari keluar.

Namun niat tersebut saya urungkan. Terngiang lagi wejangan si Mbok Jamu. Bahwa saya tak boleh takut menghadapi apapun. Saya menahan napas agar tak panik. Doa sholawat dan keselamatan terpanjat dalam hati. Lambat-lambat, kenangan masa kecil serasa bergulir kembali. Dulu di ruangan itu, tidur saya kerap terganggu. Bayangan hitam-tinggi-besar sering menampakkan diri. Membuat saya ketakutan dan menangis tak henti-henti. Itulah dulunya yang membuat saya tak betah tinggal di desa eyang, hingga terpaksa paman mengantarkan saya kembali ke rumah orang tua. Agaknya, karena rasa trauma mendalam, kemampuan saya dalam melihat penampakan lantas sirna.

Setelah subuh, Parmin baru tampak batang hidungnya. ketika ia bertanya apakah ada kejadian yang spesial yang saya alami, kepala saya hanya menggeleng. Seminggu setelah kejadian tersebut, saya datang ke rumah itu lagi. Bersama seorang teman yang cukup piawai dalam melihat penampakan. Hari itu kami sudah menyiapkan air tiga baskom, yang sudah diberi doa-doa. Air itu rencananya akan ditumpahkan ke sekeliling rumah, untuk mengusir makhluk dunia lain yang selama ini bercokol di dalam rumah dan mengganggu burung-burung puyuh. Sebelum niat itu terlaksana, seperti terdengar suara-suara tak terlihat yang meminta agar kami membatalkan rencana tersebut.

“Kalau kamu mengusir kami, puyuh-puyuhmu akan binasa!”

Tapi kami tak menghiraukan ancaman itu. Kami tetap menyebarkan air baskom. Ke seluruh penjuru rumah. Hingga sebulan kemudian, di tengah aktivitas perkuliahan di Surabaya, saya mendengar semua burung puyuh yang ada di rumah Joglo itu mati. Bukan di rumah itu saja. Semua usaha ternak puyuh di desa tersebut juga mengalami nasib serupa. Padahal ketika itu wabah flu burung belum ada. Peternak ayam dan itik juga tak bernasib seperti kami. Beberapa kali warga desa itu memelihara burung puyuh lagi. Namun selalu saja puyuh-puyuh tersebut mati. Hingga warga menjadi agak trauma untuk beternak puyuh lagi.

Rasa sesak sontak menyeruak ke dalam rongga dada, demi mengingat semua kenangan yang pernah singgah. Tak dinyana, rumah Joglo itu menyimpan beberapa trauma yang selama ini seolah terlupa. Rasa sesal juga sempat mencuat, mengingat bagaimana dulunya usaha ayah mesti hancur karena ulah saya. Kalau saja saya mendengarkan perkataan makhluk itu, tentunya usaha puyuh ayah tak akan mengalami kebangkrutan.

Namun pemikiran tersebut segera saya buang jauh-jauh. Segala sesuatu berasal dari Yang Maha Kuasa. Dialah yang berkendak atas segala sesuatu. Segala hal pasti terjadi atas Izin-Nya semata. Demikianlah dulu yang terjadi pada usaha puyuh ayah. Usaha tersebut bangkrut karena belum diridhoi-Nya, bukan gara-gara makhluk itu.

Ada kelegaan tersendiri saat memandangi reruntuhan rumah Joglo itu untuk terakhir kali. Rumah itu tak lagi tersekat-sekat oleh pembatas ruangan. Pemandangan berasa lebih lapang karenanya. Mungkin begitu jugalah seharusnya diri ini, yang tak boleh lagi tersekat-sekat oleh trauma masa lalu. Agar bisa lebih lapang dan ikhlas dalam menatap hari-hari depan.

. -=o0o=-

tulisan ini diikutkan dalam lomba rumah kenangan, mbak Intan

109 thoughts on “(Rumah Kenangan): Rumah Trauma

  1. 25102004 said: kalau batangnya bentoel enak lho dimasak…malah waktu hamil dulu aku ngidam sayur dari batng bentoel ini lho…untung waktu itu nemu kalau gak pasti si restu akan ngiler terus karena keinginannya gak kesampaian

    iya, saya juga pernah makan…:)kata orang, kl banyak2 bikin mabuk dan pening yah?:)wah, disayur apa enak?syukurlah…bs didapat yah….akhirnya si bentoel ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s