[Puasa Pertamaku] : Puasa PertamaX di Penjara

Kibaran angin berbaur debu-debu. Membuat pedih mata yang telah lelah berkendara. “Tapi sebentar lagi juga sampai,”gumamku, sambil terus berkonsentrasi pada jalanan tepian kali Brantas.

Samar-samar di kejauhan, terlihat seorang petani berdiri di pinggir jalan. Seperti hendak menyeberang. Kukurangi laju kendaraan, sembari agak menepi ke kiri. Rem tangan dan kaki sudah siap sedia, berjaga-jaga seandainya petani tua itu benar-benar melintas di depan mata.

Petani tua itu berdiri di tengah, seperti gamang melangkah. Untuk beberapa lama ia terdiam di sana, seperti berniat memberikan kesempatan pada motorku untuk lewat. Kutarik gas lagi, menyusuri pinggir kiri jalan yang berbatasan dengan sawah-sawah di bawahnya. Tapi sedetik kemudian, sesosok tubuh itu berlari kencang, melintas tepat di depanku. Dalam kepanikan, bukan rem yang kupegang. Malahan putaran gas yang kuperkencang. Sedetik berikutnya, barulah tangan dan kaki menginjak rem kuat-kuat.

Tapi sudah terlambat! Bapak tua itu sudah terkapar di tengah jalan. Spontan ingin kuberlari. Ingin kulajukan kendaraan kencang-kencang, berniat menjauh dari tempat kejadian. Tapi segera kuurungkan. Sebuah tepukan di bahu mengajakku untuk segera menolong korban.

“Yuk, kita angkat sama-sama!”seru Jay, yang dari tadi duduk di boncengan belakang.

Orang-orang sudah berdatangan. Ramai-ramai mereka berkerumun di TKP. Sebagian mengiringi korban ke rumah sakit, sebagian lagi menggelandang kami ke balai desa. Serupa pencuri ayam yang tertangkap basah. Satu-dua orang hampir berhasil melayangkan bogem mentah, untungnya masih ada tangan-tangan lain yang mencegah dan menangkisnya.

“Katakanlah, Jay! Katakanlah kalau ini sekedar mimpi!”ucapku berkali-kali, dengan tubuh masih agak gemetar saat menanti sang kepala desa tiba.

Jay terdiam gelisah, tak menyahuti kata-kataku. Aku, yang masih belum mampu menenangkan diri, lalu mengajaknya mencari minuman. Segelas air putih mungkin akan menyejukkan!

“Lho, nggak puasa, tha?!”tanyanya.

Ya Tuhan! Baru sadar, kalau ini adalah hari pertama puasa!

***

Matahari sore menorehkan gundah. Setiap kali kupandangi sinar jingganya yang memagut jeruji jendela, seketika itu pula rasa kalut melanda jiwa. Magrib hampir tiba, dengan apa nanti aku berbuka puasa?

Semalam, setelah nyawa petani tua itu tak terselamatkan, berakhirlah upaya damai agar kasus ini tak sampai ke tangan polisi. Kepala desa langsung membawaku ke kantor polisi. Merekapun lalu memasukkanku dalam ruangan 2×3 tanpa penerangan lampu. Hanya ada satu jendela kecil, tempat udara dan cahaya masuk.

Tadinya aku berharap mendapat makanan jatah, yang bisa dipakai sebagai bekal berbuka. Tapi hingga sore tak secuilpun makanan tersuguh. Menjelang maghrib, tubuhku makin terasa lemas. Baru kusadari, kalau pagi tadi aku juga tak makan sahur.

Kuterawang jeruji-jeruji jendela, sambil membayangkan seseorang berbaik hati menyodorkan makanan dari sana. Untuk beberapa lama pikiranku mengembara entah kemana!

Tiba-tiba sebuah benda melesat dari luar jendela dan jatuh ke lantai. Segera kubangun, meraba benda itu. Ternyata jeruk! Walau merasa agak aneh dan diliputi tanda tanya, kusyukuri hadirnya jeruk itu. Dengan begitu, aku nanti bisa berbuka puasa!

Tak berapa lama beberapa benda melesat lagi dari luar. Ada jeruk, sandal jepit dan yang terakhir…beberapa kerikil serta bongkahan batu! Terdengar suara-suara orang yang makin lama makin terdengar kencang. Mereka berteriak-teriak ‘bajingan’, ‘bangsat’, ‘pencuri’, ‘penjambret!’

Sudah pasti mereka adalah penduduk desa yang marah, karena salah satu warganya mati tertabrak olehku. Kedatangan mereka ke kantor polisi ini pasti untuk melabrakku.

Tak berapa lama, pintu penjara terbuka. Seseorang yang bajunya sobek masuk. Pintu kemudian ditutup kembali. Teriakan orang-orang masih ramai terdengar, hingga bedug maghrib berbunyi.

Dengan ragu, kukupas jeruk dan memakannya. Satu jeruk lagi kuberikan pada orang yang baru masuk tadi. Tapi ia menolaknya. Lalu ia bertanya, mengapa aku berada di penjara.

“Membunuh orang!”

Jawabanku sepertinya agak membuatnya merinding ketakutan. Lantas kutanya sebaliknya.

“Saya? Saya habis njambret kalung di pasar sini. Begitu ketahuan dan dikejar-kejar orang, langsung saja saya menyelamatkan diri ke kantor polisi ini.”

“Oh, jadi orang-orang yang ramai tadi itu…?”aku tak meneruskan ucapanku. Aku lega, ternyata penduduk desa tadi berniat melabraknya, bukan melabrakku.

Ia mengangguk.

“Trus kalungnya kemana?”

“Sudah diserahkan pada polisi.”

Aku menggut-manggut. Lalu untuk beberapa lama kami saling diam. Hingga kubertanya lagi,”Sampeyan ini aslinya orang mana?”

“Saya? Asli Peterongan!”

Ha? Peterongan – Jombang? Dua orang yang berasal dari satu kota, yang notabene kota santri, ternyata bisa bertemu di penjara kota sebelah!

-o0o-

Tulisan ini dibuat sebagai pengingat diri, bahwa::

Life is like a roller coaster,
sometimes you’re up, sometimes you’re down.
But you ALWAYS have to REMEMBER.
It was designed just to have FUN!

dan juga untuk berpartisipasi pada Lomba Puasa Pertamaku

*versi lain tulisan ini, bisa dibaca di sini atau di sini

147 thoughts on “[Puasa Pertamaku] : Puasa PertamaX di Penjara

  1. ibuseno said: kejadian gini yg menyebabkan banyaknya kasus tabrak lari. lha wong tanggung jawab aja ujungnya penjara, keluar biaya banyak..

    iya, yah Teh.jadi keingetan, kalau ibunda teman saya beberapa bulan lalu juga meninggal karena tertabrak motor, karena hendak menyeberang. kalau ini, murni kelalaian sang pengendara, yang sudah pernah juga menabrak orang dan meninggal *kejadiannya setahun lalu*yang agak membikin trenyuh, setelah lebih dari 8 tahun tak ketemu, saya hanya satu menit saja berjumpa dengan ibunda teman saya itu, saat saya berkunjung ke rumahnya *karena sedang buru2, sembari berjanji akan datang lagi secepatnya.tak dinyana, itu pertemuan terakhir….

  2. ibuseno said: kejadian gini yg menyebabkan banyaknya kasus tabrak lari. lha wong tanggung jawab aja ujungnya penjara, keluar biaya banyak..

    Anunya belum sempet dianu-anu. Jadi anu saya teranu-anu. Mohon anunya..*dikeplak berjamaah*

  3. saturindu said: iya, yah Teh.jadi keingetan, kalau ibunda teman saya beberapa bulan lalu juga meninggal karena tertabrak motor, karena hendak menyeberang. kalau ini, murni kelalaian sang pengendara, yang sudah pernah juga menabrak orang dan meninggal *kejadiannya setahun lalu*yang agak membikin trenyuh, setelah lebih dari 8 tahun tak ketemu, saya hanya satu menit saja berjumpa dengan ibunda teman saya itu, saat saya berkunjung ke rumahnya *karena sedang buru2, sembari berjanji akan datang lagi secepatnya.tak dinyana, itu pertemuan terakhir….

    untungnya masih sempat bertemu untuk terakhir kalinya ya Mas Suga, kadang itu yg tdk kita tahu..🙂

  4. saturindu said: iya, yah Teh.jadi keingetan, kalau ibunda teman saya beberapa bulan lalu juga meninggal karena tertabrak motor, karena hendak menyeberang. kalau ini, murni kelalaian sang pengendara, yang sudah pernah juga menabrak orang dan meninggal *kejadiannya setahun lalu*yang agak membikin trenyuh, setelah lebih dari 8 tahun tak ketemu, saya hanya satu menit saja berjumpa dengan ibunda teman saya itu, saat saya berkunjung ke rumahnya *karena sedang buru2, sembari berjanji akan datang lagi secepatnya.tak dinyana, itu pertemuan terakhir….

    sebagai pengingat untuk bisa lebih berhati-hati….

  5. saturindu said: Life is like a roller coaster,sometimes you’re up, sometimes you’re down.But you ALWAYS have to REMEMBER.It was designed just to have FUN!

    oh ini kisah nyata ya mas..kupikir sebuah cerpen. semoga hanya sekali terjadi ya mas

  6. saturindu said: Life is like a roller coaster,sometimes you’re up, sometimes you’re down.But you ALWAYS have to REMEMBER.It was designed just to have FUN!

    semoga lebih berhati-hati di jalan ya… 🙂

  7. estiningtyas said: oh ini kisah nyata ya mas..kupikir sebuah cerpen. semoga hanya sekali terjadi ya mas

    amiin…sekali lebih dari cukup, untuk menangkup butiran hikmah, yang tepercik dari peristiwa itu:)salam kenal, mbak Esti. terima kasih telah berkenan singgah:0)

  8. ibuseno said: untungnya masih sempat bertemu untuk terakhir kalinya ya Mas Suga, kadang itu yg tdk kita tahu..🙂

    Iya, walaupun sudah punya feeling tak bagus. Entah kenapa, sepanjang jalan, teringat2 terus sama ibunda teman tersebut. pengin mengamini ajakan makan siangnya, namun waktu tak berpihak

  9. dekmaniezt said: Anunya belum sempet dianu-anu. Jadi anu saya teranu-anu. Mohon anunya..*dikeplak berjamaah*

    wah bener2 penglaman yang kalau buat saya pasti mengoyak hati, pertama karena rasa bersalah dan yang kedua sama kayak yang Mas Suga bilang, merasa di titik nol.kok ga dituntasin ceritanya Mas? untung tadi baca di komen tentang proses pembebasannya.

  10. nawhi said: kok ga dituntasin ceritanya Mas? untung tadi baca di komen tentang proses pembebasannya.

    kl ditulis, ntar panjang….dan lama…seperti pembebasan awak kapal indonesia yang disandera di somalia…:))))

  11. nawhi said: wah bener2 penglaman yang kalau buat saya pasti mengoyak hati, pertama karena rasa bersalah dan yang kedua sama kayak yang Mas Suga bilang, merasa di titik nol.

    terus terang, setelah itu….ada masa2 ketika saya ‘menjauh’ sementara waktu dari tuhan…sebagai ‘protes’ kecil2an:-D

  12. nawhi said: wah bener2 penglaman yang kalau buat saya pasti mengoyak hati, pertama karena rasa bersalah dan yang kedua sama kayak yang Mas Suga bilang, merasa di titik nol.

    Mantap!

  13. nawhi said: wah bener2 penglaman yang kalau buat saya pasti mengoyak hati, pertama karena rasa bersalah dan yang kedua sama kayak yang Mas Suga bilang, merasa di titik nol.

    waduh puasa hari pertamanya yg sudah 14th silam cukup menegangkan

  14. nawhi said: wah bener2 penglaman yang kalau buat saya pasti mengoyak hati, pertama karena rasa bersalah dan yang kedua sama kayak yang Mas Suga bilang, merasa di titik nol.

    ga ada yg habis merkosa orang,Om?hehe…

  15. nawhi said: wah bener2 penglaman yang kalau buat saya pasti mengoyak hati, pertama karena rasa bersalah dan yang kedua sama kayak yang Mas Suga bilang, merasa di titik nol.

    setiap naik motor selalu kecepatan tinggi, kalau ga salah kk pernah cerita mas suga lupa sudah berapa rokaat shalatnya, gara2 naik motor dengan kecepatan super, untung dech kk, tth dan ade ga pernah ikutan naik motor dengan mas suga, yg pasti gladys ga akan mau ikut 🙂

  16. khoriyatulj said: setiap naik motor selalu kecepatan tinggi, kalau ga salah kk pernah cerita mas suga lupa sudah berapa rokaat shalatnya, gara2 naik motor dengan kecepatan super, untung dech kk, tth dan ade ga pernah ikutan naik motor dengan mas suga, yg pasti gladys ga akan mau ikut 🙂

    wahhhh…bunda khori masih ingat saja…saya saja sudah amnesia, huehuehue…berapa rakaat yah, dulu…huehuedulu pernah habis boncen mantan, trus mau nabrak…jadinya dia nangis2 di pinggir jalan, tak mau dibonceng lagi. Well, akhirnya dengan diplomasi tingkat tinggi, dia luluh juga.sejak itu, saya berjanji pada diri, kl bonceng orang lain, kecepatan maks 60kmh:)adek farhan, tt dan kk pasti lebih suka dihantar pk mobil, bunda…hehe

  17. saturindu said: wahhh…jangan sampai!jadi keingetan kejadian di koran, pemerkosaan di tempat karaoke.wanitanya mengundang2 gitu sih, yah….hehe

    iya.kacau dah. tuh…makanya jgn sering2 karaoke-an hehe…

  18. saturindu said: wahhhh…bunda khori masih ingat saja…saya saja sudah amnesia, huehuehue…berapa rakaat yah, dulu…huehuedulu pernah habis boncen mantan, trus mau nabrak…jadinya dia nangis2 di pinggir jalan, tak mau dibonceng lagi. Well, akhirnya dengan diplomasi tingkat tinggi, dia luluh juga.sejak itu, saya berjanji pada diri, kl bonceng orang lain, kecepatan maks 60kmh:)adek farhan, tt dan kk pasti lebih suka dihantar pk mobil, bunda…hehe

    60kmh juga masih ngebut mas, coba aja di bandung dan cimahi ga akan bisa bawa motor segitu cepat, tapi di rimba batam mungkin masih bisa :))lebaran dimana?om man dan keluarga lebaran di bukit kemuning

  19. khoriyatulj said: 60kmh juga masih ngebut mas, coba aja di bandung dan cimahi ga akan bisa bawa motor segitu cepat, tapi di rimba batam mungkin masih bisa :))lebaran dimana?om man dan keluarga lebaran di bukit kemuning

    wahh…iya….. di cimahi, ..saya pernah bawa motor, kecepatannya maks 40-50 kmh….motor2 seperti semut, berderet, nyaris berdempetan :)liburan pulang ke mana yah?*ntar diundi dulu, hehe…tergantung kemana angin membawa.,..huehue

  20. debapirez said: iya.kacau dah. tuh…makanya jgn sering2 karaoke-an hehe…

    saturindu wrote on Aug 5ninelights said:-)*sodorin bakiak>>>ISH! SADIS TERUS KALAU SAMA AKUH!#sensi #capslock rusak yang sengajaaku cuma bisa menghadiahkan senyum sebagai rasa empatiku kepada apa yang telah kau lalui dulu itu,kakak:)

  21. saturindu said: Ha? Peterongan – Jombang? Dua orang yang berasal dari satu kota, yang notabene kota santri, ternyata bisa bertemu di penjara kota sebelah!

    Rian juga berasal dari jombang lho masss…*memang’lah orang jombang..??? beda dgn orang malang..:) santri2 dan suka beramal.. wuakka……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s