Seteruku….

Seteruku kini menjelma serupa mawar, rekah kelopaknya membuka lebar
Lentik putiknya mengedip ribuan kali, mengundang kawan-kawanku bertandang padanya.
Dan disihirnya mereka menjadi kupu-kupu.
Beterbangan bergantian mengitari benang sarinya

Pada lapak yang makin lapang, terbentang cerita. Di beranda mahkotanya mereka berpesta. Di cawan serupa madu hidangan tersuguh
Serasa anggur mencurah lidah
Berbuih putih
Dalam lelap yang menyergap
Mereka berkicau
tentang peri malam menyandera pangeran

di pasi pagi, kala surya terkulai di awan mimpi

Seteruku kini menjelma serupa kekasihku

Pagut mulutnya adalah memar camar yang mematuk dada samudera

Ikan-ikan tertimbun di lambungnya

Nanap matanya mengudap engah

Sigap menyergap beku tubuhku

Lalu diterbangkannya aku menuju langit-langit belukar

Dan di ngarainya aku terhimpit terkapar


Seteruku, kamukah itu?


Terinspirasi oleh :

Lagu: Sutra atau Rayon

Jika kau seteru
Pena ini pedang untukmu
Puisiku ini
Hanya racun dalam madu

Dan suaraku
Akan pasti menjadi guruh
Yang menyambar
Dan pastikan membakar
Rayon cintamu

Jika kau seteru
Laguku menjadi peluru
Pastikan meledak
Menembusi telinga itu

Layu bunga
Kerana kehilangan madu
Layu cinta
Tak dapat memenuhi hasrat rindu

Andainya engkau kekasihku
Penaku menjadi seruling
Menghembus irama rindu
Tanda kasih tak berpaling

Rayon palsu
Pasti akan lusuh.

90 thoughts on “Seteruku….

  1. ninelights said: eh..jadi ini beneran buat saya?#makinmenimbulkanhosiphosip:))#masukin tepungnya ke kocokan telur#buat sarapanhihi :-p

    vote untuk sastrawan terbaik😉 eh ini bukan kampanye yak

  2. anazkia said: Bingung mau komennya, Dudul puisi :DDudul sastra juga *dikeplaks Mas Suga*

    indung2 kepala lindung hujan diudik disini mendunganaz napa kok jadi bingungmendingan yuk makan es palu putung:))

  3. pisaubelati said: jangan bilang ia menghilangkerna aku tak mau berpantangburulah kasih hingga berbilangcegah seteru melempar pandang

    memburu bayangannya, sama halnya memburu bulan di kala gerhanakadang lalu terlihat ia berendam di telaga, lalu terbang entah kemana

  4. pisaubelati said: jangan bilang ia menghilangkerna aku tak mau berpantangburulah kasih hingga berbilangcegah seteru melempar pandang

    bukaaann aku bukan seteru Mas Suga..aku mah mau-nya temenan aja sama Mas Suga *salaman*

  5. ivoniezahra said: seteru sama puisi? Kereeeeeen😀

    kala berseteru dengan waktuhanya lelahbersimbah rasa menelan bermega sukmabahwa pelangi ini hanya sebatas cakrawalasedangkan kuterlanjur mencintai kebiruannyaseperti langitatap yang tiada pernah terjamahbegitulah ia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s