Belajar Sastra, Mengasah Ragam Kecerdasan

“Kecintaan membaca buku dalam bidang apapun, secara awal ditumbuhkan melalui kecintaan membaca karya sastra.” (Taufik Ismail)

Amat disayangkan, pembelajaran sastra di sekolah formal tidak mendapatkan porsi yang cukup jika dibandingkan pembelajaran tentang tata bahasa dan keterampilan praktis lainnya. Guru sekedar menjelaskan apa yang tertera di buku, tanpa memberi penjelasan lebih jauh. Dengan praktek misalnya. Bisa jadi hal ini dilakukan karena waktu yang amat terbatas, atau memang pengetahuan mereka yang terbatas.

Implikasinya bagi siswa, sastra menjadi pelajaran yang kurang menarik, bahkan cenderung membosankan. Tidak mengherankan kalau pada akhirnya Sastra kurang mendapat tempat di ‘hati’ masyarakat–utamanya generasi muda.

Padahal bila digali dan dieksplorasi lebih dalam, pembelajaran sastra—pantun, gurindam, puisi, cerpen, hikayat, novel, drama, dll—akan sangat bermanfaat, untuk mengasah kecerdasan-kecerdasan yang lain. Misalnya, kecerdasan bahasa, kecerdasan emosional, kecerdasan Interpersonal & alam (natural), kecerdasan kreatif dan kecerdasan logika/Matematika.

Kecerdasan Emosional

Terdapat 5 aspek yang membangun kecerdasan emosi, yaitu:

1. Memahami emosi-emosi sendiri

2. Mampu mengendalikan emosi-emosi sendiri

3. Memotivasi diri sendiri

4. Memahami emosi-emosi orang lain

5. Mampu membina hubungan sosial

Dengan membaca karya sastra, semisal cerpen, hikayat, atau novel, yang mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik, kecerdasan emosional kita makin terasah. Saat membaca, kita akan belajar mengenali alur cerita dan konflik-konflik di dalamnya. Hal ini berarti kita juga secara tak langsung akan belajar memahami emosi-emosi yang melibatkan tokoh-tokohnya, serta motivasi yang menggerakkannya. Pada bagian yang menyajikan kesedihan, kita juga belajar berempati pada tokoh yang mengalami penderitaan. Secara tak langsung, dengan cara demikian, kita belajar mengendalikan diri saat mengalami kesedihan.

Dari konflik-konflik yang terjadi–terutama saat cerita mengalami klimaks, lalu turun pada antiklimaks dan solusi sudah didapatkan—kita bisa belajar bahwa pada setiap kesulitan (konflik), selalu ada solusi yang menyertainya. Solusi akan makin cepat didapatkan bila kita mampu mengendalikan diri.

Belajar membuat puisi sendiri sama halnya belajar menggali emosi diri. Semakin banyak kita menggali dan mengeksplorasi perasaan sendiri, akan semakin baik kita mengenal diri sendiri. Hal ini makin menambah kendali diri di masa mendatang. Belajar drama akan mengajarkan kita untuk bersosialisasi dengan orang lain, selain mengasah keecerdasan gerak atau kinestesia *apalagi bila disertai dengan tari2an.

Kecerdasan Kreatif

Karya sastra yang berupa cerita fiksi terkadang memerlukan pembacaan yang mendalam dan berulang. Pembaca harus menghidupkan imajinasinya untuk menyatukan potongan teka-teki yang mungkin tidak utuh ataupun membingungkan. Hal ini, secara tak langsung akan mengasah kita (sebagai pembaca) untuk ‘meraba’, ‘mengendus’ atau ‘menebak’ bacaan sastra, semisal puisi atau cerpen yang terdapat kata-kata simbolik, petunjuk-petunjuk yang tersamar atau tersembunyi, dll.

Dengan cara demikian, kita diajak untuk berpikir di luar pakem atau ‘out of the box’. Paradigma berpikir tersebut sangat penting untuk mengasah kreativitas, menumbuhkan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif.

Kecerdasan Intrapersonal & natural

Karya sastra bisa bersumber dari dalam diri dan di luar diri. Karya sastra yang bersumber dari perenungan/kontemplasi diri (sastra kamar) akan menambah kecerdasan intrapersonal, yakni kecerdasan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri, agar Body-Mind-Soul menjadi lebih selaras dan harmonis. Karya sastra yang bersumber dari luar diri (lingkungan sekitar)
berpotensi menambah kecerdasan natural (alam). Semakin banyak berhubungan dengan alam, manusia akan makin menyayangi alam beserta sumber dayanya.


Kecerdasan Logika/Matematika

Banyak kosa kata dalam bahasa Indonesia yang makin hari makin tidak popular. Ini bisa dimengerti karena kosa kata tersebut jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Kosa kata tersebut mungkin hanya ditemui dalam bahasa sastra.

Membaca dan memahami lebih banyak kosa kata, akan membantu kita mengasah kecerdasan logika/matematika. (digabungkan dengan teknik Superlearning)

Misalnya kita ingin menghapal 14 angka pi di belakang koma

π = 3.14159265358979….

pertama, kita pakai kode angka (Numeric Code) berikut :

0

S

1

T

2

D

3

G

4

P

5

M

6

N

7

J,C

8

L

9

B

Selanjutnya, ke-14 angka di belakang pi: 14159265358979 kita ganti menjadi huruf, sehingga menjadi TPTMBDNMGLBJB

Dengan menambah huruf vocal diantara konsonan (14 huruf), didapatkan kata berikut:

ToPiTaMuBiDaNMoGaMeLeBarJoBak

* Jobak>>>dari kata jobak(=bergelegak)

** vocal dan huruf r & k boleh ditambahkan, karena tidak ada dalam table di atas

Dengan Teknik Akronim (Imagination Code), kita juga bisa menghapal rumus-rumus luas dengan lebih mudah. Misalnya:

Lingkaran pil kuat, segitiga setengah akal tinggi adalah akronim dari (luas lingkaran=pi kuadrat, luas segitiga=setengah alas kali tinggi)

Makin banyak kata (yang tak populer) yang kita hapalkan, makin banyak kombinasi huruf-huruf yang bisa kita susun, sehingga akan makin memudahkan kita dalam menghapal lebih banyak kombinasi angka. Dengan cara demikian, pembelajaran Matematika, terutama yang bersifat hapalan, akan lebih mudah dilakukan.

-o0o-

42 thoughts on “Belajar Sastra, Mengasah Ragam Kecerdasan

  1. Sampai dua kali bacanya sambil deg deg an sebab sambil mempertanyakan kecerdasan diri…hihi…apalagi pas om Suga udah nyebut2 angka..matematika..adoh langsung anjlok deh kepercayaan diri ini. Hmm…nampaknya musti mulai banyak baca sastra nih saya buat ngasah otak dan nambah diksi.

  2. wayanlessy said: Sampai dua kali bacanya sambil deg deg an sebab sambil mempertanyakan kecerdasan diri…hihi…

    wah…mbak wayan ini merendah pastinya :-Dsaya kadang2 kagum, sekaligus malu, karena kadang2 diksi yang dipakai mbak wayan, di banyak postingan, ada yang tak saya mengerti…hihi.*jadinya, langsung buka2 kamus:))

  3. wayanlessy said: apalagi pas om Suga udah nyebut2 angka..matematika..adoh langsung anjlok deh kepercayaan diri ini.

    wah..knp bs begitu? :)kebanyakan siswa, setahu saya, tak menyukai matematika karena masalah psikologis :-Dbeberapa malah pusing dan mual, melihat deretan angka2…hihisetelah saya mengenalkan Superlearning dan Mathemagic pada mereka, alhamdulillah….mereka cukup enjoy.🙂

  4. wayanlessy said: apalagi pas om Suga udah nyebut2 angka..matematika..adoh langsung anjlok deh kepercayaan diri ini.

    Saya selama ini membaca ga pernah sadar akan kecerdasan2 yg secara ga langsung terasah itu. Taunya menikmati jalan cerita dan mengambil inspirasi dari idenya, Makasih Mas infonya.

  5. wayanlessy said: apalagi pas om Suga udah nyebut2 angka..matematika..adoh langsung anjlok deh kepercayaan diri ini.

    Trik2 sejitu apapun utk memudahkan belajar matematik, ttp otakku ora nyandak…klpun nyantol…loadingnya berrrrat bgt….:)

  6. nawhi said: Saya selama ini membaca ga pernah sadar akan kecerdasan2 yg secara ga langsung terasah itu. Taunya menikmati jalan cerita dan mengambil inspirasi dari idenya, Makasih Mas infonya.

    idem ^_^

  7. nawhi said: Saya selama ini membaca ga pernah sadar akan kecerdasan2 yg secara ga langsung terasah itu. Taunya menikmati jalan cerita dan mengambil inspirasi dari idenya, Makasih Mas infonya.

    duli waktu peljaran bahasa indonesia paling seneng ktk membahas majas dan jenis sastra… tp emang gak ada prakteknya.

  8. nawhi said: Saya selama ini membaca ga pernah sadar akan kecerdasan2 yg secara ga langsung terasah itu. Taunya menikmati jalan cerita dan mengambil inspirasi dari idenya, Makasih Mas infonya.

    yang sering malah kebalikannya mas.Yang gemar sastra, alergi ketemu pelajaran eksak.Yang senang eksak, lebih mudah memahami non eksak.Revolusi pengajaran sastra harus dilakukan. Dimulai dari guru bahasa indonesia yang melek dan senang sastra!

  9. nawhi said: Saya selama ini membaca ga pernah sadar akan kecerdasan2 yg secara ga langsung terasah itu. Taunya menikmati jalan cerita dan mengambil inspirasi dari idenya, Makasih Mas infonya.

    Di mari anak2 halmahera mabok puisi dan karangan, gara2 aku cekokin ampir tiap minggu hihi

  10. nawhi said: Saya selama ini membaca ga pernah sadar akan kecerdasan2 yg secara ga langsung terasah itu. Taunya menikmati jalan cerita dan mengambil inspirasi dari idenya, Makasih Mas infonya.

    Sastra berkaitan dengan kecerdasan, wah luar biasa ya.Tulisan yang bagus mas, jadi menambah pengetahuan saya. Jadi ingat kata-kata Magda Peters dalam Bumi Manusia, p313:””Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan. Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa menci…ntai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

  11. nawhi said: Saya selama ini membaca ga pernah sadar akan kecerdasan2 yg secara ga langsung terasah itu. Taunya menikmati jalan cerita dan mengambil inspirasi dari idenya, Makasih Mas infonya.

    i got much enlightment!thanks for opening my mind…

  12. ivan0narsis said: i got much enlightment!thanks for opening my mind…

    gleek!!kalau di rumah saya berlatih kombinasi huruf dengan mendeskripsikan benda-benda kecil mascontoh : kunci motor saya gantungannya boneka sapi warna putih hitam hidung coklat merah muda memiliki tanduk mini dua. Ada tali kecil sebagai pengait kunci yang berjumlah tiga buah. Kunci pagar rumah dan seterusnya

  13. katerinas said: Jadi ingat kata-kata Magda Peters dalam Bumi Manusia, p313:””Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan. Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa menci…ntai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

    nice quote :)mungkin…dengan kata lain, sastra hadir seperti air; menjadi pelarut universal bagi kehidupan itu sendiri,🙂

  14. tiarrahman said: yang sering malah kebalikannya mas.Yang gemar sastra, alergi ketemu pelajaran eksak.Yang senang eksak, lebih mudah memahami non eksak.Revolusi pengajaran sastra harus dilakukan. Dimulai dari guru bahasa indonesia yang melek dan senang sastra!

    wah, benar sekali mas…selama ini terjadi dikotomi dua pelajaran itu. Seprti dua kutub yang tak bs menyatu.Sudah saatnya juga kurikulum direvisi, agar pelajaran sastra diberi lebih banyak ruang dan waktu, agar para siswa khususnya bisa merasakan manfaatnya secara langsung:)

  15. tiarrahman said: yang sering malah kebalikannya mas.Yang gemar sastra, alergi ketemu pelajaran eksak.Yang senang eksak, lebih mudah memahami non eksak.Revolusi pengajaran sastra harus dilakukan. Dimulai dari guru bahasa indonesia yang melek dan senang sastra!

    Teknik yang mulai dilupakan ya, Mas?

  16. jampang said: duli waktu peljaran bahasa indonesia paling seneng ktk membahas majas dan jenis sastra… tp emang gak ada prakteknya.

    terkadang guru juga kebingungan memberi contoh2 yang memadai, karena terbatasnya sumber ajar, dalam hal ini adalah buku. Kini, dengan makin membuminya internet, semestinya hal tersebut sudah teratasi.tapi ada juga, guru yang ‘malas’, yang lantas meminta murid2nya mencari sendiri materinya di internet tanpa kemudian membahasnya dengan komperehensif.

  17. adearin said: Trik2 sejitu apapun utk memudahkan belajar matematik, ttp otakku ora nyandak…klpun nyantol…loadingnya berrrrat bgt….:)

    nanti saya minta abah untuk upgrade memory mbak wik:))

  18. nawhi said: Saya selama ini membaca ga pernah sadar akan kecerdasan2 yg secara ga langsung terasah itu. Taunya menikmati jalan cerita dan mengambil inspirasi dari idenya, Makasih Mas infonya.

    proses pembelajaran (penyerapan informasi) kebanyakan berlangsung pada kondisi tak sadar (90%). :)*terima kasih kembali, mas*

  19. saturindu said: yang rajin, yah…biar cepet lulus…hehe

    ini udah baca 3x kok belum ngerti2 juga pak, adakah saya yang memang tidak pandai, ataukah memang saya perlu membaca 10x baru bisa memehami?? :))

  20. rhehanluvly said: gleek!!kalau di rumah saya berlatih kombinasi huruf dengan mendeskripsikan benda-benda kecil mascontoh : kunci motor saya gantungannya boneka sapi warna putih hitam hidung coklat merah muda memiliki tanduk mini dua. Ada tali kecil sebagai pengait kunci yang berjumlah tiga buah. Kunci pagar rumah dan seterusnya

    wah, hebat…itu merupakan satu penerapan super learning (quantum learning)….teknik yang dipakai adalah teknik asosiasi atau lokasi:)

  21. sulisyk said: ini udah baca 3x kok belum ngerti2 juga pak, adakah saya yang memang tidak pandai, ataukah memang saya perlu membaca 10x baru bisa memehami?? :))

    bacanya pelan2, om…sambil nyeruput cappucino…ntar biasanya lebih masuk…minumannya…huehuehuekalau belum masuk juga, coba liatin yang bening2, pasti fresh pikiran…:))

  22. saturindu said: kalau belum masuk juga, coba liatin yang bening2, pasti fresh pikiran…:))

    ini planet mana ini kok bahasanya aneh? hehe:)intinya otak kiri dan otak kanan digunakan secara maksimal yah,Mas?:)Total Number Technique: metode yang bermanfaat untuk mengingat informasi berupa angka seperti tgl bersejarah (tgl lahir, pin bank, dll) dengan rumus seperti disebutkan diatas. Cara ini berguna untuk menguabh informasi yang bersifat otak kiri menjadi bersifat otak kanan.#ini bukan karena saya pintar #saya hanya sekedar nyontek #daribuku #SuperGreatMemory :Dpermisi.huihi.#jalanmindikmindik

  23. saturindu said: kalau belum masuk juga, coba liatin yang bening2, pasti fresh pikiran…:))

    Ah, saya berniat menulis buku hapus segala persepsi manusia :))Terutama tentang pembelajaran, sastra atau bukan. Ini baru ide kreatif wkwk

  24. saturindu said: kalau belum masuk juga, coba liatin yang bening2, pasti fresh pikiran…:))

    nulis ‘pun’ kl menurut EYD, bukannya harus dipisahkan dari kata induknya. Tapi ada sebagian yg harus dipisah juga. Yg mana si?😀

  25. saturindu said: kalau belum masuk juga, coba liatin yang bening2, pasti fresh pikiran…:))

    Ngomong2, Mas Suga guru sastra ya?Saya dulu pas sekolah suka banget sama pelajaran Bahasa Indonesia. Kata guru saya, ada hubungan antara kemampuan berbahasa dengan kemampuan berhitung, seperti postingannya Mas Suga.Kalo kata guru bahasa indonesia saya dulu, orang yang terbiasa membaca cerita, pola berpikirnya akan menjadi sistematis dan teratur. Sehingga saat mengerjakan penghitungan matematika, pola kerjanya lebih terstruktur dan runtut.Kalo dipikir-pikir bener juga nih kata saya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s