(Secangkir Teh): Obrolan Seharga Rp. 3000,-

Desing bising kendaraan yg berlalu lalang sepertinya tak menggoyahkan lamunannya yang melaju jauh ke masa lalu. Sejak puluhan tahun silam ia berada di belantara Jakarta, mengadu nasib bersama sang suami yang pada akhirnya menutup usia lebih dulu. Sempat bertempat tinggal di Poncol yang akhirnya tergusur, bersama banjir besar yang juga memporak-porandakan gerobak mata pencariannya, ia lalu memilih berdagang di depan Pasar Senin, di pelataran trotoar tempat orang-orang berlalu lalang.

Ibu itu baru tersentak saat saya menegurnya, bermaksud memesan segelas teh.

“Hanya ada kopi, ada kopi susu juga…”ucapnya ramah.

Di depan pasar Senin, pada trotoar jalan ia biasa berjualan. Dua keranjang jinjingnya berisi aneka rokok, permen dan kopi sachet. “Sudah setahun lebih jualan di sini.”

“Mengapa tak jualan saja di Jogja? Di alun-alun kidul misalnya…”tanyaku kemudian, setelah mengetahui ibu itu berasal dari kota gudeg. Dua dari tiga anaknya menetap di sana.

“Tak enak, kalau dekat dengan anak,”jelasnya. “Apa-apa gak diperbolehkan. Gak boleh ngepel, nyuci atau bersih-bersih. Disuruhnya cuman nonton TV.”

“Terus terang, ndak bisa kalau saya disuruh diam begitu.”tambahnya lagi. “Badan malah pegel-pegel dan kaku. Makanya, saya milih ke sini, ke Jakarta ini…dagang kecil-kecilan, walau hasilnya ya begini ini…Soalnya dari lahir dulu juga sudah dibawa ke sini, oleh ortu angkat…dan diajari nyari nafkah seperti ini…”

“Jualan di sini, apa tak takut ditertibkan, bu?”

“Sama trantib? Pedagang-pedagang sudah rutin membayar iuran harian. Lima ribu rupiah seharinya. Tapi ya gitu itu…tetap saja, kalau ada penertiban, kadang-kadang nggak diberitahukan.”

“Oh, dagangannya pernah juga disita?”

Ibu itu mengangguk. “Syukur keranjang ini masih bisa balik,”ujarnya sambil menerawang ke kejauhan. “Tapi ya itu tadi. Uangnya sudah gak ada.”

“Berapa memang jumlahnya, bu?”

“700 ribu.”

“700 ribu? Uang segitu kenapa diletakkan di keranjang?”

“Ya itu tadi, maksudnya mau beli baju lebaran buat cucu di kampung, tapi belum sempat-sempat. Eh, uangnya keburu hilang,”kata ibu itu, yang lalu menjelaskan bahwa uang yang hilang itu terdiri dari 4 lembar 50 ribu, 20-an lembar 10 ribu, dan kebanyakan sisanya adalah pecahan 2 ribuan. “Yang dua ribuan malah dilipat seperti ini uangnya,”katanya lagi, dengan pandangan berkaca-kaca. Ia lalu memperagakan uang 2 ribu yang dilipat menjadi empat. “Rencananya, mau buat sangu cucu-cucu…eh, lha kok malah hilang pas ada penertiban…”

Trenyuh rasanya mendengar cerita ibu tua itu. Makin trenyuh mendengar pengakuannya, yang hanya makan dua-tiga sendok nasi sehari…dengan lauk gorengan tempe.

Obrolan Senin Sore, di Pasar Senin…3 ribu rupiah yang memuat banyak hikmah…

39 thoughts on “(Secangkir Teh): Obrolan Seharga Rp. 3000,-

  1. double postingan….koneksi lelet…hehe*maaf, yah Lina (tembem aka asasayang), komennya jadi terhapus:)iya, udah lama tak membuat postingan bertajuk ‘secangkir teh’:)

  2. liesemargaretha said: apa anaknya gak tahu, mas, ibunya hidup begitu?Bersyukur, hmm setidaknya itu yang harus banyak dipelajari dari orang-orang seperti ini. Kerja keras, itu semangat yang mahal.

    sepertinya sih tak tahu…sebab kalau tahu, pasti mereka tak membolehkannya:)semangat dalam bekerja, yang sungguh2 luar biasa.

  3. asasayang said: huaaah. . . >_<Dan aku masi setia. . Menanti arga dan lilith menari. . . *dilempar novel*

    Obrolan yg murah, tapi mahal dan susah untuk mendapatkan, palagi untuk mendapatkan semangat spt si ibu.

  4. asasayang said: huaaah. . . >_<Dan aku masi setia. . Menanti arga dan lilith menari. . . *dilempar novel*

    Duh memprihatinkan sekali, moga Ibu itu mau kembali pulang.Orang tua alau dari muda terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat. Aneh memang, Ibu saya juga gitu soalnya.

  5. asasayang said: huaaah. . . >_<Dan aku masi setia. . Menanti arga dan lilith menari. . . *dilempar novel*

    Duh memprihatinkan sekali, moga Ibu itu mau kembali pulang.Orang tua alau dari muda terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat. Aneh memang, Ibu saya juga gitu soalnya.

  6. thebimz said: wah mas suga seperti kru di reality show “Tolong”🙂

    oh, udah persis spt itu skenarionya yah…hehekasihan banget ibu itu, mas…terbengong2 sendiri…makanya langsung disamperin aja, trus diajak ngobrol2:)

  7. nonragil said: Obrolan yg murah, tapi mahal dan susah untuk mendapatkan, palagi untuk mendapatkan semangat spt si ibu.

    bener banget…tak semua orang bermurah hati mendengar/mengamati hikmah yang sebenarnya berharga mahal, yang mungkin saja amat berguna bagi kehidupannya kelak.ceillah,,,,bahasanya:))

  8. nonragil said: Obrolan yg murah, tapi mahal dan susah untuk mendapatkan, palagi untuk mendapatkan semangat spt si ibu.

    seringnya saya berpikir kenapa anak-anaknya enggak ngajak tinggal bersama, tinggal menikmati masa tua tanpa perlu ngapa2in lg.ternyata begitu alasannya

  9. nawhi said: Duh memprihatinkan sekali, moga Ibu itu mau kembali pulang.Orang tua alau dari muda terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat. Aneh memang, Ibu saya juga gitu soalnya.

    pada akhirnya, semua perjalanan akan terhenti. :)Semoga ibu itu bisa kembali pulang dalam dekapan hangat anak2, menantu dan cucu2nya:)orang2 bertipe kinestesia memang sukanya bergerak, tak bisa diam dalam jangka waktu lama. *mungkin, begitulah tipologi ibu itu, dan mungkin juga ibu mas nahwi…:)

  10. asasayang said: ondeonde yg isi kcg ijo kan?? *tangkep, masukin mulut*wa’alaikumsalam buat lilith. . . *diamuk lilith*

    yang tadi masuk mulut bukan onde2, Lin…tapi batu2an dr lereng merapi…hihi* ‘hahay…salam gembul,’jwab lilith

  11. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    Aku suka perjalanan yg membawa hikmah. Obrolan2 dg pedagang2 kecil sering menggugah ya

  12. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    Mudah2an. Pemerintah Indonesia sadar bahwa orang2 spt ibu ini berhak menikmati hasil kekayaan bumi Indonesia (bukannya hanya pejabatnya) dan mau menyantuni nasib mereka dg baik.

  13. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    Mudah2an. Pemerintah Indonesia sadar bahwa orang2 spt ibu ini berhak menikmati hasil kekayaan bumi Indonesia (bukannya hanya pejabatnya) dan mau menyantuni nasib mereka dg baik.

  14. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    perjuangan hidupnya keren dan duit 700.000 itu bikin ngirisbtw penertiban trantib kayaknya cuma buat akting2an doang yaa

  15. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    satu sisi ttg perjuangan hdp dan keuletan serta ketekunan yg patut dijadikan teladan. Ibu tua itu luar biasa

  16. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    speechlesspernah juga ngobrol sama adek-adek penjual koran di kampusrasanya kalau jadi mereka saya nggak sanggup pagi sekolah siang jual koran sore beres-beres rumahabis maghrib bantu ibu jual gorenganmalem belajarharus lebih bersyukur sama yang dipunya sekarang ya mas

  17. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    berat ya kehidupan ibu itu… semoga rejekinya lancar jd bisa cepat kumpul sama anaknya… 🙂

  18. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    Emang mas suga ada di jkt? Wuih sebelah mana? Stas senen tuh langgananku kalo naik ekonomi ke jogja hihi

  19. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    Jika anaknya sadar/tahu bahwa ortunya termasuk type kinestesia, kenapa tak dibuatkan saja usaha dengan lokasi dekat mereka? Ibunya tetap bisa bekerja, tapi mereka masih bisa mengawasi dan merawatnya jika terjadi sesuatu. Bukan dgn membiarkan begitu saja pergi ke jkt dan hanya makan dgn 2-3 suap nasi.

  20. nawhi said: terbiasa bekerja emang malah ‘tersiksa’ kalau dsuruh diam n istirahat

    wah….banyak makna yg tersirat neh. tentang perjuangan hidup dan orang tua yg tidak ingin manja dengan keadaan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s