Anonym(3): Tugu-Stasiun Rindu

Masih lama, hari belum beranjak senja. Masih belum siang juga.
Semestinya masih ada perbincangan ringan antara kita.
Berteman gudeg wijilan yang manis, atau tengkleng parangtritis yang sedikit pedas.
Semalam aromanya terendam di lidah, membuatmu tak mampu berdendang kata.
Terpaku sendiri menatap layar HP, dengan muka bête.
Kutatap engkau, berharap ada ceracau.
Tak seperti biasanya, selalu diam terpaku, seperti arca roro jonggrang yang beku.
Jika begini, ingin kugampar dirimu, agar pipimu berubah sedikit merah magnolia atau ungu jambu.
Tapi jam berdentang kencang, membuatmu setengah kesetanan.
Setelah berkemas, bergegas kita mengayun langkah menuju stasiun Jogja.
Engkau tertegun, semua kursi telah terisi.
Rupanya, di waktu yang sama, ratusan manusia juga berduyun-duyun pada koordinat yang sama.
Sejenak engkau bingung, plus sedikit murung. Tapi aku sebaliknya malah.
Aku malahan senang, karena dengan demikian kebersamaan kita akan bertambah panjang.
Aku tertawa dalam hati, sembari berharap semua penerbangan seminggu ini juga penuh.
Biar engkau tahu rasa,,haha

Makin tertawa diri ini, melihat dirimu mondar-mandir ke loket, berharap ada yang cancel tiket.
Tawaku sontak reda, saat melihat engkau yang kembali riang, dengan menggenggam selembar tiket di tangan.
Siwalan…
“Ayo, antar aku ke gerbongnya. Keretanya hamper berangkat…”
Wajahku sontak masam, plus setengah muram.
Apalagi setelah engkau benar-benar mengucapkan dan mengecupkan salam perpisahan…
Dari kaca jendela, tak kudapati wajah sedihmu. Engkau malah sepertinya lega, karena bisa pulang sesuai rencana.
Tak kau hiraukan wajah galauku, yang berdiri mematung, terpasung rindu.
Untuk kesekian kali, kubenci diriku, yang tak jua mampu, menahan laju kepergianmu.
Engkau dengan sayap-sayapmu yang lincah, yang selalu mampu menghindar dari jerat-jerat rinduku…

35 thoughts on “Anonym(3): Tugu-Stasiun Rindu

  1. intan0812 said: Wondering pasti yg pergi cewe dan yg ditinggal si cowo😀

    “Jika begini, ingin kugampar dirimu, agar pipimu berubah sedikit merah magnolia atau ungu jambu.”Busettt..”Untuk kesekian kali, kubenci diriku, yang tak jua mampu, menahan laju kepergianmu. Engkau dengan sayap-sayapmu yang lincah, yang selalu mampu menghindar dari jerat-jerat rinduku…”Makanyaaa,ngomong dong,kakaaaaak..*disiram aer es**soktau lu,Na!:))))*

  2. ninelights said: “Jika begini, ingin kugampar dirimu, agar pipimu berubah sedikit merah magnolia atau ungu jambu.”Busettt..”Untuk kesekian kali, kubenci diriku, yang tak jua mampu, menahan laju kepergianmu. Engkau dengan sayap-sayapmu yang lincah, yang selalu mampu menghindar dari jerat-jerat rinduku…”Makanyaaa,ngomong dong,kakaaaaak..*disiram aer es**soktau lu,Na!:))))*

    beribu2 kalimat, sudah dilesatkan…tapi mungkin dianya terlalu oon kali…haha

  3. intan0812 said: Walah ko ga ngabarin? Ga dpt pertamax dweh :PWondering pasti yg pergi cewe dan yg ditinggal si cowo😀

    maaf, kelupaan…udah kelanjur di posting. padahal td rencanya mau save draft dulu:)

  4. intan0812 said: Walah ko ga ngabarin? Ga dpt pertamax dweh :PWondering pasti yg pergi cewe dan yg ditinggal si cowo😀

    “beribu2 kalimat, sudah dilesatkan…tapi mungkin dianya terlalu oon kali…haha”Oh,gitu..mungkin dia juga takut kehilangan Mas Suga kali dengan apa yang kemudian terjadi jika dia mengiyakan atau mengenggakkan perasaannya, dan memilih pura-pura gak tau..:)*positve thinking*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s