Yang Terindah, Dari Para Mantan

Teramat sulit bagi saya untuk membenci para mantan. Kenangan yang tertuang bersama mereka, seperti madu yang memenuhi sarang lebah. Manis senantiasa, tak terkikis oleh masa.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebegitu hebatnya para mantan sehingga mereka tak pernah menyakiti saya? Mungkin memang iya, karena kalau tak hebat mana mungkin saya mau sama mereka dulu. Ya khan?!

Bukan, bukan begitu…Para mantan saya tetaplah manusia biasa, yang kadang-kadang juga berbuat salah dan khilaf. Sengaja atau tidak, ada kalanya apa yang mereka lakukan menyakiti hati, membuat saya sedih dan menderita; bahkan hingga berhari-hari lamanya. Tak bisa dipercaya, bagaimana mungkin orang yang sudah teramat dekat di hati bisa tega melakukannya? Perasaan demikianlah yang membuat kesedihan saya terasa semakin berlipat-lipat. Seperti angka dua dipangkat empat puluh empat.

Tapi kesakitan seperti itu sekarang sudah benar-benar sirna. Seperti mendung yang terlarut sempurna menjadi hujan. Karenanya, bila diminta mengingat kembali kenangan mana yang paling menyakitkan bersama mereka, jujur saja saya lupa menjawabnya yang mana. Akan sebaliknya bila kenangan yang terindah, dengan cepat saya akan bisa menjawabnya segera.

Seperti D, mantan pertama dulu. Salah satu kenangan terindah, adalah ketika ia berkirim surat pos kilat, yang kertasnya sangat harum. Seperti semerbak bunga-bunga mawar. Membaca isinya, spontan saya sedih; trenyuh. Balasan surat saya kamis kemarinnya, yang ditulis di kertas beraroma jasmine, ternyata membuatnya sedih. Ia malah sempat shock, gemetar, dadanya bergetar cukup kencang, dengan peluh seketika menyeruak ke sekujur tubuhnya. Sontak kambuh penyakit jantungnya.

Bergegas saya terbang ke Pasuruan, meninggalkan makan siang yang belum sempat tercecap lidah, yang tak henti-hentinya mengkhawatirkan kondisi dirinya. Sesal mulai menjejali diri. Mengapa saya juga mesti emosi membalas suratnya tempo hari?

Tapi gimana nggak emosi, coba?! Suratnya yang sebelumnya setebal enam halaman, hampir keseluruhan isinya bertema sama: meminta saya segera potong rambut. Biar lebih kerenlah (halaman 1), Biar lebih rapilah (halaman 2), biar lebih bersih dan wangi (halaman 3), biar lebih smart (halaman 4) dan Biar bla-blaa-blaaa…(halaman 5 & 6)

‘Biar aja…Biarin begini. Nggak usah dipangkas!’Begitulah balasan surat saya, bermaksud menggoda, dan agak geregetan tentunya. Lha dipikirnya saya anak kecil apa? Lha kalau dia, masih SMA. Lha saya, sudah mahasiswa, jeee..!!!

Begitu memasuki pelataran rumah, hati saya makin tak karuan. rumahnya tampak sepi dan terkunci. Wah, jangan-jangan si D ini bener-bener masuk UGD?!

Tapi sebentar saja, kekhawatiran saya itu melanda. Setelahnya berubah menjadi geregetan. *nyanyi dulu ah…Geregetan jadinya geregetan…apa yang harus kulakukan…*Sherina mode on).

Lha gimana nggak geregetan coba, udah dibela-belain datang, urung makan soto jatah Asrama, berpanas-panas ria menunggu Lyn S yang jalannya terseok-seok, berlari-lari memburu bis kota Bratang yang keburu meluncur menuju Bungur, bergelantungan bersesak-sesak ria di bus antar kota, lalu cepat-cepat naik angkot yang berjubel, hingga cuma kebagian duduk di tepi pintu. Lha, kok bisa-bisanya, beberapa penumpang menyangka kalau saya keneknya. Lha sungguh ngawur, khan?

Pendeknya, udah dibela-belain datang, lebih cepat dari pos kilat, eh dianya yang baru datang malah cengengesan. Rambutnya terlihat menggumpal basah, seperti habis terguyur derasnya hujan. Padahal hari teramat terang. Belum sempat mengintrograsi, si D keburu mengaku.

“Wuuahh, cuapeknya. Habis renang,“ungkapnya, tanpa rasa bersalah.

Kontan saja jengkelnya bukan kepalang, Untung saja ada emaknya, yang sepertinya tahu kalau emosi ini meninggi. Beliau meminta saya mandi segera, dengan terlebih dulu menimba air tentunya.

Olala, Lahaula…anak sama emak kok yah sama kompakkknya…!!!

143 thoughts on “Yang Terindah, Dari Para Mantan

  1. saturindu said: Tapi gimana nggak emosi, coba?! Suratnya yang sebelumnya setebal enam halaman, hampir keseluruhan isinya bertema sama: meminta saya segera potong rambut. Biar lebih kerenlah (halaman 1), Biar lebih rapilah (halaman 2), biar lebih bersih dan wangi (halaman 3), biar lebih smart (halaman 4) dan Biar bla-blaa-blaaa…(halaman 5 & 6)

    untungnya ga dibikin dalam bentuk makalah,Om haha….

  2. saturindu said: Tapi gimana nggak emosi, coba?! Suratnya yang sebelumnya setebal enam halaman, hampir keseluruhan isinya bertema sama: meminta saya segera potong rambut. Biar lebih kerenlah (halaman 1), Biar lebih rapilah (halaman 2), biar lebih bersih dan wangi (halaman 3), biar lebih smart (halaman 4) dan Biar bla-blaa-blaaa…(halaman 5 & 6)

    masih disimpen ya suratnya ?😀

  3. saturindu said: Tapi sebentar saja, kekhawatiran saya itu melanda. Setelahnya berubah menjadi geregetan. *nyanyi dulu ah…

    ya..ini baru part 1, trus kapan cerita para mantan lainnya?..:D

  4. saturindu said: Teramat sulit bagi saya untuk membenci para mantan. Kenangan yang tertuang bersama mereka, seperti madu yang memenuhi sarang lebah. Manis senantiasa, tak terkikis oleh masa.

    puitis Mas🙂

  5. saturindu said: siang malam tiada henti, seakan semua semua…smakin menyiksa…next

    cintaaa dalam hidupku…kini seakan matiii…..untuk pertama yg pernah ada kini entah kemanaaaaaaaa……………..!!!…next ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s