(Serial Badung): Untukmu, Perempuan Berbaju Biru Yang Berdiri Di Pintu

Untukmu, Perempuan berbaju Biru yang berdiri di pintu,

Maafkan aku, yang mengacuhkanmu kala pertama melewatimu. Aku sudah terlampau lelah sore itu, dan mataku terlalu tertuju pada kasur empuk yang sigap memelukku. Barulah ketika lelah perlahan sirna, seperti kudengar suaramu yang hendak memperkenalkan diri. Siapa namamu? Fatimah, ataukah Halimah?

Ah, entahlah.

Mungkin aku sekedar berhalusinasi karena kenyataannya tak pernah kulihat siapapun berdiri di pintu itu. Biar begitu, tiap kali melaluinya, seperti ada getar-getar yang menjalar ke raga. Seperti ada hembusan angin yang perlahan menerpa wajah.

Sejenak diriku bimbang, apakah akan pindah kamar ataukah tidak. Jujur saja, suasana dalam ruangan itu terasa kurang nyaman. Kembali terasa getar-getar yang sama, saat diri ini berdiri di samping almari. Begitu juga saat berada dalam kamar mandi. Hmmm…sepertinya ada 2 penghuni lain selain dirimu di ruangan itu.

Ah, tak apalah. Aku sudah terlalu malas jika mesti berkemas lagi…

Syukurlah, dalam almari itu ada Al-Quran dan sajadah. Tak perlu menunggu lama, kubentangkan sajadah di dekat pintu, lalu bermunajat dan membaca ayat-ayatNya. Cukup ampuh ternyata. Rasa gundah dan was-was yang sempat singgah, berangsur-angsur reda dengan sendirinya…

Untukmu perempuan berbaju biru, maafkan aku yang mungkin menyakitimu. Ayat-ayatNya yang kulantunkan, semoga tidak menyayatmu dalam kedukaan. Aku baru sadar, bahwa jarakku terlalu dekat denganmu, dan suaraku mungkin sangat-sangat mengganggumu.

“Dia tidak marah,”kata sang guide, yang duduk di Sofa. Dari tadi pandangannya hampir selalu tertuju ke pintu itu. ”Sepertinya dia juga tak terganggu oleh kehadiran kita. Hanya saja…”

“Hanya saja apa?”

“Hanya saja, wajahnya memancarkan kesedihan.”

“Kenapa dia bersedih?”tanyaku yang ingin tahu apa yang terjadi padamu. Andaikan saja engkau mau berbicara saat itu…

“Entahlah.”

“Coba tanyakan padanya,”kataku, setengah memaksa.

Sang guide menggeleng. “Aku tak bisa berkomunikasi dengan mereka, Aku tak tahu caranya.”

“Bukankah kamu bisa melihat mereka?!”tanyaku, memintya penegasan. Aku sempat berandai-andai, jika saja aku bisa melihat penampakan mereka, tentu akan menyenangkan. Tapi kutarik kembali keinginanku itu, manakala kuingat bahwa merasakan kehadiran mereka saja sudah membuatku sangat tidak nyaman.

“Iya, aku bisanya cuman ngelihat aja. That’s it!”Ucap si Guide, dengan mata yang masih tetap menatap ke arah pintu. “Lagian sepertinya dia cuma berdiam diri dari tadi. Wajahnya murung dan sedih.”

“Cobalah ajak berbicara, tanyakan mengapa dia bersedih.”

Kata Guide, tak lama kemudian engkau terlihat menangis. Aku sendiri tak bisa melihat raut dukamu. Pun tak ada suara isak tangis yang kudengar. Maafkan aku yang mungkin kurang peka. Tapi bisakah engkau mengatakan, apa yang membuatmu bersedih? Apakah gara-gara aku membaca surat Yaa Siin tadi?

Kulihat sang Guide meringis kesakitan. Engkau tahu yang terjadi dengannya? Oh, iya. Aku lupa. Aku bisa menanyakannya langsung padanya.

“Perempuan itu bersandar di bahu kiriku sambil menangis,”jawab sang Guide sambil meringis. “Tanganku agak kesemutan, agak susah digerakkan.”

Untukmu perempuan berbaju biru yang tak lagi berdiri di pintu, terpaksa kurapal jampi-jampi, yang membuatmu menjauh seketika dari sang Guide . Padahal saat itu mungkin saja engkau ingin bercerita pada kami, dan amat sulit bagimu untuk memulainya. Mungkin bibirmu sudah bertahun-tahun beku, karena tak ada orang yang mengajakmu bicara. Mungkin saja lidahmu terlalu kaku untuk berdansa dengan kata-kata. Ah, entahlah…

Untukmu perempuan berbaju biru yang masih berdiri di pintu, kubacakan surat Yaa siin keesokan harinya. Moga-moga engkau cukup senang dan terhibur. Sepertinya engkau bersedih karena selama ini tak ada yang menghadiahkanmu bacaan-bacaan Qur’an. Benarkah begitu?

Kata guide, usiamu masih muda–sekitar 20-an–dan engkau sepertinya tak memiliki anak. Alangkah kasihannya jika demikian. Tak ada orang yang mengirimimu doa-doa keberkahan dan kedamaian. Sayang sekali saat itu sang Guide tak ada, jadi aku tak bisa bertanya bagaimana rupa wajahmu setelah mendengar lantunan ayat-ayat Suci.

Tahukah engkau perempuan berbaju biru, kalau malam Jumat kemarin sang Guide curhat begini: “Seharian ini bawaannya sedih. Pengin nangis terus. Padahal tak ada penyebabnya.”

Aku agak curiga, jangan-jangan ia terkena pengaruhmu. Bukankah tempo hari engkau menangis di bahunya? Aku curiga, engkau sekarang tak lagi berdiri di depan pintu. Jangan-jangan engkau malah menguntit si Guide?

Ah, maafkan aku yang tadinya sempat ingin marah padamu. Aku geregetan karena ternyata kekhawatiranku terbukti. Engkau kini mengikuti kemanapun si Guide pergi. Walaupun ia tidak takut terhadapmu, kehadiranmu membawa pengaruh negatif buatnya. Ia menjadi lebih gampang murung dan sedih.

Ah, maafkan aku yang langsung melabrakmu seketika.Tolong dimaklumi kalau belakangan ini aku terlalu banyak mengkonsumsi sup kambing. Harap maklum, makanan di rimba ini serba ala kadarnya. Begitu mendarat di Soetta, nafsu makanku langsung melejit. Akibatnya, beberapa hari kemudian aku menjadi lebih gampang meradang.

Untukmu perempuan berbaju biru, sepertinya aku mengerti apa yang telah kau lakukan. Engkau mungkin segan jika mesti datang ke rimba ini untuk menjumpaiku. Engkau mungkin malu jika harus memaksaku untuk membacakanmu doa-doa lagi. Sebagaimana tempo hari.

Aku baru ingat, kalau aku memang pernah berjanji untuk mengirimimu surat Yaa Siin lagi. Sebelum meninggalkan ruangan dan mengunci pintu, seperti kulihat wajah sedihmu termangu di balik pintu itu. Engkau bersedih karena tak ada lagi yang membacakanmu ayat-ayat suci. Pada saat itulah aku lalu berkata lirih dalam hati,”Jangan khawatir. Aku pasti mengirimimu doa-doa lagi…”

Dan seperti kulihat wajah ceriamu saat berkata sumringah, “benar yah?!”

Untukmu perempuan berbaju biru yang kini tak lagi berdiri di depan pintu, terima kasih telah mengingatkan, akan pentingnya mengirim doa-doa, untuk orang-orang yang telah lebih dulu berpulang, utamanya orangtua/keluarga/kerabat. Terima kasih telah membuatku merasa berguna.

67 thoughts on “(Serial Badung): Untukmu, Perempuan Berbaju Biru Yang Berdiri Di Pintu

  1. saturindu said: Untukmu perempuan berbaju biru yang kini tak lagi berdiri di depan pintu, terima kasih telah mengingatkan, akan pentingnya mengirim doa-doa, untuk orang-orang yang telah lebih dulu berpulang, utamanya orangtua/keluarga/kerabat. Terima kasih telah membuatku merasa berguna.

    kerenz..

  2. saturindu said: Untukmu perempuan berbaju biru yang kini tak lagi berdiri di depan pintu, terima kasih telah mengingatkan, akan pentingnya mengirim doa-doa, untuk orang-orang yang telah lebih dulu berpulang, utamanya orangtua/keluarga/kerabat. Terima kasih telah membuatku merasa berguna.

    Kalau di Surabaya, kira-kira akan bertemu dengan perempuan berbaju apa, ya mas? Batik?

  3. saturindu said: Untukmu perempuan berbaju biru yang kini tak lagi berdiri di depan pintu, terima kasih telah mengingatkan, akan pentingnya mengirim doa-doa, untuk orang-orang yang telah lebih dulu berpulang, utamanya orangtua/keluarga/kerabat. Terima kasih telah membuatku merasa berguna.

    *sesenggukan*:(

  4. saturindu said: Untukmu perempuan berbaju biru yang kini tak lagi berdiri di depan pintu, terima kasih telah mengingatkan, akan pentingnya mengirim doa-doa, untuk orang-orang yang telah lebih dulu berpulang, utamanya orangtua/keluarga/kerabat. Terima kasih telah membuatku merasa berguna.

    Sudah saya baca. Terima kasih sudah mengingatkan. Saya juga selalu berusaha untuk mendoakan arwah kedua ortu yg sudah meninggal.

  5. saturindu said: Untukmu perempuan berbaju biru yang kini tak lagi berdiri di depan pintu, terima kasih telah mengingatkan, akan pentingnya mengirim doa-doa, untuk orang-orang yang telah lebih dulu berpulang, utamanya orangtua/keluarga/kerabat. Terima kasih telah membuatku merasa berguna.

    Bukannya mas suga bisa liat?

  6. saturindu said: Untukmu perempuan berbaju biru yang kini tak lagi berdiri di depan pintu, terima kasih telah mengingatkan, akan pentingnya mengirim doa-doa, untuk orang-orang yang telah lebih dulu berpulang, utamanya orangtua/keluarga/kerabat. Terima kasih telah membuatku merasa berguna.

    biar cuma merasakan juga serem Mas..jangan sampe bisa liat deh hiiyyyy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s