Cerpen: Kontemplasick (2-end)

Kebahagiaan dan kepedihan. Tak ia sangka dua hal itu bisa bertemu di satu waktu. Di pesta pernikahan Nanami-Riosuke, perasaan si gadis campur baur. Di satu sisi ia turut larut dalam bahagia, kala melihat kebahagiaan memancar di wajah sobat tercintanya. Binar mata Nanami, seperti lilin yang memancarkan nyala seribu tahun lamanya. Sama sekali tak tampak kerisauan, bahwa usianya hanya bersisa setahun lagi. Begitu si gadis memalingkan wajah pada mempelai pria, kepedihan serasa panah yang menghujam ke dalam rongga dadanya. Sesak menyeruak tiba-tiba. Perih menyongsong jiwanya dengan selongsong kehampaan.

Sungguhpun ingin pergi dari kota penuh kenangan itu, si gadis tak bisa serta merta melakukannya. Ikatan dinas di rumah sakit kota itu tak dapat dibatalkan. Ia hanya bisa pasrah, saat mulai berkutat kembali dalam tugas-tugas keperawatannya.

Berada di lingkungan pesakitan ternyata mampu membuat dirinya kembali merasa kuat. Perlahan-lahan rasa perih yang pernah menyergapnya reda dengan sendirinya. Ia berhasil membuat therapy untuk dirinya, agar lebih giat bersyukur. Adalah hal yang tak bisa disangkal kalau nasibnya masih jauh lebih baik dibanding pasien sakit ginjal, yang mesti dua minggu sekali cuci darah. Atau pasien-pasien ruang bedah, yang beberapa diantaranya masih koma, bahkan setelah sekian bulan ditangani dokter ahli.

Noy, salah satu pasien yang baru dua minggu siuman, berhasil mencuri perhatiannya. Mata pemuda itu terlihat bulat dan jernih. Seperti sendang di tengah padang. Apakah karena mata si pemuda memejam tujuh bulan lamanya, sehingga tak ada satupun debu kotoran yang masuk ke dalamnya?

Saat mengganti cairan infus, si gadis memberanikan diri bertanya. “Bagaimana rasanya koma?”

Ketika pandangan pemuda itu seperti menjelajah sekujur tubuhnya, si gadis agak menyesal mengapa ia tak memakai make up pagi itu. Tapi ia lalu tersadar, bahwa sudah lebih dari empat bulan ia tak berdandan. Ya, sejak tak lagi bersama Riosuke, ia tak perlu berlama-lama berada di depan cermin. Tapi justru dengan cara begini, ia makin menjadi diri sendiri.

“Rasanya seperti tidur panjang,”Suara Noy terdengar agak serak dan parau ketika berkata. Ia lalu berdehem beberapa kali.

Si gadispun menegurnya,“Kenapa?”

“Aku merasa asing, pada suaraku sendiri.”

Tawa si gadis membuncah. “Mungkin karena pita suaranya lama tak digunakan. Jangan khawatir, nanti akan normal dengan sendirinya.”

Sejak pertemuan itu, si gadis sering-sering menjenguk Noy. Ia ingin mendengar bagaimana pemuda itu bisa koma berbulan-bulan.

“Awalnya sering pusing, lalu aku mulai muntah-muntah,”tutur Noy. “ Kusangka ini penyakit biasa. Ketika sakit di kepala sudah mulai menjadi, dan aku makin sering pingsan, pamanku lantas membawaku ke rumah sakit ini. Aku baru tahu kalau ternyata diriku menderita kanker otak.”

Si gadis terbelalak. “Kanker otak?”

Noy mengangguk pelan. Sejenak merekapun terdiam. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.

“Oiya, Noy. Orang tuamu…”si gadis berkata lambat-lambat, seperti hendak mencari kata yang tepat. “Maksudku, keluargamu sendiri dimana? Rasa-rasanya—“

“Aku sendiri tak tahu siapa orang tuaku, karena dari kecil aku ikut paman. Dialah yang mengasuh dan merawatku. Kalau ia bukan dokter di RS ini, tentulah aku tak bisa berlama-lama berada di ruang ini.”

Si gadis terkesima mendengar penjelasan tersebut. ‘Ya Tuhan. Pantas saja tak terlihat satupun pembesuk di ruangan ini,’serunya dalam hati. Sungguh kasihan Noy! Tiada orang yang mendampinginya di saat-saat seperti ini…

Air mata si gadis nyaris merintik, tapi ia berhasil membendungnya. Sejenak ia beranjak dari kursinya, mencoba menepis gundah yang mulai singgah. Ia lantas mengambil kapas dan membasahinya dengan Alkohol. Perlahan ia gosok pergelangan tangan Noy yang sedikit biru lebam menghitam. Jarum suntik sepertinya telah mencacah kulit pemuda itu berulang kali, meninggalkan bintik hitam yang agak mengeras.

“Noy, kalau perlu atau pengin sesuatu, jangan segan tuk bilang…”

“Terima kasih, Sus”ucap Noy. “Bisa mendengar suara suster saja saya sudah senang. Hampir tak ada apapun yang bisa didengar di sini, kecuali detak jam. Dan tetes-tetes cairan infus.”

Gadis trenyuh mendengar penuturan pemuda itu. Dalam hati, iapun bertekad meluangkan waktu lebih banyak untuk pemuda itu. Selepas kerja, ia bisa menemani Noy dua atau tiga jam, sebelum ia pulang ke rumah.

*

Sudah empat hari ini gadis tak masuk kerja. Nyeri di kepalanya membuatnya terkapar di tempat tidur. Paracetamol 500 mg yang biasanya ampuh mengusir sakit kepalanya, kini sudah tak mempan digunakan. Padahal ia sudah menggandakan dosisnya.

Sempat terpikir olehnya, kemungkinan ia tertular penyakit Noy. Beberapa kali ia merasa agak sedikit pusing ketika menemani Noy di ruang kedap suara. Cukup tingginya intensitas pertemuan bisa jadi telah mengakibatkan gelombang otak keduanya terkoneksi, dan dengani cara itulah penyakit Noy menular padanya.

Si gadis berusaha mengusir rasa khawatirnya. Ia meyakinkan diri kalau penyakit kanker sama sekali tak menular, dan kekhawatirannya itu sama sekali tak berdasar. Sejam berikutnya, begitu rasa was-wasnya tak jua sirna, ia memutuskan check up ke rumah sakit.

Setelah dokter yang memeriksanya memberi injeksi, nyeri di kepalanya berangsur-angsur reda. Ia tersenyum lega, karena dokter tak mengatakan apapun padanya, kecuali sebuah saran agar ia lebih banyak beristirahat.

Gadis lantas teringat pada Noy. Sudah hampir seminggu ia tak menjenguk pemuda itu. Ia agak merasa bersalah, karena sempat mencurigai Noy sebagai penular rasa sakit kepala yang ia alami beberapa hari ini. Sambil menunggu hasil check up, ia bergegas melangkahkan kaki ke ruangan Noy.

Agak terperanjat ia begitu mengetahui ruangan Noy kosong. ‘Kemana pemuda itu? Apakah ia sedang treatment kemoterapi?’ Begitu melihat seorang dokter melintas, ia langsung bertanya, “Dok. Pasien yang di sini—“

Dokter itu menoleh dan menghampirinya. Tapi ia tak segera menjawab. Ia malah memandangi gadis untuk beberapa lama.

Si gadis agak kikuk dipandang seperti itu. Ia sempat melihat pakaian yang ia kenakan. ‘Jangan-jangan ada yang kurang?’desahnya. Ia agak deg-degan ketika menyadari bahwa ia tak mengenakan badge hitam bertulis namanya di dada kanan. Badge itu patah beberapa waktu lalu dan ia belum meminta gantinya.

“Kamu suster yang biasa masuk ruangan ini?” dokter itu menatapnya tajam.

Si gadis mengangguk. Ia tundukkan mukanya, tak hendak membalas tatapan manusia paruh baya di depannya.

“Noy menitipkan ini padamu,”kata sang dokter, dengan suara agak serak. Ia mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada si gadis.

Si gadis terkejut. “Untuk saya?”tanyanya.

Manusia paruh baya di depannya mengangguk.

“Noy sendiri dimana, dok?” si gadis kembali bertanya. Sejenak pandangannya terpaku pada kotak kecil berwarna biru itu.

“Bukalah isinya.”

Begitu membuka kotak kecil itu, si gadis tertegun. Sebuah cincin emas terlihat berkilau.

“Tiga hari lalu Noy berkata kalau ia ingin memberikan sebuah cincin untuk orang yang ia sayangi.”ucap dokter, dengan muka agak keruh. “Jika diijinkan, ia akan mengajak orang itu menikah. Yah, begitulah keinginan Noy, sebelum—“

“Sebelum apa, dok?”tanya si gadis, dengan pandangan khawatir.

“Sebelum ia meninggal.”

“Meninggal?”suara si gadis meninggi.

Gadis mengemasi seluruh pakaiannya. Bersiap ia pergi dari kota. Sebuah bus siap mengantarnya ke kota baru, tempat ia akan memulai hidup baru. Ia sendiri belum tahu kehidupan seperti apa yang akan ia jalani.

‘Asal bukan perawat lagi,’desahnya lirih. Profesi ini terlalu banyak memupuk kepedihan. Ratapan sedih masih saja bergema dan terngiang-ngiang di telinganya.

Ketika bus mulai melaju meninggalkan kota, asap tebal sudah membubung di kejauhan.

‘Kebakaran hutan, kebakaran hutan…”teriak beberapa orang dari atas motor. Mereka menghentikan bus dan memintanya berbalik kembali ke kota.

‘Percuma, jalannya juga nggak bisa dilewati,”imbuh salah satu pengendara.

Begitu asap mendekat dan meringsek masuk ke dalam bus, sopir segera membanting haluannya. Tapi bus tersebut tak bisa berputar arah dengan cepat. Terlalu banyak kendaraan di depannya yang melintas dengan kencang. Masing-masing seperti hendak berpacu, siapa dari mereka yang lebih dulu sampai ke kota.

Penumpang bus agak panic ketika asap terlihat makin tebal. Sekeliling mereka berkabut. Beberapa orang mulai terbatuk-batuk dan sesak napas. Mereka makin panic ketika melihat sang sopir keluar dari bus itu.

Para penumpang berhamburan begitu mendengar aba-aba,“Ayo, turun. Semua turun. Kita cari tumpangan ke kota…”

Tak lama kemudian terdengar seperti bunyi tumbukan. Jendela depan kaca bus pecah separuh. Sebuah mini van dari arah hutan menabrak moncong bus. Wajah pengemudinya bersimbah darah.

Si gadis sempat ragu apakah ia mesti membantu para korban kecelakaan itu, ataukah meninggalkannya. Ia lantas bergegas melangkah, membantu dua orang lain yang mencoba mengevakuasi korban.

“Pengemudinya sudah meninggal,”teriak orang pertama. “Kita selamatkan lelaki di sebelahnya.”

Merekapun mulai mencongkel pintu dan jendela van, mengeluarkan seseorang yang terjepit di sana. Begitu berhasil mengeluarkan korban, mereka bertiga membawanya ke tepi jalan, sambil mencegat kendaraan yang akan lewat.

Lelaki itu terlihat siuman sebentar. Ia batuk-batuk, lantas pingsan lagi.

“Tolong, kita harus memapahnya segera,”teriak si gadis. Tapi dua orang yang tadi ikut memberikan pertolongan sudah tak nampak lagi.

Si gadis lalu menekan dada lelaki itu. “Ayo, bangun. Bangunlah. Aku tak kuat kalau harus menggotongmu seorang diri,”serunya, sambil beberapa kali memberikan napas bantuan.

Lelaki itupun bangun dari pingsannya. Beberapa kali ia terbatuk-batuk, oleh asap yang kian menghitam.

Si gadis mengambil tisu dan mulai membersihkan wajah lelaki itu. Kucuran darah membaur dengan taburan hitam serupa arang.

Begitu jelaga hitam terseka dari wajah lelaki itu, terkejutlah si gadis melihat siapa orang tersebut.

“Siapa orang tersebut?”tanya sang suami, dengan nada penasaran.

“Orang itulah yang dulunya tak mau berbagi duka dengan si gadis.”sahut sang istri, penuh arti.

“Momo? Jadi orang tersebut adalah Momo?!”

Sang istri mengangguk.

“Lantas bagaimana kelanjutannya? Apakah selepas kejadian itu si Momo mau berbagi suka dukanya dengan si gadis?”

“Kalau engkau jadi Momo, apa yang akan kau lakukan, suamiku?”
“ Tergantung.”

Istrinya terperangah. “Ha? Tergantung? Tergantung apanya?”

Sang suami mendekatkan wajahnya pada istrinya. Raut wajahnya sangat serius ketika berkata,“tergantung seberapa banyak napas bantuan yang akan kudapatkan…”

Dan merekapun bergulat dalam selimut mimpi.

91 thoughts on “Cerpen: Kontemplasick (2-end)

  1. ninelights said: huahahahahhahahahaha..*langsung bekam mulut*:))))

    bekamnya yang kencang, yah…ampe sesak napas.Biar ntar dapat giliran juga….dikasih napas buatan sama david Hasselhoff atau billy warlock *pemeran baywatch:))

  2. binarlangitbiru said: hahaha… kalo penjaga pantainya sekeren para pemain baywatch akan sangat dipertimbangkan untuk berpura2 tenggelam ^__*

    wah, sayang sekali, serial bening begitu sekarang sudah tak ada:))*ada David Hasselhoff (Mich Buchannon), Billy Warlock (Edy Kramer), Brandon, Erika Eleniak, serta Pamela Anderson tentunya:)

  3. binarlangitbiru said: hahaha… kalo penjaga pantainya sekeren para pemain baywatch akan sangat dipertimbangkan untuk berpura2 tenggelam ^__*

    Tapi aku lebih ngerasa dia bangkit karena rio… Dan harus berkorban untuk sahabatnya… Rasanya momo itu cuma cinta masa remaja yang tidak bermakna dalam… Aku memilih dia cuma melanjutkan persahabatan dengan momo, dan gadis itu berjalan lagi, bertemu laki2 yang benar2 mencintai dia… Tapi perjalanannya masih tidak mudah… Hiks…

  4. dgreena said: Tapi aku lebih ngerasa dia bangkit karena rio… Dan harus berkorban untuk sahabatnya… Rasanya momo itu cuma cinta masa remaja yang tidak bermakna dalam… Aku memilih dia cuma melanjutkan persahabatan dengan momo, dan gadis itu berjalan lagi, bertemu laki2 yang benar2 mencintai dia… Tapi perjalanannya masih tidak mudah… Hiks…

    aku jg gitu , kalaupun mereka bersatu, butuh waktu sangat lama..

  5. dgreena said: Tapi aku lebih ngerasa dia bangkit karena rio… Dan harus berkorban untuk sahabatnya… Rasanya momo itu cuma cinta masa remaja yang tidak bermakna dalam… Aku memilih dia cuma melanjutkan persahabatan dengan momo, dan gadis itu berjalan lagi, bertemu laki2 yang benar2 mencintai dia… Tapi perjalanannya masih tidak mudah… Hiks…

    endingnya tergantung..😀

  6. dgreena said: Tapi aku lebih ngerasa dia bangkit karena rio… Dan harus berkorban untuk sahabatnya… Rasanya momo itu cuma cinta masa remaja yang tidak bermakna dalam… Aku memilih dia cuma melanjutkan persahabatan dengan momo, dan gadis itu berjalan lagi, bertemu laki2 yang benar2 mencintai dia… Tapi perjalanannya masih tidak mudah… Hiks…

    Hidup emang kadang rumit ya… *ngaca diri sendiri* :p

  7. dgreena said: Tapi aku lebih ngerasa dia bangkit karena rio… Dan harus berkorban untuk sahabatnya… Rasanya momo itu cuma cinta masa remaja yang tidak bermakna dalam… Aku memilih dia cuma melanjutkan persahabatan dengan momo, dan gadis itu berjalan lagi, bertemu laki2 yang benar2 mencintai dia… Tapi perjalanannya masih tidak mudah… Hiks…

    lega deh… akhirnya bahagia…. :)Suga… ada tetanggaku akhirnya menikah dgn perawat di RS tempat ayahnya dirawat….

  8. dgreena said: Tapi aku lebih ngerasa dia bangkit karena rio… Dan harus berkorban untuk sahabatnya… Rasanya momo itu cuma cinta masa remaja yang tidak bermakna dalam… Aku memilih dia cuma melanjutkan persahabatan dengan momo, dan gadis itu berjalan lagi, bertemu laki2 yang benar2 mencintai dia… Tapi perjalanannya masih tidak mudah… Hiks…

    mas suga, coba diterusin dengan 2 kalimat penjelas di akhir ceritanya, biar kita yang lugu ini menjadi lebih faham…hehehe…

  9. dgreena said: Tapi aku lebih ngerasa dia bangkit karena rio… Dan harus berkorban untuk sahabatnya… Rasanya momo itu cuma cinta masa remaja yang tidak bermakna dalam… Aku memilih dia cuma melanjutkan persahabatan dengan momo, dan gadis itu berjalan lagi, bertemu laki2 yang benar2 mencintai dia… Tapi perjalanannya masih tidak mudah… Hiks…

    Suka sekali karena si gadis akhirnya ketemu Momo, walaupun rumit, tp itu memang tipikal kehidupan, dan nggk tau juga endingnya dg pemuda itu bgm.

  10. dgreena said: Tapi aku lebih ngerasa dia bangkit karena rio… Dan harus berkorban untuk sahabatnya… Rasanya momo itu cuma cinta masa remaja yang tidak bermakna dalam… Aku memilih dia cuma melanjutkan persahabatan dengan momo, dan gadis itu berjalan lagi, bertemu laki2 yang benar2 mencintai dia… Tapi perjalanannya masih tidak mudah… Hiks…

    Banyak benang yang mesti disulam bila ingin menautkan Momo dan gadis yah?!Sebenarnya tergantung seperti apa tipe si gadis, apakah ia type orang yang bisa jatuh hati pandangan pertama, ataukah pandangan ke-100. :)Dan mungkin butuh satu novel, untuk mengangkat kehidupan si gadis, hingga ia benar2 menemukan orang yang tepat, berdasarkan unsur 3CS (Character, Conflict, Credibility, Specificity).

  11. fybrine said: lega deh… akhirnya bahagia…. :)Suga… ada tetanggaku akhirnya menikah dgn perawat di RS tempat ayahnya dirawat….

    Iya, Alhamdulillah…happy ending ^__^wah, Ayo, diceritakan donk feb…kisah cinta mereka. Bisa juga dibuat cerpen/cerbung ala chika tuh…huehue

  12. ceuosi said: mas suga, coba diterusin dengan 2 kalimat penjelas di akhir ceritanya, biar kita yang lugu ini menjadi lebih faham…hehehe…

    Selepas kejadian itu, Momo dan si gadis sering bergantian memberikan napas bantuan. merekapun hidup bahagia, selama2nya:)))

  13. zaffara said: Suka sekali karena si gadis akhirnya ketemu Momo, walaupun rumit, tp itu memang tipikal kehidupan, dan nggk tau juga endingnya dg pemuda itu bgm.

    yah, masalah kecocokan dalam hidup hampir sama seperti reaksi kimia, yah… Ada yang stabil dan ada yang tidak. :))

  14. zaffara said: Suka sekali karena si gadis akhirnya ketemu Momo, walaupun rumit, tp itu memang tipikal kehidupan, dan nggk tau juga endingnya dg pemuda itu bgm.

    @mas suga, iya, ayo bikin novelnya… Rasanya kalau perempuan jarang yang bisa jatuh cinta pada masa lalunya lagi. Tapi laki laki lebih mudah untuk jatuh cinta lagi pada wanita yang pernah dicintainya, apakah si momo akan berusaha menyembuhkan luka gadis itu? Dengan menjadi teman? Lalu menjadi pasangan? Mudah2an karena lama tak bertemu si momo berubah menjadi orang yang lebih optimis menjalani hidup, apalagi dia baru lolos dari kematian karena kecelakaan, masih dikasih kesempatan untuk hidup…. (Kok aku jadi kepanjangan nerusin cerita ini ya hehehe,

  15. dgreena said: @mas suga, iya, ayo bikin novelnya… Rasanya kalau perempuan jarang yang bisa jatuh cinta pada masa lalunya lagi. Tapi laki laki lebih mudah untuk jatuh cinta lagi pada wanita yang pernah dicintainya, apakah si momo akan berusaha menyembuhkan luka gadis itu? Dengan menjadi teman? Lalu menjadi pasangan? Mudah2an karena lama tak bertemu si momo berubah menjadi orang yang lebih optimis menjalani hidup, apalagi dia baru lolos dari kematian karena kecelakaan, masih dikasih kesempatan untuk hidup…. (Kok aku jadi kepanjangan nerusin cerita ini ya hehehe,

    wah, rasa2nya mbak Dina lebih pantas untuk meneruskan cerita ini, dan membuatnya menajdi novel yang menawan. Ayo, silakan diteruskan…:)Menambahkan setting lautan sepertinya akan lebih menyegarkan. Mungkin disanalah Momo belajar merasakan sebuah pengharapan:)

  16. saturindu said: tergantung di awan biru, mengasyikkan…bisa terayun2 berlama2:))

    yah…kalau tergantung itu kan kesannya pake syarat gitu Om.berarti cintanya nggak tulus donk :(biasanya kan kalau crita fiksi2 gitu cintanya pasti tulus…he*maksa😀

  17. saturindu said: tergantung di awan biru, mengasyikkan…bisa terayun2 berlama2:))

    @mas suga, wah si momo jadi pelaut gitu ya? Karena dia lemah n sakit sakitan harusnya dikapal pesiar, bagian dapur, jangan jadi awak kapal deck atau mesin, berat kerjanya… Sayang aku ga pernah kerja dikapal pesiar, ga lengkap referensinya…🙂

  18. dgreena said: @mas suga, wah si momo jadi pelaut gitu ya? Karena dia lemah n sakit sakitan harusnya dikapal pesiar, bagian dapur, jangan jadi awak kapal deck atau mesin, berat kerjanya… Sayang aku ga pernah kerja dikapal pesiar, ga lengkap referensinya…🙂

    boleh juga kerja di bagian mesin, terbiasa dengan bising dan cairan oli yang membikin sesak. Itu sebagai bentuk terapi anti alergi baginya. lama kelamaan, penyakit sesaknya berkurang :)tak semua tulisan harus dilandasi pengalaman khan? kita bisa bertanya pada orang yang lebih piawai, atau referensi2 lain:)Ayo, mbak…buat novelnya…huehue

  19. dgreena said: @mas suga, wah si momo jadi pelaut gitu ya? Karena dia lemah n sakit sakitan harusnya dikapal pesiar, bagian dapur, jangan jadi awak kapal deck atau mesin, berat kerjanya… Sayang aku ga pernah kerja dikapal pesiar, ga lengkap referensinya…🙂

    senang mendengarnya…:-P

  20. dgreena said: @mas suga, wah si momo jadi pelaut gitu ya? Karena dia lemah n sakit sakitan harusnya dikapal pesiar, bagian dapur, jangan jadi awak kapal deck atau mesin, berat kerjanya… Sayang aku ga pernah kerja dikapal pesiar, ga lengkap referensinya…🙂

    @mas suga, bener juga sih, banyak temen2 yang banyak penyakit, terus dilaut malah sembuh… Udaranya bersih sekali soalnya…🙂

  21. saturindu said: Selepas kejadian itu, Momo dan si gadis sering bergantian memberikan napas bantuan. merekapun hidup bahagia, selama2nya:)))

    “iya, om…kasihan kalo dibuat sad ending. dan kasihan pembaca juga, kl sering2 mengejutkan mereka. ntar pada jantungan….huehuehue”Pan ada om Suga yg akan memberikan nafas buatan hehe…”adi, gimana supaya nggak sedih? nggak usah pisah aja yah?!”Apalagi klo pisah ranjang. Ga enak banget tuh hehe..

  22. saturindu said: Selepas kejadian itu, Momo dan si gadis sering bergantian memberikan napas bantuan. merekapun hidup bahagia, selama2nya:)))

    sudah nebak akhirnya ketemu momo.. walupun digantung gitu ceritanya.. belibet bener sih cerita si gadis tanpa nama ini.. kasih nama dong..pengen bikin happy ending sajalah.. momo dan si gadis tanpa nama akhirnya bahagia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s