(Cerpen) : Kontemplasick

“Sayang, selama kebersamaan kita, momen manakah yang paling berkesan bagimu?”

“Semua momen memiliki kesan tersendiri,”ucap sang suami. “Sama halnya pendakian, ada jejak yang tergamit di masing-masing bukit.”

“Ah, selalu saja dikau ini berfilosofi. Tidakkah ada bahasa yang lebih sederhana?”

“Tak ada pernah ada kata dan bahasa—sesungguhnya, yang bisa melukiskan betapa bahagia diri ini mendapatkan pendamping sebaik dirimu. Segala masa yang kita renangi bersama, menghadirkan kedamaian hingga relung-relung jiwa. Di pucuk pagi, sejuk udara selalu tersemat bersama hangat kecupmu. Dan di bentang siang, aroma rindu sudah tertabuh bertalu-talu. Tak sabar rasanya menanti datangnya petang, saat kau songsong aku dengan peluk cumbu. Oh, aku tahu sekarang, momen mana paling berkesan—”

Sang istri menatap suaminya dengan senyum merekah. Ia belai rambut lelakinya yang sedikit menjulur ke depan, lantas dengan tiga jari ia menyisirnya ke pinggir. Dan terlihatlah sorot mata teduh lelakinya. Sorot mata yang tiap kali ia beradu pandang dengannya, getar-getar di dadanya kian membahana. Dengan segera iapun bernaung di bawah dagu lelakinya itu.

“Momen seperti inikah yang berkesan?”bisiknya, pada sang suami.

“Hampir benar, tapi bukan ini yang kumaksudkan.”

Sang istri melepaskan pelukan suaminya. Dengan pandangan menyelidik ia bertanya lirih,”lantas?”

“Bersamamu, sepanjang malam, adalah hal-hal paling mengesankan bagiku. Dalam diam, tanpa harus menyulam kata, hadirmu sudah mampu menyuguhkan kedamaian bagiku. Apalagi jika engkau mulai berkata-kata dan menyuguhkan cerita. Dongengmu selalu berhasil melelapkanku. Hingga ketika datang pagi, sirnalah sisa-sisa lelah.”

“Ah, selalu saja kau bisa merayuku. Jangan-jangan engkau sudah menunggu-nunggu ceritaku kembali?”

“Aku sebenarnya heran, darimana semua ceritamu itu bermuasal. Lebih dari seribu malam kita bersama, dan engkau tak pernah memberikanku cerita yang sama tiap malamnya…”

“Semuanya ada di sini,”kerling sang istri, sembari mengetuk keningnya. “Semuanya tersimpan rapi di laci memori.”

“Laci memori?”

Sang istri mengangguk. “Segala peristiwa silam terekam di sana. Dan ketika diputar ulang, banyak renungan yang akan bisa diselami. Seringkali imajinasi melahirkan harapan-harapan, dan seringkali waktu yang ada tak cukup menangkupnya.”

“Itukah gunanya kontemplasi, yang melahirkan resolusi sebagai bagian strategi dan visi di masa mendatang?”

“Tepat sekali, sayang,”sahut sang istri. “Dan akhir tahun, biasanya adalah momen yang tepat untuk berkontemplasi; merenungi pencapaian-pencapaian, dan harapan-harapan yang tak kesampaian. Tapi hal itu tak berlaku bagi Momo—“

“Momo?”

“Ya, dia adalah kafilah yang gersang akan harapan. Hidup—baginya—adalah bertahan dari satu oase ke oase. Mencari sepercik air untuk membasuh kerongkongannya yang kering…”

Aha, rupanya engkau sudah memulai cerita tanpa kusadari.”kata sang suami, dengan tawa sumringah. Sejenak ia benahi bantal pengganjal punggungnya. Lalu ia berkata kembali,”Wah, mengasyikkan. Ceritanya berlatar padang pasir.”

“Bukan, itu hanya perumpamaan.”Sang istri menimpali.

“Dimanapun latarnya, ayo lanjutkan ceritanya.”

Sang istri lantas memulai ceritanya.

Di satu kota yang penduduknya tak terlalu padat, hiduplah seorang pemuda bernama Momo. Tahun itu usianya sudah menginjak kepala tiga. Usia yang bagi banyak orang selalu mengundang pertanyaan yang sama: Kapan segera menikah? Mungkin tak seberapa penting dengan siapa ia akan menikah. Karena bagi orang-orang sekitarnya, yang pengin mereka lihat adalah lengkung janur kuningnya, yang menancap di pagar depan rumahnya.

Tak seorangpun tahu jika Momo sama sekali tak berhasrat berumah tangga. Hidup, baginya, hanya sekedar menunda kekalahan. Seberapapun keras ia berjuang, lambat laun hidupnya pasti terenggut maut. Dan apa yang ia bisa?

Sejak kecil, ia sudah bergerilya, dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Sekedar menyambung napasnya, yang terengah-engah karena serangan asma yang menghebat. Ia sendiri tak tahu—apakah mesti bersyukur ataukah sebaliknya—karena bisa hidup hingga kini. Yang ia tahu, ia sudah lelah. Kian hari ia tambah lelah, karena maut seolah mempermainkannya, tak hendak mencabut nyawanya segera.

Lelahnya makin bertambah manakala hadir seorang gadis, ya
ng ingin mendapatkan cintanya.

“Alangkah membahagiakan,”ucap sang gadis penuh harap, “bila dirimu mengijinkanku berotasi, mengelilingi siang dan malam bersamamu.”

Momo mendesah. Ia tak ingat lagi kapan terakhir kali ia jatuh cinta. Debar-debar yang tak mengenal kata pudar, sebelum bertemu yang dirindu. Sungguhkah ia pernah mengalaminya? Ah, ia pasti berhalusinasi. Karena seingatnya dulu, gelora cintanya sudah diredam di dasar samudera terdalam.

Si gadis berkata lagi. “Bimbinglah aku, untuk mengeja rona kehidupan ini. Bersama dirimu di sisi, tentu rona kehidupan akan lebih berwarna-warni.”

“Warna hidupku terlalu buram. Sepanjang pematang kehidupan bergelimang kabut gelap. Seringkali kutergelincir dalam lumpurnya yang teramat pekat. Kerap ku tertatih, meniti tanpa arah. Pada perih yang meraja. Jangan, jangan sampai engkau menempuh jalan yang sama. Rona hidupmu tentu akan jauh lebih indah, bila kau tahbiskan bersama dengan yang lain—“

“Kenikmatan tertinggi, bukankah berbagi dengan sesama? Sungguh merupakan kebahagiaan buatku, jika engkau sudi berbagi semua dukamu. Bersama-sama, kuyakin beban akan jauh lebih ringan.”
Momo kembali mendesah. Ingin sekali ia berkata,’Gadis 17 tahun, tahu apa engkau tentang derita? engkau masih berselimut mimpi, karena engkau baru meneguk sesejuk pagi. Siangmu belum bertamu, saat mentari menyengat rona wajahmu.Saat itulah kerongkonganmu mulai tercekik. Dan pekik kesakitan akan mulai berkumandang’.

“Maafkan aku, gadis,”tandas Momo pada akhirnya. “Tak akan kubagi dukaku pada siapapun. Biarlah diri ini bergulat sendiri dalam pekat yang merajai…”

Tahun telah berganti. Tetapi kerinduan si gadis pada Momo tak pernah padam. Sejak ia kuliah di akademi keperawatan, beberapa pemuda mencoba mendekatinya. Tapi ia menanggapi dingin semua itu.

“Tak baik terus bermuram durja. Ayo, tersenyumlah. Sedekahkan senyummu pada dunia,”kata Riosuke, di malam pergantian tahun. Ia lalu mengajak si gadis berjalan sepanjang koridor Rumah Sakit, menikmati jajaran lilin yang sengaja dinyalakan bersama-sama menyambut datangnya tahun baru.

“Entahlah, Rio.”Ucap si gadis. “Mengapa resah tak jua sirna dari jiwaku.”

“Hanya dirimu yang bisa menjawabnya,”timpal Riosuke. “Tapi satu hal yang bisa kukatakan, kalau kita terlalu berkutat dalam energi negatif, jiwa kita akan tersedot dalam pusaran negatif. Begitupun sebaliknya.”

Langkah-langkah mereka terhenti pada sebatang lilin yang padam. Riosuke mengambil korek dan menyalakannya. Merekapun berjalan lagi.

“Lihatlah lilin-lilin ini,”ucap Riosuke. “ Lihatlah semangatnya yang terus berpijar menerangi sekitar. Biar batangnya tinggal bersisa sedikit, ia akan terus menyala, sampai angin memadamkannya. Mungkin begitu halnya dengan kita, para manusia. Kita mesti fokus untuk berkarya dan terus berkarya, dan melakukan hal terbaik dalam kehidupan ini…”

Dalam taburan kembang api yang berhamburan di langit, senyum si gadis mengembang kembali. Berada di sisi Riosuke ternyata membuatnya bisa mengusir resah. Perlahan, ia bisa melupakan sosok Momo. Kebahagiaannya makin berlipat manakala Riosuke berjanji melamarnya begitu lulus dari Kedokteran.

Dan siang itu, selepas menghadiri wisuda, Riosuke berkata sesuatu yang lain. “Kenal sama Nanami?”

“Nanami Naohara? Ia salah satu sobat terbaik yang kupunya.”

“Kasihan dia, yah. Dokter memvonisnya menderita penyakit kanker ovarium.”

“Pantas, ia sering mengeluh mengalami nyeri di perut.”

“Hidupnya diprediksi tak akan lebih dari satu setengah tahun.”

“Ya Tuhan!”pekik si gadis, dengan pandangan berkaca-kaca. Sejurus kemudian ia berkata,”Katakan Rio, apa yang bisa kulakukan untuk membantunya?!”

Riosuke menggeleng. Mereka lantas terdiam untuk beberapa lama. Hingga terdengar Riosuke berkata pelan.

“Mungkin yang bisa dilakukan, adalah membuatnya terus bahagia. Sampai ajalnya tiba. “

“Yah, apapun akan kulakukan untuk membahagiakannya,”tekad si gadis, yang lantas mengajak Riosuke untuk membesuk Nanami.

Begitu menjumpai Nanami di ruang ICU, Si gadis segera mendekap Nanami, yang tubuhnya makin kurus. Kemoterapi membuat wajah wanita itu terlihat amat pucat. Seperti tanpa sel-sel darah merah.

“Nana, tolong katakan. Apa yang bisa kulakukan untukmu?”Ucap si gadis pelan, sambil mengusap rambut Nanami yang kusut.

Nanami menggeleng, sambil menyunggingkan senyum. Tampak sekali ia ingin berbicara, tapi tenggorokannya seperti tercekat.

“Ayolah, Na. Bukankah dulu kamu pernah punya keinginan menikah? Masih belum terlambat mewujudkannya. Aku yakin, kalau lelaki itu juga mencintaimu, ia pasti akan menerimamu apapun keadanmu. Begitu khan, Rio?!”

Gadis menoleh pada Riosuke, yang terlihat mengangguk kearahnya.

“Ayo, Na! Kamu belum cerita siapa lelaki yang kau kagumi itu. Dari dulu kau selalu merahasiakannya,”desak si gadis. Ia lalu menggoyang-goyangkan kedua bahu Nanami dan menepuk kedua pipinya. “Ayo, Na. katakanlah sekarang. Nanti aku yang akan menemui lelaki itu dan mengatakannya.”

Belum sempat Nanami membuka suara, dengan sigap Riosuke memegang kedua tangan si gadis, lalu mendekapnya.

“Sayang,”katanya. “Benarkah engkau sungguh-sungguh mau berkorban untuk kebahagiaan Nanami?”

“Tentu saja,”jawab si gadis dengan mantap.

“Bila begitu, relakan aku menikah dengan Nanami.”

Si gadis terbelalak. “Jangan becanda, Rio!”serunya.

Tapi Riosuke berkata dengan penuh kesungguhan.“Harap kau tahu. Akulah lelaki itu…

(sambungannya esok yah…huehue)

Bersambung ke sini

114 thoughts on “(Cerpen) : Kontemplasick

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s