AQ, Seberapa Tangguh Kita Menghadapi Masalah?

“Kita sering menyalahkan situasi yang kita hadapi,

namun ternyata situasilah yang mendewasakan kita…”

Membaca QN Mas Agung di atas, saya teringat pada sebuah tipe kecerdasan yang pertama kali dikenalkan oleh Paul G. Stoltz, yakni Adversity Quotient (AQ); Kecerdasan menghadapi dan mengatasi masalah. Menggabungkan 3 disiplin ilmu : psikoneuroimunologi, neurofisiologi dan psikologi kognitif, Paul G Stoltz mengemukakan bahwa AQ bisa dipakai sebagai alat ukur untuk menilai produktivitas, kreativitas, kompetensi yang berhubungan dengan kesuksesan seorang dalam dunia kerja dan pengembangan diri. Dewasa ini, metode AQ telah banyak dipakai oleh perusahaan-perusahan besar dan berkembang di seluruh dunia.


3 TIPE MANUSIA
DALAM MENGHADAPI KESULITAN

Untuk memberikan gambaran, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Dalam hal ini, Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga bagian:

1. Quitter (yang menyerah).

Quitter adalah tipe pendaki yang gampang menyerah ketika mengalami pendakian sulit. Ia dengan mudah berputar arah dan membatalkan pendakiannya.

Dalam dunia nyata, para quitter adalah para pekerja yang sekadar untuk bertahan hidup. Mereka cenderung menghindari tantangan berat, dan takut menghadapi komitmen. Para Quitter cepat putus asa dan mudah menyerah di tengah jalan. Biasanya mereka akan berkata,” saya sudah mentok”, “tidak ada jalan lain!”

2. Camper (berkemah di tengah perjalanan)

Camper adalah tipe pendaki yang selalu mencari tempat singgah (kemah) ketika merasa mengalami kesulitan dalam pendakian. Ketika sudah nyaman berkemah, Camper biasanya enggan untuk melanjutkan pendakian. Ia akan berkata, “Ah, ngapain juga capek-capek mendaki lagi? Dari sinipun kelihatan puncak gunungnya.” Atau, “Kalian saja yang mendaki, tapi jangan lupa foto-foto di puncaknya yah?! Biar ntar aku juga bisa melihat puncaknya seperti apa…”

Para camper lebih baik dari Quitter karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yang berisiko, dengan catatan resikonya terukur dan aman. Motto para Camper : “Ngapain capek-capek” atau “segini juga sudah cukup”. Ketika para Camper sudah merasa berhasil menaklukkan tantangan, ia akan nyaman dalam zona nyamannya (comfort zone). Ia tak lagi merasa perlu untuk melakukan hal-hal yang beresiko. Akibatnya, banyak potensi dalam diri mereka yang tidak teraktualisasikan.

3. Climber (pendaki yang mencapai puncak).

Climber adalah tipe pendaki yang selalu menuntaskan pendakiannya hingga ke puncak. Mungkin ia akan berkemah seperti Camper, tapi hanya sekedar persinggahan sejenak. Setelah berhasil menuntaskan pendakian, Climber akan mencari pendakian baru di gunung-gunung baru.

Dalam dunia nyata, Para climber adalah orang-orang yang berani menghadapi risiko untuk selalu menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau banyak rintangan dan kesulitan yang menghadang. Dalam diri mereka tertanam motto,” Kesulitan akan mendapatkan banyak kemudahan.”

Dari tiga tipe tersebut, Climber merupakan pemilik AQ tertinggi. Lebih tinggi dari Camper dan Quitter.


4 DIMENSI CO2RE

Ada 4 dimensi yang digunakan Paul G. Stoltz untuk mengukur tinggi-rendahnya AQ seseorang. Yakni, Control, Origin & Ownership, Reach, dan Endurance (biasa disingkat CO2RE).

1. CONTROL

C=Control/Kendali , berhubungan dengan seberapa banyak kendali yang dirasakan seseorang terhadap sebuah peristiwa yang menimbulkan kesulitan. Orang yang memiliki keuletan dan tekad yang tak kenal menyerah adalah orang-orang yang memiliki C tinggi (dan AQ tinggi). Orang-orang bertipe ini selalu merasa punya kendali—seberapapun kecilnya—terhadap segala situasi.

Orang yang memiliki C rendah biasanya cenderung berpikir:

Ini di luar jangkauan saya!

Tidak ada yang bisa dilakukan sama sekali

Saya sudah mentok!

Anda tidak mungkin bisa melawannya.

Dalam situasi yang sama, Orang yang memiliki C tinggi akan cenderung berpikir:

Wah, ini memang sulit. Tapi saya pernah menghadapi hal yang lebih sulit lagi!

Pasti ada yang bisa saya lakukan.

Selalu ada jalan!

Siapa berani, akan menang.

Saya mesti mencari cara lain…

Contoh Kasus :

Gara-gara catering di kantor, gula darah saya meningkat. (AQ rendah, karena tidak punya kendali terhadap diri sendiri)

Saya akan mengawasi cara belajar anak saya, agar raportnya tidak merah seperti sekarang ini. (AQ tinggi)

2. O2 (ORIGIN & OWNERSHIP)

Origin (asal usul) berhubungan dengan cara pandang mengenai asal usul penyebab masalah/kesulitan. Ada dua tipe orang yang ber-Origin rendah (dan ber-AQ rendah ).

Orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri sebagai satu-satunya penyebab kesulitan.

Orang yang selalu menyalahkan orang lain sebagai penyebab terjadinya kesulitan

Orang yang ber-AQ tinggi mungkin juga akan menyalahkan diri sendiri, tetapi ia juga paham bahwa terdapat factor di luar dirinya yang turut menjadi penyebab kesulitan tersebut.

Ownership (kepemilikan) berhubungan dengan sejauh mana seseorang mengakui dan ikut bertanggung jawab atas kesulitan yang telah terjadi.

Yang sering terjadi, banyak orang akan mengklaim sebuah kesuksesan sebagai usaha mereka. Tetapi bila kegagalan yang didapatkan, kebanyakan mereka akan mencari kambing hitam.

Orang-orang yang memiliki Ownership tinggi (dan ber-AQ tinggi) adalah orang-orang yang selalu mengambil tanggung jawab terhadap pekerjaan yang melibatkannya. Ketika kesulitan datang, mereka mengambil peran untuk menyelesaikan masalah hingga tuntas.

Contoh Kasus, Seorang ahli taman mengutus anak buahnya untuk melakukan pekerjaan renovasi rumput di sebuah rumah. Sebulan kemudian, semua rumput di kebun itu mati. Pemilik rumah langsung complain pada Ahli taman tersebut.
Jika Ahli taman tersebut memiliki O2‑ tinggi, ia akan berkata : “ Wah, ini salah saya karena telah mempekerjakan anak baru itu. Dia sendiri yang berkata kalau sudah punya pengalaman menangani rumput ramah lingkungan. Padahal saya juga telah melatihnya. Baiklah, pak. Saya bertanggung jawab 100 % atas apa yang telah terjadi di sini. Dan saya akan melakukan apa saja untuk memperbaikinya, meskipun itu berarti saya harus membuat taman baru dengan biaya saya sendiri…”

Jika Ahli taman tersebut memiliki O2 rendah, ia cenderung akan berkata.”Ya ampuun. Ternyata saya mempekerjakan anak baru yang tidak kompeten. Rupanya saya tidak begitu hebat dalam menilai orang. Saya juga gagal melatihnya. Bodoh sekali saya, menyebabkan taman anda menjadi rusak. Yah, tidak ada yang bisa saya lakukan lagi. Anda harus mencari orang lain untuk memasang rumput baru…”

3. REACH

Reach (jangkauan) berhubungan dengan sejauh mana kesulitan akan menjangkau aspek-aspek lain dari kehidupan seseorang.

Orang yang ber-AQ tinggi akan mampu melokalisir masalah hanya pada tempatnya, tidak merembet ke tempat lain. Sebaliknya, orang yang memiliki AQ rendah, akan sulit menghidari merembetnya kesulitan ke tempat lain.

COntoh kasus:

Masalah di kantor, merembet ke rumah tangga. (AQ rendah)

Habis dimarahin bos, langsung memanggil para bawahan dan memarahi mereka habis-habisan. (AQ rendah)

Gagal menjadi salah satu pemenang lomba menulis puisi, langsung mengambil kesimpulan, ‘saya memang tidak berbakat sebagai penulis. Mulai sekarang saya akan berhenti menulis…’ (AQ rendah)

Nggak mood makan dan belajar (atau bekerja), karena habis diputusin pacar…


4. ENDURANCE

Endurance (Daya Tahan) berkaitan dengan seberapa lama kesulitan dan penyebab kesulitan akan berlangsung. Orang yang memiliki E rendah akan menganggap kesulitan berlangsung dalam jangka waktu lama (bahkan selamanya).

Contoh ungkapan verbal orang yang ber-E rendah:

Ini selalu terjadi

Segalanya tak akan pernah membaik, sejak dirinya berlalu dari sisiku.

Dari dulu saya tidak pandai menggunakan…

Hidup saya hancur

Mereka tidak akan pernah akur.

Perusahaan ini brengsek

Bos benar. Saya memang tidak bakat untuk sukses.

Saya memang pemalas

Saya tidak pernah bisa akrab dengan anak-anak.

Saya tidak punya semangat, dll

Penelitian Seligmann menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara orang yang mengaitkan kesulitan dengan sesuatu yang sifatnya sementara versus sesuatu yang sifatnya permanen (abadi). Contoh dalam bidang olahraga: Atlet yang beranggapan bahwa kegagalan mereka disebabkan karena kemampuan (postur fisik pendek, kurang cerdas, dll) cenderung kurang bisa bertahan dibandingkan dengan atlet yang mengaitkan kegagalannya dengan usaha/upaya mereka yang belum maksimal.

Contoh dalam dunia kerja: orang yang mengalami penolakan lamaran kerja. Jika ia beranggapan bahwa penolakan itu hanya sesuatu yang bersifat sementara (misalnya: kurang berusaha, strategi buruk, wawancara kurang lancar, pekerjaannya tidak cocok), ia cenderung yakin, bahwa bila ia memperbaiki kekurangan-kekurangannya, peluang kesuksesannya akan sangat terbuka di masa mendatang. Tetapi, bila orang tersebut mengait-ngaitkan penolakan tersebut dengan sesuatu yang sifatnya stabil/permanen (kecerdasan yang pas-pasan, kemampuan menulis surat pengantar yang tak pernah bisa bagus, penampilan yang gugup, dll), besar kemungkinan orang tersebut akan menyerah.


4 CARA MENINGKATKAN AQ

Kecerdasan menghadapi dan mengatasi masalah (AQ) sama dengan kecerdasan lain yang bisa dilatih dan ditingkatkan kemampuannya. Paul G Stoltz memberikan 4 cara yang disingkat dengan LEAD sebagai berikut:

L=Listen. Dengarkan respon diri kita terhadap kesulitan

Apakah itu respon AQ yang tinggi ataukah rendah?

Pada dimensi-dimensi manakah respon itu paling tinggi dan mana yang paling rendah?

E=Explore. Jajaki asal usul dan pengakuan diri kita atas akibatnya

Apakah asal usul (penyebab) kesulitan tersebut? Seberapa besar andil kita dalam kesalahan itu?

Jika diberi kesempatan lagi, bisakah kita mengerjakannya dengan lebih baik?

Aspek-aspek apa sajakah dari akibat-akibatnya yang harus diakui? Mana yang tidak?

A=Analyze. Analisis bukti-buktinya.

Adakah bukti bahwa kita tak memiliki kendali?

Adakah bukti bahwa kesulitan sudah menjangkau aspek-aspek lain kehidupan kita?

Apakah kesulitan sudah berlangsung lebih lama dari yang seharusnya?

D=Do. Lakukan!

Informasi tambahan apa yang diperlukan?

Apakah yang bisa dilakukan
untuk mendapatkan sedikit kendali atas situasi ini?

Hal apa yang bisa dilakukan agar kesulitan tidak merembet ke tempat lain?

Apa yang bisa dilakukan agar kesulitan tidak berlangsung dalam rentang waktu lama?

***

*Bahan-bahan diambil dari buku Adversity Quotient : Mengubah Hambatan menjadi peluang dan materi2 di kelas pelatihan Managemen.

142 thoughts on “AQ, Seberapa Tangguh Kita Menghadapi Masalah?

  1. saturindu said: buku yang teramat bagus utk renungan buat para manusia. agar bermental tikus…huehue

    saya termasuk tipe yg mana ya? rasanya smua tergantung sikon saat itu, kadang Quitter, kadang Camper, kadang juga Climber…but…kl ada yg jelas2 nawarin bantuan why not? ke puncak gunung naik helikopter ajah…hehe ;p

  2. saturindu said: buku yang teramat bagus utk renungan buat para manusia. agar bermental tikus…huehue

    engga, seminarnya doang.. kantor suka dapat undangan kaya gitu.. seringnya kalu ada pelatihan buat asisten sajalah.. biarlah, bukannya putus asa.. sudah enak posisi sekarang.. giliran orang lain saja.. ini bukan tipe penyerah ya.. tapi climber yang mendelegasi gitu.. baik hati kan saya..

  3. srisariningdiyah said: hahaaaa *tos ama mba tin* kayaknya kita pensiunan climber ya mbak :))))sekarang kita tipe porteran aja deh

    hihihi pernah terakhir kemana ya lupa.. porter ga ada.. naik gunung cuma bawa botol aqua, coklat, jeruk, apel dan kamera.. yang lain2 tinggal di mobil saja.. begitu ga kuat naik lagi, turun deeeeeehhh.. tinggal kemping di kaki gunungnya, kalu kedinginan, masuk mobil saja.. garing nih badan udah ga bisa dibohongi..

  4. saturindu said: Adversity Quotient (AQ); Kecerdasan menghadapi dan mengatasi masalah.

    sifatnya tidak menetap, senantiasa berubah seiring dengan proses belajar, bisa berkembang atau mengalami kemunduran. Banyak hal yang mempengaruhi, salahsatunya keadaan psikologis terhadap masalah yang dihadapi:)

  5. rienalanshari said: *menganalisis diri sendiriaku suka marah, ngamuk-ngamuk ga jelas kalo ada satu hal yg salah dan aku ga suka. sekalipun aku ga nyalahin org lain. aku tetap aja ngamuk. nyalahin diri sendiri. terus setelah tenang br aku liat lg mslhnya apa. br ketawa-ketawa. hahaorg byk blg aku keras kepala yg aneh dan ngotot. dan seringkali persistent sm yg di-ngototin. tp kdg aku malah suka leyeh2 keliatan ga ngapa-ngapain. makanya abang aku blg aku pemimpi yg sinting. pertanyaanya: “masuk tipe mana tuh?”

    wah, bagus tuh….:))walau marah, tapi marahnya bukan ke orang lain. Kl marahnya bersifat eksplisit bisa berabe. banyak hal yang akan dijadikan pelampiasan:)silakan meluncur ke : http://www.mypersonality.info/ utk mendapatkan gambaran tentang personality yang komplet, mbak:)

  6. tintin1868 said: biarlah, bukannya putus asa.. sudah enak posisi sekarang.. giliran orang lain saja.. ini bukan tipe penyerah ya.. tapi climber yang mendelegasi gitu.. baik hati kan saya..

    wah, jd sebetulnya mbak tin adalah seorang climber. tetapi merelakan posisi utk pra junior? Sebuah keikhlasan yang patut ditiru. terutama oleh saya:)

  7. dyahirawan said: saya termasuk tipe yg mana ya? rasanya smua tergantung sikon saat itu, kadang Quitter, kadang Camper, kadang juga Climber…but…kl ada yg jelas2 nawarin bantuan why not? ke puncak gunung naik helikopter ajah…hehe ;p

    wah, hebat mbak Dyah…tipenya bisa menyesuaikan sikon :))*wah, ikutan donk…kl naik heli

  8. arynsis said: tapi intinya, kalau berdoa, jangan meminta diringankan cobaan yang menimpa kita, mintalah agar kita sanggup menghadapi cobaan itu.

    wah, sebuah kata pengingat yang teramat bagus untuk kita semua.:)terima kasih mbak Ary, sudah ikut berbagi pengalamannya:)

  9. fahranza said: Kadang2 seseorang berada disituasi ketiganya dengan waktu yang berbeda mas. Tergantung masalah yang dihadapi. Ery ga bisa bilang aku termasuk golongan A, B atau C…karena dalam masalah yang beda aku juga melakukan hal yang beda. Maksudnya..pernah mengalami situasi ketiganya.

    ery sepertinya tergolong tipe yang amat dewasa dlm menghadapi masalah, yah…:)

  10. 061274 said: kita hendaknya tetap berprasangka baik pada Allah dalam keadaan apapun.karena apapun yang sedang dan telah terjadi, sesungguhnya itulah yang terbaik bagi kita. sehingga kita berkewajiban untuk SELALU IKHLAS dan MENSYUKURI apa pun kondisi kita (hasil dari denger khutbah Jum’at tadi)info yang sangat bermanfaat agar kita jauh dari budaya/pribadi pengeluh…makasih mas…

    terima kasih, sudah mengingatkan kembali, tentang pentingnya berpositif thinking pada sang pencipta. :)kewajiban kita sebagai manusia adalah berusaha, berupaya dan terus berusaha…hasilnya adalah mutlak kehendak Tuhan :)*wah, khotbahnya amat berkesan, hingga terngiang2 terus:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s