(Cerpen): Aku dan Bening


Aku dan Bening. Kami menanti wanita yang sama. Wanita yang pulangnya selalu di atas jam sembilan malam.

Sebagaimana Bening, aku memanggil wanita itu dengan sebutan ‘Mama’. Walau wanita itu bukan mama kandungku, tapi kasih sayangnya tak kalah dengan ibu kandungku. Sayangnya, wanita itu selalu pulang malam. Kecupan hangatnya baru mendarat di keningku saat aku sudah berkutat dengan bantal guling.

Sesekali wanita itu ikut tidur di kamarku. Ia membacakan dongeng-cerita, hingga aku terlelap, sambil memeluk boneka beruang hadiah ultah darinya. Perhatiannya yang begitu besar membuatku kadang berpikir jika wanita itu lebih pantas menjadi mama kandungku. Tapi perasaan itu segera kutepis jauh-jauh.

Aku sendiri masih memiliki ibu kandung. Walau ibuku bukan wanita agung, aku bahagia memilikinya. Sejak kecil ia mengajariku hidup sederhana. Ibu juga mengajariku cara membuat beberapa masakan yang enak dan sedap. Mungkin, kalau ada kekurangan darinya, itu akibat jenjang pendidikannya yang tidak terlampau tinggi. Ibu hanya sempat mengenyam pendidikan SMP. Mungkin karena itukah ia hobi nonton sinetron? Entahlah. Tapi ia dan Bening amat khusyu’ kalau sudah duduk di depan layar TV.

Aku dan Bening. Kami tinggal di rumah yang sama. Kamar kami bersebelahan. Aku di ujung kiri, dan ia di seberangnya. Dulunya kami enggan menempati kamar tersebut, karena kami masih ingin tidur bersama ibu kandung masing-masing. Tapi sejak kelas VI SD, ayah memaksa kami untuk tidur terpisah. Yah, apa boleh buat. Sejak saat itu, ibu kandungku jarang mengunjungi kamarku. Tak seperti wanita yang kupanggil ‘mama’, yang hampir tiap malam menyempatkan diri menjengukku. Walau sekedar menambatkan selimut ke tubuhku yang telah lelap.

Aku dan Bening. Kami masih menanti wanita yang sama. Wanita yang masih belum juga sampai rumah. Padahal jarum jam sudah bergegas merujuk angka sebelas.

“Mama kenapa jam segini belum pulang, yah?!”kata Bening, mengkhawatirkan mama kandungnya. Beberapa kali ia melihat jam besar yang bandulnya berayun-ayun.

“Mungkin mama lembur lagi. Biasanya kalau akhir bulan, mama lebih lambat pulangnya.”sahutku mencoba menenangkan.

Bening mengangguk. Pandangannya kini terarah pada jendela luar. Disingkapnya sedikit tirai. Matanya seperti menerawang jalanan gelap depan halaman rumah kami. Ia tentu sangat berharap bisa mendapati sinar terang yang menyilaukan mata. Biasanya, jam setengah sepuluh sinar itu sudah terlihat, bersamaan dengan suara mesin mobil yang mendekat. Itulah kendaraan mama, yang selalu dipakai bepergian. Sejak ayah kami mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya, mama Beninglah satu-satunya orang yang bekerja guna menghidupi kami berlima. Ayah kami sendiri harus pensiun dini, sejak ia hidup di atas kursi roda.

Kureguk coklat terakhirku yang sudah dingin. Terasa sedikit pahit di lidah. “Kalau Bening mengantuk, tidur saja dulu,”kataku, setelah melihat Bening menguap beberapa kali. “Biar ntar aku membuka pintu, kalau mama pulang.”

“Iya, Cha. Tolong tungguin mama, yah?”ucap Bening, yang lantas beranjak pergi ke kamarnya.

Paginya rumah kami telah ramai oleh orang-orang. Semalaman mama tidak pulang. Aku, yang saat itu masih terjaga hingga pukul dua, makin gelisah menanti datangnya wanita itu. Kuputar MP3, mendengarkan musik-musik rehearsal, agar bisa relaks sebagaimana sebelumnya. Tapi tetap tak menolong. Aku yang sudah teramat resah, lalu mencoba memejamkan mata.

Begitu adzan subuh bergema, terdengar ketukan di pintu. Bergegas kubangkit dari Sofa yang melelapkanku. Wah, mama pasti bekerja keras hingga pulang dini hari ini. Kubuka korden sedikit. Alangkah kecewanya, bukan mama yang datang, tapi dua pria berseragam polisi. Ibuku yang juga sudah bangun lantas membukakan pintu.

“Benar ini rumah bu Rarasmarawati Purmana?” kata polisi sebelah kiri, mengeja sebuah identitas di tangannya.

Ibu mengangguk.

“Maaf sebelumnya, bu. Kami ingin mengabarkan, kalau ibu Rara mengalami kecelakaan di jalan depan gang ini.”

Kami langsung panik. “Kecelakaan? Trus gimana—“

“Maaf, bu Rara meninggal di tempat.”

Ibu sontak berteriak. Teriakannya melengking, mengundang para tetangga berdatangan. Aku sendiri tak ingat siapa-siapa yang datang, karena tak lama setelahnya, tubuhku terasa limbung. Sesaat berikutnya, semesta terlihat gulita.

Ketika membuka mata, kudapati diriku tengah terbaring di kamar. Tubuhku terasa lemas. Bau-bauan yang menyengat membuat diriku pusing. Kucoba bangkit dari tempat tidur. Dadaku masih terasa sesak, begitu mengingat kembali berita tentang mama. Kepergian wanita itu yang terlalu tiba-tiba membuatku kehilangan semangat. Berkali-kali kuyakinkan diri kalau wanita itu hanyalah ibu tiri. Tapi kesedihan itu tak jua sirna

Tiba-tiba kuingat Bening. Gadis itu pasti lebih terpukul dariku. Aku sendiri tak berani membayangkan bagaimana rasanya kehilangan ibu kandung.

Benar saja. Terdengar teriakan histeris dari seberang kamar. Lalu terdengar tangis yang keras. Bening meraung-raung, seperti singa terluka.

Kulangkahkan kaki perlahan, beranjak dari kamar, menuju kearah datangnya teriakan itu. Kuhampiri pintu kamar Bening yang sedikit terbuka. Hampir saja kumasuk ke dalamnya. Tapi langkahku tertahan, begitu terdengar suara ibuku dari dalam kamar.

“Bening jangan sedih, yah!”hiburnya. “Masih ada aku, ibumu, yang akan selalu menjagamu.”

“Gimana nggak sedih, Bu. Bening kehilangan mama kandung.”

“Sttt…sini aku bisikin,”ucap ibuku, yang lalu melirihkan suaranya. “Sebenarnya akulah mama kandungmu. Jadi, kak Rara itu mama tirimu.”

Aku tahu maksud ibuku berkata begitu. Ia sekedar ingin menenangkan Bening.

“Ah, ibu bohong!”sergah Bening. “ Ibu pasti cuma ingin menghiburku khan?!”

“Demi Tuhan, aku tak bohong Bening.”

Agak mengherankan juga mengapa ibuku mesti bersumpah-sumpah segala.

“Bohong, bohoong…”Bening meraung-raung lagi.

Aku bersiap masuk kamar itu; ingin menenangkan Bening yang kembali menangis kencang. Tapi belum juga tanganku menguak pintu, terdengar lagi suara. Kali ini nadanya berat tapi tegas. Pasti suara Ayah.

“Benar, Bening.”ucapnya. “Ibumu berkata apa adanya. Kamu memang anak kandungnya.”

Tangisan Bening terhenti seketika. “Tapi, tapi tidak mungkin,”katanya sesenggukan. “Mama-lah yang merawatku dari kecil, bukan ibu…”

“Jadi ceritanya begini,”Ayah bersuara lagi. Cukup lama ia mengambil jeda sebelum berbicara kembali. Suara Ayah terdengar agak serak ketika mulai berkata,“lima belas tahun lalu aku menikah dengan Rara, sekretarisku. Bukan pernikahan ideal sebenarnya, karena ia telah lebih dulu hamil dua bulan dengan pacarnya terdahulu. Serta merta Rara berniat mengakhiri hidupnya, karena tak ingin menanggung aib. Tapi Ayah berhasil membujuknya…”

Aku mendesah. Sungguh kasihan mama. Masa lalunya ternyata kelam. Syukurlah ia bertemu orang sebaik Ayah. Kusimak lagi cerita Ayah, sambil menyandarkan tubuh di dinding luar kamar.

“Rara trenyuh melihat pengorbanan Ayah,”katanya. “Ia sesungguhnya tahu kalau saat itu Ayah sebenarnya mencintai wanita lain. Karenanya, ia mempersilakanku untuk menikah lagi dengan Ratri, wanita yang biasanya kau panggil dengan sebutan ‘ibu’. Syukurlah, Ratri sendiri tak terlalu mempermasalahkan hal ini. Ia malah mengajak Rara untuk tinggal serumah.”

Oh, ini ternyata asal mulanya, mengapa ada dua keluarga di rumah ini…

“Berselang lima bulan setelah Rara melahirkan Chacha,”Ayah berkata lagi, ditujukan pada Bening tentunya,“engkau juga lahir dari rahim Ratri. Kemudian terlintaslah ide, bagaimana seandainya Rara dan Ratri ‘bertukar’ bayi. Hal itu Ayah maksudkan untuk menghilangkan beda perlakuan anak kandung-anak tiri. Dengan cara itu, anak tiri malah akan berasa sebagai anak kandung.

“Rara dan Ratri mendukung penuh ide itu. Chacha lantas diserahkan pada Ratri untuk diasuh. Begitu juga dengan engkau Bening, yang lantas diasuh dan disusui oleh Rara.”

Benarkah demikian? Jadi, wanita yang biasa kupanggil ‘mama’ itu memang benar mama kandungku?

Terdengar suara ibu yang agak lirih dalam berkata,“Kami sebenarnya tak akan pernah membuka rahasia ini—”

Mereka bertiga terkejut, begitu mendapati diriku sudah berdiri di depan pintu kamar. Ayah dan Ibu sepertinya hendak memberi penjelasan. Tapi terlambat. Aku sudah ambruk…

160 thoughts on “(Cerpen): Aku dan Bening

  1. kresna2006 said: mama lagi ngeposssssssssssssssssssssssssssss.

    Endingnya, khas mas Suga. Keren sih cara penulisannya, mas, sayang….saya bukan dan belum bisa menikmati tulisan-tulisan dengan thema yang “mendua” begini.

  2. nonragil said: Endingnya, khas mas Suga. Keren sih cara penulisannya, mas, sayang….saya bukan dan belum bisa menikmati tulisan-tulisan dengan thema yang “mendua” begini.

    belum bs menerima hal2 demikian dalam kehidupan nyata?memang, kadang2 sebuah cerita akan lebih mengena bila kita (sebagai pembaca) memiliki empati terhadap tokoh2nya. itu berarti, temanya harus dekat dengan pembaca.🙂

  3. ninelights said: eh masa nggak berubah? :)*cek mata sendiri*heheheya sudah..not an important comment juga anyway..hehehehe

    seingat saya sih begitu :)atau jangan2 ada orang yang berbaik hati mengeditkan tanpa sepengetahuan saya?:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s