Bahagia, Dimana Engkau Berada?

Cahaya fajar melumuri langit Timur. Adzan subuh berkumandang, mengundang para sahabat datang. Setelah berkumur dan wudhu, Sayyidina Ali lalu memimpin sholat subuh. Baru saja ia bangkit dari sujud, sebuah pedang beracun menghantam kepalanya. Darah mengucur deras, hingga membasahi janggutnya. Sayyidina Ali tersentak sesaat, tapi kemudian ia tersenyum dan berkata,” Fuztu wa Rabbil Ka’bah. demi Tuhan yang memelihara Ka’bah, sungguh aku berbahagia!”

Sebuah anomali…

Bagaimana mungkin dalam musibah yang menimpanya ia malah berbahagia? Bagaimana mungkin dalam kematian tragis ia malah mengulum senyum?

Banyak orang yang bisa berbahagia di satu kondisi, tapi hanya sedikit orang yang bisa berbahagia di semua kondisi.”Demikianlah yang dikatakan Victor Frankl dalam buku ‘Man’s Search for the Meaning’. Di camp konsentrasi NAZI, ia melihat beberapa tahanan yang berkeliling sepanjang barak untuk membagi potongan roti pada sesama tahanan. Padahal, sesungguhnya mereka masih kelaparan karena jatah roti itu terlalu sedikit untuk mereka konsumsi sendiri.

Jumlah mereka mungkin sedikit, tetapi itu sudah cukup bukti bahwa segala sesuatu dapat direnggut dari manusia kecuali satu hal, yakni kebebasan terakhir manusia – kebebasan untuk memilih sikapnya sendiri dalam keadaan apapun, kebebasan untuk memilih caranya sendiri.”

Kebebasan untuk memaknai inilah yang juga dimiliki Khalifah keempat Sayyidina Ali ketika beliau terbunuh. Alih-alih bersedih karena kehilangan jabatan khalifah, ia malah bergembira karena lepas dari beban amanah. Ia juga berbahagia karena gugur sebagai Syuhada.

Kebebasan untuk memaknai inilah yang juga dimiliki beberapa ‘dermawan’ yang berkenan membagi jatah roti mereka pada sesama tahanan, sembari membagi semangat hidup. Padahal mereka itu juga didera siksa perang yang tak kalah pedihnya. Kematian juga menjadi ancaman yang bisa datang kapan saja. Tetapi di kamp NAZI itu, para ‘derwaman’ tetap bergembira. Tak ada raut sedih di wajah mereka.

Dua contoh di atas mengajarkan kita bahwa kebahagiaan, sejatinya bersumber dalam diri. Ia tidak memerlukan prasyarat apapun dari luar. Kebahagiaan adalah persoalan cara pandang terhadap sesuatu hal. Ketika berhasil memaknai positif suatu kondisi, pada saat itulah muncul sebuah kebahagiaan.

Dalam logoterapi, Victor Frankl mengemukakan bahwa pada hakikatnya manusia selalu mencari makna dalam hidupnya. Ketika makna positif itu telah didapatkan, manusia akan mendapatkan reward berupa kebahagiaan sejati. Sebaliknya jika manusia gagal mendapatkannya, mereka akan mengalami kehidupan yang hambar dan hampa; mudah diombang-ambingkan oleh keadaan sekelilingnya.

Pertanyaan hari ini, seberapa besar kebahagiaan Anda? Masih adakah keluh kesah yang menyertainya?

173 thoughts on “Bahagia, Dimana Engkau Berada?

  1. nanabiroe said: nana bahagia?Itu relatif,tp yg pasti,kalau nana bangun pagi dan memejamkan mata dengan wajah tersenyum..Definitely, that day i’m happy…:)

    Iya, kebahagiaan nana memang tecermin dari postingan2nya yg nggak seberapa penting…haha*brarti hanya da Ivan dan farrel aja yg tahu 🙂

  2. dgreena said: Bahagia itu sepertinya jauh bagi yang banyak tanya dan kurang mensyukuri setiap anugrah yang ada ya? Terus mencari dan mencari padahal bahagia seiring dengan rasa syukur bukan??? (Ini menyindir diri sendiri…)

    terlampau sering mempertanyakan hidup, seringkali berujung dengan kekecewaan. Biasanya, ini berakibat kebahagiaan menjadi berkurang :)krn itu, alangkah baiknya jika kita menggali seribu tanya, diimbangi dengan seribu satu syukur. Agar kita tak menjadi kufur:)

  3. ninelights said: Salah satu yang enak dari bergaul dengan yang tua *dikeplak ;-p* ya begini ini…bikin adem..;-pAssalamualaikum Wr Wb,Kang..selamat pagi..:)

    Waalaikas salam :)terima kasih telah menyapa di pagi yg indah ini:)*saya juga masih muda, kok. jadi jangan sungkan2 utk menasehati dan mengingatkan, dalam kebaikan*

  4. ninelights said: Salah satu yang enak dari bergaul dengan yang tua *dikeplak ;-p* ya begini ini…bikin adem..;-pAssalamualaikum Wr Wb,Kang..selamat pagi..:)

    postingan2 yg gak seberapa penting???Maksutnyah? Tolong diperjelas yah.. Menurut nana msh byk teman2 yg postingannya lbh gak penting…

  5. nanabiroe said: postingan2 yg gak seberapa penting???Maksutnyah? Tolong diperjelas yah.. Menurut nana msh byk teman2 yg postingannya lbh gak penting…

    huaaaa..ada yg sewotttt…:)))maksudnya, kl postingan yang nggak seberapa penting aja nana udah berbahagia, apalagi postingan yang penting:))btw, penting atau nggak penting itu sebenarnya tergantung juga dari sisi mana melihatnya. apa yang menurut kita penting, belum tentu penting utk orang lain.Tapi, bukannya nana sendiri yang pernah bilang kl beberapa postingannya ‘tak penting’?:))))

  6. nanabiroe said: postingan2 yg gak seberapa penting???Maksutnyah? Tolong diperjelas yah.. Menurut nana msh byk teman2 yg postingannya lbh gak penting…

    ok, alasan diterima..Tp nana cuma pengen bilang satu hal,”u have no right to judge me until you know me closer…”…:-((

  7. nanabiroe said: “u have no right to judge me until you know me closer…”

    Kebahagian saya tak terhingga.ada sedikit keluh kesah namun tak dapat menahan saya utk berbagi kebahagiaan. Ada 2 hal agar kebahagiaan yang kita ciptakan tidak berkurang yakni menciptakan kebahagiaan baru dan membagi kebahagiaan yang qt rasakan. Apakah om Suga bahagia dengan Poppy?silahkan di share dengan saya hahaha…*om Suga, Nana lg sensi.saya aja smp ga berani sms Nana.tkt ga bs tidur haha…

  8. saturindu said: Waalaikas salam :)terima kasih telah menyapa di pagi yg indah ini:)*saya juga masih muda, kok. jadi jangan sungkan2 utk menasehati dan mengingatkan, dalam kebaikan*

    :)sama-sama yah..kalo nana ada salah,mohon juga diingatkan…

  9. saturindu said: Waalaikas salam :)terima kasih telah menyapa di pagi yg indah ini:)*saya juga masih muda, kok. jadi jangan sungkan2 utk menasehati dan mengingatkan, dalam kebaikan*

    kisah yg sangat inspiratif……..bahwa kebahagiaan itu adalah ketika kita merasa dekat sekali dengan Dia……kalo lagi merasa jauh pasti merasa ga nyaman banget ,tfs mas suga

  10. debapirez said: Kebahagian saya tak terhingga.ada sedikit keluh kesah namun tak dapat menahan saya utk berbagi kebahagiaan. Ada 2 hal agar kebahagiaan yang kita ciptakan tidak berkurang yakni menciptakan kebahagiaan baru dan membagi kebahagiaan yang qt rasakan.

    di satu sisi, berbagi kebahagiaan adalah juga merupakan kebahagiaan tersendiri yah, om. kl diakumulasi, akan berlipat2 jadinya:)makasih banget, oom yg baik hati sudah berkenan berbagi di ruang ini:)

  11. octolopieq said: tersenyum dalam kesedihan adalah pilihan….:)🙂🙂🙂🙂 Jd pengen senyum nih, hehehe…….

    wah, banyak bangett senyumnya :)semoga kesedihan akan segera sirna, berganti dengan kebahagiaan tiada tara:)

  12. kedaimoslem said: kisah yg sangat inspiratif……..bahwa kebahagiaan itu adalah ketika kita merasa dekat sekali dengan Dia……kalo lagi merasa jauh pasti merasa ga nyaman banget ,tfs mas suga

    terima kasih kembali telah membacanya, Ummu. benar sekali, Hasbunalloh wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man natsir:)

  13. saturindu said: terima kasih kembali telah membacanya, Ummu. benar sekali, Hasbunalloh wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man natsir:)

    sama sama mas suga…….btw kayak ustaz nih mas suga 😀 boleh juga nih sering-sering kasih taushiyah kayak gini …..untuk menyejukkan ruhani

  14. saturindu said: terima kasih kembali telah membacanya, Ummu. benar sekali, Hasbunalloh wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man natsir:)

    kebahagiaan itu rasa yang palsukesedihan itu nyata– si Pesimis —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s