Secangkir Teh : Jangan Membenci Mawar Karena Durinya

‘Jangan Membenci Mawar
Karena Durinya…!’

Lelaki kurus kering berdiri di pintu kantor. Sempat kulihat langkahnya yang setengah terhuyung beberapa saat tadi. Keringat di wajahnya bersimbah, membasahi separuh pakaiannya yang agak lusuh. Ujung bawah celananya sudah sobek. Berlumut debu, sebagaimana sandal jepitnya.

‘Para pencari sedekah,’gumamku dalam hati, sembari menghampiri lelaki yang menyapaku agak canggung tersebut. Lembaga kami bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat, yang concern dengan beberapa program sosial. Puluhan orang datang tiap hari. Kebanyakan meminta sumbangan.

Dulu aku mudah berempati pada mereka. Namun setelah lama berkecimpung dalam dunia sosial, rasa simpati tersebut agak pudar. Belakangan, aku cenderung bersikap waspada, plus sedikit curiga. Tempo hari aku pernah ’dipecundangi’ seorang ibu tua yang datang meminta bantuan modal usaha. Setengah murung, ia menceritakan suaminya yang sudah sakit-sakitan dan tidak mempunyai penghasilan. Barang-barang di rumahnya satu persatu terjual. Karena itulah ia berniat berjualan sayur-sayuran di pasar pagi, bersama anak perempuannya yang sudah putus sekolah. Melihat semangat ibu itu yang demikian menggebu, akupun berjanji untuk memberikan prioritas padanya. Seminggu setelah bantuan dikucurkan, kami tidak pernah melihat ibu itu lagi. Rumahnya di kawasan Ruli (rumah liar) sudah tak dihuni. Di pasar basah Nagoya, ia juga tak pernah nampak. Nyata sekali uang yang kami berikan tidak ia pakai untuk berdagang. Rasa bersalah langsung menghantuiku.

“Permisi, pak!”Lelaki itu menyapa.

Kuanggukkan kepala, dan membalas senyumnya. Bagaimanapun, aku mesti bersikap ramah pada siapapun yang datang.

“Iya, ada yang bisa dibantu?“sapaku, sambil mempersilakan ia duduk.

“Bisa saya bertemu dengan bapak…“ lelaki itu kelihatan ragu-ragu. Ia seperti hendak mengingat-ingat sesuatu.

“Bapak siapa, yah ?“

“Saya Eko, pak. Saya mau bertemu dengan bapak yang biasa di sini.”

“Wah, yang ada di sini banyak, pak.”

Anu, Saya mau ketemu…“ Lelaki itu memejamkan mata, seperti berusaha keras mengingat-ingat.

Aku mendesah. Kalau saja dari tadi aku keluar kantor…

Begitu melihat lelaki itu masih belum menjawab, aku mulai kehilangan kesabaran. Apalagi jam istirahat sudah hampir habis.

“Jadi, pak Eko ini mau ketemu siapa di sini?”

“Wah, saya lupa namanya….!“ lelaki itu membuka mata. “emmh..Bisa nggak, bapak sebutkan nama orang-orang di kantor ini…. ?“

Aku terperanjat. Kalau kupenuhi permintaannya, bisa-bisa jam dua lewat aku baru makan siang.

“Wah, karyawan di sini banyak, pak !“ ucapku, dengan nada ramah. Walau terpaksa.

“Seingat saya, orangnya tinggi. Putih… “

Seingatku tak ada karyawan kantor dengan ciri-ciri begitu. Mungkin yang ia maksud adalah pak Santoso, salah satu atasanku. Tapi pak Santoso tidak terlalu tinggi. Begitu kusebut nama itu, lelaki itu menggelengkan kepala.

Kusebut nama lain. “Pak Emil..?” Sebenarnya aku yakin, pak Emil bukanlah orang yang ia maksudkan. Walaupun pak Emil tinggi, kulitnya agak kecoklatan.

“Pak Bimo?“ Aku menyebut nama atasanku yang berbadan tinggi besar. Tapi kulitnya hitam legam. Sebagaimana kukira, lelaki itu menggeleng.

Dengan agak kesal kusebutkan nama-nama yang terlintas di kepala. Beberapa di antaranya, malah bukan nama rekan kerjaku…

“Suga?’ tak terasa kusebut namaku sendiri.

“Ah, hampir. Namanya agak mirip Suga!”

Aku segera mengingat-ingat lagi. Siapa rekan kerja yang mempunyai nama mirip denganku?

“Sugeng?“ Kataku setengah ragu. Semestinya bukan, karena Sugeng tidak tinggi dan kulitnya juga tidak putih.

“Betul!“ atanya dengan wajah yang gembira. “Iya, pak Sugeng ada ? Bisa saya ketemu beliau?“

Aku mendesah lega. Kujelaskan padanya kalau pak Sugeng baru kembali jam dua nanti.

“Kalau gitu saya tunggu beliau di sini!“ucap lelaki itu.

Aku hanya bisa tertegun melihat keteguhan hati lelaki itu untuk bertemu dengan pak Sugeng. Mungkinkah ada semacam hidden agenda, sehingga dia hanya mau berbicara dengan pak Sugeng? Ataukah lelaki ini punya urusan pribadi? Kalau begitu, mengapa menjumpai pak Sugeng di kantor ini?

Daripada penasaran, kulontarkan pertanyaan tersebut padanya.

“Oiya, ada apa, pak. Kok maunya ketemu pak Sugeng?”

“Saya mau mengambil Buku Nikah saya, pak.“Lelaki itu tersenyum getir.

‘Buku Nikah? Kok bisa ?’gumamku, dalam hati. Bisa-bisanya pak Sugeng membawa bu nikah orang lain.

Segera kutelpon pak Sugeng untuk mengkonfirmasi kebenarannya. Aku merasa agak bersalah pada lelaki itu. Sekian menit bersamanya, aku sudah menganggapnya sebagai pria lemah yang tengah mencari celah untuk meminta bantuan sosial.

“Minggu lalu pria itu datang ke kantor, untuk meminjam uang lima puluh ribu.”jelas pak Sugeng, via telpon. “Katanya untuk susu anaknya. Nah, sebagai jaminan, ia memberikan buku nikahnya.”

Aku terperanjat mendengarnya.

“Oiya, suratnya ada di laci atas mejaku. Kasihkan saja padanya.“Pak Sugeng mengakhiri telponnya, tanpa memberi penjelasan perlu tidaknya aku menagih uang Rp 50.000,- pada lelaki itu.

Begitu membuka laci yang dimaksudkan, kutemukan dua buku nikah di sana. Kubuka sebentar. Terlihat Foto seorang wanita muda mengenakan kerudung. Binar matanya memancarkan kebahagiaan tiada tara. Lalu kubuka buku kedua. Terpampang gambar seorang pria muda berpeci. Rona bahagia juga terlihat di wajahnya. Begitu tertera nama Eko di dalamnya, aku menjadi yakin, kalau sepasang buku nikah tersebut memang benar-benar milik lelaki itu.

Kupandangi sejenak lelaki yang duduk di hadapanku. Wajahnya kelihatan beringsut kusut. Tak ada lagi rona bahagia sebagaimana tampak dalam foto nikahnya. Ia kelihatan jauh lebih tua dari usia yang seharusnya. Padahal usianya baru 23 tahun!

Kuserahkan kedua buku itu padanya, tanpa menanyakan perihal uang Rp 50.000 yang semestinya ia bayar.

Namun, lelaki itu tidak lantas pergi. Ia merogoh saku bajunya seraya berkata, “Pak, boleh titip sesuatu untuk pak Sugeng ? “

“Boleh,“jawabku singkat.

Ia menyerahkan sejumlah uang padaku dan berkata,“tolong uang ini dikasihkan pak Sugeng. Minggu kemarin minjem beliau lima puluh ribu!“

Kulihat sepintas lembaran uang seribuan itu, lalu mulai menghitungnya.

“Maaf, pak. Jumlahnya hanya 38.000, “ kata lelaki itu, dengan nada terbata-bata. “Hanya itu yang bisa saya kembalikan sekarang. Itupun saya kumpulkan dari hasil mencuci piring dan pakaian tetangga selama seminggu ini… “

Pengakuannya membuatku trenyuh. Aku tak tahu mesti berkata apa…

Kulihat matanya telah berkaca-kaca saat berkata, “Oiya. Bolehkah saya meminta uang dua ribu? Untuk ongkos pulang ke Batu Aji. Kaki saya sudah ngilu, karena ke sini tadi, saya berjalan kaki.“

20 Km berjalan kaki? Hanya untuk menyerahkan uang Rp. 38.000? Segera kulipat lembaran uang yang belum selesai kuhitung tadi. Segera kuserahkan semuanya pada lelaki itu dan cepat-cepat membimbingnya keluar kantor. Aku mesti bergegas, sebelum air mataku mengalir deras…

Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan lelaki itu benar-benar membukakan mataku. Di tengah penderitaan dan cobaan hidup, lelaki itu masih gigih bekerja dan berusaha, bukannya meminta-minta dan mengharap sedekah. Melalui lelaki itu, seakan Tuhan memberikan pelajaran, bahwa aku tidak boleh terlalu cepat berprasangka pada orang, hanya karena sebuah peristiwa silam.

Seperti Mawar yang tak patut dibenci, hanya karena pernah tertusuk durinya….


(* Special Thank’s to : Eko & Sugeng : 20 Agustus 2005*)

Tulisan-tulisan dengan tag ‘secangkir teh’ adalah tulisan lama yang pernah dimuat dalam rubrik hikmah’secangkir teh’ di Batam Pos (periode 2004-2005, dan 2009).

175 thoughts on “Secangkir Teh : Jangan Membenci Mawar Karena Durinya

  1. roebyarto said: yg gaji dolar kapan nikahnya..? wkwkwkwk

    subhanallah..Ternyata di rimba, masih ada orang yang punya keteguhan tekad..Hiks, kangen ayah, *semua ayah, akan rela melakukan apapun untuk buah hatinya.. Kebayang jalan kaki 20 km di panasnya rimba, debuan pula.

  2. liesemargaretha said: Ternyata di rimba, masih ada orang yang punya keteguhan tekad..Hiks, kangen ayah, *semua ayah, akan rela melakukan apapun untuk buah hatinya..

    emang banyak yah, yang nggak punya keteguhan sikap?;)waah, diboyong aja ayahnya ke rimba…biar nggak sering2 kangen:))

  3. liesemargaretha said: Ternyata di rimba, masih ada orang yang punya keteguhan tekad..Hiks, kangen ayah, *semua ayah, akan rela melakukan apapun untuk buah hatinya..

    @jeung Khori: wah, kalo berita pernikahan om Suga ga smp Bekasi, saya kirim FPI buat bubarin acara resepsinya hehe..

  4. liesemargaretha said: Ternyata di rimba, masih ada orang yang punya keteguhan tekad..Hiks, kangen ayah, *semua ayah, akan rela melakukan apapun untuk buah hatinya..

    naek angkot aja dua kali ke batam centre, mana pula di suruh jalan kaki, angop mas, hehe..Kerasnya hidup kadang buat orang mengikis idealis yang ia pegang. Meminta-minta adalah pilihan, namun bukan pilihan satu-satunya.. Segar bugar, masih mampu bekerja, namun memilih menjadi peminta-minta, rasanya kok gak malu ya sama mereka yang sudah renta tapi tetap berusaha demi sesuap nasi..Lah, lebaran diminta kesini aja, ayah masih mikir-mikir, apalagi diminta pindah..

  5. liesemargaretha said: Ternyata di rimba, masih ada orang yang punya keteguhan tekad..Hiks, kangen ayah, *semua ayah, akan rela melakukan apapun untuk buah hatinya..

    Om kalau mawar yang suka di lampu merah itu berduri ngak sih, yg suka ngomong gini ..hi akikah mawar… akikah mo nyenyong yukk mariii langsung dia nyannyi terajana.

  6. liesemargaretha said: Kerasnya hidup kadang buat orang mengikis idealis yang ia pegang. Meminta-minta adalah pilihan, namun bukan pilihan satu-satunya.. Segar bugar, masih mampu bekerja, namun memilih menjadi peminta-minta, rasanya kok gak malu ya sama mereka yang sudah renta tapi tetap berusaha demi sesuap nasi..Lah, lebaran diminta kesini aja, ayah masih mikir-mikir, apalagi diminta pindah..

    problem mentalitas…jadi berpikir, apa yang dikatakan liese itu mentalitas bangsa kita atau nggak yah…:))deuh, si ayah, kok bikin anaknya merindu serindu2nya:))

  7. kecibung said: Om kalau mawar yang suka di lampu merah itu berduri ngak sih, yg suka ngomong gini ..hi akikah mawar… akikah mo nyenyong yukk mariii langsung dia nyannyi terajana.

    hiiii….jadi atuuuttt…kecibung nggak risih yah, melihat pemandangan begituan?:)

  8. kecibung said: Om kalau mawar yang suka di lampu merah itu berduri ngak sih, yg suka ngomong gini ..hi akikah mawar… akikah mo nyenyong yukk mariii langsung dia nyannyi terajana.

    semangat 45 banget y tuch orang ampe berjalan 20 km.. k-lo abang ndiri jalan sejauh itu gimana y ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s