Kibaran Jilbab Dalam Trauma Silam

Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan lama, tapi di daur ulang.
Agar lebih menyegarkan.
Selain itu, rencananya tulisan ini akan diikutkan sekaligus di dua lomba.
Lomba Jilbab Pertama, dan Lomba Lebaran…huehue

Tulisan ini juga dimaksudkan sebagai prasasti, bahwa tanpa disadari,
trauma yang dalam ternyata bisa merugikan.

Selengkapnya silakan baca cerita berikut…

foto ilustrasi

Tiga tahun lalu, seorang HRD Manager datang ke ruanganku.

“Bagaimana gadis ini? Cocok bergabung dengan perusahaan kita?”

Kulihat sepintas CV gadis berjilbab itu. Di foto, parasnya terbilang sangat cantik. Posturnya ideal, 172 cm/60kg. Usia 26 tahun, belum menikah. Memang cocok kalau jadi Customer Service.

Tanpa banyak bicara, aku mengangguk.

“Cocok juga khan, kalau jadi istrimu?”celetuk sang Manager.

Aku bergidik. Entah kenapa, tiap kali membayangkan diri menjalin hubungan dengan makhluk berjilbab, badan serasa demam. Syukurlah aku cukup ahli untuk mengalihkan topik, hingga rasa demam itu tak berkepanjangan.

Tapi kali ini aku tak mampu berkelit. Sang Manager sepertinya sudah paham kebiasaanku. “Come on. Katanya kamu mengerti Neurology, paham managemen pengembangan diri, bisa Self Hypnosis lagi. Masa’ nggak bisa mengatasi rasa trauma atau alergi?”

Sejujurnya aku sendiri bingung, mengapa ‘alergi’ itu bisa muncul. Sepertinya aku tak pernah bermasalah dengan makhluk berjilbab. Ada sebenarnya teman SMA berjilbab, yang pernah marah-marah tanpa sebab. Begitu minta maaf padanya untuk kesalahan yang aku sendiri tak tahu, teman berjilbab itupun tertawa terbahak-bahak.

“Sori, aku tadi latihan acting. Tapi, bagus khan?!”

Sejak itu aku memang benci teater. Aku benci kepura-puraan yang ditampilkannya. Tapi aku tak pernah membenci kaum berjilbab. Di kampus Keputih, beberapa aktivis berjilbab adalah teman seperjuangan. Sama halnya dengan teman bermain bridge, yang beberapa diantaranya mengenakan jilbab. Hubungan pertemanan di antara kami amat erat terjalin.

‘Alergi’ itu baru muncul ketika status relationship-nya diubah. Dari friend atau buddy, berganti menjadi girlfiend. Apalagi Fiancee.

Pertanyaan yang mengendap belasan tahun itu akhirnya terjawab dua tahun lalu, saat aku berkunjung ke Surabaya.

-o0o-

Saat melangkah keluar dari sebuah Café di kawasan Rungkut Industri, tiba-tiba datang gelombang rasa yang sukar didefinisikan. Seperti ada semilir rindu, berbaur dengan getir pilu. Semakin menyusuri jalanan, perasaan itu makin berjejalan.

Kuhentikan laju kendaraan. Sejenak menepi, mencoba menenangkan diri. Tapi gelombang rasa itu tak jua sirna. Segera kupejamkan mata, mencoba bertanya ke lubuk jiwa. Kucoba menggali suasana hati, mengurai beberapa kemungkinan yang berpotensi mengganjal pikiran. Begitu tak mendapatkan jawaban, kubuka mata kembali. Hari itu suasana hati amat cerah sebenarnya. Sebuah kebahagiaan tak ternilai bisa menjumpai beberapa teman lama, dan bertukar cerita dengan mereka.

Kulajukan kembali kendaraan, sambil mengacuhkan gelora rasa yang sungguh-sungguh tak kumengerti. Makin lama, gelombang rasa itu kian besar menerpa. Kuhentikan kendaraan dan memejamkan mata lagi. Seperti mengalami dejavu–melihat serpih-serpih mimpi dan mengalaminya dalam kejadian nyata—kucoba mengingat-ingat sekuel berikutnya. Begitu tak mampu mengingat apapun, kulajukan kendaraan, sambil sesekali memejamkan mata.

Di perempatan Yakaya, kebimbangan sejenak melanda. ‘Akan melangkah lurus, belok kiri atau kanan?’ Kupejamkan mata lagi sambil menghirup napas dalam-dalam. Rasa was-was tiba-tiba menyelinap ke rongga dada, membaur masuk bersama udara. Rasa demikian sungguh-sungguh pernah kualami. Tapi entah kapan!

Kocondongkan kepala ke depan, ke kiri dan ke kanan. Mencoba merasakan sensasi getaran yang sesungguhnya tak kumengerti ini. Kuputuskan untuk berbelok ke arah kiri, begitu merasakan getaran di arah ini terasa paling besar. Ratusan meter kemudian, begitu terlihat gang di sebelah kiri, spontan ku berbelok. Tempat itu sudah sangat familiar bagiku. Aku seperti sudah tahu kalau di tikungan berikutnya ada pos satpam. Itulah sepotong ingatan yang terbersit tiba-tiba. Dan memang benar!

Setelah melewati pos, terlihat pertigaan jalan. Spontan kubelok ke kanan. Memang selalu begitu, aku tak pernah lurus. Sensasi dejavu itu berhenti ketika kudapati sebuah rumah bertingkat dua. Kendaraanku terhenti tepat di depannya. Gelombang rasa itu kian menjulang. Getarannya menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Ternyata bukan dejavu

Rumah itu masih megah, sebagaimana sebelas tahun silam. Ruang tamunya masih berada di sisi kiri, dengan taman kecil di depannya. Garasinya juga masih terletak di kanan. Pintunya masih sama, terbuat dari jati kokoh yang dicat coklat.

Dua belas tahun silam, aku dan sobat terbaikku Jay, berkunjung ke rumah itu. Baru sejenak duduk di sofa empuk, seorang gadis berambut lurus muncul dari ruang tengah. Ia mengulurkan tangannya yang lembut, seraya mengucapkan selamat Idul Fitri. Hari itu adalah hari kedua lebaran. Kue-kue masih bertebaran di meja. Menggugah selera kami untuk mencicipinya.

Tak banyak obrolan kami bertiga malam itu. Tak sebagaimana pertemuan-pertemuan sebelumnya. Masing-masing seperti terasing. Dalam hening yang meruncing, gadis bernama Nia itu menyodorkan sebuah buku.

“Buku itu untuk kalian berdua!”ucapnya.

Agak mengherankan sebenarnya, mengapa Nia memberikan sebuah buku untuk kami berdua. Ia pasti memiliki uang lebih dari cukup, untuk sekedar membelikan kami masing-masing satu buku. Telah beberapa kali ia menjadi donator di beberapa kegiatan kampus yang seret budget. Terhadap kamipun, tak terhitung lagi berapa kali ia mentraktir.

Kubuka buku itu dan mulai membaca isinya. ‘Seorang TEMAN adalah orang yang tak lupa membawakan apel ketika kamu sakit, sembari mendoakan kesembuhanmu…’ Kubuka beberapa halaman setelahnya, ’TEMAN bukanlah orang membenarkanmu, tapi orang yang bisa membuatmu jadi benar’, ‘TEMAN laksana bintang. Mungkin kamu tak bisa melihatnya saat siang, tapi ia selalu melihatmu dan menemanimu’,’PERTEMANAN jauh lebih indah dari PERCINTAAN…’

Kuserahkan buku itu pada Jay sambil mengernyitkan dahi. ‘Apa maksud Nia memberikan buku yang semua isinya bercerita tentang ‘TEMAN’ dan ‘PERTEMANAN’? Apakah ini berarti ia menolakku?

Hampir seisi kampus mengetahui kedekatan kami berdua. Di beberapa kepanitiaan, kami memang selalu bersama. Untuk urusan yang bersifat pribadi ataupun kepanitiaan. Ia sering curhat mengenai hubungannya yang memburuk dengan orang tuanya. Kadangkala aku juga curhat mengenai beberapa orang yang tak loyal dalam berorganisasi.

Kadangkala timbul keinginan untuk segera meresmikan hubungan di antara kami. Bagaimanapun, belum pernah sekalipun kuutarakan rasa senangku padanya. Tetapi, menurutku hal ini tak terlalu penting. Kedekatan, bukankah letaknya di dalam hati? Bagaimanapun bentuknya, akan percuma membina hubungan jika tak dilandasi dengan ketulusan. Tanpa perlu kukatakan, dia pasti sudah tahu bahwa aku menyukainya. Tanpa ia berkatapun, aku juga sudah tahu bahwa ia sudah menerimaku. Selama ini, kedekatan kami sudah cukup membahagiakan.

Hadiah buku barusan, sungguh-sungguh membuat keyakinanku porak-poranda.

“Mas Suga, Mas Jay. Kita masih berteman khan?”ucap Nia, dengan tatap penuh harap. Ia sepertinya sengaja memberi tekanan pada kata ‘berteman’.

Sangat mengherankan, kata-kata itu bisa mengucur dari bibir anggunnya. Padahal sebelumnya, pembicaraan kami tak pernah menyinggung masalah pertemanan. Hubungan di antara kami bertiga dalam hal pertemanan juga tidak sedang bermasalah.

Aku agak bingung dengan sikap Nia yang tak seperti biasanya. Semakin kurasakan, semakin banyak kejanggalan. Tapi dari sikapnya, ada satu hal yang kumengerti. Ia menolakku! Pemberian buku itu menyiratkan penolakannya. Yang kusesalkan, mengapa hal itu ia lakukan di depan Jay? Itu kesengajaan, untuk membuatku malu?

Setelah berpamitan, aku dan Jay keluar dari kompleks itu dengan berjalan kaki. Biasanya Nia-lah yang mengantar kami pulang. Atau setidaknya, ia mengantar hingga kami mendapatkan taxi. Tapi tidak dengan malam itu…

Di perempatan Yakaya, kami melepas lelah.

“Ada apa dengan Nia, yah?!”ucapku, sambil memandang lampu-lampu jalanan yang menyilaukan. “Aku nggak ngerti dengan sikapnya.”

“Yang ia inginkan, kita tetap berteman…”Jay tersenyum getir.

“Permintaan yang aneh. Dari jaman nenek moyang sampai akhir jaman kita juga berteman.”

”Perlu kamu tahu, aku menembaknya,Ga!”

Aku tak mengerti. “Menembak? Menembak siapa?”

“Nia. Aku bilang terus terang, kalau aku benar-benang suka sama Nia…”
Tubuhku serasa lumpuh. Untuk beberapa lama ku berdiam diri. Ingin sebenarnya kumaki-maki Jay dan mengatakannya sebagai pria tak tahu diri. Mestinya ia tahu kalau aku menyukai Nia. Semua mahasiswa juga tahu. Sekretaris Purek III saja tahu!

Sepanjang perjalanan pulang, kami bertengkar hebat. Masing-masing saling damprat. Sopir taxi, yang menonton dari kaca spion, hanya berani menahan napas. Ia melajukan kendaraan dengan hati-hati. Sedikit ban mengenai lubang, dampratan kami bisa beralih kepadanya.

“Tolol, semestinya kamu
itu mundur.”seru Jay, dengan nada keras. “Nia tak mencintaimu?”

Sudrun, sok tahu.”Ucapku dengan suara lebih kencang. “Bukannya mendukung, malah menikam.”

“Terang-terang ia lebih menyukaiku!”Ucapnya, setengah mengejek.

“Memangnya ia pernah bilang?”aku mulai gusar. Kusikut bahunya, sambil mendongakkan kepala. Kutatap matanya yang melotot. Sudah kepalang tanggung!

Jay membenturkan bahunya ke bahuku. Kubalas tindakannya itu dengan membenturkan bahuku sekuat tenaga. Jay membalas lagi. Taxi bergoyang beberapa kali. Sopir taxi mulai panik.

Jay terlihat mengangkat kedua tangannya, membuat isyarat menyerah tanpa syarat. Dua kali sikuku yang bersarang telak di dadanya tak sekalipun ia balas.

“Nia memang tak pernah bilang,”ucap Jay, dengan nada melemah. “Tapi dari matanya, aku sudah tahu kalau ia menyukaiku…”

Seminggu lebih aku dongkol pada Jay. Tega-teganya dia mengkhianatiku. Selama ini hanya kudengar segala bualannya tentang para wanita yang ia klaim menyukainya. Ada anak SMA berjilbab, tante muda kesepian, pramusaji ready stock, hingga SPG produk kecantikan. Tak kusangka, ia juga mengklaim gadis yang kusukai.

Rasa dongkol itu menyusut, karena ada hal lain yang lebih membuatku dongkol. Sejak pertemuan lebaran, telah beberapa kali kulihat Nia. Tetapi, sikapnya berubah drastis. Ia seperti bukan Nia yang kukenal, yang mampu mendamaikan hari-hariku.

Ia memang masih menyapaku, menunjukkan deretan giginya yang putih. Dan lesung pipinya yang sungguh-sungguh aduhai. Tapi hanya sebatas itu. Ia lalu pamit, untuk berbagai alasan. Seminggu berikutnya, kudengar kabar kalau ia mengundurkan diri dari kepanitiaan kampus.

Dua minggu setelah tak ada kabar berita, Nia menampakkan diri. Rambut lurusnya tak lagi melambai-lambai. Rambut lurus itu sudah terbungkus kain putih. Rupanya ia telah mengenakan jilbab. Tergerak aku mendekatinya, hendak bertanya hidayah dari langit berapa yang jatuh menimpanya. Tapi ia keburu berlalu.

Indri, teman terdekatnya memberiku informasi. “Nia ingin menyendiri dulu. Jangan diganggu. Nanti, ia pasti akan balik lagi bersama kita, bergabung lagi dalam kepanitiaan.”

Aku lega. Bagaimanapun, dunia kemahasiswaan terasa hampa tanpa kehadirannya. Banyak hal yang telah kami lalui bersama. Mulai dari mengurus perijinan, mencari donatur, hingga mempersiapkan acara di hari-H. Seringkali ia lalu lalang ke Asrama, menjemputku untuk rapat koordinasi. Tak jarang juga kami berdiskusi di rumahnya, mempersiapkan konsumsi dan perlengkapan acara. Sepanjang perjalanan, kadangkala kami berteriak-teriak, kala hujan mengguyur wajah kami.

Bulan berikutnya, kulihat Nia di kantin kampus. Kusangka ia sudah mengakhiri masa ‘menyendiri’-nya. Hampir kudekati ia dan bermaksud menyapanya, namun seorang pria terlebih dulu datang menyapanya dan merekapun berbincang-bincang. Sepertinya sangat akrab! Tak lama kemudian merekapun pergi berdua dari kantin. Semestinya Nia melihatku karena aku duduk tak jauh darinya. Tapi sepertinya ia memang sengaja mengacuhkanku.

Beberapa waktu kemudian, Kulihat berkali-kali mereka duduk di kantin. Makan berdua, lalu pergi. Sepertinya keduanya memang tengah menjalin hubungan. Kuungkapkan kegelisahan ini pada Jay dan Indri.

“Sekarang apa maksudnya, coba?!”kataku, dengan hati gundah. “Okelah, kalau dia nggak mau pacaran sama aku. Bukankah masih tetap bisa berteman, sebagaimana harapannya dulu, saat kita ke rumahnya di hari raya?!”

Jay terlihat geram. “Iya, kalau gini caranya, sama halnya ia ngajak perang. Gimana kalau pacarnya kita tonjok aja?”

“Ngaco!”sergah Indri.

“Yang aku tidak ngerti,”sahut Jay, “mengapa dia mesti membawa-bawa pacarnya kemari? Mau pamer, Gitu?!”

“Iya, kalau itu aku juga nggak ngerti apa maunya Nia.”ucap Indri, yang lalu bangkit dari kursi, bersiap kuliah. ”Lagian pacarnya juga jelek. Lebih jelek dari kalian berdua…”

-o0o-

Entah berapa lama aku tercenung di depan rumah bertingkat dua itu. Syukurnya, rumah itu masih terkunci rapat. Tak satupun penghuninya yang tampak. Segera kulajukan kendaraan, menuju Masjid yang letaknya tak jauh dari situ. Sembari mengambil Wudhu, kupanjatkan rasa syukur. Sebuah pertanyaan besar yang selama ini mengganggu sel-sel kelabu terjawab sudah. Nia dan jilbabnya! Ternyata dia yang membuatku ‘alergi’ menjalin hubungan dengan makhluk berjilbab.

Dengan metode self Hypnosis, kuterapi diri sendiri. Kucoba menetralisir ‘alergi’ yang telah sekian tahun mengendap di dasar jiwa. Dalam hati, tiada henti ku bersyukur. Gelombang rasa–yang tak kutahu apa namanya itu–menuntunku, untuk menyibak trauma dan menghilangkannya…



*deuh, Nia…

216 thoughts on “Kibaran Jilbab Dalam Trauma Silam

  1. debapirez said: TUHAN Maha Adil.Cowok se-ganteng & se-pinter om Suga, tp malu nembak perempuan.klo ga malu,mgkn koleksi mantan saya bisa kalah neh hehe..

    hahaha. ketawa baca komen ini.. jd ada celah dari kelemahan seorang suga ya.. ga kuat ama yang jilbab… kadar nyetrumnya kelewat parah ya

  2. debapirez said: TUHAN Maha Adil.Cowok se-ganteng & se-pinter om Suga, tp malu nembak perempuan.klo ga malu,mgkn koleksi mantan saya bisa kalah neh hehe..

    daur ulang memang bikinlebih semangat…gak moleh ta Ga..?

  3. shafahk said: jangan2 waktu ketemu fha, alergi kambuh ya?gara2 jilbab..:P

    Tetep merasa ga masuk di akal penyebab traumanya, selain karena sosok nia yang nolak, kemudian pake jilbab tapi masih pacaran.Come on, jgn mendeskreditkan jilbab. Jilbab ga pernah salah bung, tapi pemakainya. Dan tidak semua yang berjilbab adalah demikian rupanya. Masih ingat eyang pesan? Jangan beli buku karena covernya. Jangan berasumsi pada seseorang karena jilbabnya. Apalagi menyalahkan jilbab itu sendiri.

  4. oier said: Tetep merasa ga masuk di akal penyebab traumanya, selain karena sosok nia yang nolak, kemudian pake jilbab tapi masih pacaran.

    kalau masuk akal,. bukan trauma/alergi namanya donk…hahapenyakit psikis kadangkala penyebabnya tak logis, khan?!:)

  5. oier said: Come on, jgn mendeskreditkan jilbab. Jilbab ga pernah salah bung, tapi pemakainya. Dan tidak semua yang berjilbab adalah demikian rupanya.

    Dari cerita di atas, penulis hanya bermaksud memaparkan pengalamannya, kesan (sesaat) yang ditimbulkan pada saat pemeran antagonis (Nia) memakai jilbab. Resolusi, kesimpulan akhir, secara gamlang tertuang dalam deskripsi di paragraf terakhir berikut… Ternyata dia yang membuatku ‘alergi’ menjalin hubungan dengan makhluk berjilbab.Dengan metode self Hypnosis, kuterapi diri sendiri. Kucoba menetralisir ‘alergi’ yang telah sekian tahun mengendap di dasar jiwa. Dalam hati, tiada henti ku bersyukur. Gelombang rasa–yang tak kutahu apa namanya itu–menuntunku, untuk menyibak trauma dan menghilangkannya…Dari deskripsi Ternyata dia yang membuatku ‘alergi’ menjalin hubungan dengan makhluk berjilbab, sang tokoh menyalahkan Nia, bukan makhluk berjilbab lain, bukan jilbab-jilbab secara keseluruhan. Di penghujung tulisanpun, penulis secara tegas menyatakan keinginannya utk menghilangkan traumanya (pada makhluk berjilbab). Dengan demikian, sama sekali tak ada pendeskriditan di sini. Dan penulis tak bermaksud demikian.:P

  6. oier said: Masih ingat eyang pesan? Jangan beli buku karena covernya. Jangan berasumsi pada seseorang karena jilbabnya. Apalagi menyalahkan jilbab itu sendiri.

    sayangnya, saat saya ketemu nia, eyang belum berpesan demikian:))))

  7. kavellania said: hahahaha nanti mungkin aku akan buat jurnalnya ajah kali yaakalo antologinya terlalu nyastra en gak ketahuan kalo tuh org Ikhwan pdalan ikhtong ahak ahak

    wah pasti Nia bener2 terpatri di hati Mas Suga sampai menimbulkan trauma sampai segitunya…..Next time Mas…jika ada perasaan itu segeralah di ungkapkan yaaa😉 *Anna uda nga sabar punya Tante baru* hahahaha

  8. kavellania said: hahahaha nanti mungkin aku akan buat jurnalnya ajah kali yaakalo antologinya terlalu nyastra en gak ketahuan kalo tuh org Ikhwan pdalan ikhtong ahak ahak

    Walah… Jangan2 kalo ketemu aku, malah makin jijay bajaj kocay kocay lagi…Wajahku kan kaya nia daniati #gak nyambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s