Kecupan Lebaran


Dua rumah bersebelahan menghadap Timur itu hampir sama bentuknya. Dindingnya juga sama, terbuat dari tumpukan bata yang belum dilapisi semen bagian luarnya. Sudah sepuluh tahun pemandangan itu terlihat. Panas-hujan membuat warna merahnya berubah kusam. Lumut tumbuh di sana-sini.

Penghuninya sendiri sepertinya tak terlalu peduli. Bagi mereka, berlindung di balik tumpukan batu batu sama halnya berlindung di balik benteng yang megah. Angin tak akan bisa menyelinap sesukanya, sebagaimana sebelumnya, ketika dinding mereka masih terbuat dari anyaman bambu.

Sejak dinding bata berdiri mengelilingi, dua rumah itu makin terperangkap sepi. Tak lagi terdengar deru kendaraan yang lalu lalang. Hingar musik tetangga juga tak lagi bergema. Hanya sesekali terdengar desah, dari para penghuninya yang kesepian. Tanpa buah hati.

Penghuni kedua rumah itu adalah kakak-adik. Suami mereka adalah para lelaki tangguh yang sudah kehilangan ketangguhannya. Waktu menggerus kesehatan mereka, seperti air menggerus batu-batu perkasa.

Temo, lelaki yang tinggal di rumah kiri adalah petani gurem. Subuh-subuh ia sudah biasa turun ke sawah; mencangkul lahan milik kepala dusun. Kadang ia membantu membajak dengan satu-satunya kerbau yang ia miliki. Ia juga membantu memanen pagi, merontokkan biji-bijinya dengan menggunakan pemukul padi. Tapi penghasilannya menurun, sejak teknologi menyentuh desa. Traktor-traktor sudah banyak digunakan, mesin perontok padi sudah banyak dipakai. Ia lalu beralih profesi, menjadi pembuat batu-bata. Bahan-bahannya ia ambil dari lumpur-lumpur sawah, atau dari tanah kebun belakang rumah. Setelah mencetak cukup banyak, ia membakar batu bata dengan kayu dan gabah. Ia memajang bata merah itu di depan rumahnya, di tepi jalan raya Jombang-Tuban. Awalnya usaha tersebut mendatangkan hasil lumayan. Lambat laun, satu persatu penduduk desa menirunya. Persaingan itu membuatnya terpuruk. Batu batanya makin jarang dibeli orang. Iapun menjual kerbaunya, demi menutupi hutang-hutangnya yang menumpuk. Sisa uangnya ludes, untuk mengobati sakit sesaknya yang akhir-akhir ini mendadak kambuh.

Tro, lelaki yang tinggal di rumah kanan berprofesi sama. Puluhan tahun ia dan iparnya bahu membahu mencangkul sawah tetangga. Istri-istri mereka–yang membawakan makan siang–kadang membantu menyiangi gulma atau menanam benih padinya. Saat job di sawah lagi sepi, iapun berkebun di tanah belakang rumah yang luasnya tak seberapa. Beragam sayuran mereka tanam, selain ketela pohon, ubi jalar ataupun jagung. Ketika harga beras melonjak, hasil kebun itulah yang mereka konsumsi sehari-hari, selain dibagi-bagi pada para tetangga. Sejak penglihatannya berangsur kabur, Tro tak bisa lagi ke sawah. Ia hanya berkutat di sekitar rumah, dengan menggunakan tongkatnya. Begitu penglihatannya hilang total, hidupnya makin tergantung pada Mbok Nah, istrinya.

-o0o-

Beberapa hari menjelang lebaran, tetangga seberang jalan mendatangi kedua rumah bersebelahan itu. Ia membawa beberapa toples kue.

“Untuk lebaran. Biar mbok Nah dan mbok Mi nggak perlu bikin-bikin lagi,”kata sang tetangga.

Kakak-adik itu berpandangan. Tak ada yang bisa mereka katakan, selain ucapan terima kasih. Tahun lalu, tetangga mereka ini juga mengantar kue-kue lebaran.

“Oiya, ini ada titipan dari anak saya,”sang tetangga berkata lagi, sambil menyerahkan amplop untuk masing-masing. “Lebaran ini dia tak pulang, jadi sekalian minal aidzin, yah Mbok. Maafin kalau dia punya salah…”

“Kami yang minta maaf, sudah banyak ngrepotin,”tutur mbok Nah, sambil mengucapkan terima kasih. Ia trenyuh. Seseorang yang bukan anak, bukan juga saudara ataupun kerabat, ternyata sangat mempedulikannya.

“Bu, kalau anaknya nanti pulang, bilang-bilang yah?!”sahut mbok Mi. “Kami mau memberinya ayam.”

-o0o-

Lebaran mengecup kening syawal. Biar sejenak, hangatnya masih terasa. Bahkan sepuluh hari setelahnya. Kehangatan itulah yang terasa di rumah Mbok Mi yang biasanya sepi. Ia sumringah begitu mengetahui siapa yang datang bertamu.

Setengah sepuluh malam itu, tetangganya datang bertamu. Kali ini tak sendirian. Ia membawa serta anaknya, yang baru datang dari jauh.

Mata Mbok Mi yang sempat terkantuk-kantuk mendadak bugar, keinginannya untuk bertemu dengan anak itu akhirnya terkabulkan.

Siang tadi, sebenarnya ia sudah mendapat kabar kalau anak tersebut pulang. Lantas ia mengajak kakaknya pergi ke rumah seberang. Ia teringat janji dahulu, untuk memberinya ayam.

“Maaf, mbok. Anaknya lagi di opname di UGD. Semalam kambuh sesaknya,”ucap bibi anak itu.

“Wah, kasihan. Pulang-pulang langsung sakit. Dirawat dimana?”

“Dekat kok,”sang bibi menunjuk Puskesmas yang berjarak 200 meter dari situ.

Mbok Nah dan Mbok Mi saling berpandangan. “Kalau gitu, kami mau jenguk ke sana.”

“Eh, nggak usah repot-repot, Mbok.”cegah sang bibi. “Kondisinya udah baikan. Sebentar lagi pasti pulang. Nanti sore aja, jenguk di sini.”

Sore harinya, mereka datang ke rumah seberang itu lagi. Sambil membawa ayam.

“Wah, Mbok. Barusan anaknya pergi.”kata ibu si anak.

“Lho, pergi kemana? Baru sembuh kok sudah pergi-pergi…”

“Tadi pamitnya ke sawah. Mau foto-foto. Terus mau ke kota. Mbok tunggu aja di rumah, yah. Ntar kalau dia datang, saya ajak dia berkunjung ke rumah Mbok Nah, dan Mbok Mi.”

Selepas maghrib, Mbok Nah dan Mbok Mi berkumpul di depan rumah. Pandangan mereka tak henti-henti tertuju pada rumah seberang, berharap anak itu segera pulang. Tapi hingga kantuk menyergap, bayangan anak itu tak tampak.

“Besok saja pagi-pagi kita ke sana lagi.”

“Iya, aku juga udah ngantuk.”sahut mbok Mi. Ia lalu masuk rumah, mengunci pintu dan mematikan lampu. Baru saja ia merebahkan diri, terdengar ketukan di pintu depan rumahnya.

Ia terkejut begitu mengetahui siapa yang datang. Segera ia bangunkan suaminya, Temo. Ia pergi sebentar ke rumah sebelah, membangunkan Mbok Nah. Lalu ia keluarkan beberapa kue sisa lebaran, untuk menjamu tamu yang ia nanti-nantikan.

“Sudah, Mbok. Nggak usah repot-repot ngasih ayam.”tampik anak itu, yang lahap memamah keripik pisang.

Mbok Mi terlihat senang. Akhirnya habis juga kue lebarannya. Ia sempat khawatir makanan itu sia-sia. Ia dan suaminya yang sudah tua tak mungkin mengunyah keripik itu.

“Tapi, gimana? Kami sudah janji…”sahut mbok Nah, sepertinya agak kecewa.

“Yaudah, karena mbok Nah dan Mbok Mi ikhlas ngasih, ayamnya saya terima,” anak itu berkata pasrah. Ia sepertinya tak bisa menampik kebaikan dan ketulusan kedua orang itu. Sebelum bersalaman dan berpamitan, anak itu berkata lagi, “Oiya, ayam saya tadi, saya kasih lagi yah. Pada Mbok Nah & Mbok Mi.”

Anak itu lalu ngacir.



cerita ini ditulis utk menyemarakkan acara mbak Tin-tin, yang bertema Kisah Inspiratif/berkesan sekitar lebaran.

130 thoughts on “Kecupan Lebaran

  1. trasyid said: beneran nginep di UGD, mas? bangsalnya udah penuh?🙂

    seprtinya emang penuh…atau bisa jadi, di bangsal/ruangannya tak ada oksigennya, sebagaimana di UGD. jadinya, semalaman rawat inap, bersama beberapa pasien bedah:)

  2. evanda2 said: nih di sini kripik pisang masih banyak , baru dapat tambahan stok dari lampung.. hehehe..

    wah, asyiikk…bs main2 ke rumah mbak eva lama2:)eh, kirim aja ke mari, keripiknya…satu kontainer:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s