Fiksi Kilat Hemingway, Fiksi Paling Menggugah Imajinasi


Dari sekian banyak Fiksi Mikro (fiksi kilat) yang pernah saya baca, fiksi 6 kata Hemingway-lah yang paling mengundang rasa penasaran. Bagaimana mungkin hanya dengan menulis,”Dijual: Sepatu Bayi. Belum pernah dipakai!”, fiksi tersebut ia gadang-gadang sebagai karya terbaiknya, mengalahkan Old Man & Sea-nya yang mendapatkan Pulitzer?

Saya mencoba mencari intertekstual (keterkaitan karya di atas dengan karya-karya Hemingway lain), tetapi belum juga menemukan korelasinya. Lantas saya kembali mencermati tekstualitas dari 6 kata itu sendiri dan mencoba menguraikannya. Hasilnya, seperti ada benang merah tipis seperti alur sungai bawah tanah yang terendus sinar infra merah.

Fiksi 6 kata di atas ternyata memiliki 3 fakta penting yang melandasi pokok cerita, yakni :

Dijual

Kata ‘Dijual’ bisa ditemukan hampir di mana-mana; di dinding, di pintu, di pinggir-pinggir jalan, di pasar, ataupun pada halaman iklan. Dari sini bisa diketahui, setting cerita berkisar pada tempat-tempat di atas. Bisa satu atau beberapa.

Sepatu Bayi

Barang yang dijual adalah sepatu bayi, bukannya sepatu olahraga, sepatu boot, high heel, apalagi sandal jepit. Dari kenyataan ini, kita bisa mereka-reka karakter tokoh yang hendak dimunculkan. Misalnya: sang bayi atau sepatunya, sosok orang tua atau kerabat terdekatnya, atau sosok penjual.

Belum Pernah dipakai

Kata ‘belum pernah dipakai’ menegaskan bahwa barang yang dijual(sepatu), belum pernah sekalipun dipakai.

Ketiga kata atas, apabila ditautkan, akan mengundang rasa penasaran.

Mengapa mesti Sepatu Bayi yang Dijual? Karena (sudah) tak ada barang lain yang lebih berharga? Ataukah barang lain terlalu berharga?

Mengapa Sepatu itu belum pernah dipakai? Terlalu banyak sepatu, hingga sang bayi tak sempat memakai satu-satu? Ataukah sang bayi tak sempat lahir ke dunia?

3 fakta penting tersebut bila diuraikan lebih jauh, akan memungkinkan hadirnya fakta-fakta baru. Pertanyaan-pertanyaan baru bersembulan, mengundang rasa penasaran.

Jadi, fiksi 6 kata Hemingway menarik karena ia berhasil mengundang rasa penasaran pembaca?

Inilah kejeniusan seorang Hemingway. Ia tak sekedar mengobral rasa penasaran. Lebih jauh, ia melibatkan pembaca untuk berimajinasi dan menyusun alur cerita mereka sendiri. Ia membebaskan pembacanya untuk membuat ending cerita. Ia bahkan membebaskan mereka dalam memilih genre (romantic, drama, horror ataupun komedi). Ibarat bangunan, Hemingway yang membangun tiang pancangnya. Selanjutnya, ia menyerahkan sepenuhnya pada pembaca. Untuk merancang dan membentuk bangunannya.

Dalam dunia penulisan, terobosan Hemingway ini merupakan bentuk ‘perlawanan’ terhadap dominasi pengarang. Stigma bahwa pengarang penentu absolut cerita, gugur dengan sendirinya.

Pengalaman ‘berkolaborasi’ seperti di atas merupakan langkah cerdas dalam mencerdaskan pembaca. Secara tak langsung Hemingway mengajarkan pembaca, untuk belajar menjadi penulis/pengarang cerita.


-o0o-

Dari Fiksi Kilat Hemingway di atas, saya mencoba mengembangkannya, menjadi sebuah cerpen singkat. Hasilnya, bisa disimak berikut ini…(Andapun bs membuat cerita yang berbeda, dari fiksi kilat yang sama sebagaimana di atas)

gambar ilustrasi


‘Dijual: Sepatu Bayi. Belum pernah dipakai!’

Hipokrit, subversif, plagiat! Hampir saja caci maki terlontar dari mulut Bo, begitu membaca tulisan pada karton lusuh itu. Terang sekali tulisan itu menyadur kata-kata Hemingway. Jika saja bukan perempuan tua yang memegangnya, tentu ia sudah melontarkan ceramah tentang betapa pentingnya menghargai kreativitas.

Sejenak pandangan Bo terpaku pada sepatu mungil yang berada di tangan kanan wanita itu. Rupanya perempuan itu tak hendak berolok-olok. Ia lantas bertanya, ”Sepatu ini dijual?”

Perempuan itu mengangguk.

”Berapa harganya?”
Perempuan itu tak menjawab. Ia seperti kebingungan. Tapi tak lama, senyum merekah dari bibirnya. Tangannya menekuk tiga jarinya. Dua jarinya yang masih berdiri menyerupai huruf V. Lima detik berikutnya kelima jarinya ia mekarkan. Ia menggumamkan sesuatu, Tapi Bo tak bisa menangkap artinya.

Setelah beberapa kali gerakan itu diulang-ulang, Bo mencecar perempuan itu dengan tanya,” ”Dua? Lima? Dua lima? Dua lima ribu maksudnya?” tanyanya, agak ragu. Ia sebenarnya heran mengapa perempuan itu tak mengatakannya secara langsung.

Perempuan itu terlihat girang. Sepertinya anak kecil yang berhasil menebak teka-teki. Ia sodorkan sepatu mungilnya,
s
ambil tangan kanannya memberi isyarat. Agar Bo menyerahkan uang.

Bo hampir mengatakan bahwa harga sepatu itu terlalu mahal. Lima belas ribu adalah harga yang lebih pantas. Tapi, tak urung dikeluarkannya juga uang sejumlah yang diminta perempuan itu.

’Hemat 50%,’gumam Bo sambil menenteng sepatu mungil itu pulang. Setidaknya ia mesti mengeluarkan dua kali lipat jika mesti membeli di toko. Bulan depan istrinya melahirkan. Tentu tak ada salahnya jika ia sudah mulai menyiapkan perlengkapan untuk sang bayi nanti.

Sesampainya di pagar rumah, tetangganya sudah memberinya berita yang membuat keringat dinginnya mengucur deras.

”Bo. Cepat ke rumah sakit. Istrimu mengalami pendarahan.”

-o0o-

Dengan enggan Bo pergi ke pasar. Ia bawa sepatu mungil yang urung ia pakaikan pada putri tercinta. Pendarahan istrinya tiga bulan lalu telah merenggut buah hatinya. Sia-sia operasi Caesar yang menelan biaya besar. Nyaris ludes semua barang-barang yang mereka punyai. Hanya beberapa saja tersisa.

Istrinya, yang mengetahui ada sepatu tak terpakai, segera meminta ia menjualnya. ”Lumayan, bisa untuk makan hari ini.”ucap Istrinya setengah letih.

”Dijual, Dijual,”suara Bo agak serak saat pertama mengucapkannya. Seperempat jam berikutnya, ia makin lancar menawarkan satu satunya barang dagangannya. ”Ayo. Dijual-Dijual. Sepatu bayi. Belum pernah dipakai!”

Hampir seisi pasar memandangnya dengan tatapan aneh. Mungkin sebagian mereka beranggapan bahwa ia sudah gila, menjajakan barang dagangan langka. Tapi Bo tak terlalu menghiraukannya. Baginya, kebutuhan perut istrinya lebih mendesak. Dengan acuh, ia berkata agak keras. ”Ayo, Dijual. Sepatu Bayi. Masih baru. Belum pernah dipakai.”

Dua jam tak ada yang mendekatinya, Bo Pasrah. Duduk ia di sudut pasar, tertunduk memandangi sepatu mungilnya yang belum laku. Terbayang wajah istrinya yang terkulai di rumah. Menahan lapar yang mendera.

Dalam kantuk yang teramat sangat, Bo terlelap. Ia baru sadar ketika sebuah suara menegurnya.

”Pak, sepatu itu dijual?”

Bo mengucek matanya sebentar. Dilihatnya seorang wanita muda berdiri di depannya. Dengan perut agak membesar. Belum sempat menjawab pertanyaan itu, wanita itu kembali bersuara…

”Kalau dijual, saya mau beli,”katanya. Dielus-elusnya perutnya. ”Dua bulan lagi si kecil lahir.”

Bo mengangguk cepat. Disodornya sepatu itu. ”Dua puluh lima ribu saja!”

-o0o-

Wanita itu berdendang riang, sambil menanti taxi yang akan membawanya pulang. Sebuah bis kota datang menghampiri. Ia terlihat gamang. Tapi kondektur berhasil merayunya.

”Ayo, pelan-pelan saja naiknya. Nanti turunnya juga dibantu, kok!”

Bis melaju tenang. Seperti paham, bila wanita itu tak tak boleh sering-sering terguncang. Bis mengerem perlahan, begitu wanita itu mengangkat tangan, hendak turun di perempatan.

”Hati-hati. Tengok kanan-kiri,”pesan kondektur, yang membantunya turun.

Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sedetik kemudian, sebuah motor menyeruduknya…

125 thoughts on “Fiksi Kilat Hemingway, Fiksi Paling Menggugah Imajinasi

  1. puntowati said: Weh……suatu saat ini mudah2an Agus bisa berkunjung ke bekas rumah Hemingway di Key West, Amerika. Rumah tersebut sampai sekarang masih dilestarikan persis seperti saat Hemingway masih tinggal disitu, lengkap dg kucing2nya yg mempunyai 6 jari kaki.

    Wah, terima kasih sudah memberikan informasi yang sangat bagus buat saya, mbak. dan terima kasih banyak atas doanya. semoga kapan2 bs ke sana.btw, ada penampakan nggak yah…di rumah itu…heuehuesayang sekali, nasib Hemingway berakhir tragis

  2. saturindu said: sebenarnya bisa juga lho, kl mau diganti menjadi genre yang murni romantis..hanya saja, saya belum berminat membuatnya :)Ayo, mbak Yuli past bs meraciknya..

    Saya bukan orang yang romantis mas Suga…saya hanya penikmat seni.Lebih bisa meracik obat dibuat puyer…hehehe

  3. saturindu said: sebenarnya bisa juga lho, kl mau diganti menjadi genre yang murni romantis..hanya saja, saya belum berminat membuatnya :)Ayo, mbak Yuli past bs meraciknya..

    suka sama cerita yg “gantung”, tapi jadi sebel sendiri mengira2nya…jadi pengen tau apa yg dipikirkan penulis…akhirnya malah lebih suka yg akhirnya diluar dugaan…klo beneran sepatu bayinya pembawa sial alias kutukan ga ada habisnya x ya ceritanya kalau sepatu bayinya ga dibuang/dibakar sekalian.hehe…

  4. sweetspace said: Saya bukan orang yang romantis mas Suga…saya hanya penikmat seni.Lebih bisa meracik obat dibuat puyer…hehehe

    wah, kalau begitu tugas ini dilimpahkan pada siapa, yah…*lempar koin ke angkasa…ah:)*jadi inget kemarin2, ada yang kasih penjelasan ttg dextamine:)

  5. pitaloka89 said: suka sama cerita yg “gantung”, tapi jadi sebel sendiri mengira2nya…jadi pengen tau apa yg dipikirkan penulis…akhirnya malah lebih suka yg akhirnya diluar dugaan…klo beneran sepatu bayinya pembawa sial alias kutukan ga ada habisnya x ya ceritanya kalau sepatu bayinya ga dibuang/dibakar sekalian.hehe…

    kadang2 ada untungnya, yah…kl ceritanya menggantung…biar kita sendiri bs memaknai sesuka hati..hueheukalau saya sih, nggak pernah menduga2 ending…jadinya nggak pernah berkata,’endingnya di luar dugaan’:))))sepatunya mirip boneka choki…nggak mempan dibakar:))

  6. cupcakemaiden said: Siiippp!! Langsung inget sama Edgar Allan Poe dengan versi yang lebih halus dan meng Indonesia!!! Apalagi temanya sesuatu yang cute dan mungil “Sepatu Bayi”

    wah, ada referensinya, mbak?atau linknya?pengin banget baca sepatu bayi ala edgar:)

  7. saturindu said: kadang2 ada untungnya, yah…kl ceritanya menggantung…biar kita sendiri bs memaknai sesuka hati..hueheu

    iya sih, tapi pernah baca komik yang ceritanya “gantung”, penasaran bgt endingnya seperti apa, sampai sekarang jadi masih inget…terlalu banyak menduga2 dan pengen tau ada yg bner ga dugaannya.hehe…

  8. saturindu said: kalau saya sih, nggak pernah menduga2 ending…jadinya nggak pernah berkata,’endingnya di luar dugaan’:))))sepatunya mirip boneka choki…nggak mempan dibakar:))

    hehe… klo ceritanya yg lumayan berat n ngajak mikir biasanya jadi ikut2an asik dengan pikiran sendiri… :)))wah jd makin serem donk.. jadi inget film2 misteri, barang kramatnya ga bisa dibakar, dibuang ditemuin orang, setelah itu the end…gantung lagi…🙂

  9. saturindu said: ”Hati-hati. Tengok kanan-kiri,”pesan kondektur, yang membantunya turun. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sedetik kemudian, sebuah motor menyeruduknya…

    hiks…ini yang terjadi padaku kemarinsebel sama motor yang suka nyalip dari kirieeeuuuhhh:((

  10. saturindu said: ”Hati-hati. Tengok kanan-kiri,”pesan kondektur, yang membantunya turun. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sedetik kemudian, sebuah motor menyeruduknya…

    Om, aku suka sepatunya lucu2 hehehehe. kalau pakai sepatu itu terasa masih bayi.

  11. amarylli said: hiks…ini yang terjadi padaku kemarinsebel sama motor yang suka nyalip dari kirieeeuuuhhh:((

    Lho, benerkah begitu?waaaaah, maaf…bukan bermaksud mengingatkan kejadian tsbsemoga lekas sembuh yah.ambil hikmahnya: berjumpa lagi dg dokter tampan rupawan:))))

  12. pitaloka89 said: hehe… klo ceritanya yg lumayan berat n ngajak mikir biasanya jadi ikut2an asik dengan pikiran sendiri… :)))

    Yup, bener banget…penulis yang bagus, biasanya mampu menggiring pembaca, agar ‘terlibat’ dalam cerita:)

  13. pitaloka89 said: wah jd makin serem donk..jadi inget film2 misteri, barang kramatnya ga bisa dibakar, dibuang ditemuin orang, setelah itu the end…gantung lagi…🙂

    dibuat gitu, biar ada sekuel berikutnya…heuehue

  14. pitaloka89 said: wah jd makin serem donk..jadi inget film2 misteri, barang kramatnya ga bisa dibakar, dibuang ditemuin orang, setelah itu the end…gantung lagi…🙂

    Kisah ini nyatakan Om, pasti dialami oleh para ibu2 yg baru mau punya momongan.

  15. pitaloka89 said: wah jd makin serem donk..jadi inget film2 misteri, barang kramatnya ga bisa dibakar, dibuang ditemuin orang, setelah itu the end…gantung lagi…🙂

    tfs untuk dedah Hemingway-nya dan simpati saya untuk Bo.cerita yang sangat tragis…….

  16. d3rai said: tfs untuk dedah Hemingway-nya dan simpati saya untuk Bo.cerita yang sangat tragis…….

    Baru aja nonton film biography Hemingway, ternyata cinta yang gagal lah yang membuat dia menjadi penulis hebat.

  17. d3rai said: tfs untuk dedah Hemingway-nya dan simpati saya untuk Bo.cerita yang sangat tragis…….

    om….saya protessss!!!!mbokk ya bikin cerita yang endingnya itu seneng, bagus…gak nyeremin gak nyedihin…aku kan jadi sedih kalau ceritanya sperti ini…hikshikshiks **nangis mingzek2**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s