Sehari, wisata 2x UGD

Hari minggu (03/10) yang mengasyikkan. Mulanya berniat tamasya di kota, di Nagoya Hill. Lihatin yang bening-bening. Tetapi niat itu tertunda, karena paginya rasa sesak sudah menyeruak dalam dada. Ketika napas sudah terengah-engah, seorang teman langsung membawa saya pergi ke UGD RSBK.

Setelah 15 menit diberi nebulizer dan 45 menit di-oksigen, saya keluar dari RS. Lumayan juga agak sehat. Sebelum pulang, kami mampir dulu ke Nagoya Hill sore harinya. Lumayan juga, bisa menikmati honey ginger ala Sawadika beserta sup buntutnya.

Seperti ini kalau di-oksigen (*doc lama)

Seperti ini kalau di-nebulizer (*doc lama)

Sejam setelah berada di rumah, mendadak kambuh lagi sesaknya. Segera saya bertamasya untuk kedua kali di UGD. Kali ini, saya memilih UGD RSUD Batu Aji, yang tak jauh dari rumah. Setelah 2x di-nebulizer , diinjeksi lengan kiri dan dioksigen hingga tengah malam, jam satu dini hari saya diperbolehkan pulang. Agak menyesal juga mesti meninggalkan RS yang dokternya cantik jelita…haha

Dua kali bertamasya di UGD, saya sempatkan diri mengamati sekeliling. Di UGD pertama, ada ibu yang hamil 4 bulan, yang sepertinya mengalami pendarahan. Beberapa kali dia mengaduh, sembari menyebut nama Tuhan. Ia merasakan kesakitan, ketika jarum suntik mulai menusuk urat nadinya. Saya biasanya sangat alergi melihat pemandangan ini. Tapi kemarin, saya menguatkan diri melihatnya, sambil mengamati tetes demi tetes darah yang tumpah.

Lantas di depan saya, ada gadis belia yang sepertinya teler sehabis dugem. Pakaiannya amat minim, seminim roknya yang terlihat seperti celana pendek. Setelah diinjeksi, ia diperbolehkan pulang. Dua orang mesti memapahnya, karena jalannya sempoyongan.

Di UGD kedua, sebelum saya masuk sudah ada pasien asma seperti saya. Ibu setengah tua itu, napasnya tersengal-sengal, seperti habis lari marathon puluhan kilo. Tangan kirinya diinfus, dengan ibu jarinya dijepit sesuatu. Hidungnya ditutup masker, sepertinya ia juga di-nebulizer sebagaimana saya. Asma saya yang saat itu berangsur membaik, menjadi kambuh kembali begitu mengamati ibu ini. Setelah 3 jam mendapat perawatan intensif, si dokter jelita menyarankan ibu itu agar pindah ke RS besar yang lebih memadai.

Pasien lain datang. Kaki kirinya bengkak, karena digigit ular yang tidak diketahui jenisnya. Kejadiannya 3 jam sebelumnya. Dokter menyarankan agar pasien segera dibawa ke RS lain, sebagaimana sarannya pada ibu tadi. Alasannya, beberapa obat tidak tersedia. Tapi sang pasien dan keluarganya mendesak. Maka, sayapun turut menikmati proses bedah kecil-kecilan itu. Bagaimana kaki disayat-sayat, lalu dijahit. Saya sempat melihat juga ekspresi sang pasien yang kesakitan.

Ternyata mengasyikkan juga, bisa bertamasya ke UGD. Melihat-lihat keadaan orang lain, yang kadang jauh lebih genting dari kondisi kita. Hal tersebut makin memupuk rasa syukur pada yang Maha Kuasa.

143 thoughts on “Sehari, wisata 2x UGD

  1. riairwanty said: UGD itu slalu menyeramkan…suka deg-deg an……soalnya ndadal pas buka pintu, ada darah dimana-mana…..daging kluar….hiii….ancur…hiiii…..*lari dari UGD*

    Iya, kadang2 yang membikin agak ngeri dan merinding yang seperti itu.biasanya saya langsung demam badan.:)

  2. bundel said: Ini pendapat yang keliru. Maaf……..Saya justru di negara 4 musim lebih sehat.Cuma harus rajin-rajin bersihin debu dengan vaccum cleaner suapya nggak jadi pencetus asma.

    Oh, begitu…makasih lho bundel, sudah memberikan banyak2 pencerahan di sini.saya memang sengaja memancing2, biar mbak sering2 komen di sini:)))))

  3. bundel said: Ini pendapat yang keliru. Maaf……..Saya justru di negara 4 musim lebih sehat.Cuma harus rajin-rajin bersihin debu dengan vaccum cleaner suapya nggak jadi pencetus asma.

    Semoga lekas sembuh ya,Mas..Biar gak ‘bengek’ lagi…biar bisa maen bola lagi..ke wonogiri..sambil maen kuis siapa berani..selamat pagiii….XD

  4. bundel said: Atau bisa niru cara kuno orang tua saya dulu. Yaitu ambil air panas di washkom. tuangkan balsem vick’s terus tutup rapat dengan kain lebar. Buka sedikit dan kita hirup uapnya dari situ. Tapi usahakan kita di ruang yang juga tertutup rapat. Kalau zaman saya kecil sih saya dimasukkan ke kelambu oleh ibu saya, maklum waktu itu orang melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan memasang kelambu di sekeliling tempat tidur. Nah sekarang bisa diakali dengan menutup washkomnya dengan seprei, terus kita masuk ke dalamnya seprei. Mirip juga kok dengan nebulizer. Barangkali berguna untuk dicoba dalam keadaan darurat seperti sekarang.Maaf ya dhik komennya kebanyakan. Semoga nggak marah sama saya.

    Yah, bener bangett…saya juga diberitahu teman saya, yang kebetulan juga dokter. Beliau memberitahukan hal yang sama. Sayangnya, saya kelewat semangat. Pas menghirup uap di baskom, hidung saya terlalu dekat dengan baskom yang masih panas….jadinya agak lecet krn kepanasan…huehuehue

  5. ninelights said: Semoga lekas sembuh ya,Mas..Biar gak ‘bengek’ lagi…biar bisa maen bola lagi..ke wonogiri..sambil maen kuis siapa berani..selamat pagiii….XD

    Selamat pagi…:)ada apa di Wonogiri?ada jamu yah?:))wah, kl main bola, pasti ngos2an. Renang adalah terapi yang paling baik, selain meditasi/senam pernapasan dan olahraga teratur dan hidup teratur.hanya saja, saya orang yang agak bebal dlm hal ini:))

  6. bundel said: Yang dijepitkan di ibu jari itu adalah alat pengukur kadar oksigen di dalam tubuh kita. Pengalaman mengatakan begitu. Nanti perawatnya nyatet dalam angka dan prosen. Biasanya di atas 95 prosen baru dibilang cukup bagus. Kalau nggak salah inget lho, maklum udah 3 tahun nggak kambuh, alhamdulilalh.Cepet sehat lagi ya dhik.

    Nah, ini ilmu baru buat saya…makasih banyak. Kemarin tak sempat nanya2 ke dokternya. Agak segan:)Alhamdulillah, sudah baikan. Terima kasih banyak mbak..atas doa2 dan sarannya:)

  7. binarlangitbiru said: membaca ini membuat saya jadi bersyukur alhamdulillah asma saya tidak pernah kambuh lagi sejak 15 tahun yang lalu. Asmanya sudah termasuk parah yah? Semoga diberikan kesehatan, tapi kalo sehat susah donk ketemu ma dokter cantiq itu lagi ^_*

    Syukurlah, tulisan ini (ternyata) mampu meningkatkan rasa syukur sebagian pembaca, termasuk mbak eRie:)ada orang yang bilang, asma itu bs sembuh kl usianya masih di bwh 18 th. setelahnya, (katanya), asma akan melekat seumur hidup:)Iya, nih mbak…lagi cari2 alasan, tuk ktm dokternya lagi..hihi

  8. saturindu said: wah, kl main bola, pasti ngos2an. Renang adalah terapi yang paling baik, selain meditasi/senam pernapasan dan olahraga teratur dan hidup teratur.hanya saja, saya orang yang agak bebal dlm hal ini:))

    Kang Suga serius banget nanggepinnyaaaa…;-pIya..hehehe..kalo penderita asma, yg Nana tau salah satunya ya yg disebutin mas Suga..ah tapi meski nana jg gak kena asma,hdp nana jg krg teratur..*sering insomnia soale* hwehwe..;-p

  9. luqmanhakim said: Katanya sakit itu bentukan penghapus dosa kalo bersyukur. Menarik banget cara Mas Suga ngeliat kondisi sakit dalam konteks bersyukur…

    Begitulah salah satu makna positif yang coba saya selami:)Tuhan amat sayang pada kita, dengan caraNya:)Makasih, mas…telah mengingatkan kembali akan hal ini:)

  10. puntowati said: Naa….berarti Suga tetep bisa mewujudkan cita2nya tuh mampir ke rumah saya….Yg penting pakai baju yg hangat dan jangan kecapekan..Jd di rumah saya nggak usah bantuin cuci piring……he he he…

    Wah, yang bagian cuci2 piring itu si Popi…:)moga2 keturutan tour de Netherlandnya:)*nungguin popi dulu, mbak. Moga2 jadi kuliah di eropa. Biar saya bisa ikutan:)

  11. ninelights said: Kang Suga serius banget nanggepinnyaaaa…;-pIya..hehehe..kalo penderita asma, yg Nana tau salah satunya ya yg disebutin mas Suga..ah tapi meski nana jg gak kena asma,hdp nana jg krg teratur..*sering insomnia soale* hwehwe..;-p

    hueheuheu…Ayo, dicoba lebih teratur hidupnya. Tak usah banyak2 teraturnya, dikit aja…heuehuekl imsomnia, biasanya bagus kl dipakai utk nulis2:)

  12. saturindu said: kl imsomnia, biasanya bagus kl dipakai utk nulis2:)

    Asma ya..sama sprt anak saya Seno, sudah kelas 5 asmanya blm sembuh juga. itu sebabnya sy sedia nebulizer + obatnya di rumah. juga obat semprot yg selalu di bawa kalau ke udara dingin. Cepet sembuh ya mas..enak juga ya tnyt tamasya di UGD..saya koq suka langsung parno kalau lihat UGD

  13. saturindu said: Yah, bener bangett…saya juga diberitahu teman saya, yang kebetulan juga dokter. Beliau memberitahukan hal yang sama. Sayangnya, saya kelewat semangat. Pas menghirup uap di baskom, hidung saya terlalu dekat dengan baskom yang masih panas….jadinya agak lecet krn kepanasan…huehuehue

    Masya Allah, lucune…… lucune adikku. Hahahaha……….jadi gemes pengin njiwit pipinya.

  14. ibuseno said: Asma ya..sama sprt anak saya Seno, sudah kelas 5 asmanya blm sembuh juga. itu sebabnya sy sedia nebulizer + obatnya di rumah. juga obat semprot yg selalu di bawa kalau ke udara dingin. Cepet sembuh ya mas..enak juga ya tnyt tamasya di UGD..saya koq suka langsung parno kalau lihat UGD

    Turut berdoa, agar Seno lekas sembuh dari penyakit Asmanya. Semoga tidak kambuh lagi.Mumpung masih kecil, kalau bisa diajari renang, teh…:)Terima kasih doanya:)*jadi kepikiran, utk menyelenggarakan kopdar di UGD:))

  15. sweetspace said: Semoga cepet sembuh…jangan sering-sering ke UGD dong mas Suga walaupun dokternya cakep😀

    Iya, mbak…terima kasih sarannya…nggak janji lho, yah…:))*moga2 nggak kangen dokternya, jadi nggak sering2 ke UGD:))

  16. bundel said: Masya Allah, lucune…… lucune adikku. Hahahaha……….jadi gemes pengin njiwit pipinya.

    sebenarnya kemarin mau ditulis juga kisah ‘hidung merah’, tapi malu…huehuehue.nggak boleh dipegang2 hidungnya, apalagi dicubit…ntar nggak sembuh2:))

  17. bundel said: Masya Allah, lucune…… lucune adikku. Hahahaha……….jadi gemes pengin njiwit pipinya.

    sebaiknya mas suga memiliki alat nebulizer dan tabung oksigen sendiri, nyainya shafa juga sejak usia 65 ada asma, dan ketika sesak bisa secepatnya menggunakan nebulizer dan oksigen…jangan sakit lagi ya, doa kami semua tuk mas suga🙂

  18. saturindu said: Melihat-lihat keadaan orang lain, yang kadang jauh lebih genting dari kondisi kita. Hal tersebut makin memupuk rasa syukur pada yang Maha Kuasa.

    wisata ke UGD membawa hikmah juga ya. tapi jangan sering2 wisata ke sana ah. menguras dompet soalnya🙂 cepet sembuh ya🙂

  19. khoriyatulj said: sebaiknya mas suga memiliki alat nebulizer dan tabung oksigen sendiri, nyainya shafa juga sejak usia 65 ada asma, dan ketika sesak bisa secepatnya menggunakan nebulizer dan oksigen…jangan sakit lagi ya, doa kami semua tuk mas suga🙂

    terima kasih saran dan doa2nya, Bunda:)sedang diupayakan oleh Popi. Dia janji memberi hadiah saya Nebulizer dan oksigen:)

  20. d3rai said: wisata ke UGD membawa hikmah juga ya. tapi jangan sering2 wisata ke sana ah. menguras dompet soalnya🙂 cepet sembuh ya🙂

    Benar juga, tak terasa kantung saya sudah kempes…pdhal barusan gajian…haha:)*makasih sdh mengingatkan

  21. saturindu said: sebenarnya kemarin mau ditulis juga kisah ‘hidung merah’, tapi malu…huehuehue.nggak boleh dipegang2 hidungnya, apalagi dicubit…ntar nggak sembuh2:))

    Hei…..?! Siapa yang mau megang hidungmu sih?Nanti penyok aku disuruh tanggungjawab. Udah bagus mancung begitu.Yang mau saya cubit itu PIPI mu yang rada-rada melmpung qeqeqeqeqe………Maaf………

  22. saturindu said: sebenarnya kemarin mau ditulis juga kisah ‘hidung merah’, tapi malu…huehuehue.nggak boleh dipegang2 hidungnya, apalagi dicubit…ntar nggak sembuh2:))

    wah mas suga sakit lagi ya, semoga ke depannya lebih baik syafakallah ya……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s