Nomer Hoki vs ‘Nomer Tak Hoki’

Nomer HP saya yang cukup mendatangkan hoki adalah 155-155-333. Alasannya jelas, selain hampir tiap bulan dapat hadiah pulsa dari Indosat, banyak telpon nyasar ke nomer ini. 90 % diantaranya adalah cewek.

Kondisi ini amat kontras dengan yang terjadi pada nomer satunya, kartu Halo. Tiap bulan, saya musti mengeluarkan kocek di atas 500 ribu untuk membayar tagihan kartu pasca bayar ini. Demi mengontrol pengeluaran, saya terpaksa memarkir kartu ini di dompet selama tiga bulan.

Yang mengherankan, baru sebulan aktif, banyak telpon nyasar ke nomer ini. Bedanya, kali ini 100 % penelepon adalah pria.

“Bang, apa kabarnya? Lama tak ngobrol.”Sapa sebuah nomer tak dikenal, sok akrab.

“Baik,”jawab saya singkat. Tanpa ekspresi kegembiraan.

“Ah, abang lupa yah sama saya?”

“Iya,”jawab saya, dengan polosnya.

“Ya ampun, bang. Aku Rio, Rio Bang.”

Setelah mengingat-ingat sepertinya saya tak kenal makhluk bernama Rio, saya lantas bertanya,”Rio siapa?”

“Ya, ampun…abang ini. Rio Tri wirat…”

“Sori, nggak kenal.”kata saya, langsung mematikan HP. Dalam hati, kalau memang saya bener-bener punya teman bernama Rio, dia pasti akan menelepon kembali. Minimal sms. Nyatanya tidak.

Dua hari berikutnya datang lagi telpon nyasar. Logatnya seperti berbau Melayu.

“Ye, bang. Gimane kabarnya?”

“Baik. Ini siapa?”

“Rudi, bang. Masa’ tak kenal. Lupa yah, sama suaraku.”
”Iya, nggak kenal.”tutur saya, dengan polosnya.

“Ye, abang…ayo diinget-inget lagi.”
”Bentar, Rudi Amantajaya Widyatmaja?”sahut saya, ngasal.

“Bukan bang, saya Rudianto. Ayo, diinget-inget lagi…”

“Kita kenal dimana, yah?”

“Ayo, bang…masa’ lupa?”

Capek juga menghadapi orang begini. Nggak bisa to the point. Ya sudah, karena dia niatnya seperti main-main, saya lalu berkata,”hmmm…bentar…kuingat2 dulu, yah…”

Setelah berkata demikian, saya meletakkan HP di dalam laci, dan membiarkan orang bernama Rudi itu ngobrol sendiri.

Agak bete juga dapat telpon nyasar berkali-kali begitu

Pfuuh, dasar! Nomer nggak hoki. Bikin bete aja. Awas, yah…kuparkir lagi ntar, baru tahu rasa!” Dalam hati, saya berniat menonaktifkan nomer ini di akhir bulan, sembari membayar tagihan.

Sehari setelahnya, saya mendapat telpon lagi. Kali ini dari nomer lokal: 0778. Ini bukanlah hal luar biasa, karena beberapa marketing kartu kredit sering menelepon dari kantor mereka. Beberapa teman yang berkerja di PT lain, juga sering menelepon dengan telepon kantor.

“Maaf mengganggu, bapak. Kami dari Telkomsel. Bapak sudah tahu kalau bapak dapat hadiah?”terdengar suara lelaki di telpon. Pffuh, kenapa sih, bukan suara cewek?

“Belum.”ucap saya dengan polosnya.

“Bapak ingat tidak, kalau dulu pernah menukar telkomsel poin?”

Haiyah, malah ngajak tebak-tebakan. Hampir saja saya matikan sambungan telepon. Tapi tak urung, saya mencoba mengingat-ingat. Ssaya memang pernah menukar poin-poin dengan hadiah tertentu. 100 nomer undian untuk mobil, 100 nomer untuk netbook. Tetapi pada operator yang mengaku berasal dari telkomsel itu, saya memilih menjawab tidak. ‘Ini pasti tukang tipu yang nelpon dari wartel.’

“Yaudah, kalau bapak tak ingat, saya beritahu yah. Bapak mendapatkan hadiah berupa netbook persembahan dari telkomsel.

“Oiya?”kata saya dengan nada datar. Tak ada ekspresi kegembiraan.

“Iya, bapak. Besok, bapak silakan datang ke kantor kami, Telkomsel Baloi, dengan membawa KTP yang masih berlaku, yah.”

Agak kaget juga begitu orang tersebut menunjuk langsung kantor Telkomsel di Baloi. Berarti saya beneran dapat hadiah?

Tak perlu menunggu besok, saya langsung meluncur sejam kemudian ke Baloi. Agak malu juga ketika ditanya oleh front office-nya,”Mau apa, pak?”

“Denger-denger saya dapat hadiah.”ucap saya, sembari menggaruk kepala.

“Kalau boleh tahu, denger dari mana, bapak?”

“Denger dari orang telkomsel sini.”ucap saya, dengan agak ragu. Bisa saja sebenarnya, tadi yang menelepon saya cuma orang iseng yang kurang kerjaan.

Setelah saya katakan hadiah yang saya terima adalah netbook, front office tadi segera mengecek lembaran kertas yang dipegangnya. Begitu tertera nama dan nomer kartu Halo saya di sana, saya lantas berteriak dalam hati.

”Yessssss…! akhirnya, hoki juga nomer ini. Nggak jadi diparkir, deh.”

Lumayan juga, nggak usah repot2 beli netbook untuk adik saya.

kardusnya

Tasnya
Netbook HP 1109


105 thoughts on “Nomer Hoki vs ‘Nomer Tak Hoki’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s