Dunia Pingdol : Pentas Tujuh Belasan

Bagi Arga, apa yang dikatakan guru bahasa bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya. Hukuman fisik masih saja diterapkan di sekolahnya. Tak perlu jauh-jauh mencari bukti. Ia sendiri sudah menjadi korban beberapa kali. Pelajaran Matematika, dari dulu adalah momok terbesarnya. Bila SD ia amat takut pada sosok pak Darmo yang berperawakan kekar, kini ketakutan yang sama juga muncul setiap kali ia melihat bu Darsi yang mungil. Tinggi guru itu mungkin tak jauh beda dengannya. Mungkin beratnya juga. Sepintas memang sosoknya tak menakutkan. Guru itu memang tak pernah menampilkan wajah seramnya. Kecuali, jika murid-murid tak mampu menjawab persamaan matematikanya!

Arga sudah dua kali merasakannya. Ia mesti keluar dari kelas dan berjemur di bawah terik matahari jam sebelas pagi!

’Nyaris siang, sebenarnya,’ keluh Arga, membasuh peluh yang mengguyur seluruh tubuhnya. Rasa dongkol bersekongkol dengan rasa malu, membuat matanya terpejam selalu. Tak ia hiraukan suara sumbang yang terkadang berdesingan datang.

Minggu lalu beberapa teman sekelas mengejeknya, setelah ia berjemur satu jam di luar kelas.

”Ah, masa’ menghitung luas dan keliling lingkaran saja tidak bisa!”

”Iya, itu khan pelajaran kelas lima SD!”

”Mungkin Arga lebih baik balik lagi ke SD.”

Ejekan itu berhenti setelah Agung melotot pada mereka. Disertai ancaman tentunya. ”Siapa saja yang kudengar mengejek Arga, Bogem mentah akan bersarang di dagunya!”

Arga bersyukur dia masih memiliki teman yang baik seperti Agung dan Anang. Jika tak ada mereka berdua, ia tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya di sekolah favorit itu. Ya, mungkin saja ia akan pindah sekolah!

Lamunan Arga terhenti ketika bahunya ditepuk seorang temannya. Ia diminta masuk kembali ke dalam kelas.

”Kali ini hukumanmu diperingan!”kata Bu Darsi, begitu Arga duduk. ”Sebagai gantinya, kamu saya wajibkan untuk berpartisipasi mengisi acara tujuh belasan.”

Belum juga Arga mengerti permasalahannya, ibu Darsi sudah mengalihkan pandangannya pada ketua kelas.

”Agung, kamu yang ngatur,”kata bu Darsi. ”Siapa-siapa yang akan tampil di kelas ini. Buat acara sebaik-baiknya. Dan jangan malu-maluin kelas kita!”

-o0o-

”Maaf, Ga. Aku tak bisa memenuhi permintaanmu!”sahut Agung, dengan nada sedih.

”Ayolah, sekali ini aja.” Kata Arga. Kamu khan tahu, aku sangat gugup. Akan membuat malu kelas kita saja, kalau aku tampil di panggung sekolah!”

Sesuai permintaan guru Matematika yang juga guru kelas, Arga dan 3 orang yang kena hukuman diwajibkan untuk tampil di panggung. Mereka diperbolehkan mengisi acara dengan bebas. Boleh atraksi, boleh nyanyi atau menari. Selain tampil perseorangan, setiap kelas diwajibkan untuk membuat penampilan secara kelompok.

Agung menepuk bahu Arga. ”jangan khawatir. Aku khan juga tampil. Kita duet nyanyi saja gimana?”

”La-lagunya, lagu apa?!” Arga mendadak serak.

”Gimana kalau gambang suling?!”

Arga nyaris mengangguk senang, ketika Agung bersuara kembali. ”Oiya, maaf. Lupa. Atraksinya tak boleh bareng-bareng. Jadi, kita urung duet!”

-o0o-

”Ayolah, Sona!”Seru Arga berkali-kali sambil merebahkan diri di kasur. Lalu ia tutup kepalanya dengan bantal. ”Kemana aja, kamu?! Setiap dibutuhkan, selalu saja hilang!”

”Bukan menghilang,”sebuah suara terdengar. ”Tapi, kalau tidak begitu, kamu akan tergantung terus padaku, Arga!”

”Sona?!” Arga membuka bantalnya. Dengan cepat ia bangkit dari pembaringannya, sambil menoleh kanan-kiri. Beberapa saat kemudian ia sadar, sobatnya itu tak kasat mata. Jadi percuma saja melihatnya! ”Ayolah, Itulah guna teman, bukan?!”

”Justru karena aku ingin membantumu, makanya aku membiarkanmu.”

”Alasan yang aneh!”

”Sekedar kuingatkan, kalau kamu bergantung terus padaku, kamu bukan hanya tak akan pernah maju. Tapi, kamu juga akan terancam kehilangan semua daya ingatmu!”

”Apa maksudmu? Berarti aku tak waras?”

”Semacam itulah.”

”Kamu tidak Sedang becanda, bukan?!”

”Untuk hal yang penting begini, mana pernah aku becanda?!”

Sejenak hening. Tak ada lagi suara-suara yang saling tumpah-ruah. Arga sendiri, lebih sibuk menyelami pikirannya. Ia mencoba mengingat beberapa kejadian belakangan ini yang kadang tak ia mengerti. Penyakit lupa yang dideritanya, makin hari makin parah. Dari dulu ia memang pelupa, terutama dalam hal mengingat pelajaran sekolah. Sejak dulu rumus-rumus matematika, pelajaran IPA dan IPS, hanya numpang lewat di kepalanya. Bila hanya begitu, Arga masih bisa maklum. Yang mengherankannya sekarang, penyakit lupa itu telah merambah kemana-mana. Ia sering lupa meletakkan kunci sepeda. Ia sering lupa membawa alat-alat tulis ke sekolah. Ia lupa berganti baju, bahkan kadang-kadang lupa mandi!

Yang terakhir, sebenarnya ia sengaja melupakan diri.

”Kalau tak mencoba mengubah kebiasaan, kamu akan makin parah!”

”Baiklah, baiklah. Apa yang harus kulakukan, agar aku tak lupa?”tanya Arga dengan cemberut. Ia agak sebal kalau Sona sudah cerewet.

”Pertama, sering-seringlah melakukan gerakan melingkar. Saat sudah mulai lupa, lakukan gerakan itu, sambil mencoba mengingat-ingat. Terus coba—”

”Ok, nasehatnya nanti saja! Sekarang bantu aku. Minggu ini ada pentas tujuh belasan. Sialnya, bu guru sialan itu memintaku untuk mengisi acara. Enaknya, apa—“

“Itu perkara mudah. Nanti aku bantu. Sekarang, kamu mesti mulai menghapal bilangan Pi. Untuk mencegah kepikunan dini.”

”Ha? Apa hubungannya Pi sama pikun?”

Sona seperti tak menghiraukan pertanyaan Arga. Itulah keuntungan orang yang tak terlihat.

”Kamu masih inget kan bilangan pi itu?”

”Tentu saja masih ingat. Kebetulan baru tadi siang dijelaskan ulang. ”

” Jadi, menurutmu, berapa banyak angkanya di belakang koma?”

”Kalau tak salah, pi=3,14. Jadi ada dua bilangan di belakang koma, bukan?!”

”Benar, tapi kurang tepat!”

”Maksudnya gimana kok ’kurang tepat’?”

”Sebenarnya pi adalah rasio antara keliling lingkaran dibagi diameternya. Hasilnya, 3,14159265358979323846264338327950288419.. dan seterusnya. Angka di belakang koma jumlahnya tak terhingga!”

”Tak terhingga?!”ucap Arga, setengah terkejut.

”Yah, memang untuk mudahnya, hanya diambil dua angka di belakang koma. Tapi sesungguhnya, banyaknya bilangan di belakang koma itu, mencerminkan potensi kecerdasan yang belum dieksplorasi.”

”Sudah, sudah. Aku pusing,”sahut Arga, sambil membenamkan kepalanya kembali ke bantal. ”Sekarang bantuin aku dulu, masalah pi kita bahas nanti!”

”Baiklah, tapi kamu harus janji yah?!”
”Tentu saja!” sahut Arga, agak dongkol.

-o0o-

Pentas 17-an dimulai dengan suguhan tarian Remo. Setelah itu, satu persatu peserta bergilir tampil mengetengahkan kemampuan terbaiknya. Ada sulap kelinci anak kelas 7B, yang membuat para penonton terbahak. Sebelum sulap dimulai, dua ekor kelinci kecil sudah berloncatan di balik topi sang pesulap. Agung teman sekelas Arga, lalu tampil setelahnya dengan gegap gempita. Kedua kakinya menghentak-hentak panggung yang terbuat dari papan kayu. Panggung itu seakan roboh oleh hentakan kakinya. Dengan semangat juang ala pejuang 45, Agung menyanyikan lagu ”Hari Merdeka!”

Berikutnya, anak kelas 9A tampil kreatif dengan drama satu babak, yang mengambil tema ”Ande-Ande Lumut”, diikuti sajian deklamasi puisi anak kelas 8C.

Setelah rehat 15 menit, seorang anak perempuan tampil ke depan panggung. Suaranya terdengar merdu dalam menyanyikan lagu’ Desaku Yang Kucinta’. Arga tak sempat mendengar siapa yang tampil, karena perhatiannya tertuju pada dua helai kartu reminya yang jatuh ke lantai.Selesai memungut dan merapikan kartu-kartunya, barulah ia bisa melihat wajah gadis yang sepertinya ia kenal.

Saat gadis itu turun dari panggung, tepuk tangan dan siulan terdengar riuh. Biasanya dalam kondisi begini, kebanyakan anak akan terlihat malu dan risih. Tapi tidak demikian halnya dengan gadis itu. Ia malah melambaikan kedua tangannya, sambil mengulum senyum.

Arga baru ingat siapa sesungguhnya gadis itu saat
pembawa acara bersuara lantang, ”Demikianlah penampilan Suci, ketua OSIS di sekolah tercinta kita!”

Setelah acara tari-tari modern, nama Arga dipanggil pembawa acara. Ia diminta maju ke depan panggung. Begitu Microphone tersodor padanya, Arga tak segera berkata-kata. Ia membisikkan sesuatu pada pembawa acara yang terlihat manggut-manggut.

Arga mulai membuka papan tulis yang sudah ia persiapkan. Agung dan Anang yang tadi ia mintai bantuan, lantas mengangkat papan tulis bertirai biru. Tirai itu adalah tirai kelasnya.

”Hadirin sekalian, peserta berikut ini tak tanggung-tanggung dalam melakukan atraksi. Bukan hanya satu atraksi, tapi dua…aplaus untuk Arga!”
Tepuk tangan terdengar nyaring. Arga yang tadinya canggung, sekarang agak bersemangat.Dibukanya papan tulis di belakangnya. Terlihat petak-petak hitam dan putih!

”Atraksi pertama, Arga akan mendemonstrasikan kelihaiannya dalam memainkan kuda catur.”ucap MC. Ia kemudian mendekati arga sebentar, berbisik-bisik, lalu bersuara kencang kembali.”Nah, kata Arga. Dimanapun pertama kali kuda catur ditempatkan, Arga akan bisa menggerakkan kuda catur itu ke semua petak, tanpa harus mengulangi gerakan sebelumnya.”

Hadirin terlihat hening, melihat apa yang akan dilakukan Arga. Banyak orang berkerumun mendekat. Arga agak sedikit grogi karenanya. Untunglah, ada Agung yang memintanya tenang dan konsentrasi penuh.

”Kali ini, saya minta kesediaan bapak kepala sekolah, untuk memilih di nomer berapa, kuda catur akan ditempatkan pertama kali.”
Kepala sekolah berbisik-bisik dengan wakilnya. Sepertinya ia belum paham apa yang dimaksudkan oleh MC. Tapi tak urung, ia menyebutkan angka 44.

”Baiklah. Posisi kuda pertama di angka 44.”

Ukiran kuda catur terbuat dari kayu yang bisa lengket di papan tulis, lalu diletakkan di petak nomer 44. Di petak-petak itu, memang sudah ditulisi angka 11 hingga 88. Tanpa melihat papan tulis, Arga menyebut angka selanjutnya 65. Agung yang berdiri di dekat papan tulis, segera melangkahkan kuda yang memiliki gerak L ke petak 65, sambil memberi tanda silang pada langkah sebelumnya: petak 44. Begitupun saat Arga memberikan instruksi selanjutnya. Ia menyebut angka 86,78,57. Dengan gesit, Agung mimindahkan kuda catur tersebut, sembari memberi silang petak nomer 65, 86 dan 78. Dengan menyilang demikian, langkah-langkah yang sudah pernah dilewati kuda catur, akan terlihat oleh penonton. Di papan tulis, sekarang mereka bisa melihat empat tanda silang. Yakni, di petak awal 44, kemudian di petak 65, 86 dan 78.

Hanya butuh waktu kurang dari 5 menit Arga menunjukkan kebolehannya. Semua petak catur sudah ia lewati, tapi masing-masing hanya dengan sekali langkah!

Tepuk tangan bergemuruh! Sebuah sulap yang luar biasa ditunjukkan di depan mata mereka.

”Untuk sulap kedua, Arga meminta salah satu sukarelawan untuk maju.”

Seorang gadis dengan sigap maju ke depan. Ia berdiri di samping MC. Semua orang tahu, siapa gadis itu, karena gadis itu adalah ketua OSIS mereka!

Demi mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya, Arga berkeringat dingin. Gadis itu seperti tak henti-henti memandangnya. Ia menjadi salah tingkah karenanya. Syukurlah, suara pembawa acara segera menenggelamkan rasa kikuknya.

”Untuk atraksi kedua, Arga akan bermain sulap kartu!”

Tepuk tangan kembali bergemuruh. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya. ”Arga akan menunjukkan kemampuan ingatan fotografisnya. Dengan hanya melihat sekilas kartu-kartu, ia akan bisa menebak sisa kartu yang belum diperlihatkan padanya.”

Suci mengocok kartu. Setelah itu, ia meletakkan kartu di atas meja dengan posisi telungkup. Ia membuka satu persatu kartu dan memperlihatkan sepintas pada Arga. Kartu-kartu yang sudah diperlihatkannya, diserahkan pada sang pembawa acara. Setelah tumpukan kartu tinggal sedikit, pembawa acara berteriak,”Stop!”

Ia lalu meminta arga menyebutkan Kartu yang masih tertelungkup. Ada 5 kartu yang mesti ditebaknya. Posisi kartu itu sekarang dibuat sejajar.

”delapan Hati!”sahut Arga.

Suci mengintip salah satu kartu. Lalu ia berpindah ke kartu sebelahnya. Diperlihatkannya kartu itu pada penonton. Delapan Hati, benar sekali tebakan Arga!

”As kotak!”

Suci langsung membuka kartu yang tadi sempat diintipnya. As kotak ia perlihatkan pada penonton.

Tepukan tangan kembali bergema!

”Dua keriting!”

Suci mengintip dua kartu, sebelum ia mengintip kartu ketiga. Demi melihat tebakan Arga benar, diperlihatkannya kartu itu pada penonton.

”Luar biasa, sejauh ini 3 kartu berhasil ditebak Arga. Nah, Arga, apa dua kartu sisa itu?!”

Arga bergumam sebentar, sebelum ia menjawab dengan suara agak sengau. “King waru dan Queen Kotak!”

Suci membuka dua kartu sisa dan menunjukkannya pada penonton.

Tepuk tangan membahana. Dengan senyum puas, Arga meninggalkan panggung.

108 thoughts on “Dunia Pingdol : Pentas Tujuh Belasan

  1. fendikristin said: jadi rahasia-nya apa Mas? kenapa Arga bisa jadi “pinter” gitu? masih ada sambungan-nya ya?

    Iya, Annabel…masih ada sambungannya…kalau dijelaskan di sini telalu panjang*rencananya, penjelasannya mau ditaruh di bagian belakang novelnya. Tapi buat annabel, sini,…oom bisikin rahasianya…:)))*&^8&^$#!~`”>_)%$#@

  2. fendikristin said: jadi rahasia-nya apa Mas? kenapa Arga bisa jadi “pinter” gitu? masih ada sambungan-nya ya?

    Om, saya pesan buku 1 yg ada tanda tangan om Suga ya.ga boleh pake stempel apalagi ditandatangani orang.Kalau bisa pk cap bibir sekalian *lho??

  3. saturindu said: Wah, kasihannya….tapi syukurlah, sekarang masih bs ngempi…sepertinya dipuas2in ampe subuh:))*iya, kota kecil. sama dengan jombang. jam 6 sore, angkotnya sudah hilang dr peredaran:))

    hahahag skarang di sl3…posnet mpe malem dahhahahag asssyyiiikkkkkkkkyah om…yg di kotane ya banyak siy angkot…

  4. saturindu said: Wah, kasihannya….tapi syukurlah, sekarang masih bs ngempi…sepertinya dipuas2in ampe subuh:))*iya, kota kecil. sama dengan jombang. jam 6 sore, angkotnya sudah hilang dr peredaran:))

    lhoh.. kok namaku disebut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s