Sekuel Jack & Joker

Silakan baca sebuah sekuel novel berikut, ditunggu komentarnya...


-o0o-

Matahari nyaris terbenam. Cirrostratus1 tak ubahnya seperti bunglon. Putih kapasnya sudah berubah warna menjadi agak jingga, sejingga wajah cakrawala yang tengah didekapnya. Sebentar lagi, nicaya ia juga berubah menjadi hitam. Sehitam cakrawala yang lambat disapa purnama.

Di hamparan bawah, rona warna selain hitam sudah lesap. Hanya tersisa serpih-serpih kecil putih keperakan meliuk-liuk panjang.

’Itukah garis Pantura?’gumam Jack, yang tiada henti melihat pemandangan bawah dari jendela pesawat. Tak lama lagi ia mendarat di Surabaya, tanah kelahirannya yang telah ia tinggalkan tiga tahun silam. Dikatupkannya kedua kelopak mata, sembari menyulam tanya dalam hati. Sudah berapa lama ia lalai mengabadikan senja dan pantainya? Padahal dulu, saban minggu, tak pernah sekalipun ia alpa memotretnya.

Semua potret senja, ia bingkai rapi di laci memori. Kapanpun ingin melihatnya, ia tinggal memerintahkan pikiran bawah sadarnya menembus hyppocampus2 dan menjelajah ruang kenangan di dalamnya. Di ruangan itu, terdapat beraneka rak. Masing-masing terdiri dari lima puluh dua laci yang telah diberi label. Begitu terbaca laci berlabel ’senja’, satu persatu potret senja seakan terpampang di depan matanya yang masih terpejam. Dilewatinya sebuah potret senja di Tanjung Kodok yang memperlihatkan ia tengah bersandar di samping bebatuan besar. Pandangannya lalu tertuju pada potret berikutnya, senja di pantai Kenjeran. Potret itu seperti terlihat hidup, bisa bergerak dan bersuara. Lamat-lamat didengarnya guyuran ombak, berbaur dengan teriakan camar. Mereka seolah bersorak, melihat pertarungan sejumput jingga bergelut dengan raksasa hitam di kejauhan pandang. Sebelum malam datang mengukuhkan siapa sang pemenang, sekelebat bayangan gadis berkulit coklat hinggap di antara remang gulita. Suaranya terdengar lincah dalam berkata-kata.

“Yang kusukai dari laut, ketika melihatnya beringsut surut. Lumpur-lumpurnya adalah tempat berendam yang sempurna. Untuk ikan yang berkubang di dalamnya.”

Gadis itu, kehadirannya selalu memberi makna, di tiap tikungan senja. Beberapa kali Jack nyaris tergelincir di bibir malam. Maghribnya hampir raib. Ia bersyukur, gadis itu selalu menggamitnya pulang ketika senja sudah hilang. Kebahagiaannya makin berlipat, saat ia juga diingatkan agar cepat-cepat menunaikan shalat tiga rekaat.

”Itulah yang kuinginkan dari kehidupan,”tutur gadis bernama Sofie itu. ”Kelak, jika hidupku telah surut, semoga saja diri ini masih mampu memberikan kebahagiaan—”

Tak perlu waktu lama bagi Jack untuk merapat pada Sofie . Dipegangnya kedua tangan gadis itu sambil berkata,”Senjamu adalah senjaku. Surutmu adalah surutku. Alangkah bahagiaku, jika bisa men
emanimu hingga sampai ke masa itu…”

Jack mendesah. Ia sadar kata-katanya mungkin agak berlebihan. Tapi ia tak pernah menyesalinya. Ia memang sudah bertekad diri, untuk mempersunting Sofie secepatnya.

Kini, setelah sebelas bulan berpisah, hasrat untuk menemui gadis itu kembali menggebu-gebu. Sofie dengan rambut ikalnya, teramat kental kenangan yang tertuang bersamanya. Hampir semua jalan di Surabaya pernah mereka lewati bersama. Saat mereka berdua melewatkan hari-hari dengan riang, wajah gadis itu kelihatan makin anggun. Padahal tak satupun balutan make up menyatu di tubuhnya. Pada saat Sofie marahpun, di balik kekakuan wajahnya yang begitu dingin, masih tersimpan keanggunan di binar matanya.

Pikiran Jack sepertinya akan mengembara kemana-mana jika ia tak segera menghentikannya. Dibukanya kembali kedua kelopak matanya. Terlihat kerlip-kerlip lampu kecil yang bertaburan di hamparan bawah. Sepertinya tak lama lagi ia akan sampai di kotanya.

Didengarnya suara pramugari yang menghimbau para penumpang agar mengencangkan sabuk pengaman. Sontak dirabanya tali yang melilit pinggangnya. Ia menghela napas lega ketika mengetahui pesawat benar-benar akan mendarat sebentar lagi. Sebentar lagi, ia juga akan bertemu kembali dengan Sofie.

Tiba-tiba degup jantungnya berdetak lebih kencang. Apakah karena ia tak siap bertemu dengan gadis itu? Buru-buru Jack menepis anggapannya. Ia meyakinkan diri bahwa hal itu disebabkan karena pengaruh pesawat yang akan landing. Mungkin ia terpengaruh berita kecelakaan yang beberapa diantaranya terjadi menjelang landing. Mungkin, ia agak cemas karenanya.

Jack mencoba mengusir kekalutannya dengan melemparkan pandangan kembali keluar jendela. Lampu-lampu yang tadinya kecil, kini terlihat makin jelas. Samar-samar terlihat gedung-gedung bertingkat yang bertabur sinar.

Begitu pesawat mendarat sempurna, Jack baru merasa benar-benar lega. Seketika hilang rasa cemasnya. Degup jantungnya yang tadinya agak kencang, kini sudah berangsur normal. Dengan cekatan ia bangkit dari tempat duduknya, mengikuti penumpang lain yang berbaris di depannya. Tangan kanannya meraih tas koper, sambil lengan kirinya menggamit koran yang belum sempat ia baca. Tas koper itu lantas dioper ke tangan kiri, dan tangan kanannya mulai memencet tombol-tombol HP. Begitu membaca pesan yang tertera di layar, bergegas ia pergi menuju pintu keluar.

Matanya menjelajah kerumunan orang yang bergerombol di pintu kedatangan. Beberapa di antara mereka membawa tulisan yang diangkat setinggi dada. Jack tak berminat mencari namanya di antara tulisan-tulisan itu. Sudah pasti namanya tak akan pernah tercantum di sana.

Pandangannya lalu tertuju pada seorang gadis berkaca mata yang berdiri di antara kerumunan itu. Gadis itu ternyata juga tengah memandangnya.

‘Sofie?’Jack setengah ragu, saat bertatapan sepintas dengan gadis itu. Dadanya mendadak terasa bergejolak, seperti hentakan ombak yang menghantam dinding perahu bertubi-tubi.

Jack mengingat-ingat kembali, kapan terakhir kali ia melihat Sofie. Rupa wajah gadis yang dulu sangat jelas terekam dalam memorinya, kini seakan pudar digerus perpisahan. Baru sebelas bulan! Jack mengeluhkan ingatannya yang tidak setajam dulu. Apakah ini pertanda penuaan? Cepat-cepat ditepisnya pikiran tersebut.

‘Dua puluh delapan tahun adalah usia yang masih sangat-sangat produktif,’hiburnya pada diri sendiri.

Jack kembali memandang gadis di depannya. Lampu penerang yang agak meremang di tempat itu sepertinya malah membuat wajah gadis itu tampak bercahaya. Pada jarak yang makin dekat, barulah Jack yakin seratus persen bahwa gadis itu benar-benar Sofie.

Dulu, Jack tak perlu berlama-lama memandang Sofie. Daya magnet gadis itu selalu membuatnya ingin cepat-cepat merapat. Seperti kutub utara dan selatan apabila didekatkan. Dan sudah tak penting lagi, apakah Jack menjadi kutub utara ataukah selatan. Yang diingatnya kemudian, ia sudah erat memeluk gadis itu, sambil melancarkan dua atau tiga kali kecupan.

*****************************************************************************

Cirrostratus1 :awan putih tipis, seperti tirai.

Hyppocampus2 :Bagian otak yang berfungsi menyimpan memori jangka panjang

105 thoughts on “Sekuel Jack & Joker

  1. saturindu said: wah, mengapa tak ditekuni kembali?!:)*khan banyak tema yang bisa dipilih.Kedamaian, kebahagiaan, dll

    terlalu menyita waktu… ^^masih banyak amanah di dunia nyata yang harus ditekuni… hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s