Mendedah Puisi2 Ramadhan Yang Diperlombakan

Mendedah Puisi2 Ramadhan
Yang Diperlombakan

Kuantitatif dulu, baru Kualitatif

Geliat semangat untuk senantiasa berkarya!

Demikian kesan yang muncul melihat cukup banyaknya peserta yang berpartisipasi di ajang lomba puisi menyambut ramadhan yang diadakan Zahiya cute.

Sejak internet makin menjadi bagian dari keseharian kehidupan, sastra internet atau sastra maya makin bisa dinikmati, diapresiasi dan diterbitkan oleh siapapun. Dengan membuat sebuah blog atau web pribadi, siapapun bisa menjadi sastrawan/penyair/penulis cerita. Mereka tinggal membuat puisi atau prosa, lalu menampilkannya di blog/web pribadi. Dan semua orangpun langsung bisa menikmati karya tersebut. Situasi ini kontras dengan sastra koran, yang memiliki sejumlah aturan prosedural, yang terkadang berbau politik pasar. Pada gilirannya, hanya sebagian karya saja yang akan dimuat di media harian/mingguan.

Ajang lomba via media maya, disadari atau tidak, menjadi salah satu faktor pemicu makin meningkatnya geliat semangat di kalangan para penulis dunia maya. Hadiah bukanlah hal terpenting. Yang lebih penting bagi mereka, semangat untuk berkarya dan berbenah. Semangat untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri.Untuk inilah, tak berlebihan rasanya jika apresiasi setinggi-tingginya patut kita sampaikan pada para penyelenggara lomba yang sudah menyisihkan energi, waktu, dan juga dana. Demi lebih menggairahkan dunia kepenulisan, khususnya di dunia maya.

Meretas Kualitas

Proses kedewasaan, pendidikan dan pengalaman mempengaruhi (bukan menentukan) skala kematangan seseorang dalam hal cipta, karya dan karsa. Dalam berkarya, khususnya dalam hal karya tulis, keseimbangan antara teori dan praktek menjadi sebuah KEHARUSAN, agar karya yang dihasilkan menjadi unggul dan berkualitas.

Pertanyaannya kemudian, sejauh mana sebuah karya—dalam hal ini puisi–layak disebut berkualitas atau tidak?

Disitulah gunanya parameter, yang berguna untuk mengukur sejauh mana pencapaian sebuah karya puisi.

Karena tiap metode dalam kritik sastra mensyaratkan parameter yang berbeda, tulisan ini difokuskan pada pembahasan kritik yang mengacu pada metode paling umum dan mudah dipakai, yakni metode Pengudaran Teks (explication de texte). Dalam metode ini, karya puisi dianalisa berdasarkan segala aspek (parameter) dalam karya sastra itu sendiri. Misalnya: larik, bait, rima, tema, makna, diksi/metafora dan koherensi.

Antara Rima, Makna dan Koherensi

Adanya larik dan bait-bait, dan terutama rima, memungkinkan karya puisi terlihat lebih puitis dan menciptakan kesamaan bunyi yang merdu bila dibaca. Konstruksi demikian, terutama rima akhir, memang banyak dipakai oleh puisi lama. Chairil Anwar misalnya, gemar memakai puisi berima akhir.

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

(Doa-Chairil Anwar)

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah
tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

(Senja di pelabuhan kecil-Chairil Anwar)

Gaya-gaya puisi lama, yang terikat oleh rima, larik dan bait sepertinya masih mendominasi sebagian besar peserta yang berpartisipasi pada puisi2 bertema Ramadhan kali ini. Bedanya, jika Chairil Anwar lugas dalam menyeimbangkan makna-rima, tidak demikian halnya dengan kebanyakan peserta puisi2 bertema Ramadhan. Mereka kerap memaksakan rima di akhir larik. Yang terjadi kemudian, larik dalam puisi-puisi tersebut terasa tidak menyatu dengan larik berikutnya. Kedalaman tema dan makna juga tak terasa.

Dalam puisi modern, rima akhir sebenarnya nyaris tak dihiraukan lagi oleh para penyair masa kini. Dibandingkan rima secara keseluruhan, penyair masa kini lebih mengutamakan kedalaman makna.

Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba

(sajak seorang tua tentang Bandung Lautan Api – WS Rendra)

Simak puisi Rendra di atas. Awalnya, rima pada akhir larik berakhiran ‘a’ semua. Tetapi, makin lama, rima itu menghilang. Terlihat sekali, Rendra tak memaksakan rima, bila memang tak memungkinkannya. Pada larik keenam, kata ’ikhlas’ mungkin masih bisa diganti ’rela’, untuk menciptakan kesamaan bunyi. Namun pada larik berikutnya, rendra tak bisa mengelak. Ia tak bisa mengganti kata ’Inggris’ dengan kata lain yang sepadan maknanya. Dalam puisi itu, Rendra juga menafikkan jumlah larik2 tiap baitnya. Pada bait pertama sebagaimana contoh di atas, ada 14 larik. Di bait kedua, ada 9 larik. Bait ketiga dan seterusnya, terdiri dari 6, 4, 3 dan 7 larik. Apa yang dilakukan Rendra misalnya, amat kontras dengan ‘konvensi’ puisi lama yang mengharuskan larik-larik pada bait berjumlah beraturan.

Dari konstruksi sajak Rendra di atas, terlihat bahwa rima bukanlah segala-galanya. Rima kadangkala malah tak dihiraukan, apabila tak menambah kedalaman makna. Sajak Sapardi dan Joko Pinurbo berikut, malah bebas dari pemakaian rima akhir.


mata pisau itu tak berkerjab menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

(MATA PISAU -Sapardi Djoko Damono)

Ia ingin membeli celana baru buat pergi ke pesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan. Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana namun tak menemukan satu punyang cocok untuknya.
Bahkan di depan pramuniaga yang merubung dan membujuk-bujuknya ia malah mencopot celananya sendiri dan mencampakkannya.
“Kalian tidak tahu ya aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan.”
Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan, “Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?”

(Celana 1, Joko Pinurbo)

Sekarang, marilah kita simak karya-karya beberapa peserta lomba.

Inilah saat kita menumbuhkan keimanan seperti biji..
yang tlah kita tanam sejak kecil dengan rajin mengaji..
Kita rawat dan sirami hingga matang hingga siap saji..
Hingga setelah Ramadhan pun bisa kita uji…

(Sesyahdu Kala Ramadhan Menjelang)

Sangat terlihat, larik kedua dan larik ketiga kurang padu. Belum ada koherensi yang utuh di bait itu. Pemaksaan rima di akhir larik, malah membuat sang penulis membatasi kreativitasnya sendiri. Hal serupa terjadi pada penggalan puisi berikut, larik keempat terasa janggal, dan tak terangkai dengan 3 larik sebelumnya.

Sadarlah seketika beristighfar terbata-bata
Tunduk terpekur terburai air mata
Bergumam resah mengeja doa agar tertata
Tanpa kata tiada bahasa, larut tenggelam bersama hening semesta

(Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan)

Puisi berikut, walau secara umum keempat lariknya sudah cukup naratif, kesan yang hendak ditampilkan terasa kurang padan.



perlahan namun pasti ia mendekat

dengan langkah tegap membuatku tercekat

menatapku lekat

menyapaku dengan hangat

(‘dia’ menepuk pundakku)

Tiga larik awal mengesankan suasana yang tumpang tindih. Perasaan tercekam yang tergambar melalui deskripsi ’tercekat, menatapku lekat’, serasa buyar begitu menginjak larik berikutnya,’menyapaku dengan hangat’. Ketidakpaduan suasana seperti inilah yang membuat puisi kurang bisa dinikmati.

PUISI2 YANG CUKUP BAGUS

Berikut ini disajikan beberapa contoh puisi yang cukup bagus. (tidak semua puisi bagus dalam puisi2 Ramadhan ditampilkan di sini, karena keterbatasan energi sang penulis. Namun saya bersedia memberi kritik personal bagi siapapun yang meminta)

Dan ketika aku menisbatkan diri sebagai lumpur hitam, aku melihat bulan sabit tipis tergantung di ufuk barat.Gemetar. Cinta yang tak dapat dihindar. Romadhon.

(Cinta yang tak dapat dihindar)

Puisi salah satu peserta lomba di atas, meski singkat, menunjukkan keseimbangan antara tema dan makna. Masing-masing katanya terlihat saling berpaut, membentuk sebuah kekuatan makna. Kata ‘aku menisbatkan’ dan ‘aku melihat’ sepertinya akan lebih mengasyikkan jika diganti dengan ‘kunisbatkan’ dan ‘kulihat’. Akan menambah kedahsyatan makna, bila penulis berani memainkan imajinasinya dengan lebih dalam. Misalnya, ‘kulihat bulat sabit tipis menggaris wajahku//”akan kugaris tulangmu jika tak cepat angkat kaki dari situ!”

Tidak banyak orang yang bisa membuat puisi tipologis yang bersandar pada konstruksi bentuk sebagaimana berikut.

Merdu sendu lafadz tersuaR
Awan syahdu meretas gemA
Raudhah kalbu tak pun kelaM
Hadirmu nun, shiyam karimA
Abadi nur sabda muhammaD
Bulan penuh pahla merekaH
Aduhai mu, shiyam ‘azizA
Nantikannya ranah tak sedaN

Marhaban Bibarkatihi
………………………….

Semburatlah kasih menderaS
Yakin Nya tak kilah berdesaH
Apatah bakti sunyi terpatrI
Hempas Iri nan infinitY
Rentakkanku da
n relung jiwA
Untuk Ramadhanku, ya salaM

(Marhaban Bibarkatihi)

Penulis berhasil membuat konstruksi tulisan dari abjad pembuka dan penutup larik. Dan terbacalah temanya, ‘MARHABAN RAMADHAN SYAHRU SHIYAM’. Yang menjadi pertanyaan, apakah dengan dengan demikian puisi ini lantas pantas disebut sebagai puisi yang bagus?
Jawabannya kembali pada parameter mana yang kita pakai. Ibaratnya sama seperti menilai bangunan, apakah cukup dengan hanya melihat tiang pancangnya yang besar dan kokoh lantas kita buru-buru menilai bahwa bangunan itu bagus?

Dilihat dari segi gaya bahasa, beberapa diksi asing serasa berdesingan di telinga awam. Kata ‘raudhah’, ‘suar’, ‘aziza’, ‘infinity’ misalnya, terlihat gagah. Tapi, apakah kata-kata itu memang sudah tepat di tempatnya?

Sama dengan beberapa karya yang terpenjara rima, puisi di atas masih terpenjara pada bentuk yang membuatnya sesak, sehingga kata-katanya di dalamnya kurang memiliki ruang untuk bernapas dengan bebas.


*TITIK BIDIK*

Karya sastra berada dalam garis talik ulur, antara konvensi dan inovasi. Konvensi berkenaan dengan aturan-aturan yang cenderung mengikat dan mengekang. Sedangkan inovasi berkaitan dengan terobosan-terobosan baru dalam berkarya. Tidak jarang eksperimen ini akan melanggar ’konvensi’. Sebuah karya bisa dikatakan inovatif bila eksperimen-ekperimen yang dilakukannya berhasil. Akan lebih baik jika kita mulai membuat eksperimen2 kecil dalam berkarya, dengan tidak terjebak pada bentuk atau tema tertentu. Sudah jamak ditemui, banyak puisi yang cenderung melow-yellow, berkubang di satu tema yang klise dan membosankan.

Untuk menghindari hal ini, mulailah melakukan inovasi kecil-kecilan. Mulailah dengan memilih kata yang tepat (diksi), dengan menyelaraskan makna. Setelahnya, belajarlah menautkan larik demi larik, agar baitnya padu. Bacalah berulang kali puisi yang sudah dibuat. Pangkas kata-kata yang tidak memiliki relevansi dan kedalaman makna. Larik-larik yang belum padu juga mesti direvisi. Setelah berhasil melakukannya, kita bisa melakukan eksperimen berikutnya: bermain metafora dan imajinasi.

Pada akhirnya, Selamat berkreasi untuk semuanya.

****Tulisan ini opini pribadi sebagai pengamat & penikmat puisi. Bukan mewakili suara juri****

138 thoughts on “Mendedah Puisi2 Ramadhan Yang Diperlombakan

  1. saturindu said: Puisi mbak Dian sudah seperti doa :)kl dipoles sedikit, tentu lebih memiliki kekuatan.🙂

    Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namamu(Doa-Chairil Anwar)Ach….tak lekang dimakan jaman…. *saur Om*

  2. saturindu said: Puisi mbak Dian sudah seperti doa :)kl dipoles sedikit, tentu lebih memiliki kekuatan.🙂

    wedeww..guru bahasa indonesia aj belum tentu bisa membuat penjelasan segamblang ini,muanthab mas!*suara pengamat anti-puisi*

  3. saturindu said: Puisi mbak Dian sudah seperti doa :)kl dipoles sedikit, tentu lebih memiliki kekuatan.🙂

    waw, subhanallah. ini learning yang jitu buat para penulis pemula seperti saya. syukran kang ^_^ . Mari terus berkarya !

  4. nanabiroe said: wedeww..guru bahasa indonesia aj belum tentu bisa membuat penjelasan segamblang ini,muanthab mas!*suara pengamat anti-puisi*

    mulai sekarang nana harus pro puisi. Bila tidak, murid2nya ntar malah anti puisi:))Wah, sekarang sudah lumayan banyak guru yang merangkap jadi kritikus:)

  5. kentjur said: Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut namamu(Doa-Chairil Anwar)Ach….tak lekang dimakan jaman…. *saur Om*

    Iya, bangeeett.sederhana bahasanya tapi mengena:)*udah tadi, udah sahur, (nggak) pakai beras kentjur.)))

  6. fybrine said: ternyata cukup rumit ya bikin puisi itu, Suga… 🙂

    Sesuatu kl dilihatin dan dipandangin saja, memang kelihatannya rumit. Tapi kl sudah dijalani, biasanya akan datang kemudahan dan kenikmatan. Plus rasa penasaran yang membuat kita betah mendalaminya:)

  7. pa1pita said: cuma bisa jadi penikmat puisi aja, pun seringnya nggak ngerti ma arti/maksud dari puisinya..hehekalau buatku, bikin puisi itu susah banget, harus nguasai/punya segudang kosa kata plus imajinasi…hmmm susah deh pokoknya :Dtapi jadi bisa sedikit tau ttg puisi dari ilmu yang udah Mas Suga bagi di atas, makasi….🙂

    khan tak ada salahnya mulai sekarang mencoba mereka2 makna/artinya. Pun dalam puisi, yang namanya interpetasi tidak diharamkan. Asal masih memiliki korelasi yg bersifat logis:)*thx juga udah baca*

  8. tintin1868 said: penikmat puisi tahulah arti rima.. kirain rima tuh siapa..😀 lirik2 puitis toh..ku sebener ga gitu suka bahasa puisi, suka salah persepsi.. bersayap2 sih ya..

    Sayap membuat kata bisa terbang kemana2^^puisi sebenarnya sama dengan lukisan, yang mudah dilihat dan ada yang sukar dilihat. Puisi juga begitu, ada yang mudah dimaknai, ada yang sukar dimaknai:)

  9. ekspresilepas said: hehe.. sbenernya bingung itu puisi ato doa mas..makanya di kasih judul doa ramadhan..yang berbau puisi hanya 3 bait awalnya aja, sebelum bismillah..kalo mas inget..🙂

    tak haram kok, puisi berbau doa :)KH Mustafa Bisri sering melakukannya:)

  10. ekspresilepas said: hehe.. sbenernya bingung itu puisi ato doa mas..makanya di kasih judul doa ramadhan..yang berbau puisi hanya 3 bait awalnya aja, sebelum bismillah..kalo mas inget..🙂

    Wew,menarik. Mau dong puisinya dibedah,pasti jdi modalmadul🙂

  11. ekspresilepas said: hehe.. sbenernya bingung itu puisi ato doa mas..makanya di kasih judul doa ramadhan..yang berbau puisi hanya 3 bait awalnya aja, sebelum bismillah..kalo mas inget..🙂

    Ko aku baru baca postingan ini ya Ka ^^lengkap, padat dan jelas….dan saya pun sebetulnya masih harus belajar dari para pakarnya :))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s