(Cerpen) : Selaut Kopi, Seraut Mimpi

Laut sudah berjelaga. Hitam serupa arang menaburi wajahnya. Hanya sesekali kilat cahaya, memercik dupa serupa api. Hanya sekejap, sebelum hilang kembali.

Begitupun hadirmu, kasih. Engkau datang seperti kerlip bintang di mendung langit . Tiada sempat kau gamit rasi, karena gelap terlanjur mengubur mimpi.

Pelantar Air Saga, menghantar dirimu merengkuh pulauku. Langkahmu, terasa gamang kala pertama kali menjejak butiran pasirnya. ‘Seperti berjalan di atas endapan kopi,’sahutmu waktu itu.

Dan hidup kita bukankah memang demikian? Aroma cinta kita, tersemat seperti adonan kopi hangat. Mungkin ditambah sedikit vanilla atau coklat. ‘Sungguh nikmatnya,’ungkapmu, sambil berandai-andai. Jika saja aroma itu bisa kita reguk selamanya.

Sungguh, memang begitu yang kumau. Selalu kurindukan saat-saat kita bercengkerama. Bahkan, saat engkau berbicara seperti sang pengkotbah atau penceramah, sungguh aku amat menikmatinya! Apalagi jika mulai terlantun ayat-ayat suci dari bibirmu. Seringkali kau imbangi dalil aqli dengan dalil naqli.

Ah, mana tahu diriku tentang arti itu semua! Aku hanyalah anak SMA di sebuah pulau terpencil. Sangat mustahil mendapatkan pengetahuan agama layaknya dirimu, lulusan IAIN di tanah jawa. Ilmu yang kami miliki hanyalah segenggam pasir. Dan segenggam itu, makin erat kami genggam, makin sedikit yang tersisa di tangan.

Mungkin itulah bedanya otak orang kota dengan orang desa pedalaman macam kami. Para tetua selalu mengajarkan kami agar sami’na wa atho’na terhadap orang yang lebih berilmu. Karena itulah, aku sungguh-sungguh bersyukur Tuhan mengirimmu kemari, ke desa kami. Untuk mengajar di sini.

Anugerah itu serasa makin berlimpah manakala engkau memberanikan diri datang ke rumah. Engkau berniat melamarku segera setelah aku lulus dari SMA. Sungguh, sebuah berita menggemparkan, tapi sekaligus membahagiakan. Bagaimana mungkin engkau jatuh hati pada gadis sederhana dari pulau kecil, yang bahkan nama pulaunya tak tertera dalam peta Indonesia?

Ah, lupakan saja kasak-kusuk tetangga sebelah rumah. Mereka tentu agak iri mengapa diriku yang dipilih olehmu. Bukannya anak mereka, yang lebih cantik dan lebih kaya. Dan alangkah teduhnya saat kau ungkapkan alasanmu,’ Aku memilihmu karena agama dan keyakinan yang kau miliki.’

Hari itu, kau ajak aku menikmati senja. Kau juga mengajak adikku yang masih duduk di bangku SMP agar turut serta. Bertiga, kita memandang mentari yang mulai berendam di kedalaman lautan. Warna laut, agak merah menghitam. Seperti halnya langit.

‘Aku jadi teringat surat Al-Insyiqaq,’katamu, sambil melihat ke langit yang makin gelap.

‘Ada apa dengan surat itu?’kataku tak mengerti.

Melalui surat Al-Insyiqaq Tuhan ingin mengingatkan kita semua agar istiqomah di jalanNya, jelasmu. ‘Tuhan bersumpah, demi cahaya merah di waktu senja, dan malam apabila telah menyulam kegelapan. Dan rembulan, bila telah sempurna purnamanya. Sesungguhnya, manusia akan melalui tingkat demi tingkat kehidupan.’

Aku dan adikku, manggut-manggut mendengar uraianmu.

‘Seperti rembulan di atas sana,’katamu, sembari menengadahkan wajah ke angkasa. “Ada fase gerhana, ada fase purnama. Seperti laut, ada pasang dan ada juga surutnya. Begitulah kehidupan ini. Kadang kita di atas, kadang kita di bawah. Semua pasti berubah, sesuai dengan masanya. Semuanya memang boleh berubah. Kecuali satu, keimanan kita!’

Maghrib telah berkumandang. Bergegas lantas kita pulang. Sesampainya di rumah, kupinjamkan sepedaku, agar engkau lekas sampai di rumahmu. Sejam kemudian, kuterima berita yang mengejutkan. Sepedamu jatuh ke jurang sedalam tujuh meter. Dan engkau ditemukan dalam kondisi tak sadar.

Dari pelantar air Saga, aku turut mengantarmu menyeberang ke pulau Galang. Dari sana, dua jam kemudian kami membawamu ke rumah sakit Batam. Aku bersyukur, engkau segera siuman setelah tiga jam operasi. Kata dokter, beberapa tulang rusukmu patah. Tapi tak apa, katanya, enam bulan lagi juga akan tersambung kembali. Sempat juga aku khawatir, karena organ dalammu ada yang tergores.

Kekhawatiran itu terkikis setelah aku melihatmu baik-baik saja. Bahkan engkau sudah bisa kembali bersepeda. Tujuh bulan setelah kejadian itu, kita melihat kembali senja. Seperti biasa, bertiga bersama dengan adikku. Saat itulah kau utarakan tekadmu untuk mempercepat kedatangan orangtuamu. Mereka akan kemari setelah aku lulus bulan Juli nanti.

Kabar gembira itu sontak berubah menjadi duka manakala kudengar engkau sakit kembali. Setelah tiga hari dilanda demam tinggi dan wajahmu makin pucat, kami lantas membawamu ke rumah sakit Otorita. Saat itulah baru kutahu perutmu membengkak.

Malam itu aku tak bisa tidur. Niatku untuk mendampingimu terhalang oleh dinding kaca. Hanya dari situlah kami boleh melihatmu. Beberapa perawat terlihat sibuk membantu. Tiga jam kemudian, kami boleh masuk ruangan. Kata dokter telah terjadi pembengkakan di ulu hatimu, akibat tergores tulang rusukmu yang patah tempo hari. Kadar darah merahmu menurun drastis. Mereka menyebutmu menderita Anemia.

Siang harinya, setelah kadar darah merah terus merosot, dokter angkat tangan. Keluargamu, yang mendengar berita itu, lantas meminta kami untuk menerbangkanmu ke Surabaya. Kata mereka di RSUD Dr Soetomo, peralatannya lebih lengkap. Sebenarnya aku sangat ingin menyertaimu. Tapi keluargaku melarang, karena dua hari lagi UAN.

Keesokan pagi, kudengar kabar tentangmu. Kabar itu membuat langitku seolah runtuh. Kakiku seolah melayang, tak menjejak lagi pada bumi. Samar-samar seperti kulihat engkau. Berdiri di ujung senja, melambaikan tangan. Kemudian engkau pergi, diiringi bunyi-bunyi sholawat.

Aku baru siuman saat mendengar suara orang-orang yang melantunkan surat Yaa Siin. Ternyata, mereka mengadakan tahlil di rumahku. Untuk mengiringi kepergianmu.

Kulangkahkan kaki perlahan. Menuju belakang rumah. Kusandarkan kepalaku di tiang penyanggah. Sambil memandang lautan yang terpampang di hadapan. Laut terlihat pasang. Tanpa kilatan rembulan yang memantul di wajahnya, ia terlihat gelap. Begitukah diriku, yang gelap tanpa hadirmu?

Makin lama, laut yang pekat itu kelihatan makin mengecil. permukaannya seperti berayun-ayun dan berpusar pada sebuah poros. Kurasakan diriku seperti berubah menjadi raksasa. Dengan sekali tiup, laut pekat itu terlihat bergelombang. Air pekat itu lalu kutumpahkan sedikit demi sedikit ke mulutku.

“Nikmatnya hidup, tak lebih dari secangkir kopi,” sebuah suara terdengar dari sisi kiri.

Kudapati diriku, duduk bersandar di kursi. Sebelah kiriku duduk lelaki asing. Kami seperti berada di sebuah tempat dengan cahaya remang di sekeliling. Seperti sebuah Café. Sepertinya aku pernah mengenal lelaki itu. Tapi entah kapan.

“Maksudmu?”kuberanikan diri bertanya pada lelaki itu.

“Ada yang bilang nikmatnya kopi tergantung racikannya; tergantung komposisi bahan-bahannya dan siapa yang meraciknya,”tutur lelaki itu. ‘Ada juga yang bilang, nikmatnya tergantung waktu sajinya.’

Aku mengerti apa yang dimaksudkannya. Tiap-tiap orang tentu memiliki selera berbeda. Ada yang suka kopi bercampur coklat atau susu. Ada yang dengan sedikit gula, ada yang bahkan tanpa gula sebutirpun!

“Benar, kopi hangat terasa lebih nikmat!”Ucapku mengamini. Kereguk kembali kopiku yang nyaris dingin.

“Tapi menurutku tidak begitu.” Lelaki itu memandangku.

Aku terkejut. “Oh, iya?”

Lelaki itu mengangguk. “Yup, kenikmatan sebenarnya ada pada lidah k
ita sendiri. Pahit, manis atau asin bukanlah masalah, selama lidah kita bisa menikmatinya.”

“Bukankah agak aneh kalau kopi terasa asin?”

“Begitulah roda kehidupan. Orang yang terbiasa di atas, akan aneh kalau mendapati dirinya di bawah. Itu karena lidah mereka tak terbiasa mengecap yang bawah. Seperti kopi, siapa yang sudi mencecap endapannya?!”

Kata-kata lelaki itu mengingatkanku akan sesuatu. Ah, tiba-tiba aku teringat kembali tentangmu. Bukankah pertama kali dulu, saat menjejak pesisir pasir pulauku, engkau pernah berkata Seperti berjalan di atas endapan kopi?

Semenjak kepergianmu, hidupku serasa begitu. Seperti berjalan di atas endapan kopi. Sepanjang pesisir hanya butir-butir kepahitan yang kujumpai.

“Jika tak sudi mencecap endapan kopi, mengapa tak memesan teh? ”Suara lelaki itu, terdengar lagi. Kali ini lebih keras. “Teh, nyaris tak ada residunya.”

Aku tersentak dari lamunan. Baru kuingat, lelaki di sampingku ini adalah tunanganku. Dua tahun semenjak kepergianmu, ia datang ke rumah. Sebenarnya aku ingin menolaknya, karena bagiku satu-satunya lelakiku adalah dirimu. Tapi orang tuaku memaksaku menerimanya.

Kekasih, semoga engkau merelakanku bersama lelaki itu. Karena bersamanya, aku seperti merasa bersamamu…

* Kisah diangkat berdasar kisah nyata. Special Thanks to : (Almarhum) Abd. Naim, dan Maya. ^^

**Air Saga, nama sebuah tempat di Pulau Abang, dekat Pulau Galang (Batam)

95 thoughts on “(Cerpen) : Selaut Kopi, Seraut Mimpi

  1. octolopieq said: Membuat kopi baru dgn endapan kopi lama? hmm.. gimana rasanya ya? hehe..aku selalu suka apapun yang berbau kopi, meskipun skrg ga boleh terlalu sering ngopi lg.. tapi toh tidak mengurangi kecintaan pada kopi..qiqiqi..

    rasanya? lumayan nikmat. apalagi kl dicampur dengan teh ^^Wah, kl terlalu banyak memang tak baik. dulunya saya suka kopi tanpa gula. Lumayan buat terapi lidah :))sekarang sukanya, sama teh yang tawar2:)

  2. octolopieq said: cerpen ini, tulisan tentang kopi kedua yg aku bca setelah filosofi kopinya Dee,menyentuh, dgn ending yg mengejutkan.. mengalir ringan namun menyelipkan pesan2.^Hidup itu seperti endapan kopi, yg pahitnya kadang enggan kita rasakan, namun sebuah kepastian yg akan berbuah manis ketika kita sabar menjalaninya^***kyaaaa, aku kok jadi ngelantur gini ya hehehe***

    Wah, saya malah belum baca filosofi kopi dee ^^*nanti coba cari2 di toko lagi (selama ini nyari di rimba belum ketemu)wahhh, octo sudah menemukan filosofi baru tentang kopi ^^:)Ayo, tinggal menambahkan alur dan tokoh, pasti akan jadi cerita yang menarik ^^**thx sdh berkenan membaca cerita saya

  3. sahabatlove said: huaaa huaa menyedihkan banget mas…meliuk liuk juga kata2nya,,,jadi inget kemaren sy juga nulis tentang gadis yg ditinggal pergi kekasih..oke dech met aktifitas:)

    thank sudah membacanya. ceritanya tak terlampau menyedihkan, khan?!:)*cerita ‘Aura senja’?:)

  4. adearin said: rin seneng di rumah mbah banyak oom, jd ga mau pulang batam ktnya….tp kl pakdhe mau ajak ke air saga, besok mau cepet2 pesen tiket balik….:))

    kl gitu, ririn sekolah di medan saja, yah?:)enak, bisa ketemu si mbah….^^*Laut agak bergelombang, jadi saya tak pengin dekat2 dengannya ^^:))

  5. kedaimoslem said: sedih ceritanya mas suga…suru cepet nikah aja sebelum sebelum ajal menjemput lagi ^_^

    nggak terlampau menyedihkan, khan?:)* ketika Tuhan mengambil sesuatu dari kita, Dia pasti menyiapkan pengganti yang lebih baik lagi.:)

  6. adearin said: rin seneng di rumah mbah banyak oom, jd ga mau pulang batam ktnya….tp kl pakdhe mau ajak ke air saga, besok mau cepet2 pesen tiket balik….:))

    yahh dek ririn, dibetahin aja deh.. n tungguin sampe tgl 10 aja ya..:)

  7. saturindu said: iya, dibetahin sampai tanggal sepuluh, sepuluh tahun ke depan:)))

    abis baca pageblug trus baca ini jadi dunia awang2 terjun ke bumi.. ah gimana rasanya disamakan gitu ya.. bersamanya seperti bersamamu..😀

  8. saturindu said: iya, dibetahin sampai tanggal sepuluh, sepuluh tahun ke depan:)))

    ketemu dgn orang yg nyaris bersifat sama dg mantan pacar ya Suga… waaah, jarang ada kejadian separti itu ya… :))

  9. tintin1868 said: abis baca pageblug trus baca ini jadi dunia awang2 terjun ke bumi.. ah gimana rasanya disamakan gitu ya.. bersamanya seperti bersamamu..😀

    biar pembaca ngga ketakutan, mbak :)*yah, nggak gimana2….khan yang disamain juga nggak tahu:)

  10. fybrine said: ketemu dgn orang yg nyaris bersifat sama dg mantan pacar ya Suga… waaah, jarang ada kejadian separti itu ya… :))

    Iya, yang ada…biasanya kemiripan itu disengaja, dengan maksud mendekati calon target ^^

  11. saturindu said: “Jika tak sudi mencecap endapan kopi, mengapa tak memesan teh? ”Suara lelaki itu, terdengar lagi. Kali ini lebih keras.  “Teh, nyaris tak ada residunya.”

    Pesen kopi instan capucino aja Mas, ga ada residunya juga :))

  12. fahranza said: Haha…kasian si Om yang itu…di komen mas Suga dapet ga enaknya teyuuuusss :)))

    *wah…yaudah…krn beliau adalah kekasih Fahra, maka mulai sekarang saya akan komen yang bagus2 tentang dia:)))

  13. saturindu said: *wah…yaudah…krn beliau adalah kekasih Fahra, maka mulai sekarang saya akan komen yang bagus2 tentang dia:)))

    Idiihh…gak apa2 lageee.Nyantai aja mas… :))Ery suka kok baca komen ledek2an gitu. Ditempatnya mas Suga suka diledek juga kan ? :))

  14. fahranza said: Idiihh…gak apa2 lageee.Nyantai aja mas… :))Ery suka kok baca komen ledek2an gitu. Ditempatnya mas Suga suka diledek juga kan ? :))

    oh, begitu….syukurlah ^^btw, si om kemana yah? dua hari ini tak nongol2:))

  15. fahranza said: Idiihh…gak apa2 lageee.Nyantai aja mas… :))Ery suka kok baca komen ledek2an gitu. Ditempatnya mas Suga suka diledek juga kan ? :))

    hidup terus berjalan ya mas suga…Allah memberikan pengganti yang juga membawa kebaikan…smuga sang tokoh bisa berbahagia untuk selanjutnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s