Gara2 Pageblug ?

Pukul 23.59 , pasar Keputih terlihat sepi. Bahkan bisa dibilang amat sepi. Tak satupun warung buka. Tak seorangpun terlihat di sana. Padahal, biasanya selalu ada tukang becak yang mangkal hingga pagi tiba. Padahal di pojok pasar, ada pos jaga. Di situ para anak muda biasa memainkan gitarnya.

Biasanya, warung-warung sekeliling pasar masih terlihat ramai, bahkan hingga pukul 03.00.

Sudah seminggu sajian sepi itu terhidang manakala malam datang. Bukan hanya di pasar. Di sepanjang jalan yang biasanya ramai oleh lalu-lalang, mendadak lengang seperti kuburan.

Semua bermula satu minggu sebelumnya. Sebuah ambulans meraung di tengah malam, lalu berhenti di depan rumah seorang warga. Suster lalu mengetuk rumah tersebut dan mengatakan sesuatu yang tak dimengerti penghuni rumah. Pagi harinya, warga tersebut ditemukan meninggal.

Sehari setelah kejadian itu, peristiwa yang sama terjadi lagi. Suster datang dengan ambulansnya. Mengetuk rumah warga terdekat. Dan keesokan harinya, warga tersebut sudah ditemukan meninggal.

Hari ketiga, peristiwa yang mirip di atas terjadi lagi. Kali ini yang keluar dari ambulans bukan suster, tapi pocong! Keesokan harinya, warga tersebut juga meninggal.

Kejadian itu berulang tujuh kali. Tiap hari, ditemukan satu orang meninggal. Yang mengherankan, di tubuh korban tak ditemukan penganiayaan fisik, atau tanda-tanda mencurigakan lainnya. ,

Tak ayal, tujuh kematian berturut-turut itu membuat suasana mencekam. Warga bukan hanya takut untuk keluar malam. Mereka bahkan takut untuk tidur di atas dipan atau di ranjang. Mereka lebih memilih menggelar tikar dan tidur di atas lantai. Menurut keyakinan mereka, cara ini akan menghindarkan mereka dari kematian aneh, akibat ketukan hantu di malam hari.


-o0o-

Berita menghebohkan itu, sempat masuk dalam headline sebuah koran. Disebutkan bahwa desa keputih diteror pageblug. Dalam beberapa mitos, pageblug adalah penyakit epidemik yang menyerang sebuah perkampungan. Seorang nara sumber yang dikutip koran itu bahkan menyebutkan, pageblug adalah penyakit kiriman Tuhan. Untuk menghukum sebuah kaum yang berdosa.

”Ada-ada saja,”seru seorang teman yang tak percaya dengan semua omong kosong koran yang tengah dibacanya.

”Tapi sebuah kebetulan yang amat kebetulan tentunya. Satu hari satu kematian!”tutur teman yang lain.

Saya mengangguk-angguk mendengar obrolan tengah malam itu. Kami berlima biasa diskusi di setiap Jum’at malam di kantin kampus. Rasa ngantuk yang menyergap membuat saya undur diri dari forum. Setelah gagal mengajak pulang bareng salah seorang diantaranya, saya memutuskan untuk pulang lebih dulu dengan berjalan kaki. Jarak kampus ke kontrakan hanya sekitar 500 Meter.

Rasanya agak ngeri juga tengah malam mesti jalan sendirian. Apalagi saya mesti lewat depan kamar kecil jurusan TF. Setiap saya lewat jalan itu, bulu kuduk agak merinding. Tapi rasa kantuk yang menyergap dan tak bisa dikompromikan, membuat saya nekat.

Benar saja. Saat meintas di depan kamar kecil itu, angin tiba-tiba seperti bertiup di wajah. Saya hentikan angkah sejenak, sambil menarik napas. Setelah bulu kuduk sudah tak berdiri lagi, dan saya agak lebih tenang, saya langkahkan kaki kembali.

Seratus meter kemudian, saya melintas di jembatan Elektro. Jantung serasa copot begitu melihat ada kepala manusia terapung di kali. Yang lebih membuat darah berdesir keras, mata orang tersebut terlihat memandang ke arah saya!

Saya lebih kaget lagi karena tiba-tiba terdengar suara air beriak. Saya agak lega begitu mendapati, ternyata itu adalah suara kerbau yang berkubang di kali tersebut. Sekitar jembatan Elektro memang gelap. Tak ada satupun penerangan. Di jalan beraspal tak jauh dari situ, pernah ada tabrakan motor. Antara anak Elektro dan anak dosen. Anak elektro itu adalah teman angkatan saya yang berasal dari kota yang sama. Ia mesti menginap tiga hari di RS, sebelum diperbolehkan pulang. Sedangkan anak dosen langsung meninggal di TKP.

Mata yang memandang saya itu, tiba-tiba bergerak kepalanya. Lehernya kemudian terlihat. Dan tangannya juga. Ia lalu menggosok-gosok punggung kerbau.

Agak lega juga, ternyata ia masih hidup! Mungkin, karena saya sering nonton film horror, jadinya terlalu berimajinasi yang bukan-bukan.

Saya melangkah kembali, dengan pikiran yang masih diliputi tanda tanya. Agak aneh juga, ada orang yang menggembala kerbau tengah malam. Walau demikian, saya tak berminat melakukan penyelidikan. Pun saya bukan detektif Conan, bukan Sherlock Holmes, ataupun Hercules Poirot.

Saya melangkah kembali, di pertigaan dekat jembatan Elektro, biasanya ada beberapa becak yang mangkal malam-malam. Kadang ada satpamnya juga. Tapi ternyata semuanya tak terlihat malam itu. Ternyata, peristiwa yang terjadi di desa Keputih juga berimbas di sekitarnya. Terbukti, kampus terlihat lebih sepi dari sebelumnya.

Saat langkah saya sampai di pertigaan Perumdos (perumahan Dosen), bau harum tiba-tiba tercium. Saya sempat menoleh kiri-kanan, melihat darimana asal muasal bau itu. Pandangan saya langsung mengarah pada sebuah pohon besar yang ada di pertigaan itu. Setahu saya, bunga pohon itu tak menimbulkan aroma wangi. Sudah berkali-kali saya melewati tempat itu. Baik siang maupun malam.

Makin lama bau itu makin menyengat. Membuat bulu kuduk saya berdiri. Tubuh saya agak merinding. Sempat terpikir untuk segera lari sekencang-kencangnya. Tapi, niat itu saya urungkan, begitu sadar bahwa justru lari terbirit-birit akan lebih sia-sia. Karena bisa jadi, saya lari kearah yang salah. Dalam keadaan panik, biasanya pandangan mata akan gampang dikaburkan oleh ’dunia lain’. Inilah, yang tidak saya inginkan. Satu-satunya cara, adalah menghadapinya dengan tenang.

Sialnya, saya malah kepikiran kejadian petang tadi di dekat. Di pinggir jalan dekat pohon itu, saya dan Ivonne membeli dua burger. Sambil menggoreng sosis isi daging, si penjual bercerita tentang kejadian aneh yang menimpa warga keputih. Ia sangat percaya bahwa hantu pocong itu bener-bener ada.

”Teman saya, malah tangannya berlubang. Karena nangkis air lu
dah si pocong.”tutur penjual burger. Ia sendiri, mengaku pernah menjumpai pocong dengan mata kepala sendiri. ”Saat itu maghrib, tiba-tiba ada yang berteriak ’Burger!’ dan minta dibuatkan dua porsi. Setelah menghentikan sepeda dan celingukan, baru saya tahu yang memanggil adalah pocong…”

Kalau petang tadi masih ada Ivonne yang bisa saya tarik-tarik untuk segera pergi dari tempat itu, tidak demikian halnya dengan tengah malam itu, saat saya benar-benar sendirian. Menyeret langkah kaki sendiri untuk segera berlalu dari tempat itu, rasanya sangat berat.

Tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri. Angin berhembus agak kencang. Bau harum itu kembali tercium. Kali ini lebih menyengat. Tubuh saya serasa bergetar. Sepertinya ada sebuah kekuatan luar biasa yang hadir di tempat itu. Saya tak bisa melihatnya, tapi saya bisa merasakannya. Apakah itu pocong? Sundelbolong? Ataukah si Pageblug?

Dari referensi yang lain, saya mendapatkan informasi bahwa pageblug yang menimpa warga keputih sebenarnya bukan dikarenakan hantu. Tapi karena orang berilmu tinggi yang beraliran sesat. Orang itu ingin membangkitkan mayat, agar bisa hidup kembali. Syaratnya, ia harus melakukan pembunuhan sebanyak 30x.

Pocong atau sundelbolong, tak akan bisa membunuh manusia! Kecuali, jika manusianya panik, lantas menyeburkan diri ke kali dan tenggelam. Atau lari ke tengah jalan raya dan tertabrak mobil. Menghadapi mereka, cukup dengan keberanian dan ketenangan. Plus sedikit doa-doa, tentunya.

Demi mendapati kemungkinan lawan yang saya hadapi adalah pageblug, segera saya baca doa-doa keselamatan dan sholawat, ‘Bismillahilladzi laa Yadurru Maasmihi Walaa Fissamaa’i wahual aliyul Adzim. Allohumma sholli ala Muhammad.”

Setelah mengucap doa-doa itu berkali-kali, langkah kaki saya menjadi lebih ringan. Dengan hati yang masih was-was dan cemas, saya langkahkah kaki perlahan namun mantap. “Ya Tuhan, jika malam ini adalah malam terakhirku. Saksikanah, bahwa aku mati karenaMu, bukan karena hantu, pageblug ataupun yang lain.”

Doa-doa itu masih saya baca hingga sampai pertigaan depan Sakinah. Agak lega juga, getaran-getaran itu sudah terasa jauh berkurang. Saya baru benar-benar merasa lega saat membuka pintu kontrakan, masuk kedalamnya dan cepat-cepat mengunci pintu kembali.

-o0o-

Setelah ada 12 kematian—dengan satu kematian tiap hari—ulama’ setempat mengajak warga untuk melakukan istighosah, di masjid yang berjarak 50 meter dari kontrakan saya. Walau demikian, sekalipun saya tak pernah menghadiri acara itu.

Dari kontrakan, microphone sudah terdengar jelas. ’Mungkin ada dosa-dosa besar yang kita lakukan, dan Alloh murka pada kita!’ terdengar sebuah suara, sepertinya suara sang Ulama’.

Ia kemudian membaca doa-doa, dan para hadirin diminta untuk mengikuti bacaannya. Saya, yang saat itu juga menyimak, turut komat-kamit membaca. Biasanya, acara istighosah berlangsung jam sembilan malam hingga jam dua belas. Inilah alasan saya tak mengikutinya, karena jam sebelas, biasanya saya sudah position duluan!

Hari ke-18, istighosah berlangsung hingga pukul setengah dua! Tumben-tumbennya saat itu saya masih belum ngepos. Dari microphone, saya mendengar suara ajakan. Agar warga ikut serta dalam acara tabur bunga, malam itu juga!!

’Maaf, deh om. Saya nggak ikut!’ kata saya, dalam hati. Sambil menarik selimut, yang sempat terlepas tadi.

Beberapa hari kemudian, desas desus mengenai pageblug itu sudah mulai reda. Warga diminta untuk tidak takut lagi. Saya sendiri baru sadar, beberapa hari belakangan sudah tak ada korban lagi. Setelah satu persatu korban meninggal dalam 15 hari, berita kematian sudah tak pernah terdengar lagi. Uniknya, semua korban meninggal adalah penduduk asli desa Keputih. Warga pendatang, seperti mahasiswa atau orang yang baru berdomisili di desa itu, tak satupun yang menjadi korban!

Setelah itu, berita tentang ‘kiprah’ pageblug itu sudah tak terdengar lagi. Berbagai spekulasi muncul. Ada yang setuju dengan pendapat Ulama’ Keputih, bahwa pageblug adalah penyakit kiriman. Dan setelah warga bertobat, penyakit itu sudah tak muncul lagi. Lain halnya orang yang percaya dunia supranatural. Mereka percaya pageblug adalah manusia sesat yang bersekutu dengan ‘dunia lain’ untuk menjajal kesaktiannya. Menurut mereka, pageblug yang ditengarai berasal dari pantai utara Jawa tersebut bisa disingkirkan karena beberapa ‘orang pintar’ saling bahu membahu. Untuk kebenarannya, Wallahu a’lam.

Kesaksian Eko

Saat peristiwa pageblug begitu santer diberitakan, eko dan seorang temannya berniat mencari sosok menghebohkan itu. Hampir semalaman mereka mengitari kampus, berharap akan menjumpai si pageblug. Agak kecewa juga, hingga subuh ia belum mendapatinya. Sepulangnya ke tempat kos, Eko dikejutkan oleh kedatangan guru spiritualnya. Sudah lama ia tak bertemu dengan gurunya, yang hobi nyepi di sebuah lereng gunung.

Belum juga mengucap salam, si Guru langsung mendamprat Eko. ”Tolol, untung saja kamu nggak ketemu sama pageblug itu. Sebab, kalau kamu bertemu, kamu pasti akan mati. Pageblug ini sangat hebat. Dia berseketu dengan alam gaib untuk menambah kekuatan ilmu hitamnya!”

Eko, yang masih heran bagaimana gurunya bisa tahu apa yang ia lakukan, lebih heran lagi melihat gurunya pergi tiba-tiba tanpa permisi. Setelah melewati gerbang kos, gurunya benar-benar menghilang.

Kesaksian Ichi

Ichi adalah teman main catur saya di kampus. Setelah lama tak bertemu, tahun 2004 saya bertemu dengannya di Batam. Kebetulan dulu saat huru-hara pageblug (sekitar tahun 1998), ia juga kontrak di Keputih.

”Seumur hidup, aku nggak pernah percaya yang namanya hantu. Di lab kampus FTK (Fakultas Teknologi Kelautan), beberapa orang—katanya—pernah diganggu sama kuntilanak. Tapi beberapa kali sendirian di lab, nggak ada tuh kejadian aneh satupun. Di tempat-tempat yang katanya angker, aku biasa aja tuh…

”Baru saat pageblug rame, aku baru benar-benar percaya kalo hantu itu ada! Aku ingat, saat itu tengah malam. Sekitar jam setengah satu. Aku berdua sama temanku menonton TV. Ia sudah tertidur pulas, dan aku masih melototin film di layar TV. Waktu itu, kamar kami masih kebuka pintunya.

”Tiba-tiba kudengar temanku mengerang. Ia mengigau. Kubangunkan berkali-kali, tapi ia tetap nggak bangun. Kulihat layar TV. Tiba-tiba siarannya hilang. Hany
a ada titik-titik kecil. Aneh, padahal TV sampai jam tiga juga masih ada siarannya. Padahal, saat itu film juga baru mulai.

Aku baru sadar, sebuah sosok berdiri di pintu. Sosok itu persis sama seperti sosok pocong yang sering terlihat di film-film. Tubuhnya terbungkus kain putih, yang mengikat atas kepalanya. Matanya terlihat berwarna merah, seperti memandangku. Pada saat itu, kurasakan bulu kudukku berdiri. Dengan panik, kubangunkan temanku. Tapi sia-sia. Aku ingin berteriak, tapi tak satupun suara keluar dari mulutku.

”Baru beberapa detik kemudian, penampakan itu tak terlihat lagi. Temanku sontak bangun dan menanyakan apa yang terjadi. Layar TV pun tiba-tiba normal kembali. Terlihat acara film yang tadi sempat hilang…”

165 thoughts on “Gara2 Pageblug ?

  1. meandmydream said: Hahhah………..iya, pastes aja saya dulu bolak-balik ke pasar keputih ga pernah liat om suga.

    sakinah tambah maju yah?:)dulu kecil mini marketnya….sekarang udah diperlebar ke sisi kanan ^^Oiya, ada ayam & bebek plus lele CAK ROSYID…uenakk:))

  2. saturindu said: sakinah tambah maju yah?:)dulu kecil mini marketnya….sekarang udah diperlebar ke sisi kanan ^^Oiya, ada ayam & bebek plus lele CAK ROSYID…uenakk:))

    pas aku disana siy udah lumayan gede, cukup mengobati napsu belanja cemilan dll. Heheehhhehe.Kalao kondisi sekarang mari kita tanyakan pada jeung sofie…Hah Cak Rosyid?? sebelah mana itu?

  3. iliaylia said: Paranormal, sulit sekali di mengerti, apakah benar-benar ada ?

    sebenarnya tergantung kepercayaan ^^dan tidak tiap paranormal itu mumpuni. karena kadang2 ada beberapa dari mereka yang mengeruk keuntungan dari hal2 gaib begitu ^^Mereka itu biasanya menawarkan bantuan dengan menyertakan syarat uang,🙂

  4. iliaylia said: uangnya itu untuk mungkin makan, layaknya bekerja jadi seperti sama dengan gaji.pripun leres nopo dereng ?

    injih, mbak ^^kalau rasional sih tak apa2….dan yang pasti, jangan sampai kita merasa terpaksa, ketika kita mengeluarkan sejumlah tertentu ^^

  5. iliaylia said: uangnya itu untuk mungkin makan, layaknya bekerja jadi seperti sama dengan gaji.pripun leres nopo dereng ?

    pageblug itu kaya kutukan ya..ternyata sering ketemu hal2 gaib di sekitar kampus.. sama disini juga banyak cerita..

  6. saturindu said: Depan sakinah persis😛

    Whoa iya…iya…aku inget.Iya disitu enak. Warungnya itu makin besar. Pas jaman aku baru masuk kuliah, cuma jual penyet tok. Trus pas aku mo lulusan itu, bisnisnya udah merambah ke jual jus + es campur, bubur kacang ijo, plus bakso. Baksonya juga enak. Hehheeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s