(Cerpen) : Dunia Position, Sebuah Jalan Menuju Syurga

Dunia Position, Sebuah Jalan Menuju Syurga

by: Suga Adiswara

Alkisah, di sebuah padepokan sufi, terdapat seorang murid bernama Wara yang memiliki hobi position(=tidur). Hampir dimanapun, ia terlihat mengantuk dan tertidur. Di perpustakaan—saat murid-murid yang lain sibuk membaca buku dan kitab—ia malah asyik duduk di pojok, sambil menekuk kedua kakinya. Tak berapa lama, kepalanya telah rebah di lututnya. Dan terbanglah ia di alam mimpi…

Bila ada waktu senggang, Wara lebih memilih menyendiri. Tempat favoritnya adalah sebuah pohon pisang nan rindang. Di bawah pohon itu, ia biasa menikmati harmoni alam.

Begitu juga siang itu. Setelah Sholat Dhuhur, ia langkahkan kakinya cepat-cepat menuju pohon pisang. Dalam sayup belaian angin, tak lama kemudian matanya pun mulai redup. Ia baru terjaga dari positionnya manakala guyuran air tersiram ke wajahnya.

Seketika ia ingin marah. Demi dilihatnya seorang murid senior telah berdiri tepat di depannya, diurungkannya niat tersebut.

“Dasar bahlul. Pulas banget ente tidurnya!”hardik si senior sambil berkacak pinggang.

“Lantas, kenapa pula tidurku diganggu?”Tanya Wara. “ Pun aku nggak mengganggu siapapun!”

“Eh, sejak kapan ente berani melawan senior? Akan kuadukan hal ini pada guru.”

“Adukan saja, aku tak merasa bersalah.”

Si Senior ternyata benar-benar membuktikan ucapannya. Ba’da Isya, Wara dipanggil menghadap Sang Sufi, guru mereka. Di tempat itu telah berkumpul murid-murid lainnya.

“Guru, saat murid-murid yang lain belajar di perpustakaan,” si Senior memulai dakwaannya. “Wara malah asyik-asyikan tidur di bawah pohon pisang!”

“Benarkah itu Wara?”Tanya Sufi.

Wara menggeleng. “Saya juga belajar, kok!”

“Belajar apaan? Belajar mendengkur?!”tuding si Senior lagi. Sontak terdengar tawa dari murid-murid lainnya.

“Wara, engkau ke sini niatnya mencari ilmu, khan?! “Tanya Sufi lagi. “Bagaimana mungkin mendapatkannya jikalau engkau tak rajin belajar di perpustakaan?”

“Tapi, guru,”sahut Wara kurang setuju. “ Belajar khan tak harus selalu membaca buku. Tak harus di perpustakaan juga.”

“Engkau benar,”ucap Sufi menyetujui. “Lantas, apa yang engkau pelajari di bawah pohon pisang itu?”

“Di tempat itu saya belajar mendengar suara angin, suara daun dan suara ranting yang bergoyang. Saya belajar juga, bagaimana cara menikmati keindahan alam yang ada di sekeliling. Dari situ, saya belajar bersyukur.”

“Bersyukur, ataukah tidur?”Sahut si Senior, yang lantas disambut gemuruh tawa.

Setelah memberi isyarat agar semua murid menghentikan tawa, Sang Sufi kembali bertanya kepada Wara. “Lantas bagaimana engkau bisa tertidur?”

“Dalam rasa syukur tak ternilai, saya untai puja-puji pada Illahi. Hingga tak terasa, saya terlelap setelahnya. Saya baru terjaga ketika wajah saya basah oleh siraman air.”

“Itu balasan yang setimpal, untuk orang yang tidur!”Sahut si Senior, tersenyum puas.

Tak dinyana, Sang Sufi segera menegur si Senior. “Jika orang yang tengah beribadah mendapat balasan begitu, sungguh aku tak tahu balasan apa yang setimpal untukmu!”

Si Senior bertanya, “Maksud guru?”

“Barangsiapa berdzikir lalu tertidur pulas, maka malaikat akan menghitung waktu tidurnya sebagai waktu berdzikir, hingga orang tersebut bangun dari tidurnya.”

Semua murid yang hadir di ruangan itu tertegun.

“Sebagai gantinya, ba’da dhuhur besok engkau harus berdzikir,”seru sang Sufi, memberi perintah pada si Senior. “Niatkan dzikir itu sebagai pengganti dzikir Wara yang hilang, karena engkau sudah mengganggu ibadah tidurnya. Lakukanlah hingga waktu Asyar.”

-o0o-

Sejak kejadian tersebut, tak seorangpun berani mengganggu tidur Wara. Ia dengan leluasa tidur tanpa takut diganggu siapapun. Ia sendiri baru bangun setelah terdengar suara Adzan, yang nyaring bergema di indera telinganya.

Suatu ketika, Wara datang kembali pada gurunya.

“Wahai guru, telah beberapa kali saya bermimpi. Mimpi tentang hal yang sama. Dalam mimpi itu, saya ditunjukkan sebuah jalan menuju Syurga.”

“Benarkah, Wara?!” ucap sang guru tertegun. “Jalan yang bagaimanakah itu?”

“Jalan itu sangat mudah. Tak rumit dan tak berbelit. Saya cukup mendekapkan kedua tangan di dada sembari memejamkan mata. Dan Tuhanlah yang akan membawa saya pada jalan menuju SyurgaNya.”

“Itukah yang ada di mimpimu?”

“Benar, guru. Yang harus saya lakukan, saya tetap berdzikir dan menutup kedua kelopak mata, hingga malaikat membangunkan saya di pintu Syurga!”

Dengan ijin sang guru, Wara lalu melangsungkan ritual. Ia mengasingkan diri di tempat yang agak jauh dari padepokan. Walau demikian, dari pengasingannya sayup-sayup masih di dengarnya suara Adzan. Jika demikian, ia bangkit dari positionnya dan bergegas menunaikan sholat. Setelahnya, baru ia position kembali.

Pada hari ketujuh, karena tak makan sama sekali, tubuh Wara makin lemah. Bahkan untuk menggerakkan tubuh saja ia sudah tak sanggup. Demi menyadari kedua tangannya masih erat mendekap dada, dipejamkannya kedua matanya. Sambil terus mengucap dzikir, ia makin merasa bahwa jalan menuju syurgaNya sudah sedemikian dekat.

Tak lama kemudian, Wara seperti bermimpi. Dilihatnya wajah sang guru dan murid-murid lainnya. Mereka seperti ramai-ramai membopongnya ke suatu tempat. Sesaat, ia ingin berontak dan mengatakan bahwa ia tak ingin diganggu dalam pengasingannya. Dan tak seorangpun berhak mengganggunya. Bukankah sang guru sendiri yang telah mengamini hal ini?

Demi diingatnya bahwa ia mesti terus berdzikir dan memejamkan mata, maka ia membiarkan mereka melakukan apapun terhadapnya. Ia mulai merasa sesuatu dilemparkan ke wajahnya, sesuatu mirip air tapi agak padat. Seperti tanah basah. Sesuatu itu terus menimbunnya hingga ia merasakan gelagap sesak luar biasa.

Tak lama kemudian, sebuah suara keras nyaris membuat kedua kelopaknya terbuka.

“Man robbuka?!”

“Jangan pura-pura tidur, ayo buka mata. Lihatlah dengan siapa engkau berhadapan!”

Hampir saja Wara membuka kedua matanya. Demi diingatnya bahwa ia tak boleh melakukannya kecuali jika sudah ada di pintu Syurga, maka ia mengurungkan niat itu. Dilantunkannya dzikir berkali-kali.

“Dzikirmu tak ada gunanya di sini!” seru sebuah suara, yang melengking keras.

Sebuah benda serasa menghantam dada Wara, nyaris membuat dekapan kedua tangannya terlepas. Punggung dan wajahnya pun juga merasakan hal yang sama. Wara ingin membuka mata dan melihat apa yang terjadi, seraya mengatakan bahwa ia tak layak menerima perlakuan begitu. Tapi demi mengingat mimpi terdahulu, kembali diurungkannya niat itu.

Entah berapa lama suara-suara itu mengumpatnya. Entah berapa lama ia ditendang-tendang dan dipukuli. Ia sudah tak peduli. Yang diingatnya hanyalah dzikir, dzikir dan dzikir…

Hingga kemudian, ia merasakan tubuhnya diikat. Sebuah rantai besar seperti melilit tubuhnya. Ia tak bisa bernapas. Tubuhnya kemudian seperti dihantam sesuatu yang besar, sehingga terasa remuk seluruh dadanya.

Ia kemudian seperti terlempar. Suatu cairan yang panas luar biasa lantas membakar kulit dan dagingnya. Sebuah suara keras menghardiknya.

“Hai, anak adam. Bangunlah. Lihatlah siapa di hadapanmu…”

Wara hampir membuka kelopak matanya, tapi lagi-lagi ia teringat akan mimpi-mimpi terdahulu. Untuk kesekian kali, diurungkanlah niat itu!

“Hai, Wara. Tidakkah engkau takut padaku?!”tegur suara itu lagi. “Akulah penguasa neraka. Buka matamu, atau siksaku akan makin pedih…!”

Tapi tekad Wara lebih bulat. Ia sudah tak memiliki ketakukan apapun. Dalam siksa yang makin merajamnya, dzikir-dzikir diuntainya tanpa berhenti. Makin lama, siksa itu sudah tak dirasakannya lagi. Tubuhnya sudah terasa kebal terhadap segala macam hantaman dan pukulan. Hingga tiba-tiba, tubuhnya terpelanting kencang ke atas. Suara gemerincing memekakkan telinganya.

Sebuah hembusan terasa meneduhkannya. Hembusan itu sayup-sayup seperti dikenalnya.

“Hai, Wara. Ya Habibulloh. Bangunlah sudah saatmu berjumpa sang penciptamu.”

Wara tak bergeming. Kedua kelopaknya masih rapat terkatup. Dalam hatinya, sudah ditekadkan untuk tak terpengaruh oleh godaan apapun.

“Wara,”suara itu kembali memanggil. “Laa Yahtof Wala Tahzan. Jangan takut dan jangan bersedih. Akulah Malaikat, yang bertugas menyambutmu di pintu surga ini.”

Demi didengarnya suara-suara Sholawat di kejauhan, Wara memberanikan diri membuka kedua matanya. Dilihatnya sebuah pintu berwarna hijau—mirip dedaunan pisang—terhampar di depannya. Angin sejuk berhembus dari dalam, menyulam kedamaian tiada tara…

Lalu terdengarlah suara yang meneduhkan, yang memintanya agar segera memasuki pintu itu.

Fadkhuli fii ‘ibadi, Wadkhulii jannatii…Masuklah, dalam jamaah orang-orang yang beriman, dan masuklah dalam SyurgaKu…”

Begitu melihat senyum para bidadari yang menyambutnya di gerbang itu, Wara melangkah dengan mantapnya. Di saat itulah ia benar-benar baru merasa terbangun dari tidur panjangnya…

133 thoughts on “(Cerpen) : Dunia Position, Sebuah Jalan Menuju Syurga

  1. anazkia said: mas, sepertinya saya harus membaca dua kalijadi inget bukunnya Abu bakar Sirajudin (Marthin Ling’s) bener gak yah? tentang wali sudi abad 20

    salah satu pengarang biografi nabi Muhammad?Iya, tapi saya belum familiar dengan nama tersebut

  2. nitafebri said: ceritanya bikin nyess..atau malah ketampar yaa.. :Dtapi setidaknya ngena laah apalagi tutur bahsanya ringan..

    terima kasih Nita telah membacanya.syukurlah, bila mudah mengartikan makna & hikmahnya.

  3. kedaimoslem said: syukron mas suga ngingetin untuk selalu berzikir/doa dalam setiap kegiatan atau amal ibadah utamanya ketika akan position ya biar kalo tidurnya keterusan ga bangun lagi bisa masuk syurga ya amiin..

    terima kasih Ummu ^^Jazakalloh, Mari terus saling mengingatkan dalam kebaikan ^^

  4. vira80 said: Kalau di tempatku cukup mengucap kalimah Laillahaillalloh sebanyak2-nya dg kirim fatehah untuk ambiya wa mursalin sebelum berdzikir. trus jangan sampai tertidur jiwa kita bisa menyatu dg Nya.. Itulah jalan menuju alam lain yg tertutup tabir dosa. :)dzikir dg sangat khusu sampai orng teriak di telinga ga dengar^^

    Wah, sedemikian hebatnya yah…kemampuan dzikir itu, hingga bom meledak saja tak mendengar ^^terima kasih om vira, telah berkenan berbagi kisah. Semoga kita semua istiqomah di jalanNya:)

  5. saturindu said: salah satu pengarang biografi nabi Muhammad?

    Bukan, Mas. Anaz baca bukunya yang tentang Sufi di Lahroe. Ada kalimat yang Anaz suka, “dewasa ini tasawuf adalah sebuah nama tanpa kenyataan, tetapi sebelumnya adalah kenyataan tanpa nama.” Mengutip, wali sufi abad 10 Fusyanji

  6. saturindu said: salah satu pengarang biografi nabi Muhammad?

    mas, kalo sempet coba baca buku ini deh.. “jalan ruhani para wali dalam mencapai makrifat dan kebersihan hati” penulis; muhammad mahmud abdul alim.. penerbit al mawardi prima.. buku lama, th 2003.. tapi isinya bagus.. menurutku siy..🙂

  7. saturindu said: salah satu pengarang biografi nabi Muhammad?

    Tadinya Ery kira Wara itu mas Suga yang hobi ngepos dan pohon pisang.Pengen nanya aja, gak takut tuh duduk dibawah pohon pisang yang rimbun ? Karena suka ada ular.Trus, meskipun ini pastinya murni tulisan mas Suga, apakah mas Suga ga khawatir ada yang niru “bunuh diri” mau masuk surga tersebut ? Karena kalau kita tidak makan dan tidak minum demi berzikir , sama saja menganiaya diri sendiri.Sekian…terimakasih :))

  8. anazkia said: Bukan, Mas. Anaz baca bukunya yang tentang Sufi di Lahroe. Ada kalimat yang Anaz suka, “dewasa ini tasawuf adalah sebuah nama tanpa kenyataan, tetapi sebelumnya adalah kenyataan tanpa nama.” Mengutip, wali sufi abad 10 Fusyanji

    oh, begitu yah ^^kutipan yang bagus….saya malah baru dengar sekarang dari Anaz🙂

  9. ekspresilepas said: mas, kalo sempet coba baca buku ini deh.. “jalan ruhani para wali dalam mencapai makrifat dan kebersihan hati” penulis; muhammad mahmud abdul alim.. penerbit al mawardi prima.. buku lama, th 2003.. tapi isinya bagus.. menurutku siy..🙂

    nanti dicari2, yah ^^terima kasih telah memberikan referensi yang bagus ^^

  10. fahranza said: Tadinya Ery kira Wara itu mas Suga yang hobi ngepos dan pohon pisang.Pengen nanya aja, gak takut tuh duduk dibawah pohon pisang yang rimbun ? Karena suka ada ular.Trus, meskipun ini pastinya murni tulisan mas Suga, apakah mas Suga ga khawatir ada yang niru “bunuh diri” mau masuk surga tersebut ? Karena kalau kita tidak makan dan tidak minum demi berzikir , sama saja menganiaya diri sendiri.Sekian…terimakasih :))

    apa pohon pisang banyak ularnya?wahh…sepertinya enggak. lho…setahu saya sih demikianwah, asyik…kl ada yang jadi anggota (jamaah) position…heueheuheue. jadi bisa ngepos bareng ^^Dibutuhkan kedewasaan berpikir tentunya, untuk menyeimbangkan amal ibadah (termasuk halnya dzikir). Bukankah kita diberikan kebebasan untuk beribadah sesuai dengan kemampuan kita?:)

  11. saturindu said: Bukankah kita diberikan kebebasan untuk beribadah sesuai dengan kemampuan kita?:)

    Boleh…tapi ga boleh menyiksa diri…Kemampuan kita…lebih dari 7 hari ga makan minum…bisa meninggal :)Bebas tapi pake logika🙂

  12. saturindu said: nanti dicari2, yah ^^terima kasih telah memberikan referensi yang bagus ^^

    ini sebuah cerpen imajinasi atau kenyataan om ?rasanya jalan menuju surga itu melalui tahapan ,tidak serta merta bisa langsung menuju surga ..rasa saya agak perlu ke hati hatian dalam membuat sebuah cerpen yang memuatmasalah agama, bukan apa apa , takutnya ada yang menanggapinya dengan salah .entar malah ada yang ikutan seperti yang om ceritain di atas ,karena Rasulullah yang menjadi panutan kita ,tidak melakukan dzikir seperti itu hingga beliau wafat ,dan rasanya belum ada sunah atau pun hadits yang menerangkan perihalber dzikir dengan cara tersebut .kalau ada salah mohon maaf ya om , lagi sotoy mode on nih🙂

  13. bakhsayanda2 said: ini sebuah cerpen imajinasi atau kenyataan om ?rasanya jalan menuju surga itu melalui tahapan ,tidak serta merta bisa langsung menuju surga ..

    kalau om baca benar2 cerita di atas, jalan ke surga yang ditempuh okleh Wara juga melalui proses(tahapan).pertama, ia disiksa di alam kubur (alam barzah), itu bisa diketahui dari pertanyaan : Man robbuka ^^dan bukankah ia juga disiksa di akhirat (di neraka)?hanya saja, wara memang tidak mencoba merasakannya.🙂

  14. bakhsayanda2 said: rasa saya agak perlu ke hati hatian dalam membuat sebuah cerpen yang memuatmasalah agama, bukan apa apa , takutnya ada yang menanggapinya dengan salah .

    bukankah itu resiko makmum?kalau makmum berkiblat pada imam yang salah, berarti ia telah salah memilih jalannya ^^Dalam menjalankan ma’rifat, diperlukan guru atau pembimbing spiritual. Agar orang tak tersesat atau memaksakan diri. Itulah gunanya guru, sebagai orang yang paling tahu tentang kondisi muridnya. (fisik maupun psikis).*pertanyaan ini juga sekaligus menjawab pertanyaan Fahra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s