Wanita-Wanita Penyihir

Tersebutlah semasa kecil, seusai pelajaran agama di sekolah, bergegasku pulang ke rumah. Membawa buku Juzz Amma mungil. Kusergap ayah-bunda dengan selongsong Tanya.

”Siapakah yang disebut dengan wanita penyihir itu?” Kutunjukkan terjemah surat Al Falaq pada mereka berdua.

Katakanlah:

aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),

dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan,
dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

dan dari kejahatan (wanita-wanita) penyihir yang meniup pada buhul – buhul (talinya),

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

“Tadi pelajarannya tentang surat ini?”Tanya Ibu, sembari meraih Juzz Ammaku.

Kuanggukkan kepala.

”Apa kata guru agama?” Ayah ikut bertanya juga.

”Wanita penyihir, adalah wanita yang menggunakan guna-guna, untuk menyakiti dan berbuat jahat pada orang lain.’

Mereka mengangguk mengiyakan.

”Jadi, wanita penyihir itu seperti Mak Lampir?”

Mereka berdua tertawa. ”Yah, seperti itulah!”ucap Ibu.

Menjejak remaja, pada seorang Kyai di Tebuireng kulayangkan pertanyaan yang sama. Setelah mengupas panjang lebar tentang Al Falaq, sang Kyai itu memberi penjelasan yang nyaris sama, sebagaimana kata guru agamaku. Entah mengapa, pertanyaan tentang wanita penyihir itu masih menyita pikiran. Jawaban-jawaban yang diberikan serasa belum memuaskan.

Barulah saat mahasiswa, seorang guru spiritual menguraikannya panjang lebar.

”Kamu tahu kenapa Surat Al-Ikhlas diletakkan setelah surat An-Nas dan Al-Alaq?”

Tanpa menunggu jawabanku, sang guru melanjutkan penjelasannya.

”Karena menjadi ikhlas itu tidak mudah. Engkau mesti berperang melawan kejahatan yang ada di dirimu sendiri. Karena pengaruh nafsumu atau pengaruh bisikan syetan, sebagaimana tersurat dalam An-Nas. Lalu engkau juga mesti berperang melawan tiga kejahatan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Falaq. Ada kejahatan malam, kejahatan wanita penyihir dan kejahatan orang yang dengki.

“Kejahatan-kejahatan itu akan menghadangmu agar tidak dekat dengan Tuhanmu. Mereka justru akan mendekatkanmu pada pintu neraka, yang bahan bakarnya terbuat dari batu dan para manusia!

”Dan berhati-hatilah terhadap wanita penyihir. Karena mereka akan menyihirmu dengan pancaran pesonanya. Sebagian diantara mereka tak memakai black magic, melainkan lipstik! Sebagian lagi menyihirmu dengan kekayaannya. Atau bisa juga pangkat, jabatan ataupun hasratnya.”

Setelah menghela napas sesaat, guru tersebut menjelaskan satu-persatu tentang wanita penyihir yang dimaksudkannya itu.

“Pertama, wanita yang menyihirmu dengan kecantikannya. Ia akan memperdayamu melalui wajah dan tubuhnya. Terkadang, melalui air mata, ia mencoba menggoyahkan keteguhan iman. Tanpa sadar, engkau akan berempati dan melakukan apapun yang dikendakinya. Maka dari itu, jangan mudah terpedaya oleh pesona mata. Karena sesungguhnya, semua itu adalah fana belaka!

“Wanita kedua, adalah wanita yang menyihirmu dengan pangkat, harta atau jabatannya. Beberapa wanita, apabila memiliki status lebih daripada pria, mereka cenderung banyak tingkahnya. Mereka ingin menunjukkan eksistensinya, untuk menunjukkan kekuasaannya. Maka berhati-hatilah terhadap pengaruh jenis ini.

”Ketiga, wanita yang menyihirmu dengan hasratnya. Wanita jenis ini biasanya menggoda lelaki, utamanya yang sudah berumah tangga.Mereka akan memberikan pelayanan yang mungkin tak bisa diberikan oleh istri pada suami. Mereka memberikan kenikmatan dan fantasi. Karenanya, peliharalah penglihatanmu, dan kendalikan nafsumu..!”

”Wanita keempat, adalah wanita yang menyihirmu dengan kata-kata. Wanita ini adalah ular berbisa yang sangat berbahaya. Ia tak mematukmu dengan menggunakan kepalanya. Ia tak melilitmu dengan menggunakan tubuhnya. Tapi, ia akan menyengatmu dengan ekornya.

”Di depanmu ia berkata manis, tapi di belakangmu ia akan menikam. Kepadamu dia berkata A, B, C. Kepada yang lain dia berkata C,D,E,F. Wanita jenis ini adalah wanita yang selalu menyembunyikan kebenaran, hingga banyak yang terhasut oleh ulahnya. Ia tak ubahnya seperti setan, yang mencuri berita dari langit. Membumbui satu kebenaran dengan seribu kebohongan. Akibatnya, di antara pasangan suami istri, mereka saling tak mempercayai. Di antara para sahabat dan keluarga, akan merenggang tali sillaturrahmi, Mereka yang tadinya akrab dan erat hubungannya, berubah menjadi saling saling curiga dan saling benci.

“Wanita jenis yang terakhir, patut engkau waspadai. Karena penampakannya tak kasat mata. Ia mungkin tak cantik, tak kaya, tak punya pangkat. Ia mungkin tak pintar secara intelektual. Tapi yakinlah, ia sangat pintar memutar kata dan pandai bersandiwara.”

Setelah hanya bisa manggut-manggut mendengar penjelasan sang guru, kemudian kub
ertanya,”Adakah cara membendung pengaruh sihir itu?”

”Sering-seringlah membersihkan nurani,”Ucap sang guru. ”Nuranimu adalah cermin kebenaran, yang memantulkan cahaya Illahi. Karena itu, jangan membiarkan debu dosa menempel dan menumpuk di permukaannya. Bersihkanlah segera dengan sering-sering berdzikir.

”Nuranimu adalah alat ukur, yang mengukur besaran kehidupan dengan angka satuan yang dimilikinya. Maka sering-seringlah mengkalibrasinya. Sebab bisa jadi, nuranimu menunjuk angka yang salah, sehingga engkau salah menerjemahkannya.

”Engkau mengira dirimu sudah beriman, padahal sesungguhnya masih munafik. Bisa jadi lidahmu masih tak selaras dengan hatimu ataupun tindakanmu. Engkau mengira dirimu sudah ikhlas, padahal engkau masih saja mengungkit-ungkitnya tanpa merasa bersalah. Engkau merasa sudah pantas masuk surga. Padahal, amal kebaikanmu tak lebih dari sepersepuluh dosa-dosamu…

”Nasehat ini akan mudah engkau lupakan. Tapi pada saatnya nanti, engkau pasti akan mengingatnya kembali…”

Demikianlah. Setelah lebih dari sepuluh tahun melupakan nasehat di atas, saya baru mengingat kembali. Special Thanks to A,~yang kini dihujat banyak orang~yang telah mengingatkan saya akan hal ini. Semoga rahmat Tuhan tercurah atasmu ^^

151 thoughts on “Wanita-Wanita Penyihir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s