(Cerpen) : Namaku Popi?!

“Enak saja!”sergahku pada lelaki di depanku. “Namaku bukan Popi.”

Lelaki itu tertawa. Sejurus kemudian dipandanginya langit-langit cafe. Mengherankan. Tiada pemandangan menarik di sana. Jadi, apa yang ia lihat?

“Justru semestinya kamu bersyukur. Aku berkenan memanggilmu Popi.”Tutur lelaki itu dengan yakinnya. Matanya masih asyik memandang langit-langit cafe. Semestinya pemandangan di depannya lebih menarik. Pfuhh….sungguh menyebalkan!

“Apanya yang disyukuri?!”kataku dengan setengah emosi. “Lagian namaku masih lebih bagus!”

“Bagus apaan? Nama pasaran!”

“Enak saja!”Aku mulai kehilangan kesabaran. Kusebutkan nama lengkapku. Octaria Shifaul Layla. Perlu 14 hari memutuskan nama itu, dari sederet nama-nama lain yang juga bagus. Octaria adalah sumbangan dari kakek, yang ingin memasukkan nama itu sebagai pertanda bahwa akulah cucu kedelapan. Shifaul layla adalah nama hasil kolaborasi papa-bunda. Tentu ada sejarahnya sendiri mengapa mereka menamakannya begitu.

“Gimana nggak pasaran, coba?!”Lelaki itu malah kencang ketawanya. Ia melirikku sejenak, sebelum melanjutkan acara memandang langit-langit cafe itu lagi. “Octaria, October Ceria. Sinetron banget namanya.”
Kurang ajar! Lelaki itu benar-benar menguras kesabaranku. Hampir saja kutumpahkan gelas ke wajahnya. Demi mengingat cara-caraku ini mirip acara sinetron TV, segera kuurungkan niat itu.

“Kamu lahir bulan Oktober, khan?!”lelaki itu memandangku sepintas.

Aku ingin menggeleng. Nyatanya aku mengangguk.

“Hampir setiap kelahiran selalu memantik keceriaan. Jadi oktober ceria adalah padanan kata yang pas,”lelaki itu melanjutkan analisanya. “Sifa berarti obat. Layla atau lail berarti malam. Jadi kelahiranmu adalah pengobat malam bagi orang tuamu yang sekian lama mendamba kelahiranmu.”

“Oiya?”Aku pura-pura terkejut. Apa yang dikatakan lelaki itu sesungguhnya memang benar. Tapi aku ingin menampiknya. “Nggak juga, biasanya yang didamba itu anak pertama. Sedangkan aku, cuman anak ketiga.”

Lelaki itu menggigit bibirnya. Kelihatannya ia tengah berpikir keras. Sebaliknya, aku tersenyum riang. “Itu karena, mereka berharap anak ketiga perempuan. Karena kedua anak yang terdahulu, semuanya laki-laki.”

Kali ini aku yang tersenyum kecut. Dia berhasil menebaknya!

“Terlalu mudah,khan?!”Senyum kemenangan menghiasi bibirnya.

“Apanya yang terlalu mudah?”

“Namamu!”Lelaki itu memandangku. Sejenak. Lalu kembali memandangi langit-langit cafe. “Semua nama pasaran gampang menebaknya. Jadi, enaknya kamu dipanggil Popi aja. OK?!”

“Idih, maksa!”tampikku. lelaki itu sepertinya sudah begitu terobsesi pada Popi, sehingga serampangan memanggil nama orang. Mungkin Popi adalah nama pacar lamanya. Karena satu dan lain hal mereka berdua akhirnya berpisah. Atau bisa juga Popi itu adalah nama wanita idamannya. Cinta keduanya mungkin tak pernah tertaut…

Lelaki itu mendekatkan wajahnya kehadapanku. Ia mengatakan apa maksud panggilan Popi itu.

“Ha? Pohon Pisang?”Sergahku terperangah. “ Dasar lelaki gila!”


-o0o-

Rasa kantukku perlahan memudar seiring aroma harum yang tercium dari hidung. Sebenarnya aku masih ingin bermanja-manja dalam belaian bantal guling tercinta. Tapi, demi hidungku sudah bersin tiga kali, kuayunkan tubuh ke dapur.

Bunda pasti tengah memasak kue, sebagaimana kebiasaannya di hari Minggu. Biasanya kuambil satu kue dan mencicipinya. Tanpa perlu mencuci muka terlebih dulu.

Kali ini semestinya juga demikian. Namun, baru juga kulongokkan kepala ke dapur, sebuah suara menegurku. “Putri teladan. Bangun jam Sembilan!”

Pfuh, Lelaki itu lagi. Siapa yang mengundangnya kemari? Kulihat sepintas, ia tengah memasukkan daun pandan dalam sebuah panci. Ngapain juga dia bantu-bantu bunda?

Buru-buru aku pergi ke kamar mandi. Setelah merasa cukup rapi, kutemui lelaki itu lagi. Bermaksud mendampratnya. Tapi ia sudah tak ada di sana.

“Dia ada di ruang depan.”Sahut bunda yang sepertinya tahu siapa yang kucari.

Di ruang tamu, beberapa makanan terlihat terhidang. Ada koci-koci, kue serabi, pisang goreng dan Nagasari. Kuhentikan langkah ketika kudengar papa berbicara dengan lelaki itu. Agak dongkol juga melihat keduanya terlibat perbincangan akrab.

“Jangan lupakan Belanda. Mereka punya Sneider, Van Persie dan Arjen Roben.”Kata papa sumringah. Demi melijhatku berdiri di tepi pintu ruang tengah, beliau memberi isyarat agar aku duduk di sampingnya. Dari bahasan mereka, sepertinya topik yang tengah dibicarakan adalah piala dunia. Sejak kedua kakakku berkeluarga dan hidup terpisah, tiada yang bisa mengimbangi obrolan papa. Jika sudah berkenaan dengan bola tentunya…

Bahasan itu kemudian beralih ke hal-hal lain. “Oh, pernah ke Thailand juga? Nanti mampir yah, kalau ke sana lagi. Kantor saya ada di Bangkok.”

“Cuma ke Pattaya.”Lelaki itu tersenyum. Senyumnya seperti sengaja dialamatkan kepadaku. “Acara kejuaraan Bridge ASEAN.”

‘Idih, siapa juga yang nanya!’sergahku dalam hati. Lelaki itu kelihatannya terlampau pongah. Pasti papa akan mengacuhkan hal-hal demikian.

“Oiya?! Wah, hebat yah, bisa menjadi atlet Bridge,”terdengar papa berbicara. Nada-nadanya seperti memuji lelaki itu. “Dulu, pas di kapal saya pernah juga belajar Bridge. Sama orang Jepang.”

“Duh, papa. Biasa aja kali!”Kugelayutkan kepalaku di lengan papa. Kepeluk erat tangan kanannya.

“Popi ini bawaannya kadang-kadang manja!”Ucap papa sambil tertawa. Lelaki itu ikutan tersenyum. Sambil mengangguk-angguk senang.

“Ih, papa!”sergahku, sambil melepaskan pelukan. “Kok ikutan manggil-manggil Popi sih?!”

Bunda tiba-tiba muncul dari dapur. Dua baki berukuran lumayan besar dibawa di tangan kanan-kirinya. Ternyata bubur merah dan bubur putih. Kesempatanku untuk merajuk padanya.

“Bunda!”sahutku ke arah bunda yang tengah meletakkan baki di atas meja. “Papa nih, ikut-ikutan saja manggil Popi.”

“Popi khan nama yang bagus juga,”ucap bunda, yang langsung duduk di kursi depanku.

“Lho, kok bunda malah setuju?”Aku langsung pasang muka cemberut. “Tahu nggak Popi itu apa? Pohon pisang. Pohon pisang! Masa’ anakmu yang cantik ini disamakan dengan pohon pisang?!”

“Bukan disamakan, sayang!”sahut bunda. “Itu hanya analogi. Pohon pisang khan banyak manfaatnya. Daun-daunannya bisa dibuat sebagai pengganti sendok, alas makan, tempat bikin kue, dan lain-lain. Buahnya juga serba guna, bukan? Bisa dibuat aneka ragam makanan. Bahkan kulitnya, juga bisa buat makanan ternak. Batang pohonnya juga banyak manfaatnya, khan?!”

“Jadi, panggilan Popi itu sebuah penghargaan, karena engkau begitu berharga di mata orang yang memanggilmu!”

“Nggak mau. Lagian, bunda-papa khan biasa memanggil Layla,”tampikku. Kusembunyikan muka di balik bahu papa. Untuk menghindari tatapan lelaki itu. Tatapannya, seperti orang yang baru menang perang.

“Papamu dulu juga begitu. Beliau tak memanggilku dengan nama asli.”

Papa mengangguk. Tapi aku tak percaya!

“Bener,”ujar papa lagi. “Bundamu ini, kupanggil Mimi. Itu dulu, sebelum kami melahirkan kakakmu yang pertama.”

Bunda langsung menyahut. “Iya, Mimi itu panggilan sayang papa pada bunda. Sebaliknya, bunda memanggil papamu dengan Momo.”

“Momo?!”aku tersenyum geli. “Nama yang aneh.”

“Nama depan papamu khan Mohammad. Ada ‘Mo’-nya, makanya dipanggil Momo.”tutur bunda lagi.

“Awalnya memang agak asing atau aneh.”Sahut papa. “Tapi, begitu sudah terbiasa, kangen rasanya jika sehari tak dipanggil begitu.”

“Iya, lho. Ntar Layla juga pasti akan terbiasa dipanggil Popi.”

“Nggak bisa,”sergahku, menolak usul bunda tersebut. “Bunda, Papa! Bunda-papa khan udah capek-capek mencarikan nama, pakai acara bancakan bubur merah segala khan?!”

“Makanya, bunda sekarang bikin bubur merah. Sebagai prasasti, bahwa nama Layla diganti Popi.”

Oh, my god! Begitu niatnya mereka ini…

Dan sejak itulah namaku berganti menjadi Popi ^^

154 thoughts on “(Cerpen) : Namaku Popi?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s