Dzikir Tiga Tingkat

Tersebutlah pada sebuah Jumat Pagi, dalam tausiyah sebagaimana biasa, guru spiritual kami melontarkan sebutir tanya.

“Bagaimanakah cara kalian berdzikir?”Tanya beliau, memandang murid-muridnya satu persatu.

Agak gelagapan juga pertanyaan itu dialamatkan untukku. Syukurlah saat itu aku tak mengalami amnesia. Jadi masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana cara berdzikir. Zikir yang kulakukan nyaris tak ada bedanya dengan zikir yang dilakukan kebanyakan orang.

“Biasanya saya pegang tasbih, memutar-mutarnya, sambil mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illalloh.”

“Bagus, itu berarti engkau sudah melakukan dua tingkatan Dzikir, yakni Dzikir Lisan dan Dzikir perbuatan.” Sahut guruku.

Senyum langsung terangkum dari bibir, begitu mendapat pujian sang guru. Maklum juga, beliau amat sangat jarang memuji murid-muridnya. Pada kami semua, beliau selalu menekankan bahwa pujian, seringkali melenakan. Bisikan syetan terkadang tercampur di dalamnya.

“Dzikir lisan adalah dzikir yang diucapkan dengan suara. Dzikir ini sangat rentan gangguan,”ungkap guruku, sambil menggerakkan kedua tangannya pada daun telinganya. “Tak percaya? Coba saja sajadah kalian diganti Dengan buku atau majalah. Masihkah bibir kalian mengukir dzikir? Coba jika didepanmu tersedia Mic atau musik, berdzikirkah engkau? Atau justru berkaraoke ria?”

Pfuhh, Kalau yang terakhir ini benar-benar merupakan sindiran. Kedua pipiku serasa tertampar.

Guruku kembali bertanya. “Sekarang, kalau tasbihnya diganti sendok, apakah tanganmu tetap berdzikir?”

Pertanyaan yang aneh. Bagaimana mungkin berdzikir, bila tangan tak memegang tasbih? Kalau tangan memegang sendok, itu berarti waktunya makan, bukan?! Kubayangkan diriku yang kalau lapar, tak pakai acara ba-bi-bu, langsung tancap sendok-garpu ke piring. Sejurus kemudian, mulutku sudah penuh makanan. Tapi, kadang-kadang aku masih juga berdoa, sih…

“Dzikir kedua adalah dzikir perbuatan. Kita sering melakukannya dengan memutar butir-butir tasbih. Pertanyaannya, bagaimana jika tasbihnya diganti dengan cangkul? Masihkah kita berdzikir saat mengayunkan cangkul ke tanah? Bagaimana jika tasbih kita diganti mouse dan keyboard? Masih ingatkah kita pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah?”

Semua murid menundukkan muka. Sepertinya mereka malu. Bahkan untuk sekedar menegakkan kepala. Sang guru melanjutkan penuturannya…

Jadi kalian hanya mengingatNya jika tengah memegang tasbih? Jadi, Tuhanmu ada dalam butiran tasbih? Jadi kalian hanya mengingatnya jika kalian berada di rumahNya?! Alangkah piciknya…

“Dunia dan seisinya, langit-Bumi dan segala apa yang ada di antaranya, semuanya adalah milikNya. Dan apa yang dimilikiNya, itulah rumahNya. KekuasaanNya, meliputi seluruh penjuru langit dan bumi.

“Dzikir yang ketiga, adalah dzikir tersembunyi. Orang lain tak akan pernah tahu, apakah engkau berdzikir ataukah tidak. Dzikir ini letaknya di dalam hati, mengisi setiap ruang lapang di dalamnya. Lantas ia menghembuskannya seperti udara. Ia lalu bersenyawa dalam darah dan mengalir ke seluruh penjuru nadi.

“Maka senantiasalah berdzikir dengan cara ini. Karena ia mampu menyegarkan pikiranmu yang lelah. Akan ia bersihkan segala karat yang mengotori hati dan pikiranmu. Akan ia usir setiap desir gundah dan resah. Dalam dirimu, tiada akan pernah bersemayam rasa iri, benci ataupun sakit hati..

“Marilah, marilah kita selalu berdzikir. Di setiap tarikan napas–dalam hati kita–marilah kita serukan nama sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ketika menghembuskannya, mari kita barengi dengan rasa syukur…”

Ingatlah kepadaKu, Niscaya Aku akan mengingatmu.

Bersyukurlah, dan janganlah menjadi kufur

100 thoughts on “Dzikir Tiga Tingkat

  1. saturindu said: sami2..Mogi2 panjenengan kedhah dipun paringi berkah kaliyan hidayah saking pengeran. ^^

    amin.., matursuwun malih kangge pendonganipun. mugi mugi panjenenganipun Paman Patih Haryo Suga ugi dipun paringi berkah, pinaringan sehat lan enggal pikantuk garwa …hehehe…

  2. saturindu said: sami2..Mogi2 panjenengan kedhah dipun paringi berkah kaliyan hidayah saking pengeran. ^^

    Insya Alloh setiap hembusan nafasku ada nama-Nya..Dzikir tak harus di lisan dan perbuatan tetapi di hati di otak sll meng agungkan – Nya🙂

  3. vira80 said: Insya Alloh setiap hembusan nafasku ada nama-Nya..Dzikir tak harus di lisan dan perbuatan tetapi di hati di otak sll meng agungkan – Nya🙂

    perlu menimba banyak2 ilmu, nih..sayapada hajjah ustadzah Vira ^^

  4. iliaylia said: amien , dzikirku pakai jagung mas suga, nunggu dikirimi tasbih

    Kok pakai jagung?jagung khan juga bisa dirajut menjadi butir2 dzikir:)yang terpenting adalah niatnya….keikhlasan dan kekhusu’annya:)

  5. puntowati said: Tak terasa saya sering berdzikir dong….terima kasih!

    Wah, begitu yah?! saya perlu menimba banyak2 ilmu dari mbak Pun bila demikian ^^:) Dengan selalu menyeru namaNya, hati kita akan menjadi tenang

  6. saturindu said: “Dzikir yang ketiga, adalah dzikir tersembunyi. Orang lain tak akan pernah tahu, apakah engkau berdzikir ataukah tidak. Dzikir ini letaknya di dalam hati, mengisi setiap ruang  lapang di dalamnya. Lantas ia menghembuskannya seperti udara. Ia lalu bersenyawa dalam darah dan mengalir ke seluruh penjuru nadi.

    Icha juga lebih sering dengan cara ini mas Suga. Lebih meresap dan khusyuk🙂

  7. saturindu said: “Dzikir yang ketiga, adalah dzikir tersembunyi. Orang lain tak akan pernah tahu, apakah engkau berdzikir ataukah tidak. Dzikir ini letaknya di dalam hati, mengisi setiap ruang  lapang di dalamnya. Lantas ia menghembuskannya seperti udara. Ia lalu bersenyawa dalam darah dan mengalir ke seluruh penjuru nadi.

    Subhanallah…Maturnuwun sharingnya mas SugaDuh saya kesentil ini

  8. saturindu said: “Dzikir yang ketiga, adalah dzikir tersembunyi. Orang lain tak akan pernah tahu, apakah engkau berdzikir ataukah tidak. Dzikir ini letaknya di dalam hati, mengisi setiap ruang  lapang di dalamnya. Lantas ia menghembuskannya seperti udara. Ia lalu bersenyawa dalam darah dan mengalir ke seluruh penjuru nadi.

    satu langkahmu mengejar dunia, makaseribu langkah dunia akan berlari meninggalkanmu,,, tetapi satu langkahmumengejar Tuhan, maka seribu langkah Dia datang menghampirimu.

  9. pa1pita said: hahahahaha….ada yang lagi kena amnesia sepertinya😀

    habis bertasbih, jadi ingat kembali…rupanya di tempat mas Anton, saya memberikan keterangan tentang sakit flu itu ^^

  10. saturindu said: habis bertasbih, jadi ingat kembali…rupanya di tempat mas Anton, saya memberikan keterangan tentang sakit flu itu ^^

    Syukurlah udah ingat… :-)Emang harus berzikir dulu yah? ^^

  11. aryasist said: Icha juga lebih sering dengan cara ini mas Suga. Lebih meresap dan khusyuk🙂

    Syukur alhamdulillah ^^semoga Alloh swt senantiasa memberkati setiap langkah2 Icha dan keluarga ^^

  12. annilasyiva said: Subhanallah…Maturnuwun sharingnya mas SugaDuh saya kesentil ini

    Alhamdulillah ^^terima kasih telah berkenan singgah…Cepat atau lambat, kita pasti akan kembali kepadaNyadengan sukarela ataupun terpaksaDan alangkah baiknya jika kita mendatangiNya dengan sesungguh rela ^^

  13. gadisamnesia said: satu langkahmu mengejar dunia, makaseribu langkah dunia akan berlari meninggalkanmu,,, tetapi satu langkahmumengejar Tuhan, maka seribu langkah Dia datang menghampirimu.

    *mangggut2…menyimak tausiyah senja ustadzah amnesia ^^

  14. bundel said: Sekali lagi sangat berteriima kasih. Semoga amal-ibadah adhimas mendapat pahala yang banyak.

    Amiin..terima kasih mbak Julie ^^Doa yang sama juga say haturkan pada mbak Julie sekeluargajakakalloh khoiron katsiiro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s