(Cerpen) : ^^Harmoni Dua Hati^^

Juliette, Juni semestinya mempertemukan kita dalam perjamuan masa. Berbulan-bulan setelah menyamakan frekuensi, akhirnya terjadi juga resonansi di antara kita. Alangkah senangnya hati dan jiwaku, mendengar kabar bahwa kita akan menyatu. Setelah berlembar-lembar harapan kusematkan di langit doa, sepertinya pinta kita dikabulkan olehNya.

Tak kau lihatkah sayap-sayapku yang kini tumbuh semakin kuat dan siap terbang melalang jarak yang selama ini menjadi penghalang? Pertemuan pertama kita, sungguh tak sabar aku menantikannya…

Ruang maya telah mempertemukan kita kali pertama. Memicu pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya. Cerita-cerita seputar dirimu, mengalir bersama butiran air matamu. Aroma duka dan kepahitan seperti tiada henti melingkupi perjalanan hidupmu. Tapi, bukankah aku tak pernah mempermasalahkannya?

Juliette, kebahagiaan tertinggi adalah merajut hari-hari bersama sang tercinta. Sungguh, ingin kulalui sisa-sisa hariku bersamamu. Bersama-sama, kita akan menghatur syukur pada sang pencipta. Atas segala berkah, rahmat dan hidayahNya pada kita.

Alangkah terperanjatnya, dini tadi kudapati statusmu di ruang maya. Engkau tak lagi single sebagaimana biasa. Tertera lelaki lain, sebagai suamimu. Sungguh, aku tak mengerti apa maksud ini semua. Yang lebih tak mengerti, engkau memilih bungkam dan tak menjawab pertanyaan. Selalu begitu. Itulah caramu untuk memangkas percik-percik tanya yang bisa memicu konflik.

Bila sebelumnya aku tak pernah mengejar jawaban, tidak demikian halnya kali ini. Aku begitu gigih mempertanyakan semua kejanggalan. Ketika engkau masih memilih tak menjawabnya, bukankah wajar jika lantas kubertanya: ’Masih seriuskah engkau membina hubungan?’

Yang membuatku terperangah, dengan ringannya engkau berkata, ’Bukankah aku tak pernah mengaminkan hubungan di antara kita?!’

Juliette, andai saja engkau tahu betapa berkepingnya hatiku…

-o0o-

Sayang, sungguh kutahu betapa besar rasa cintamu padaku. Usah bertanya sebaliknya, karena aku juga akan mengatakan hal yang sama.

Aku tahu, engkau pasti tak akan percaya bila mendengar penuturanku ini. Akan banyak tuntutan pembuktian atas kata-kataku. Karenanya, cukup kesematkan kalimat itu dalam hati. Biarlah waktu yang selalu mengamininya!

Aku tahu, engkau sungguh berharap berjumpa denganku. Angan-anganmu telah tumbuh menjadi sayap, hingga harapan itu tiada kuasa kusergap. Betapapun, aku telah berusaha membendung laju harapanmu, agar tak makin melambung tinggi.

Tentu saja aku tahu bahwa engkau akan menerima apapun keadaanku. Aku tak pernah menyangsikannya. Bukan, bukan itu yang membuatku sangsi…

Telah kuceritakan padamu, pelangi hari-hariku tidaklah berjuntai warna-warni, sebagaimana manusia lain. Pelangiku hanya berwarna kelabu, dengan sedikit warna kehitaman di tepiannya. Telah berkali-kali kuterjatuh. Dari satu pelukan ke pelukan lain. Betapapun aku tak ingin mengulang kepahitan demi kepahitan, peristiwa serupa selalu saja menerpa…

Hingga ketika kucukupkan itu semua, telah kutekadkan dalam hati. Bahwa tak ada lelaki yang akan bisa menyentuhku lagi.

Aku tak menyesal menggenggam tekad itu hingga kini. Bahkan ketika aku makin mengenalmu, smakin kuat kugenggam tekad itu. Bukan aku tak percaya padamu. Bukan pula aku takut engkau akan menyakitiku, sebagaimana lelaki-lelaki sebelumnya. Bukan, sungguh bukan demikian.

Kekasih, engkau terlalu suci untukku. Dan sungguh tidak layak bagiku menjejakkan diri di serambi hatimu. Perempuan baik hanya untuk lelaki baik, dan perempuan kotor hanya untuk lelaki kotor. Sungguh, engkau berhak mendapat yang lebih layak daripada sekedar aku, yang penuh noda. Aku yakin masih banyak wanita baik-baik yang lebih bisa membahagiakanmu. Dengan salah satu dari mereka, engkau bisa mewariskan keturunan; mengajarkannya cinta dan kasih sayang. Kebahagiaan itulah yang tak bisa kupersembahkan padamu, sebagaimana kebahagiaan malam pertama, yang sudah direnggut paksa oleh lelaki durjana.

Kekasih, kutahu hatimu berkeping-keping kala melihat status mayaku. Tiba-tiba aku telah menjadi istri dari orang lain. Sungguh, aku tak tahu lagi bagaimana mesti menolak keinginanmu yang begitu menggebu. Apa gunanya merangkai pertemuan yang hanya akan menghadirkan penyesalan? Engkau seperti memaksaku datang ke tempat suci dengan tubuh penuh kotoran. Bukankah hal itu sungguh tak pantas dilakukan?

Kekasih, telah kucukupkan hubungan kita hingga di sini. Tapi percayalah, doa-doa kebahagiaan selalu kuhaturkan untukmu.


121 thoughts on “(Cerpen) : ^^Harmoni Dua Hati^^

  1. saturindu said: iya, om living…silakan ^^udah seminggu bolos…ayo, keliling2 postingan saya…

    Hmm, jadi status didunia maya itu hanya salah satu kiat untuk menolak si cowok ?Kok bisa gitu ya, bukankah sudah di bicarakan sejak awal hubungan ? ( Keliatan dari tulisan si cowok )

  2. saturindu said: iya, om living…silakan ^^udah seminggu bolos…ayo, keliling2 postingan saya…

    Selalu ada alasan di balik semua tindakan.. hmm, apakah ini termasuk salah satu cra untk berkorban?🙂

  3. aryasist said: Hmm, jadi status didunia maya itu hanya salah satu kiat untuk menolak si cowok ?Kok bisa gitu ya, bukankah sudah di bicarakan sejak awal hubungan ? ( Keliatan dari tulisan si cowok )

    Itulah yang hendak diungkapkan. Bahwa, setiap orang memiliki persepsi masing-masing terhadap hubungan mereka. Bias informasi terkadang malah menambah klaim sepihak.Apa yang diklaim cowok, belum tentu itu sebuah kebenaran.

  4. octolopieq said: Selalu ada alasan di balik semua tindakan.. hmm, apakah ini termasuk salah satu cra untk berkorban?🙂

    sepertinya demikian. Si cewek pasti punya motif tertentu, kenapa ia bertindak seperti itu.Thx, octa sudah mampir kemari ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s