Gara2 Nama Panggilan

Kami bertiga : Aku, Jay dan Hans memiliki sahabat karib. Indri namanya. Perawakannya agak subur, berkaca mata minus dan berkulit sawo matang. Nyaris secara fisik tak ada kelebihan yang nampak pada dirinya. Paham-paham body guitar pada saat itu amat merajalela. Jadi cukup wajar kalau kami bertiga lebih tertarik memandangi yang lain, daripada melihat Indri yang mirip kendang itu….upsss.

Walau begitu, disela-sela waktu senggang, kami bertiga biasanya bergantian ngegombalin indri.

“Indri, sebenarnya dari dulu aku sungguh menyukaimu, lho!”

“Udah deh, mas.”sahut Indri sambil tersenyum masam. “ Nggak meyakinkan, tahu nggak, sih?!”

“Iya, ndri. Sebenarnya kamunya saja yang tak bisa membaca kedekatan kita!”

Please,deh,..kalau nggak ada kerjaan aja kalian pada ngumpul di sini. Coba kalau ada mbak-mbak yang berbodi biola itu.,..”

Dengan hubungan pertemanan yang amat kental dengan aroma gurauan, amat tidak mungkin jika salah satu diantara kami ternyata benar-benar menyukai Indri.

“Jay, ya ampuun.” Kugelengkan kepala beberapa kali. “Serius kamu sama Indri?”

Begitu Jay mengangguk, sontak meledaklah tawaku. Entah berapa puluh menit aku terpingkal-pingkal, tak menghiraukan muka Jay yang masam. Setelah itu, kukabarkan berita heboh itu pada Hans. Tapi malam itu, Hans tak ada di kamarnya.

Keesokan harinya, perutku terasa kaku. Hampir semalaman aku masih tenggelam dalam tawa. Bagaimana mungkin Jay menyukai Indri yang bukan cewek idamannya? Indripun, tentunya sudah sangat-sangat paham kelakukan Jay yang cenderung playboy dan berselera tinggi. Jadi apakah mereka berdua hanya main-main?

Begitu melihat Hans saat berangkat kuliah, kukabarkan berita menghebohkan itu. Sambil meminta pendapatnya. Apakah kedua orang tersebut bener-bener jadian, atau cuma jadi-jadian…

“Eh, tahu nggak. Jay sekarang sudah sama Indri, lho!”

“Iya,”kata Hans setengah acuh. Nadanya terdengar dingin, seolah-olah dia memang telah mendengar kabar itu.

“Oh, udah tahu yah?!”

Begitu Hans mengangguk, aku tak berminat lagi membahas hal tersebut.. Ah, ternyata cepat benar berita itu tersebar…

Tiga hari berikutnya, aku dan Hans bertemu di Lantai III Rektorat. Saat itu kami tengah mempersiapkan acara penyambutan kedatangan Gus Dur yang diundang sebagai pembicara seminar Budaya. Hans mendekatiku sambil berbisik…

“Kamu kok nggak bilang-bilang kalau Indri-Jay jadian?!”

“Lha, aku khan dah bilang tiga hari lalu!”Kupegangin kepala belakang Hans, dan mendorongnya ke depan. Hal itu biasa kami lakukan kalau mendapati salah seorang di antara kami bertingkah konyol.

“Ah, nggak pernah,” Sekarang gantian Hans yang mendorong kepalaku dari samping.

“Gak bisa, gak bisa, sini dulu!” kupegangin tengkuk Hans, dan mendorong kepalanya ke bawah tiga kali. Saat itu kubayangkan diriku yang tengah mendrible bola basket.

“Oke, kapan bilangnya!”Muka Hans memerah.

Kukatakan 3 hari lalu bahwa ‘ Jay sudah sama Indri’. Menurutku berita ini sudah cukup menjelaskan hubungan mereka berdua…

“Emang Jay ngapain sama Indri?”

“Ya, ngapain lagi coba?”kataku, setengah kesal.

“Ya nggak tahu. Kukira pagi itu Jay udah sama Indri. Udah jemput, mungkin…”

“Dasar oon…”

“Makanya, kalo ngasih info itu yang jelas…” Hans mencengkeram lengan kananku. Lalu ia gantian yang mendribble kepalaku berkali-kali. Ia, yang sepertinya masih ‘shock’ pada berita tentang Jay&Indri, kemudian tertawa terpingkal-pingkal. “Oh, bejat…bejat. Dasar bejat!”

Setelah peristiwa itu, tiap kali Hans dongkol atau merasa konyol terhadap ulahku, pasti dia berseru,’Dasar bejat…’

Sejak itulah panggilan bejat sudah amat melekat padaku, sehingga sudah teramat susah untuk melepaskannya…


-o0o-

Tiga tahun sebelumnya…

Di asrama mahasiswa, aku berkenalan dengan Yulis berkenalan. Kami sama-sama penghuni baru asrama.

“Siapa namamu? Aku Mupet!”

Cara Yulis yang super confidence mengenalkan nama yang bukan nama aslinya, membuatku terheran-heran. Ternyata ‘mupet’ adalah nama populernya semenjak SMA.

“Udah, panggilanmu Casper aja, yah?!”kata Mupet, sambil menuliskan nama casper di sebelah namaku.

Semua penghuni baru asrama memang diwajibkan para senior untuk membuat nama panggilan yang unik dan lucu. Nama itu secepatnya sudah harus tertempel di dinding asrama, agar semua senior bisa membacanya. Mupet, yang saat itu menjadi wakil para junior, kemudian berinisiatif menuliskan beberapa panggilan untuk teman-teman baru kami. Dituliskannya nama baru : Cenil, Comot, condet, Lewong, dan Pithik.

Lucu juga nama yang dibuatnya. Walaupun kami berdua tak begitu tahu semua artinya. Peduli amat!

“Nama Hans enaknya diganti apa, yah?”

Tiba-tiba aku punya ide. “Gimana kalau babi atau celeng? Lubang hidungnya khan besar, trus kalau jalan gak pakai tengok kanan-kiri.”

Mupet tertawa terpingkal-pingkal. “Wah, jangan babi. Terlalu kasar. Kasihan, itu anak orang. Lebih baik diperhalus dikit.”

“Ada ide?”

“Gimana kalau genjik?!”

“Genjik?!”

“Iya, genjik itu anaknya celeng atau babi.”

Meledaklah tawa kami berdua.

“Kalau ada yang complain, bilang aja…genjik itu gendeng menjijikkan….”

Dan, semenjak itu, jika nama Hans disebut, sangat jarang orang yang tahu. Tapi begitu menyebut nama genjik, hampir seisi kampus mengenalnya.


-o0o-

Ismail anak kelautan, suatu hari pernah menanyakan asal muasal nama saya yang dipanggil bejat. Apakah karena orangnya memang bejat ataukah itu hanya sebuah panggilan ngasal aja. Setelah saya jelaskan dua sekuel di atas…

“Ah, kalau aku sih, layak disebut bejat beneran,”ungkap ismail, rada murung.

“Oiya? Kok bisa?”

Ismailpun bercerita masa kecilnya yang tak seindah anak-anak lain. Sebagai orang tak mampu, ia sering terbawa oleh pergaulan sekitar yang kurang agamis. Saat lapar mendera sudah tak bisa ditahannya, dan ia tak punya uang untuk makan, dengan terpaksa ia mencuri.

“Yah, kalau sudah sangat terpaksa, mau gimana lagi…”ucapku, mencoba berempati padanya. Sebenarnya saya ingin berkata, ‘lebih baik meminta daripada mencuri’.

“Tahu nggak, jat. Dimana aku curi uang itu?” Ismail mendekatkan wajahnya ke hadapan saya. Begitu aku menggeleng, ia meneruskan,”uang itu kuambil dari kotak amal di Masjid.”

Sebenarnya saat itu saya ingin berteriak,’Ya ampuuun…mail!’ tapi akhirnya yang keluar dari bibir saya,”Menurutku, malaikat pasti maklum. Lagian, sumbangan itu khan hakekatnya juga untuk orang yang tak mampu, khan?!”

Ismail mengangguk. Perasaan bersalah sepertinya amat menghantuinya.

“Udah, yang pasti Tuhan Maha Pengampun.”Hibur saya, mencoba menenangkan kegalauannya.

“Ada lagi, Jat. Saat remaja, aku terlibat pemakaian obat-obatan terlarang.”

Dalam hati saya berseru, ‘pantes saja!’ Kadang-kadang kalau berbicara dengan Mail, ia seperti kehilangan focus. “Tapi enggak lagi, khan?!”

“Sekarang udah enggak.”sahut Mail. “Dulu, hampir tiap hari nyimenk.”


“Nyimenk?”

“Istilahnya nyedot ganja,” jelas Mail. “Awalnya, dulu selalu dikasih sama teman. Begitu mereka gak ada, dan aku makin ketagihan, sedangkan gak punya uang…”

“Lalu kamu nyuri lagi?!”

Mail mengangguk. “Tahu khan dimana aku mencurinya?!”

“Dimana, di kantor?”

Mail menggeleng. “Aku mencurinya dari kotak amal masjid.”

Sontak saya berseru, “Ya, ampuuuuun, Chimenkkk…!!!”

Sejak itulah si tinggi kurus berambut gimbal tak lagi dipanggil Ismail atau Mail. Ia mendapat julukan baru yang masih populer hingga kini : Chimenk!

120 thoughts on “Gara2 Nama Panggilan

  1. saturindu said: Begitulah…nggak seru khan?:)

    asal muasalnya seru…tapi hasil akhirnya nggahuhuhu…ko bejat sih*kedip2 curiga ada cerita lain asal muasal nama itu, cerita yang lebih bejat*:))pagi mas

  2. amarylli said: asal muasalnya seru…tapi hasil akhirnya nggahuhuhu…ko bejat sih*kedip2 curiga ada cerita lain asal muasal nama itu, cerita yang lebih bejat*:))pagi mas

    met pagi, om :)Wah, cerita yang lebih bejat dari ini nggak lolos sensor….xixixi*bikin oom mary penasaran

  3. simplyhapinessme said: mas CASPER wakakakakakakaka mas BEJAT =)) =)) =)) =)) =)) ketawa guling2 deghhhhhhhhhhhhh ampun…… wakakakakaka, tapi boleh juga ledekannya xixixix ^^

    yang pertama, krn rambutnya culun…alias gundulyang kedua, wah…dah lupa*mendadak amnesia stadium 6

  4. saturindu said: Sejak itulah panggilan bejat  sudah amat melekat padaku, sehingga sudah teramat susah untuk melepaskannya…

    Hmm, kok Icha gak suka mas Suga dipanggil begitu.Protes ah…tapi sama siapa ya protesnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s