Gara2 Terlalu Senior

Nasi bungkus yang terbungkus kresek merah itu terlampau menggoda mataku yang liar menatapnya berkali-kali. Lambung yang sudah sejak siang tadi belum terisi, serasa menabuh perut berkali-kali.

Tanpa permisi, segera kuambil sebungkus nasi dari kresek merah itu dan memakannya. Kebetulan di ruang besar sebelah kantin pusat itu digelar tikar lebar. Dengan makin leluasa kugelar nasi bungkus itu lebar-lebar. Malam itu, sehabis isya’ kami berniat mengadakan rapat kepanitiaan Bakti Kampus (OPSPEK).

“Mas, kalau makan bilang-bilang, donk. Sebagai sie konsumsi saya tersinggung, nih….”Di depanku persis berdiri seorang gadis ceriwis bertopi biru. Setengah berkacak pinggang, ia memandangku dengan melototkan matanya yang bulat. Tak ada sedikitpun senyum di bibirnya. “Lagian, kenapa sih nggak nunggu barengan aja makannya sama yang lain?”

Yah, namanya juga salah… Jadi, diterima aja mau dicaci seperti apa. Beberapa orang yang melihat peristiwa itu, agak terperangah. Sejurus kemudian mereka tersenyum dan tertawa kecil

Kurang asem…Agak malu juga karenanya. Tapi karena lapar begitu mendera, kuputuskan untuk keukeuh melahap nasi itu hingga di butir terakhirnya.

Setengah jam kemudian, rapat yang sedianya digelar di ruangan besar itu dipindahkan ke kantin pusat. Sambil menunggu anggota Steering Committe (SC) yang belum hadir, kesempatan itu dipergunakan oleh sebagian SC yang lain untuk makan. Dua orang Sie konsumsi kemudian membagikan nasi bungkus dalam kresek merah itu. Salah satunya, tentu saja kukenali: gadis ceriwis itu…

Penginnya sih ngumpet, pura-pura ke kamar kecil atau ke tempat yang lain. Tapi gadis itu keburu melihatku. Ia sepertinya tak memberikan kesempatan padaku, untuk berlalu dari tempat itu. Sejurus kemudian, gadis ceriwis itu sudah berada di sampingku. Sontak deg-degan juga. Takut ia mendampratku lagi. Mungkin saja dia juga akan berkata begini, ‘Mas, maaf yah…sampeyan tak dapat bagian, karena tadi udah makan duluan…’

Wah, alangkah malunya kalau seluruh SC mendengarnya! Tapi ternyata aku salah. Dia malah menawarkan nasi bungkus lagi. ’Masnya, mau nasi bungkus?’

”Ah, tadi sudah makan, kok.”Aku memberi isyarat penolakan, kemudian kutepuk-tepuk perutku beberapa kali. “Terima kasih, udah kenyang.”

Gadis itu tersenyum. Tapi agak janggal senyumnya. Dengan agak malu-malu, dia lebih mendekat ke telingaku. ”Mas, maaf, yah tadi. Maaf, saya sudah mengomeli masnya…Habisnya saya nggak tahu kalau masnya adalah ketua BEM ITS.”

Sebenarnya sih sempat kepikiran untuk ngiket kaki gadis itu, terus membawanya ke lapangan upacara. Lalu mengereknya di tiang bendera….hueheuehue. tapi berhubung dia sama sekali tak bersalah, saya mengurungkan niat iseng itu.

”Ah, nggak perlu minta maaf. Justru aku yang mestinya minta maaf,. Ok?!” Kulihat dia mengangguk pelan. Sepertinya masih ragu bahwa apa yang dilakukannya itu benar. “Saya sebenarnya malah salut padamu. Berani Tegas pada aturan. Tanpa perkecualian. Lain kali, kalau saya salah, jangan segan-segan tegur, yah?!”

Gadis itu mengangguk cepat. Sekelebat wajahnya langsung sumringah, begitu uluran tangannya kujabat erat!

-1011-

Sebelum menerima tanggung jawab sebagai ketua BEM, saya sudah dipercaya oleh teman-teman untuk menjadi ketua UKM Bridge. Sebelumnya itu saya terlebih dulu menjabat ketua UKM Catur. Di Fakultas, saya sempat aktif dalam dalam lembaga penerbitan pers mahasiswa.

Beberapa teman kemudian memprovokasi saya untuk maju sebagai senator dan mencalonkan diri sebagai ketuanya. “Siapapun aktivis pasti paham, bahwa karir tertinggi dalam dunia kemahasiswaan adalah dengan menjadi senator.”

Untuk menjadi senator, bisa dikatakan peluang saya 99,99%. Minimal 200 suara dukungan sudah pasti saya genggam. Karena bisa dipastikan semua warga elektro akan memilih saya. Jumlah mereka yang aktif memilih berkisar 500 orang.

Saya segera melupakan mimpi tersebut begitu teringat kondisi akademis saya yang kembang kempis. Masih banyak kuliah yang harus saya ambil. Ancaman DO juga sudah menanti. Kerja Praktek, dua praktikum dasar juga belum saya ambil.

Mau tak mau, saya mesti memilih vakum dari semua hiruk pikuk dunia kemahasiswaan. Selama ini, aktivitas saya banyak tersita, terutama bila ada seminar /pelatihan di luar kota. Biasanya tiga hari sampai seminggu saya mesti bolos kuliah.

Sebenarnya, absensi kuliah masih bisa saya titipkan pada teman. Jika saja absensi 75% yang mesti saya hadiri belum juga terpenuhi, masih ada staff pengajaran yang baik hati. Beliau langsung meminta saya menandatangani absensi yang masih kosong, agar saya tetap bisa mengikuti ujian di tiap semesternya. Yang tidak bisa diwakilkan, tentu saja adalah praktikum yang mesti harus dihadiri sendiri. Ada laporan pra praktikum yang harus diserahkan pada asisten praktikum sebelum mengikuti praktikum, dan ada laporan akhir setelah mengikutinya.

Ada dua praktikum dasar di semester akhir yang baru saya ambil. ‘Praktikum Rangkaian Logika’ di Lab B-401 dan ’Praktikum Telekomunikasi’ di Lab B-301. berbeda dengan lab-lab lain, Lab
B-401 terkenal angker bagi praktikan. Para asisten di ruangan itu terkenal galak.

Pagi itu saya datang agak tergesa. Syukurlah masih bisa on time jam 08.00 saat masuk pintu Lab B-401. Beberapa orang yang terlambat lebih dari sepuluh detik, langsung mendapat dampratan. “Hei, cunguk. Niat nggak sih, kalian?!”

Saya hanya bisa mengelus dada menyaksikan kelakuan asisten itu pada para junior mereka. Begitu melihat ada asisten yang mendatangi meja saya, sayaserahkan laporan pra praktikum setebal 7 halaman yang sudah saya buat semalam. Sang asisten itu lalu duduk di atas meja panjang, melihat laporan saya sepintas. Tak dinyana, ia lalu melemparkan laporan itu ke depan meja saya.

”Cuk, sing nggenah koen. Tulisen jenengmu, sik!”Ucap asisten bernada rada kasar. Dalam bahasa surabaya dan sekitarnya kata cuk merupakan sebuah umpatan/nada kekesalan.

Saya baru sadar bahwa saya belum mengisi cover depan laporan. Di sana ada nama, Nomer pokok Mahasiswa dan kelompok praktikum yang mestinya saya isi dulu. Mendapati teguran itu, saya hanya bisa nyengir.

Yah, namanya juga salah…jadi, diterima saja konsekuensinya.

Setelah mengisi cover depan, saya segera menyerahkan kembali laporan itu. ”Mas, maaf yah. Saya tadi lupa ngisi covernya!”

Sang asisten melihat cover depan saya. Ia seperti tertegun. Segera ia turun dari mejanya, ”Tunggu sebentar, yah…” Ia lalu bergegas pergi keluar.

Setelah menunggu 30 menit, sang asisten tak kunjung datang, saya menemui koordinator asisten. Si raja di lab B-401 ini sedang duduk bersila di atas meja. Sambil memberi pengarahan pada praktikan yang tak ubahnya seperti abdi yang duduk di lantai.

”Mas, maaf ngganggu. Di kelompok saya belum ada asistennya.”Saya mencoba mengangguk hormat dan menunjukkan letak meja praktikum saya.

“Coba cari di luar. Mungkin dia sedang asistensi praktikan lain!”Koordinator asisten menunjuk pintu luar. Ia kemudian cepat-cepat mengibas-ngibaskan tangan kanannya. Seolah meminta saya cepat-cepat berlalu dari situ.

Setelah saya mencari di sekitar luar Lab B-401 dan tak kunjung mendapati sang asisten, saya kembali melapor pada koordinator asisten.

Si koordinator itu rupanya terganggu oleh sikap saya. Ia langsung meminta laporan pra praktikan saya. Bermaksud membaca percobaan apa yang akan dilakukan pagi itu. Demi membaca cover depan, dengan bergegas ia turun dari singgahsananya.

”Wah, mas praktikum sendiri aja, yah?!”kata dia setengah panik. Ia kemudian menunjukkan alat-alat, meminta saya merangkai sendiri dan mencatat percobaannya.

Beberapa menit berada di tempat itu, Rama teman angkatan saya tiba-tiba datang. Walaupun mencoba tak menyapanya dan bermaksud menyembunyikan diri, tak urung Rama melihat saya yang tengah mengotak-atik kabel, PCB, dan lampu LED.

”Hei, Krak…apa kabarnya?!”Rama menjabat erat tangan saya. Ia sepertinya heran mendapati saya berada di lab-nya. Suaranya yang keras membuat hampir seisi laboratorium melihat kami.

”Baik,”jawab saya singkat. Agak kikuk karena dilihat banyak orang.

”Ngapain di sini?”

”Ikut praktikum.”

”Oiya?” Rama sepertinya makin takjub bagaimana mungkin praktikum yang semestinya diambil di semester awal, baru saya ambil 4-5 tahun berikutnya.

“Baru sempat ngambil,”kata saya memberi alasan.

“Dasar nih, sibuk benar di senat Institut.” Rama mengambil kabel-kabel yang saya rangkai dan memasukkannya di laci. “Krak, ngapain juga ikutan? Nggak usah aja. Dijamin lulus. Entar aku bilangin ke koordinator asistennya.”

Saya tampik niat baik Rama itu. Bukan apa-apa. Dulunya, hal-hal begini memang sangat saya harapkan. Tapi kemudian, saat saya sudah vakum dari aktivitas kemahasiswaan, saya malah kecanduan kuliah dan mengerjakan tugas-tugas praktikum.

“Ok, Krak. Ntar kalau ada asisten yang mempersulit, atau berani macem-macem, bilang aja ke aku.” Rama kelihatannya sengajan mengencangkan volume suaranya. Hampir seisi ruangan memandang ke arah kami berdua.

”Ah, kuyakin nggak ada. Tenang saja, fren.”Saya tepuk pundak Rama dan memintanya untuk keluar ruangan. Agar ruangan kondusif lagi.

Sebelum Rama keluar ruangan, ia sempat berbisik-bisik pada koordinator asisten , yang mukanya berubah seperti lampu lalu lintas. Buru-buru koordinator asisten itu datang ke saya dan meminta maaf. Sambil menawarkan jalan damai.

”Mas, masnya nggak usah praktikum juga tak apa. Pasti akan diluluskan. Minimal dapat B.”

Saya kembali menampik usul tersebut. Secara tak langsung, rutinitas praktikum membuat saya dekat kembali dengan dunia elektro, dunia yang sudah lama saya tinggalkan. Dengan membuat laporan praktikum, saya juga terpacu untuk belajar dan lebih memahami bidang yang akan saya tekuni nanti.

Setelah melihat kesungguhan saya, akhirnya si koordinator asisten mencarikan asisten yang tepat untuk saya. Dialah Bayu, teman satu angkatan saya. Saat itu dia juga belum lulus ujian skripsi.

-1011-

Di praktikum telekomunikasi yang saya ikuti, suasananya lebih kondusif. Para asisten yang saya amati hampir semuanya kooperatif dan ramah pada para praktikan. Di kelompok saya, tercatat lima praktikan yang mengikuti percobaan. Saya, dan 4 mahasiswa lain. Semuanya 4 angkatan di bawah saya : Aji, Dharma, Iras dan Viko.

Sepintas, saya hanya melihat 3 orang yang hadir dalam kelompok saya. Sambil mengikuti praktikum, saya baru sadar bahwa ada orang keempat yang selalu bersembunyi di balik badan salah seorang di antara anggota kelompok saya. Sewaktu bermaksud melihat wajahnya, orang itu selalu bergerak. Seolah bermaksud menghindar dari tatapan saya. Ia bersembunyi dari satu tubuh ke tubuh teman lainnya.

Dalam hati saya berkata, ‘Nih orang sarap juga…”

Dalam pertemuan dua hari berikutnya, orang yang selalu bersembunyi itu tak tampak lagi. Agak keheranan juga saya, ketika di pertemuan ketiga orang yang baru saya tahu bernama Iras itu tak juga menampakkan wajahnya dalam praktikum yang sama.

”Orangnya sudah delete praktikum, mas ”Jelas Aji, menjawab pertanyaan saya.

Rasa penasaran mengapa Iras mendelete praktikum itu terjawab seminggu kemudian. Kebetulan ada Riko, adik kelas elektro yang biasa cangkruk di kantin pusat.

”Mas Bejat, sampeyan habis dipisuhi sama junior, yah?!” ungkap Riko, sambil tersenyum. Di kantin, nama populer saya adalah Bejat, sedangkan kalau di elektro adalah Krak.

Karena tak merasa, saya tepis tudingan itu. ”Ah, enggak kok. Nggak pernah yang begitu-itu…”

”Iya, lha wong anaknya sendiri yang cerita. Dia itu yang menjadi asisten mas Bejat di lab B-401. Begitu tahu mas Bejat angkatan Jurasic, dia langsut ngibrit pulang. Iras itu, kebetulan juga ngambil praktikum telekomunikasi. Apesnya, dia satu kelompok sama mas Bejat. Makanya, habis itu dia langsung cancel pratikumnya…”

”Lha, kok sampai segitunya? Biasa aja lagi…”

Riko tertawa. ”Wah, dia itu takut banget, mas. Sampai gak bisa tidur dua malam. Takut mas Bejat balas dendam ke dia.”

“Wah, ayo…suruh dia praktikum lagi. Gak usah delete. Khan masih beberapa kali lagi praktikumnya, dan masih bisa nyusul khan?!”

”Sepertinya ngelihat wajah mas aja, si Iras sudah kebirit-birit. Dia malah mengundurkan diri juga dari asisten praktikum di B-401.”

“Wahhhhhhh….”

Pastinya,… Kasus terakhir ini, bukan kesalahan saya!

111 thoughts on “Gara2 Terlalu Senior

  1. aryasist said: Ternyata mas Suga dimasa kuliah agak2 “bandel” tapi nge top ya🙂

    nama populernya di kantin itu lho ,mengerikan …..padahal panggilan itu do’a lho mas, syukur nya do’a yg ngga terkabul ya…..^__^

  2. aryasist said: Ternyata mas Suga dimasa kuliah agak2 “bandel” tapi nge top ya🙂

    wah asik ya, gara2 senioritas jadi dapat praktikum minimal B.. ga pake praktikum pula..kog ya dari dulu dipanggil bejat or krak.. krak apa sih artinya? kalu bejat pasti ada kisah seremnya..si gadis ceriwis bertopi biru apa kabarnya?

  3. aryasist said: Ternyata mas Suga dimasa kuliah agak2 “bandel” tapi nge top ya🙂

    seru ya😉 jadi inget jaman kuliah masa lalu *kesan-nya uda lama gitu, tapi emang uda lama sih* hahaha dulu uda “senior” trus ambil mata kuliah jaman semester 1, kebetulan juga aktivis jadi diinget deh sama si dosen, langsung lulus nilai A :))

  4. fendikristin said: seru ya😉 jadi inget jaman kuliah masa lalu *kesan-nya uda lama gitu, tapi emang uda lama sih* hahaha dulu uda “senior” trus ambil mata kuliah jaman semester 1, kebetulan juga aktivis jadi diinget deh sama si dosen, langsung lulus nilai A :))

    wah…hampir sama yah..pengalaman kita…bedanya, saya tak pernah dapat nilai ‘A’…heueheue

  5. tintin1868 said: kog ya dari dulu dipanggil bejat or krak.. krak apa sih artinya? kalu bejat pasti ada kisah seremnya..si gadis ceriwis bertopi biru apa kabarnya?

    *request mbak tin2 sdh saya tulis ^^*si gadis? wah..kurang tahu..mbak…banyak yang pergi tiba2 dan datang tiba2:)

  6. kedaimoslem said: nama populernya di kantin itu lho ,mengerikan …..padahal panggilan itu do’a lho mas, syukur nya do’a yg ngga terkabul ya…..^__^

    AMIIIN…ummu, terima kasih, yah….sudah mengingatkan saya…agar selalu berada di rel kebenaran:)

  7. kedaimoslem said: nama populernya di kantin itu lho ,mengerikan …..padahal panggilan itu do’a lho mas, syukur nya do’a yg ngga terkabul ya…..^__^

    Eh…ery lom komen ya :)Ketua Bem biasanya inceran2 cewek2 mahasiswa baru saat malam inagurasi :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s