Konser Patah Hati


”Malam ini konser, yuk?!”

Dananya?”

”Tenang saja. Aman!”

Begitu mendengar segala sesuatunya telah dipersiapkan, aku mengamini ajakan Jay. Tak ada yang perlu kupersiapkan. Kecuali jaket tebal dan sarung tangan.

Pukul dua belas tepat motor kami melesat cepat. Menyusuri jalur Surabaya-Sidoarjo yang masih ramai. Nyala lampu-lampu kota, makin memacu lajunya.

Setelah memasuki Pasuruan, lalu lalang kendaraan mulai menghilang satu persatu dari pandangan. Seiring lampu-lampu jalan yang telah redup. Tiada lagi kehidupan di kanan-kiri. Hanya kegelapan, yang makin merayap.

Dua setengah jam setelah melewati jejalanan berliku yang makin lama makin menanjak, sampailah kami di puncak Pananjakan. Di sanalah kami mementaskan acara. Dengan panggung berlatar horizon fajar, yang sebentar lagi berpijar.

Jay memberikan satu earphonenya padaku. Bermaksud agar aku ikut mendengarkan lagu yang diputarnya. Sebuah alunan musik terdengar akrab di genderang telingaku. Nada-nadanya memantik sel-sel kelabu. Memicu otak untuk mengembara ke masa silam.


~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Tujuh bulan sebelumnya, kami berada di pananjakan untuk kali pertama.

”Sejenak, lupakanlah masalahmu. Mari nikmati pemandangan pagi yang cerah. Bukankah Bromo terlihat sangat indah dari tempat ini?!”Jay menunjuk ke sebuah ceruk raksasa. Dikelilingi lautan pasir yang tersaput kabut pagi.

Kusambut dingin ajakan itu. Lidahku sudah kehilangan gairah dalam berkata-kata. Pun bibirku seperti sudah beku. Semangat hidup, yang sebelumnya mengorbit di rasi tertinggi, kini jatuh berkeping-keping ke bumi. ’Beginikah rasanya patah hati?’

Jay memberikan satu earpohonenya. Ia memintaku mendengarkan lagu yang tengah diputarnya.

This used to be my playground [used to be]
This used to be my childhood dream
This used to be the place I ran to
Whenever I was in need
Of a friend
Why did it have to end

Suara Jay tiba-tiba memecah keheningan pagi. Ia ikut menyanyikan bait berikutnya. Sepertinya ia sengaja menyanyikannya untukku.

And why do they always say
Don’t look back
Keep your head held high
Don’t ask them why
Because life is short
And before you know
You’re feeling old
And your heart is breaking
Don’t hold on to the past
Well that’s too much to ask

Butiran serupa embun. Mengalir pelan dari kedua mataku. Walau kucoba membendungnya, tak bisa kutahan lajunya. Bait-bait lagu itu sangat telak memukulku. Hidup ini terlampau singkat, untuk terpaku pada masa lalu. Tak ada gunanya, menjejali diri dalam tanya dan sesal, yang makin menggumpal.


~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

”Yuk, kita nyanyikan lagunya!”

Ajakan Jay membuyarkan lamunanku. ”Kenapa Jay? Kamu patah hati?”

”Ah, wanita. Dipikirnya mereka bisa membuatku menderita…”

”Padahal?”
”Padahal iya..”
Kami tertawa bersama.

”Tiap kali berada di sini, aku merasa damai.”ungkap Jay. ”Di sini tenang, nyaman rasanya. Penginnya gak usah pulang aja ke Surabaya.”

Aku mengamini kata-kata Jay. Tempo hari saat patah hat
i, aku juga nyaris tak mau pulang. Syukurlah Jay berhasil membujukku dengan halus. Diajaknya aku turun ke bawah, menyusuri lautan pasir. Lalu kami menaiki tangga demi tangga, untuk melihat kawah Bromo.
Setelah aktivitas yang melelahkan itu, Jay mengajakku mencari makan. Diputar-putarnya kendaraannya di sekeliling bukit, untuk mencari makanan favoritku : sate kambing. Beberapa jam kemudian, kami baru sadar jika sudah terlalu jauh meninggalkan Bromo dan Pananjakan. Tiada pilihan, melainkan kembali ke Surabaya.

Kini, ketika Jay patah hati sudah semestinya aku menghiburnya.

”Baiklah, pepohonan sekalian.”Aku menggenggam tangan kiriku, sembari memandang jajaran pohon di lereng gunung. ”Terima kasih sudah mengundang kami berkonser di sini. Sebagai persembahan, inilah lagu This used to be my playground…”

Jay membagi satu earphonenya. Kamipun kompak menyuarakan lagu itu. Dengan suara yang terkadang kencang dan terkadang pelan. Tergantung suasana hati masing-masing.

Aku sendiri, mencoba menghayati makna tiap baitnya, sembari membayangkan kedamaian yang tengah kurasakan. This used to be my playground. This used to be my childhood dream Puncak Pananjakan, dimana kakiku kini berpijak, semoga akan menjadi tempat bermain yang menenangkan dan menentramkan. Sebagaimana tempat bermainku dulu, semasa kecil. This used to be the place I ran to, Whenever I was in need, Of a friend. Aku berjanji, tempat ini adalah tempat yang akan selalu kukunjungi, ketika aku tengah diterpa masalah. Ketika aku butuh sahabat untuk berbagi…

Dingin masih menyeruak. Matahari belum nampak. Di bawah tempat kami berpijak, ribuan pepohonan berjejalan. Mereka berbaur di antara ilalang-belukar, menyaksikan konser spektakuler kami. Konser Patah Hati…

156 thoughts on “Konser Patah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s