Gara2 EW

Gara2 EW

(Electrical Workshop)


Acara tersebut bukanlah semacam bengkel kerja dimana kami belajar memegang solder untuk merakit perangkat elektronika, ataupun belajar menghitung arus & tegangan suatu komponen. EW adalah sebutan untuk acara camp yang dilaksanakan di luar kota, dimana para senior jurusan Elektro bisa dengan leluasa mempercundangi para juniornya termasuk diriku.

Namun di acara ini aku sudah bertekad untuk “Clean sheet” alias menjadi manusia yang bebas dari hukuman senior. Karenanya, segala atribut yang disuruh oleh mereka aku bawa semua. Tugas-tugas semisal mengumpulkan makalah dan meminta tanda tangan petinggi kampus, semisal ketua laboratorium, dosen, hingga ketua jurusan sudah kulakukan dengan sempurna.

Pun aku tak lupa membawa jas hujan, sebagaimana petuah mereka bahwa cuaca di pegunungan begitu cepat berubah dan mereka tidak mau kami mati kedinginan. Toh begitu, ketika hujan turun tiba-tiba di malam pertama kami menginjakkan kaki di lereng pacet, ada saja temanku yang kelupaan membawa atribut yang maha penting itu.

Iapun dipersilakan senior untuk lari keliling lapangan dalam hujan seraya berkata-kata tiada henti,”Saya berjanji tidak akan teledor lagi, saya berjanji tidak akan teledor lagi…”

Ketika hukuman telah berakhir dan orang tersebut membuka tudung kepalanya yang terbuat dari tas kresek, aku baru tahu kalau orang itu adalah Hans! Pantas saja sepertinya aku mengenali suaranya.

* * *

Sore itu adalah hari ketiga atau hari terakhir acara kami di lereng pegunungan Pacet. Sejauh ini rekor “clean sheet”ku masih terjaga. Sedangkan Hans, teman se-asramaku, entah sudah berapa kali ia di’permak’ oleh senior.

Aku hanya bisa tertawa dalam hati ketika ia diminta push-up, sit up, atau berlarian kesana-kemari.


Setelah dikumpulkan di tengah lapangan dan diberi pengarahan teknis perihal rencana pulang ke kampus esok paginya, kami diminta untuk kembali ke tenda masing-masing. Setelah sepuluh menit hening, terdengar suara panitia lagi. Kali ini melalui Megaphone.

“Adik-adik sekalian. Kami tahu kalian capek setelah melalui rangkaian kegiatan EW ini. Kami tahu sekarang kalian lelah…”suara megaphone kini melemah.

Hening sejenak. Lalu terdengar suara lagi,”Karena itu gunakan waktu yang ada untuk beristirahat. Sekarang semua tidur. Ayo tidur…!”

“Ayo, tidur. Semuanya tidur!” terdengar suara yang bukan dari Megaphone. Senior-senior rupanya mengencangkan suara mereka. Nada-nadanya seperti orang marah.

“Tidur, cuuuk!” terdengar teriakan lagi, kali ini dekat sekali dengan tendaku. Aku dan semua orang yang di tenda dengan segera mengambil posisi telentang dan mencoba memejamkan mata.

Namun demikian, pikiran ini masih waspada. Pasti ada udang di balik batu atas kemurahan hati senior, begitu pikirku. Apalagi mereka kini memaksa kami untuk tidur. Jangan-jangan mereka akan merubuhkan tenda kami saat semua peserta terlelap? Jangan-jangan mereka pulang duluan ke kampus malam ini dan meninggalkan kami di tengah hutan? Namun aku rasa mereka tidak sejahat itu!

Terdengar suara lagi,”Nanti kalau terdengar suara sirine megaphone seperti ini…,”hening lalu terdengar sirine dibunyikan,”nguung,…nguuuuung, nguuuuunnnggggh…”

hening lagi lalu terdengar kata-kata,” Bila kalian mendengar bunyi sirine itu, kalian harus segera berkumpul di lapangan!”

Lalu hening. Tiada suara lagi.

Kulihat samara-samar dalam keremangan malam semua teman se-tenda sudah memejamkan mata. Akupun segera berniat mengikuti jejak mereka. Namun demikian, alas kaki dan sepatuku yang basah tidak kulepas dari tempatnya.

Di saat kelopak mata yang makin berat menahan kantuk, beberapa saat kemudian sayup-sayup di kejauhan terdengar suara,”Ayo tidur! Semuanya Tidur…! ”

Lalu terdengar sebuah suara,” Nanti kalau terdengar suara sirine megaphone seperti ini ’nguunng, nguuuuunnnggggh…’, kalian harus segera berkumpul di lapangan. Dengan membawa alat-alat makan!”

Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi sirine itu! ’nguung, nguuuuung,…nguuuuuuuunnnggggh…’,

Aku segera sadar dari lelap tidurku yang hanya sekejab tadi. Segera kubangun dan bersiap lari ke tengah lapangan, namun kuingat harus membawa peralatan makan.

Syukurlah peralatan makan yang terdiri dari piring plastik, sendok dan garpu semua anggota kelompok masih terkumpul jadi satu di kantong plastik. Setelah kuraih, dan akupun bergegas ke tengah lapangan. Aku menjadi orang ketiga yang berkumpul di sana. Lalu sekejap kemudian lapangan itu sudah dipenuhi manusia yang tak lain adalah teman-temanku.

Yang mengherankan, tak satupun dari mereka yang membawa peralatan makan. Berarti mereka tidak mematuhi perintah senior. Sungguh berani2nya…

Sesaat kemudian, aku mendengar sebuah suara dari megaphone.

“Eh, bego! Ngapain kamu bawa alat makan segala?”

“Lapar yah? Ini bukan jam makan, tahu??!” seru yang lain. Biasanya, untuk makan pagi, siang dan malam, kami harus antri berjajar dengan membawa peralatan ini.

“Tolol, kamu masih mengigau, yahh?!!!” sebuah sinar diarahkan ke wajahku. Kupicingkan mataku karena silau.

Dan terdengar tawa dari mereka. Kulihat sepintas teman-teman sebelah kanan dan kiri barisanku pun tersenyum. Setengah berbisik, kutanya anak sebelah kiriku, yang ternyata adalah Hans.

“Bukankah alat makan ini mereka yang suruh bawa?”tanyaku pada Hans.

Hans balik bertanya. “Sejak kapan mereka suruh begitu?”

“Sebelum tidur! Kudengar mereka berkata, ‘kalau mendengar sirine, kita harus berkumpul di lapangan sembari membawa alat-alat makan!'”

Hans pun tak bisa menahan tawa. Didorongnya kepalaku ke depan sambil berseru,”Dasar bejat! Kamu mengigau, Tahu!”


Jadi, seruan untuk membawa alat-alat makan itu cuma mimpi?

128 thoughts on “Gara2 EW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s