Gara2 Kumis

Gara-gara tulisan mbak Hani tentang lamaran, saya jadi teringat Uun, teman kampus yang gemar memamerkan kumisnya. Dia biasanya suka senyum-senyum sambil memelintirkan ujung kumisnya.

Pada hari kedua idul Fitri beberapa tahun silam, Uun mengajak saya menemaninya yang sungkem ke rumah camer.

“Emang udah jadian sama Anita?”Tanya saya seolah tak percaya. Bagaimana mungkin Anita yang bening berambut lurus bisa mendapatkan lelaki hitam berambut keriting seperti Uun?

“Udah, makanya mau sungkem sama mertua,”kata si Uun dengan pede-nya, sambil (lagi-lagi) memelintirkan kumisnya.

Dan meluncurlah kami sepanjang Mojokerto-Madiun dengan menggunakan motor GL Pro-nya. Saya yang sudah terkantuk-kantuk setelah melewati kota Madiun, bertanya-tanya pada Uun kurang berapa lama lagi perjalanan kami. Saat itu kami nyaris dekat dengan kota Magetan.

“Tuh, lihat…ada portalnya. Madiun 28 Km, Magetan 4 Km,”kata saya, sambil meminta Uun berhenti. “Emangnya rumah Anita dekat dengan kota Magetan?”

Agak terkejut juga saat Uun menggeleng. Dia malah menyebut sebuah nama daerah yang sebenarnya tak asing lagi buat saya: Gorang-Gareng. Dari madiun, semestinya kami belok kanan, kea rah kota Ponorogo, bukannya ke barat menuju Magetan.

Setelah dijelaskan bahwa kami tak perlu kembali ke kota Madiun, agak lega juga rasanya. Ternyata ada jalan pintas menuju daerah gorang gareng.

“Ntar di tikungan depan, ada pertigaan. Belok kanan. Dan lurus saja. Nanti setelah ada perempatan, belok kiri. Dari sana lurusss terus.”kata orang tersebut, sambil menggambarkan denah di tanah.

Tak yakin pada penjelasan orang pertama, kami bertanya pada orang kedua yang kami temui di pertigaan yang ditunjukkan. “Iya, dik. Bisa kok. Dari sini, lurus saja. Ntar perempatan, belok kiri.”

Setelah belok kiri, kami mulai deg-degan. Bukan apa-apa. Jalan yang semula lebar, tiba-tiba menyempit. Dua kilo kemudian, jalan aspal itu menghilang, berganti dengan jalan desa yang berbatu. Semakin lama kami melewatinya, semakin kami tak yakin bahwa itu adalah jalan yang benar.

“Lurus saja. Ntar kalau habis jalan aspalnya, Tanya ke orang sekitar situ,”jawab orang ketiga.

Setelah melewati jalan berbatu, kami mendapati jalan aspal kembali. Setelah bertanya tiga kali, kami diarahkan untuk belok kiri di pertigaan depan. Kami harus kembali ke pertigaan yang dimaksud, karena kami ternyata salah instruksi.

Setelah menyusuri jalan aspal yang sudah compang camping, dua-tiga kilo berikutnya, aspalnya menghilang. Berganti dengan tanah. Hebatnya, kemudian kami menyusuri jalan setapak, karena jalan yang biasa digunakan untuk lalu lalang, sedang ada perbaikan jembatan.

Kami bertanya orang ke-11,12, 13 dan seterusnya. Mengikuti instruksi mereka tanpa lelah. Hingga genap orang ke 47…

“Yakin, pak itu gorang gareng?”tanyaku, yang sudah letih.

“Ini sebenarnya sudah masuk Gorang Gareng, Nak. Emangnya mau ke desa mana?”
segera Uun menyebutkan nama desanya.

Perlu empat kali bertanya lagi pada orang-orang, sebelum kami benar-benar sampai di rumah Anita, yang letaknya di ujung dunia! Yang membuat saya dongkol, ternyata Anita adalah anak Polisi. Informasi ini saya ketahui dari orang ke-51 yang saya tanyai. “Oh, Anita Anaknya Pak Man yang Polisi, itu?!”

Segera saya protes Uun. “Duh, Un. Napa juga tak bilang, kalau Anita anak Polisi? Setidaknya, kalau kita bilang kita nyari Polisi bernama pak Man, pasti banyak orang yang pada tahu di kecamatan ini. Berapa banyak sih orang2 yang menjadi polisi?”

Uun hanya cengar cengir saja.

Sebelumnya kami mesti bertanya pada orang-orang, apakah mereka mengenal Anita? Begitu menggeleng, kami segera memberi keterangan tambahan, Itu Lho…Anita yang kuliah di Surabaya. Kuliah di ITS jurusan matematika.’ Harapannya, satu dua orang pasti mengetahui, secara orang-orang desa jarang ada yang bersekolah tinggi.

Ketika kami masuk ke rumah Anita, Uun masih terlihat senyam-senyum sambil memelintir kumisnya. Baru setelah berada di dalamnya, Uun yang biasanya tegak membusungkan dadanya, mendadak beringsut. Ditundukkan mukanya, sambil membungkuk. Sejurus kemudian, baru saya tahu penyebabnya.

Di sebelah kiri dinding pintu masuk, ada sebuah foto lumayan besar terpampang. Ada wajah pria setengah baya, dengan wajah berwibawa. Dengan kumis tebal di bawah hidungnya! Pantas saja, Uun terlihat kusut.

Lima-tujuh menit setelah bercengkerama dengan Anita, dua orang yang sepertinya orang tua Anita, ikut menemani kami. Salah satu diantaranya, persis sama dengan wajah di foto dinding itu. Setidaknya, kumisnya sama-sama tebal.

Di pertemuan itu, hanya sesekali saja Uun berbicara. Itupun hanya singkat. Ya-tidak, mengangguk atau menggeleng. Tanpa ada sedikitpun senyum.

Sore itu, saya mewakili Uun untuk berbicara dengan kedua orang tua Anita. Secara informal, pertemuan itu dimaksudkan untuk mencari hari yang tepat, agar proses lamaran bisa berjalan dengan lancar.

Di perjalanan pulang, sebagai bentuk rasa terima kasihnya, Uun mendaulat saya untuk menjadi pagar bagusnya, saat pernikahannya.

-o0o-

Sepanjang hidup, baru pada pernikahan Uun-Anita saya berani berjoget di depan umum. Setelah dipaksa, tentunya. Gara-gara grogi, saat bergoyang, tiba-tiba kaki saya terbelit kabel microphone. Dan sontak para hadirin terhibur, melihat saya yang terjatuh dari panggung…

105 thoughts on “Gara2 Kumis

  1. qaulandiarra said: wah…hiburane jatuh dipanggung…..apalagi kalo di kampung ada acara dangdutan pasti semua nonton hihihi….mantafffff

    Iya, mbak,…itu hiburan tersendiri buat penonton dan apra undangan…:)syukurlah tak ada kaca saat itu…jadi saya nggak bisa melihat muka saya sendiri kek apa…^^

  2. saturindu said: Wah, di daerah mana, tuh mbak..?:)sekarang sudah hidup di ibukota NTB, yah…:)

    asli saya tegal om, tapi di kabupatennya, daerahnya paling selatan dekat gunung slamet :)sekarang di kota bima pulau sumbawa paling timur, ibukota NTB di Mataram pulau lombok….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s