Gara2 Lupa Gosok Gigi

Jarum panjang sebuah jam belum sempurna berada di angka 12 tatkala ia bergegas bangun dari pembaringannya di sofa. Sesaat berikutnya, ia baru sadar. Bahwa ia berada di tempat yang terasa asing, bukan di pembaringan yang biasa membelainya di alam mimpi.

Dilihatnya jam itu lagi. Jarum panjang itu telah berhasil melompati angka 12 dan sekarang berenang menuju angka 1.

‘Ah, apa peduliku,’kata dia setengah cuek. ’Jarum itu balik ke angka 12 juga aku tak peduli. Mau terbang ke angka 10 juga silakan saja’, kata dia tanpa merasa kehilangan.

Yah, Dia memang hanya peduli pada jarum pendeknya. Jantungnya akan memompa darahnya dua kali lebih kencang, bila dilihatnya jarum pendek berada di angka 8. Apalagi jika ia melihat angka delapan telah rebah seperti bentuk tak berhingga dalam simbol matematika. Pada saat jarum penunjuk mulai memeluk angka itu, biasanya mata dia baru terjaga.

Ketika sebuah suara ringtone yang khas membuyarkan mimpi-mimpinya, diapun bergegas meraih HP, yang selalu dipeluknya. Dan terdengarlah suara…

‘Kamu dimana?’

‘Ehhm, masih di rumah…’kata dia sambil menyetem suaranya. Agar tak terdengar seperti orang baru bangun tidur.

‘Jam segini? Emangnya perusahaan ini milik loe?’

Sebuah kekuatan raksasa seketika mengggerakkan seluruh tubuhnya, begitu ia tersadar bahwa yang barusan meneleponnya adalah si Bos. Bergegas ia berdiri dan berlari ke kamar mandi.

’Lha, mana sikat gigiku?’ tanya dia pada diri sendiri.

Baru tersadar, dia sedang berada di rumah temannya, bukan di rumah sendiri,. Bukan pula di rumah calon mertua.

Setelah hanya membasuh muka dan merapikan rambut ala kadarnya, setengah berlari diapun menuju tepi jalan, berniat menyetop angkutan yang pagi itu terasa sepi.

Taxi pertama terlihat kencang melewatinya tanpa berkata-kata.

’Awas yah,..’ seru dia seraya bersumpah bahwa dia tak akan pernah menggunakan jasa taxi itu lagi.

Taxi kedua lebih sopan menyapa. Tapi giliran dia yang mengacuhkannya. Dalam kamusnya memang hanya ada angka satu dan tiga, karena itu adalah angka keberuntungannya.

Lalu datang taxi ketiga yang segera dinaikinya. Dalam hati ia berjanji bahwa berapapun angka yang diminta oleh sang sopir, ia akan membayarnya. Tapi ternyata tak jauh perjalanan, taxi tersebut berhenti dan menaikkan penumpang. Hal tersebut berarti ia hanya perlu membayar tarif biasa (tak langsung), bukan tarif premium yang menggunakan argo.

{ Di Batam memang dikenal 2 macam taxi, yakni taxi ’resmi’ yang menggunakan argo, dan taxi ’tak resmi’ yang mana penumpang dan pengemudinya bisa cincau-cincau harga, bergantung kesepakatan. Model terakhir, bila pengemudi bertanya:’langsung?’ berarti penumpang harus membayar sejumlah kira-kira seperti jika ia naik taxi resmi. Dan bila disepakati, sang pengemudi tidak diperkenankan menaikkan penumpang lagi. Sedangkan untuk model taxi ’tak langsung’, tarif yang berlaku kira-kira 1.5 – 2 kali tarif angkot, dan sebagai kompensasi, sang pengemudi bisa menaikkan penumpang lagi, sampai terisi 5-6 orang}

Dia bersyukur karena tak harus mengeluarkan banyak rupiah menuju tempat kerja. Lebih bersyukur lagi, penumpang yang barusan naik memilih duduk di samping kirinya. Padahal kursi depan sebelah sopir masih kosong. Ini berarti…

Mungkin sudah menjadi kehendak yang kuasa jika pada hari itu dia dipertemukan dengan wanita yang lumayan menarik. Dan diapun berniat menyapa…

Tapi demi mengingat dia belum mandi, dan yang lebih parah…

Belum menggosok gigi…
Segera diurungkan niat itu…

Alahh, begitu saja sudah menyerah…!’kataku pada dia.

’Emang kamu bisa?’kata dia senewen. Dia merasa aku meremehkan kemampuannya.

’Siniii!’ kataku seraya meraih tubuhnya. Sebenarnya, aku meraih tubuhku kembali. Tubuh itu sempat kupinjamkan kepad
a dia. Agar aku tak capek. Tapi ternyata dia tak becus.

Sekarang kesadaranku sudah benar-benar pulih dan aku merasa berkuasa atas tubuhku sendiri.

Kupandangi gadis di sebelahku. Sepertinya ia juga baru akan berangkat kerja? Tapi kenapa dia telat, yah? Aku mencoba mencari jawabnya. Dan cara terbaik adalah berkenalan….

Sekarang yang perlu kulakukan adalah menuliskan maksudku pada telapak tangan : ’Neng, boleh kenalan?’ dan menunjukkannya pada wanita di sebelah. Tapi ternyata, berita buruk, di saku baju atau celana tak kujumpai sebatang pena. Berita buruk lagi, ternyata simpang pemberhentian dimana seharusnya aku mesti turun, sudah terlewati.

’Kepalang basah’kataku. Mungkin juga sudah menjadi garis yang kuasa jika aku mesti mengenal wanita di sampingku ini.

Dan akhirnya sel-sel kelabu otakku bekerja! Aku mendapatkan sebuah ide brillian. Bukankah masih ada HP?

Segera kubuka message dan mengetikkan kata serupa :
’Mbak, boleh kenalan khan!’

Aku lalu menyodorkan HP itu padanya.

Setengah terkejut ia membaca apa yang tertera di sana,memandangku sejenak, kemudian tersenyum.

’Lucky day,’ucapku dalam hati sembari membalas dengan sedikit senyuman dan anggukan.

Ia meraih HP-ku dan jari-jarinya perlahan mengetikkan sesuatu, lalu mengembalikan HP itu padaku. Dengan cepat kubaca apa yang ia tulis :

’bjoleh, tapi apa mas… ta’ py mulut?’

’waaah,…’akupun lemas.

Lebih lemas lagi, tak lama kemudian wanita itu turun di sebuah Pom bensin dan setelah membayar ongkos taxi, melirik sebentar ke arahku dengan sebuah senyum. Sebuah senyum kemenangan.

’Kurang asem !’ dikiranya aku tak punya keberanian untuk menyapa. Akan engkau lihat siapa aku sesungguhnya…

Aku segera turun dari taxi. Berniat mengejarnya. Ku lihat ia merentangkan tangan ke atas di perempatan yang padat lalu lalang kendaraan. Anehnya, semua kendaraan memperlambat laju, memberikan kesempatan pada wanita itu tuk menyeberang. Sejurus kemudian, ia naik ojeg dan menghilang dari pandangan.

Aku, yang masih memendam penasaran, mencoba menyeberang sebagaimana dia lakukan. Namun, klakson dan hujatan dari pengguna kendaraan tiada henti meneriaki langkah kakiku yang seolah terbang menerjang jalanan. Di pangkalan ojeq itulah aku berniat menunggu hingga tukang ojeq tadi kembali. Aku akan memintanya untuk mengantarku pergi ke tempat wanita itu.

Tapi belum juga hal itu terlaksana, Hpku sudah menyala.

’Hey, kamu ini niat kerja apa nggak?’ terdengar sebuah suara dengan nada tinggi.

‘Iya, masih on the way!’ jawabku lemas.

‘Klien sudah menunggu setengah jam lalu !’

Dengan langkah lunglai, kubeli odol dan sikat gigi di kedai tak jauh dari tempatku berdiri dan membawanya ke kantor…

(*syukurlah, semenjak itu, jadi agak rajin sikat gigi.*)
(*Kejadian di atas, sudah 2 tahun lalu. Mungkin sudah garis yang Maha Kuasa juga….*)
(*tak dipertemukan dengan gadis itu lagi….*)

111 thoughts on “Gara2 Lupa Gosok Gigi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s