Puisi-Puisi Rindu

Satu Rindu

Rinduku padaMu, ya Robbi
Adalah rindu tak bertepi
Mengalir di hulu nadi, mengarah muara vena

Degupku memanggil darah-Mu
seperti mentari memompa lautan
dan menebarkannya, dalam sesegar air hujan

Rinduku padaMu, ya Tuhan
Adalah rindu tak berkesudahan
Seperti helaan napas yang tak pernah tuntas
Mengeja semesta makna: Asmaul Husna

Rinduku padaMu, ya Rahman
Adalah sesungguh kerinduan
Tertabuh bertalu-talu
di selaksa waktu

Semesta Rindu

Untukmu, yang Kusayang…

Tiada pernah lelah diri ini membilang namamu berulang-ulang. Pada tiap waktu, Kukecup dirimu dalam ribuan pagi, kala mentari masih sembunyi dalam tirai fajar, kala bebunga masih enggan keluar dari kuncupnya. Semilir hadirku, bergulir dalam bebutir embun, basahi dedaunan, mengayun manja di puncak dahan dalam senandung kidung burung.

Untukmu, yang selalu kurindu…

Tiada pernah letih diri ini membisikkan namamu berkali-kali. Dalam gemerisik angin, yang membelai pucuk-pucuk cemara. Dalam desir air, yang terantuk bebatuan hilir. Juga dalam gelegak ombak, yang mengajak buih berenang menggapai pantainya…

Untukmu, yang selalu kunanti…

Tiada pernah terukur, rasa syukurku. Sejak dirimu, bertahta di kalbu.

KEMBARA RINDU

Rindu ini kembara

Sekian masa meniti tanpa arah

Tak seperti bulbul; bersiul pulang kembali ke sarang

Tak seperti angsa; berkubang mesra renangi telaga

Rindu ini gembala

Seperti domba yang tak pernah

temukan sejumput rumput

di padang savana

Hanya kaktus, dan genangan pasir

Serupa sahara

Dan kantong air, yg kosong anyir

Di pundak onta, yg telah renta

Rindu ini majnun

Ayun langkah bertahun-tahun

Menyisir Mesir, Jazirah Arabia, hingga ranah Andalusia

Rupa-rupa serupa Victoria, Madonna atau Cleopatra

Tapi tak pernah ada yang serupa Layla

Decak Rindu

Decak rindu
membercak pilu
di dinding hening

Gema rasa,
terendam lara
di ruang lengang

Terpenjaralah aku,
dipasung cintamu

Sajak Rati

Sajakku Rati, sajak randu jati
Menjejak rindu tiada henti
Pada tunas-tunas kemarau
Kulepas helaimu satu-satu
Di kuncup pagi
Mengecup kening mentari
Mengayuh rindu kembali
Pada terik yang merampas peluh
terpeluk teduhmu
Dalam semilir syair
Yang mengusir berbait lelah
Di larik senja

Sajakku Rati, sajak randu jati
Mengajakmu merindu , pada satu hati

PENGHUJAN RINDU

Penghujan Rindu,
Mencumbu waktu
di tanah kenangan

Tingkap awan,
Menjilat kilat,
di langit harap

Resah angin,
memburu gelap
di tebing senja
rayap malam
Membungkam senyap
di lumpur peluh
lusuh muara
Dalam rima, hujan tak berirama

PENGHUJAN RINDU (II)

Penghujan rindu,
datang bertamu,
menghujam hati terlayukan waktu,

Pergilah,
susuri bebasah kenangan
Dalam rinai perca yang menguras air mata

Dan biarlah,
setelahnya layu mengering,
terbaring,
Di serak kemarau musim.

Usah

Usah menamparku dengan cinta
Sebab rindu hanya akan membuatku terkapar di belukar masa
Usah mengumpatku dengan sejuta rayu,
Sebab alunan kata hanya akan mengayunku ke dasar neraka

Usah mendekapku dengan bertinggi angan,
bila belaian,
hanyalah pedih tak berkesudahan

Usah menyapaku dengan selaksa pesona,
bila keindahan,
adalah serpih usang yang dipaksa di daur ulang

Usah,

Usah terpercik air mata yang merintih percuma
Usaplah,

Usai sudah…

Muara Rindu

Bila waktuku bergilir mengalir ke muaramu

terluaplah segala desir kerinduan itu

di hamparan pasirnya kubangun istana

berpagar karang, bertaman bakau

di buih lantainya kita menari

Nyanyikan irama puja-puji tiada henti

Berendamlah,

Dalam damai senja di lelap cakrawala

Rasakanlah,

Gelora kerinduan yang tak terpadamkan jaman

Akan tiba masa,

Tatkala satu persatu bintang datang menguntai salam,

Sedangkan malam tiada akan berkesudahan…

Prasasti Rindu

Rindu bergemuruh,
menderu, menggebu.
Pada ombak, ia mengajaknya berenang.

Pada karang, ia membilang namanya, berulang-ulang.

Pada pasir, ia mengukir aksaranya, lalu disematkannya pada dinding candi dan dipahatnya sebuah prasasti.

“Disinilah satu rindu pernah bertamu. Dalam satu perjamuan kami bersulang, sebelum angin menggamitnya pulang…”

Detak Rindu

Detak rindu,

Menyeruak kalbu

Seperti kembara angin,

Mengecup musim dingin

Berderailah salju,

Membekap dahan dalam rerimbunan angan

Ayunkan dedaunan,

Menari sepanjang jalan pengharapan

Lihatlah jejak sang terkasih,

Tercetak beku di wajah tanah

Sambut ia,

Sebelum semi tiba

Perdu Rindu

Perdulah rindu,
di belukar waktu
biarpun merdu,
terkaparlah sungguh

Timurlah panji
Sesatkan barat
bermandi janji
Sesaklah niat

Usailah harapku
terbujur bisu
didekap gelap

Usailah anganku.
terbaring pilu
di hening senyap

Alunan Cinta

Bila jiwa telah larut dalam telaga,

Segar dan jernih akan terasa hingga samudra

Bila tirai hati telah tersibak,

Gelora kasih akan berbuih setinggi ombak



Bila cinta telah santun melantun,

Alunan rindu akan menuntun kerikilku kembali pada pasirnya

Bila pasirnya telah terukir bait-bait puisi,

Lautan masa akan mengasahnya menjadi butiran mutiara

About these ads

147 thoughts on “Puisi-Puisi Rindu

  1. saturindu said: Keindahan,senantiasa hadir,tatkala tabir menyelimuti alirannyaDan menyusuri riaknya,bersoraklah jika menembus muaraDan terhempaslah,bila menyentuh bebatunya:))waah, makasih katerina* sudah berkenan membaca puisi2 saya. Ibarat kupu2, puisi2 ini masih bermetamorfosa, masih menjadi kepompong, yang tersembunyi di lorong2 sunyi:)

    Mas Suga, indahnya sebuah puisi itu bukanlah pada saat melihatnya telah menjadi kupu-kupu. Tetapi tatkala menyaksikan waktu demi waktu atas perubahan. Layaknya sebuah proses, yang begitu berharga ketimbang hasil. Tetapi sebetulnya, pembuat puisi yang terus merasa bagai kepompong adalah seperti penyair yang berkelambu. geliat keindahannya akan terasa bila hanya terlihat bagai bayang-bayang. Sedangkan yang ”nampak”, tak ada sensasi lagi untuk merasakan kejutan2 puitis dalam sentuhan kata.Saya yang berterima kasih karena berkesempatan membaca puisi-puisi dari pengukir kata seperti mas Suga. Bagai keingintahuan yang menemukan muaranya :)

  2. katerinas said: ndahnya sebuah puisi itu bukanlah pada saat melihatnya telah menjadi kupu-kupu. Tetapi tatkala menyaksikan waktu demi waktu atas perubahan. Layaknya sebuah proses, yang begitu berharga ketimbang hasil.

    wahh, extremely agree. like success, it’s not destiny. but journey:)

  3. katerinas said: etapi sebetulnya, pembuat puisi yang terus merasa bagai kepompong adalah seperti penyair yang berkelambu. geliat keindahannya akan terasa bila hanya terlihat bagai bayang-bayang. Sedangkan yang ”nampak”, tak ada sensasi lagi untuk merasakan kejutan2 puitis dalam sentuhan kata.

    dengan kata lain, kristalisasi nilai (kehidupan & pengalaman) adl hal terbesar yang membuat puisi terasa nikmat untuk dibaca? Dan itu hanya didapat dengan mendalami dan menyelami makna2?:)

  4. debapirez said: Wah…keren2.calon pemenang ONH Plus neh hehe..

    Rindu yang berbalas rinduTaut menaut merangkai merduAdakah kehilanganmu sepadan kehilangankuDuhai di mana batas lorong penantianRongga kosong besar yang tak terisiSampai kapan ku harus menantiSedangkan dari ujungnya puntak kutemu cercah cahaya suaHehehehehe ^_^Ide bagus Om mengumpulkan puisi-puisi indah dengan tema yang sama d(^_^)b

  5. debapirez said: Wah…keren2.calon pemenang ONH Plus neh hehe..

    rinnnnduuu…betapa rindu hatiku ingin bertemu nyanyiii yuuukkk”rindu ini terasa indahnya, andai kau ada disini bersamaku berbagi rasaingin ku ungkap semua rasa, curahan cinta iniuntukmu…hanya untukmu”*warna mode on*have a nice weekend ya:)

  6. debapirez said: Wah…keren2.calon pemenang ONH Plus neh hehe..

    Jadi kangen sama Om, lama aku tidak main inet..terlalu banyak les ini dan itu, mommyku maunya aku sibuk belajar dan belajar dibanding nginet, hari ini tumben mommyku bebasin aku main internet, tapi ya gitu sebentar2 ditengokin terusss bete bete bete aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh.

  7. kecibung said: Jadi kangen sama Om, lama aku tidak main inet..terlalu banyak les ini dan itu, mommyku maunya aku sibuk belajar dan belajar dibanding nginet, hari ini tumben mommyku bebasin aku main internet, tapi ya gitu sebentar2 ditengokin terusss bete bete bete aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh.

    Wah, iya…pantesan..sudah seratus postingan, tak ada komen kecibung sama sekali:))mommy pasti bertujuan baik. Apalagi kecibung mau mid semester. Ayo, belajar yang rajin…dan lebih rajin lagi. Pakai ilmu quantum learningnya:)btw, kl mau main inet, gini tricknya…bilang ke mommy, kl ada tugas makalah…trus disuruh nyari2 di inet:)))

  8. amarylli said: rinnnnduuu…betapa rindu hatiku ingin bertemu nyanyiii yuuukkk”rindu ini terasa indahnya, andai kau ada disini bersamaku berbagi rasaingin ku ungkap semua rasa, curahan cinta iniuntukmu…hanya untukmu”*warna mode on*have a nice weekend ya:)

    rindu + rindu = aku dukung..:))

  9. tiarrahman said: kau bertanya padaku..kapan aku..akan kembali lagi.katamu kau tak kuasa..melawangejolak di dalam dada..

    yang membara menahan rasapertemuan kita nantisaat kau ada di sisikusemua kata rindukuselalu membuatkuTAK BERDAYAdewa19…lv it

  10. saturindu said: Wah, iya…pantesan..sudah seratus postingan, tak ada komen kecibung sama sekali:))mommy pasti bertujuan baik. Apalagi kecibung mau mid semester. Ayo, belajar yang rajin…dan lebih rajin lagi. Pakai ilmu quantum learningnya:)btw, kl mau main inet, gini tricknya…bilang ke mommy, kl ada tugas makalah…trus disuruh nyari2 di inet:)))

    Bilangin ah ke Tante Sunny, kecibung di ajarin berbohong sama Om Suga ha ha ha huwekkksss.

  11. amarylli said: innnnduuu…betapa rindu hatiku

    tiada tertahan…kau tinggalkan daku seorang:))))dalam hati bertanya selaluberlinanglah air matakuakan kucari walau kemanakini aku berkelanake ujung dunia akan kucarii*lagu siapa, yah:)

  12. saturindu said: emang ulangan, kok pk contek2an:)hayo, monic belajar juga…ajarin adek kecibung…

    Kecibung di PI aku di Pamulang sudah beda Gubernur ha ha ha huwekkss. lagian banjirrr arah ke PI.**Cari2 alasan**

  13. ed3lwise said: Kecibung di PI aku di Pamulang sudah beda Gubernur ha ha ha huwekkss. lagian banjirrr arah ke PI.**Cari2 alasan**

    nah, pakai teleconferens donk…atau videocall…atau webcam…nah, ada alasan lagi khan…buat kecibung pk internet?:))

  14. ed3lwise said: Bilangin ah ke Tante Sunny, kecibung di ajarin berbohong sama Om Suga ha ha ha

    Eh, jangan…ini khan demi kebaikan juga. biar kecibung bs refreshing:)lagian khan, main2 inetnya bentar doang:)

  15. saturindu said: tiada tertahan…kau tinggalkan daku seorang:))))dalam hati bertanya selaluberlinanglah air matakuakan kucari walau kemanakini aku berkelanake ujung dunia akan kucarii*lagu siapa, yah:)

    lagu jadul, tapi tetap enak di dengar…:)karaokean yuk :)

  16. saturindu said: trus hilang lagickckck

    ketika kerinduan telah dang menyapamaka tak kan kuasa tertahantulisan puisimu begitu indah menyapahati tak kusa meresapisemoga puisi-puisimu untuk mendekatkan diri pada illahiterima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s